Anda di halaman 1dari 35

KEGIATAN PENANGGULANGAN

TUBERCULOSIS

PERMENKES NO 67 TH 2021 TENTANG


PENANGGULANGAN TUBERCULOSIS

TUJUAN :
• Melindungi kesehatan Masyarakat
• Menurunkan Angka kesakitan, kecacatan atau kematian
• Memutuskan penularan
• Mencegah resistensi Obat
• Mengurangi dampak negatif akibat tuberculosis
KEGIATAN
PENANGGULANGAN TUBERCULOSIS

Meliputi:

Promosi Kesehatan

Surveilans tuberculosis

Pengendalian Faktor Risiko

Penemuan dan penangann kasus Tuberculosis

Pemberian Kekebalan

Pemberian Obat Pencegahan


SITUASI TB DI INDONESIA

Tuberkulosis atau TB masih merupakan masalah


kesehatan masyarakat yang menjadi tantangan
global.

Tahun 2018 Indonesia termasuk dalam 3 besar


negara dengan beban TB terbanyak di dunia.

Pada tahun 2017, angka kematian akibat


tuberkulosis adalah 40/100.000 populasi
(tanpa TB- HIV) dan 3,6 per 100.000
penduduk (termasuk TB-HIV).
Tuberkulosis ( TB )
adalah penyakit infeksi yang menular, disebabkan
oleh kuman Mycobacterium tuberculosis, yang
penularan melalui udara, sumber penularan
adalah pasien TB yang dahaknya mengandung
kuman TB.

Gejala umum TB pada orang dewasa adalah


batuk yang terus-menerus dan berdahak selama
2 minggu atau lebih, yang apabila tidak diobati
maka setelah lima tahun sebagian besar ( 50 % )
pasien akan meninggal
Gejala Penyakit TBC Pada
Orang Dewasa
1. Batuk terus menerus disertai dahak selama 2 minggu
atau lebih
2. Kadang-kadang dahak yang keluar bercampur dengan
darah.
3. Sesak nafas dengan rasa nyeri di dada
4. Badan lemah, nafsu makan menurun,berat badan
menurun
5. Berkeringat malam hari walau tanpa aktifitas
6. Demam meriang lebih dari sebulan
Secara umum sifat kuman TB ( Mycobacterium tuberculosis )
adalah sebagai berikut :

• berbentuk batang,
• panjang 1-10 mikron, lebar 0,2-0,6 mikron
• bersifat tahan asam, berwarna merah pada
pemeriksaan mikroskopis dengan metode Ziehl
Neelsen ( ZN )
• memerlukan media khusus biakan : media
Lowenstein Jensen, media Ogawa
Tahan terhadap suhu rendah sehingga dapat
bertahan hidup dalam jangka waktu lama pada
suhu antara 4°C sampai -70°C sangat peka
terhadap panas, sinar matahari dan sinar
ultraviolet, akan mati dalam beberapa menit
dalam dahak pada suhu antara 30 – 37°C ,
kuman akan mati dalam lebih kurang 1 minggu
dapat bersifat dormant ( ”tidur” / tidak
berkembang ).
CARA PENULARAN

 Sumber penularan adalah pasien TB BTA positif


melalui percikan dahak yang dikeluarkannya,
namun, bukan berarti bahwa pasien TB dengan
hasil pemeriksaan BTA negatif tidak dapat
menularkan.

 Infeksi akan terjadi bila seseorang menghirup


udara yang mengandung percikan dahak pasien
TB.

 Pada waktu pasien batuk, bersin dan bicara


dapat mengeluarkan > satu juta percikan dahak
( droplet nuclei )
PEJALANAN ALAMIAH TB PADA MANUSIA

Terdapat 4 tahapan, meliputi :

4
3

1
Tahap Paparan

Peluang peningkatan paparan terkait dengan :


 Jumlah kasus menular di masyarakat
 Peluang kontak dengan kasus menular
 Tingkat daya tular dahak sumber penularan
 Intensitas batuk sumber penularan
 Kedekatan kontak dengan sumber penularan
 Lamanya waktu kontak dengan sumber penularan
 Faktor lingkungan: konsentrasi kuman diudara (ventilasi, sinar
ultra violet, penyaringan adalah faktor yang dapat menurunkan
konsentrasi kuman)
Tahap Infeksi

Reaksi daya tahan tubuh akan terjadi setelah 6 – 14


minggu setelah infeksi
reaksi immunologi : kuman TB memasuki alveoli dan
ditangkap oleh makrofag, yang kemudian terjadi
komplek antigen – antibody,
delayed hypersensitivity ( hasil tes tuberkulin menjadi
positif )
lesi umumnya sembuh total namun dapat saja kuman
tetap hidup dalam lesi tersebut ( dormant ) dan suatu
saat dapat aktif kembali apabila daya tahan tubuh
menurun
penyebaran melalui aliran darah atau getah bening
dapat terjadi sebelum penyembuhan lesi
Tahap Menjadi Sakit

Faktor risiko untuk menjadi sakit TB adalah tergantung dari :


 Konsentrasi / jumlah kuman yang terhirup
 Lamanya waktu sejak terinfeksi
 Usia seseorang yang terinfeksi
 Tingkat daya tahan tubuh seseorang. seseorang dengan
daya tahan tubuh yang rendah diantaranya infeksi HIV/AIDS
dan malnutrisi ( gizi buruk ) akan memudahkan
berkembangnya kuman TB, kuman TB menjadi aktif dan
menimbulkan gejala ( sakit TB ).
Faktor risiko kematian karena TB :
 Akibat dari keterlambatan diagnosis
 Akibat kesalahan diagnosis
 Pengobatan tidak adekuat
 Adanya kondisi kesehatan awal yang buruk atau
penyakit penyerta
 

Catatan :
Pasien TB tanpa pengobatan selama 5 tahun, 50 % akan
meninggal dan risiko ini akan meningkat pada pasien TB dengan
HIV positif.
Resiko Menjadi Sakit
dan Pengaruh HIV/AIDS pada TB

perkirakan 10 % orang yang terinfeksi TB akan


njadi sakit TB, dan faktor yang mempengaruhi
mungkinan seseorang menjadi sakit TB adalah
ena daya tahan tubuh yang rendah, diantaranya
sal karena : infeksi HIV/AIDS, malnutrisi ( gizi buruk ),
n Diabetes Melitus ( DM )
Hal lain yang mempermudah penularan TB yaitu :

hunian padat, misalnya di penjara tempat


pengungsian.
situasi sosial ekonomi yang tidak menguntungkan,
misalnya kemiskinan dan pelayanan kesehatan yang
buruk.
lingkungan kerja, misalnya laboratorium klinik,
rumah sakit
FAKTOR RISIKO KEJADIAN TB

transmisi
Jumlah kasus TB BTA+
Faktor lingkungan : Risiko menjadi TB bila
Ventilasi dengan HIV:
Kepadatan • 5-10% setiap tahun
Dalam ruangan • >30% lifetime
SEMBUH
Faktor Perilaku
HIV(+)
KRONIS/
TB RESISTEN
OBAT

TERPAJAN INFEKSI
10%
TB MATI
Konsentrasi Kuman  Keterlambatan diagnosis
Lama kontak dan pengobatan
 Malnutrisi  Tatalaksana tak memadai
 Penyakit DM,  Kondisi kesehatan
immunosupresan
BAGAIMANA MEMASTIKAN PENYAKIT TBC ?

 Untuk mengetahui secara pasti, seseorang menderita


penyakit TBC diperiksa dahaknya (dahak=riak,bukan
ludah
 Pemeriksaan dahak harus dilakukan sebanyak 3
kali selama 2 hari
 Jika hasilnya positif ada kuman berarti orang
tersebut menderita penyakit TBC
 Waktu pemeriksaan dahak adalah : SP (sewaktu pagi)
Diagnosis TB
1. Tes Cepat Molekuler (TCM) adalah alat
diagnosis utama yang digunakan untuk
penegakan diagnosis Tuberkulosis
2. Pemeriksaan TCM digunakan untuk
mendiagnosis TBC, baik TB paru maupun TB
ekstra paru, baik riwayat pengobatan TB
baru maupun yang memiliki riwayat
pengobatan TB sebelumnya, dan pada semua
golongan umur termasuk pada ODHA.
3. Pemeriksaan TCM dilakukan dari spesimen
dahak (untuk terduga TB paru) dan non
dahak (untuk terduga TB ekstra paru, yaitu
dari cairan serebro spinal, kelenjar limfe
dan jaringan).
4. Seluruh terduga TB harus dilakukan
pemeriksaan TCM pada fasilitas pelayanan
kesehatan yang saat ini sudah mempunyai
alat TCM.
5. Jumlah dahak yang dikumpulkan adalah 2 (dua)
dahak, volume 3-5 ml dan mukopurulen.
Hasil pemeriksaan TCM terdiri dari MTB pos
Rif resistan, MTB pos Rif sensitif, MTB pos Rif
indeterminate, MTB negatif dan hasil gagal
(error, invalid, no result).
6. Penegakan diagnosis TB klinis harus didahului
pemeriksaan bakteriologis. Fasyankes bersama
dinkes mengevaluasi proporsi pasien TB
terkonfirmasi bakteriologis dibandingkan klinis
(60:40
UPAYA PENGENDALIAN

Sejalan dengan meningkatnya kasus TB, pada


tahun 1993 WHO menyatakan Global Emergency
TB, dan merekomendasikan pengendalian TB
dengan strategi DOTS ( Directly Observed
Treatment Short-course )

Visi the end TB strategy adalah “dunia yang


bebas TB” yaitu zero deaths, disease and
suffering due to TB dengan tujuan mengakhiri
epidemik TB di dunia
Eliminasi TBC tahun 2030
a. Komitmen
politis, dengan
peningkatan dan
b. Penemuan
kesinambungan
kasus, melalui
dukungan
pemeriksaan
pendanaan.
dahak mikroskopis
c. Pengobatan
/ bakteriologis
yang sesuai
yang terjamin
standar, dengan
mutunya
supervisi dan
dukungan bagi
pasien.
d. sistem
pengelolaan dan
ketersediaan OAT
yang efektif e. Sistem monitoring,
pencatatan dan
pelaporan yang
mampu memberikan
penilaian terhadap
hasil pengobatan
pasien dan kinerja
program
Strategi Nasional Penanggulangan TBC di
Indonesia

• Pengelolaan ILTB, dengan target cakupan


TPT hingga 80% pada seluruh individual
dengan ILTB pada tahun 2030
• Skrining pada kelompok-kelompok dengan
risiko tinggi TBC dan memperluas jangkauan
layanan pada orang-orang dengan TBC di
masyarakat yang selama ini tidak terdeteksi
• Mencapai cakupan diagnosis terkonfirmasi
bakteriologis yang tinggi pada terduga
Strategi Nasional Penanggulangan TBC di
Indonesia

• Pengelolaan ILTB, dengan target cakupan


TPT hingga 80% pada seluruh individual
dengan ILTB pada tahun 2030
• Skrining pada kelompok-kelompok dengan
risiko tinggi TBC dan memperluas jangkauan
layanan pada orang-orang dengan TBC di
masyarakat yang selama ini tidak terdeteksi
• Mencapai cakupan diagnosis terkonfirmasi
bakteriologis yang tinggi pada terduga
TBC pada tahun 2030
• Ekspansi diagnosis bakteriologis dengan
penggunaan Tes Cepat Molekuler (TCM)
hingga 80% pada seluruh terduga
tuberkulosis pada tahun 2030
• Meningkatkan investasi sumber daya untuk
memperkuat layanan TBC sehingga dapat
meningkatkan keberhasilan pengobatan
TBC sensitif dan resistan obat
Sasaran TPT pada ILTB
1. Orang dengan HIV (ODHIV)
2. Kontak serumah dengan pasien TBC paru
yang terkonfirmasi bakteriologis:
a. Anak usia <5 tahun
b. Anak usia 5-14 tahun
c. Remaja dan dewasa (usia ≥15 tahun)
3. Kelompok risiko lainnya dengan HIV
negatif
a. Pasien immunokompromais lainnya
(Pasien yang menjalani pengobatan
kanker, pasien yang mendapatkan
perawatan dialisis, pasien yang mendapat
kortikosteroid jangka panjang, pasien yang
sedang persiapan transplantasi organ, dll).
• Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP),
petugas kesehatan, sekolah berasrama,
barak militer, pengguna narkoba suntik.
TERIMA KASIH