Anda di halaman 1dari 20

RENCANA INDUK PERKERETAAPIAN NASIONAL

DIREKTORAT JENDERAL PERKERETAAPIAN KEMENTERIAN PERHUBUNGAN JAKARTA, 2010

DAFTAR ISI
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. PENDAHULUAN VISI PERKERETAAPIAN 2030 ARAH KEBIJAKAN REGULASI JARINGAN PELAYANAN KELEMBAGAAN DAN SDM TEKNOLOGI DAN INDUSTRI KESELAMATAN DAN KUALITAS PELAYANAN RENCANA INVESTASI, PENDANAAN SERTA PERAN SWASTA

1. PENDAHULUAN
Jaringan kereta api yang beroperasi saat ini hanya sekitar 4.700 km dari 6.500 km jaringan eksisting dengan produksi 190 juta penumpang dan 16 juta ton barang (Tahun 2009); Kereta api mempunyai peran penting dalam sistem transportasi nasional dan pengembangan ekonomi wilayah; Pada tahun 2007, pemerintah telah menerbitkan UU No.23 tentang Perkeretaapian dan didalamnya terdapat paradigma baru pembangunan perkeretaapian yaitu : multioperator, peningkatan peran Pemerintah Daerah, peningkatan peran BUMN/BUMD/Swasta dalam investasi di bidang perkeretaapian. Dalam Pasal 7 UU No.23 Tahun 2007 tentang Perkeretaapian telah diamanatkan penyusunan Rencana Induk Perkeretaapian dengan memperhatikan kondisi saat ini, lingkungan strategis, tata ruang, potensi kereta api dalam mengatasi masalah penyediaan transportasi, perkembangan teknologi, paradigma pembangunan nasional, peran industri dan masyarakat serta investasi swasta; Rencana Induk Perkeretaapian memuat arahan pembangunan perkeretaapian sampai dengan Tahun 2030 yang meliputi : arah kebijakan, regulasi, jaringan pelayanan dan prasarana, kelembagaan dan SDM, Teknologi dan Industri, Rencana Investasi, Pendanaan dan Peran Swasta serta Peningkatan Keselamatan dan Kualitas Pelayanan.

2. VISI PERKERETAAPIAN 2030


Visi Perkeretaapian Perkeretaapian yang berdaya saing, berintegrasi, berteknologi, bersinergi dengan industri, terjangkau dan mampu menjawab tantangan perkembangan.

Perkeretaapian 2030 1. Share angkutan penumpang mencapai 11-13 % dan angkutan barang mencapai 15-17 %; 2. Jaringan kereta api sepanjang 10.000 km, jalur ganda dan elektrifikasi pada lintas utama Jawa, serta terwujudnya jaringan KA Trans Sumatera; 3. Kereta api sebagai backbone angkutan massal di kota/perkotaan di Jabodetabek, Bandung, Surabaya, Medan, Yogyakarta, Palembang, dan Semarang; 4. Pengoperasian kereta cepat Argo Cahaya (High Speed Train/ HST) di Jawa; 5. Kereta api sebagai backbone angkutan barang di Kalimantan, Sulawesi, Papua; 6. Pelayanan terpadu, aman, selamat, nyaman, handal, dan terjangkau; 7. Industri perkeretaapian nasional yang mandiri dan berdaya saing; 8. Penyelenggaraan perkeretaapian yang didukung oleh sistem dan peralatan modern serta SDM yang profesional.

3. ARAH KEBIJAKAN
1. Perkuatan dan peningkatan regulasi dalam menjamin keselamatan dan memenuhi kualitas pelayanan; 2. Pemulihan/ peningkatan prasarana dan sarana perkeretaapian yang ada; 3. Mengembangkan angkutan kota/perkotaan di kota-kota besar termasuk mengembangkan jaringan pelayanan dan akses ke pelabuhan dan bandara. 4. Mengembangkan jaringan pelayanan sesuai dengan peningkatan kebutuhan angkutan penumpang dan barang serta kondisi ekonomi, sosial budaya masyarakat. 5. Mewujudkan pelayanan KA yang terpadu; 6. Meningkatkan peran angkutan perkeretaapian nasional dan lokal; 7. Melaksanakan pengujian dan sertifikasi kelaikan prasarana dan sarana; 8. Melaksanakan reformasi dan restrukturisasi kelembagaan; 9. Merumuskan mekanisme perizinan dan pola pendanaan; 10. Meningkatkan peran swasta dan pemerintah daerah; 11. Mengembangkan dan modernisasi teknologi perkeretaapian; 12. Meningkatkan peran industri perkeretaapian dalam negeri; 13. Meningkatkan standar kompetensi SDM; 14. Meningkatkan keselamatan dan pelayanan angkutan perkeretaapian.

4. REGULASI
1. Penjabaran UU.23 /2007 tentang Perkeretaaapian, PP.56/2009 tentang Penyelenggaraan Perkeretaapian dan PP.72/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Kereta Api dalam bentuk norma, standar, pedoman dan kriteria yang dituangkan dalam Keputusan Menteri dan Keputusan Dirjen. Penyempurnaan sistem dan prosedur perawatan dan pengujian prasarana dan sarana KA serta pemanfaatan teknologi dalam rangka peningkatan keselamatan; Perumusan mekanisme pelaksanaan sertifikasi prasarana, sarana dan SDM perkeretaapian dalam rangka peningkatan keselamatan; Pengembangan standar kompetensi SDM perawatan, pengujian dan operasi KA; Perumusan mekanisme perizinan dengan mengedepankan transparansi, kesederhanaan, keterpaduan, efisiensi dan efektifitas serta dapat meningkatkan investasi bidang ka ; Penyempurnaan peraturan penetapan penyelenggaraan prasarana dan sarana oleh BUMN/BUMD dan swasta. 7. Perumusan pedoman pelaksanaan TAC dalam pemanfaatan prasarana milik pihak ketiga yang menjamin sustainability penyelenggaraan perkeretaapian yang sesuai dengan tingkat pelayanan yang diharapkan; Perumusan persyaratan dan mekanisme penyelenggaraan KA perkotaan dan KA barang/logistik sesuai dengan tata ruang dan rencana transportasi kota/perkotaan; Perumusan persyaratan dan mekanisme pembentukan lembaga pengujian prasarana dan sarana perkeretaapian dengan memberikan penekanan kepada peran swasta;

8.

2.

9.

3.

4. 5.

10. Perumusan pola insentif pengembangan prasarana dan sarana perkeretaapian oleh BUMN/BUMD dan swasta; 11. Perumusan peraturan persaingan usaha perkeretaapian dalam upaya mengembangkan industri perkeretaapian guna mendukung kebutuhan nasional; 12. Perumusan peraturan penggunaan produksi dalam negeri guna pengembangan industri dalam negeri yang mampu mendukung kebutuhan nasional;

6.

5. JARINGAN PELAYANAN
Antar Kota, Perkotaan dan Angkutan Barang/Logistik :
1. Menyiapkan kerangka konsesi/kontrak manajemen prasarana KA 2. Penguatan kelembagaan Pemda dalam pembinaan dan pengembangan perkeretaapian 3. Perumusan pola pembiayaan Pemda/Swasta dan Pemerintah 4. Pengembangan sistem insentif dalam menjamin sustainability penyelenggaraan angkutan KA 5. Pengembangan kualitas/tingkat pelayanan sesuai dengan peningkatan kondisi ekonomi, sosial dan budaya masyarakat dengan memanfaatkan perkembangan teknologi 6. Rehabilitasi dan peningkatan KA sesuai dengan tata ruang dan rencana pengembangan sistem transportasi nasional, termasuk menghidupkan lintas yang tidak operasi; 7. Modernisasi sistem pelayanan angkutan KA 8. Mengembangkan jaringan prasarana sesuai dengan perkembangan wilayah dan permintaan. 9. Meningkatkan keterpaduan intra dan antar moda (integrity) 10. Mengembangkan pelayanan /akses ke bandara dan pelabuhan untuk mendukung pertumbuhan kebutuhan transportasi kota. 11. Pengembangan teknologi perkeretaapian yang ramah lingkungan; 12. Mengoptimalkan pemanfaatan jaringan ka untuk angkutan barang guna mengurangi beban moda lain serta menekan pemanfaatan energi dan polusi udara 13. Meningkatkan efesiensi pengiriman produksi dengan KA

Pengembangan prasarana dan sarana perkeretaapian


1. Rehabilitasi dan peningkatan jalur KA, jembatan, persinyalan, telekomunikasi dan pelistrikan pada lintas utama Jawa dan Sumatera; 2. Reaktivasi jalur KA yang potensial 3. Pembangunan dan pengembangan fasilitas perawatan prasarana dan sarana perkeretaapian (Depo, Balai Yasa, gudang), 4. Pembangunan dry port serta fasilitas pendukung angkutan barang/logistik 5. Pengembangan peralatan pengujian prasarana dan sarana perkeretaapian; 6. Perbaikan/retrofit, modifikasi dan pengadaan sarana KA baru 7. Pengembangan akses jalur KA menuju bandara dan pelabuhan serta akses dari dan menuju sentra produksi 8. Pembangunan jalur ganda KA pada lintas utama Jawa dan Sumatera 9. Pembangunan jalur KA baru di Jawa (shortcut dan perkotaan), Sumatera (trans Sumatera Railway), Kalimantan (trans Kalimantan Railways) dan Sulawesi (trans Sulawesi Railways); 10. Pembangunan kereta api cepat (high speed train) di Jawa, diantaranya Jakarta Surabaya, Jakarta Bandung; 11. Pemanfaatan perkembangan teknologi dalam rehabilitasi, peningkatan dan pembangunan prasarana dan sarana 12. Modernisasi teknologi bidang perkeretaapian; 13. Pengembangan/pembangunan teknologi sarana perkeretaapian (tram, monorail, dsb).

RENCANA JARINGAN KERETA API DI SUMATERA


BANDA ACEH

MEDAN

2. Menjamin ketersedian lahan bagi pengembangan jaringan kereta api Trans Sumatera yang menghubungkan kota-kota: Aceh, Medan, Pekanbaru, Padang, Jambi, Palembang, Bandar Lampung 3. Membangun akses dari kawasan industri/pertambangan ke pelabuhan Belawan, Dumai, Tanjung Api-api, dan Panjang sesuai dengan rencana pengembangan koridor ekonomi di Sumatera.
JAMBI

PEKANBARU

PADANG PALEMBANG KETERANGAN: JALUR TERBANGUN JALUR RENCANA BENGKULU LAMPUNG

4. Mewujudkan Jaringan Kereta Api kota/perkotaan di Medan, Padang, Palembang dan Bandar Lampung 5. Mewujudkan jaringan Kereta Api trans Sumatera dari Aceh, Medan(Sumatera Utara), Pekanbaru(Riau), Padang(Sumatera Barat), Jambi, Palembang (Sumatera Selatan) hingga Bandar Lampung (Lampung) 6. Membangun akses ke bandara Kualanamu, Minangkabau, Sultan Mahmud Badarudin Dua.

1. Meningkatkan jalur kereta api eksisting termasuk reaktivasi jalur non-operasi,

7. Pembangunan fasilitas perawatan prasarana perkeretaapian di Sumatera.

JARINGAN KERETA API DI JAWA

JAKARTA CIREBON

SEMARANG SURABAYA

KETERANGAN: JALUR HST JALUR EKSISTING

1. Optimalisasi jaringan kereta api eksisting melalui program peningkatan, reaktivasi jalur non operasi termasuk jalur kereta api di Madura. 2. Pembangunan jalur ganda dan elektrifikasi Lintas Utama Jawa. 3. Menjamin ketersedian lahan bagi pengembangan jaringan kereta api Cepat (HST) yang menghubungkan kota-kota: Jakarta, Cirebon, Semarang dan Surabaya 4. Mengembangkan kereta api kota/perkotaan di wilayah Jabodetabek, Bandung, Yogya,

Semarang dan Surabaya serta kota-kota besar lainnya. 5. Membangun akses dari kawasan industri ke pelabuhan Tanjung Priok, Cirebon, Bojonegaro, Tanjung Mas dan Tanjung perak sesuai dengan rencana pengembangan koridor ekonomi di Jawa. 6. Membangun akses ke bandara SoekarnoHatta, Kertajati, Adi Sucipto, Ahmad Yani dan Juanda. 7. Pembangunan fasilitas perawatan prasarana perkeretaapian di Jawa.

RENCANA JARINGAN KERETA API DI KALIMANTAN


KETERANGAN: JALUR TERBANGUN JALUR RENCANA

2. Membangun akses dari kawasan industri/ pertambangan ke pelabuhan Samarinda, Balikpapan, Banjarmasin, Pontianak sesuai dengan rencana pengembangan koridor ekonomi di Kalimantan. 3. Pembangunan jalur kereta api di wilayah Kalimantan bagian timur yang menghubungkan kota-kota: Samarinda-Balikpapan, SamarindaBontang, Samarinda-Tenggarong-Kotabangun, Tanjung-Barabai-Rantau-Martapura-Banjarmasin, Bontang-Sangkulirang-Tanjung Redep, TanjungTanah Grogot. 4. Pembangunan jalur kereta api di wilayah Kalimantan bagian selatan yang menghubungkan kota-kota: Banjarmasin-Batulicin, TanjungBuntok-Muara Teweh. 5. Pembangunan jalur kereta api di wilayah Kalimantan bagian tengah yang menghubungkan kota-kota:Banjarmasin-Palangkaraya, BalikpapanTanah Grogot. 6. Pembangunan jalur kereta api di wilayah Kalimantan bagian barat yang menghubungkan kota-kota:Pontianak-Mempawah-Singkawang.

SAMBAS SINGKAWANG BONTANG PONTIANAK SAMARINDA

PALANGKARAYA

BALIKPAPAN

BANJARMASIN

1. Menjamin ketersedian lahan bagi pengembangan jaringan kereta api Trans Kalimantan yang menghubungkan kota-kota: Samarinda, Balikpapan, Banjarmasin, Palangkaraya dan Pontianak

RENCANA JARINGAN KERETA API DI SULAWESI


BITUNG

MANADO GORONTALO

1. Menjamin ketersedian lahan bagi pengembangan jaringan kereta api Trans Sulawesi yang menghubungkan kotakota: Manado, Bitung, Gorontalo, Palu, Mamuju, Pare-pare, Makasar, Kolaka, dan Kendari. 2. Membangun akses dari kawasan industri ke pelabuhan Bitung dan Makasar sesuai dengan rencana pengembangan koridor jalur ekonomi. 3. Pembangunan jalur kereta api di wilayah Sulawesi bagian utara yang menghubungkan kota-kota:Manado, Bitung, dan Gorontalo khususnya memberi prioritas pada pembangunan lintasManado-Bitung, serta melaksanakan pembangunan sebagian lintas GorontaloBitung,

PALU

MAMUJU

PARE PARE

KOLAKA

KENDARI

KETERANGAN: MAAKASAR JALUR TERBANGUN TAKALAR JALUR RENCANA

4. Pembangunan jalur kereta api di wilayah Sulawesi bagian selatan yang menghubungkan kota-kota: Makasar,Pare Pare, Takalar khususnya pada lintas Makasar-Pare Pare dan sebagian lintas Makasar-Takalar-Bulukumba

RENCANA JARINGAN KERETA API DI PAPUA

kj

JAYAPURA

1. Menjamin ketersedian lahan bagi pengembangan jaringan kereta api di papua yang menghubungkan kota-kota: Sorong, Manokwari, Nabire, Timika, Sarmi dan Jayapura, 2. Membangun akses dari kawasan industri/pertambangan ke pelabuhan Manokwari dan Jayapura sesuai dengan rencana pengembangan koridor ekonomi di Papua.

KETERANGAN: JALUR TERBANGUN JALUR RENCANA

3. Pembangunan jalur kereta api di Papua bagian utara yang menghubungkan kota-kota Manokwari-Nabire

6. KELEMBAGAAN DAN SDM


1. Perumusan bentuk penyelenggara prasarana dan sarana perkeretaapian dalam rangka mewujudkan multioperator dalam penyelenggaraan perkeretaapian; 2. Penetapan status kepemilikan dan hak pengelolaan aset prasarana perkeretaapian sebagai dasar untuk menentukan pola dan sistem konsesi dan kontrak, pengoperasian dan manajemen aset serta aturan akses jaringan (network statement); 3. Pembentukan lembaga pengujian prasarana dan sarana untuk menunjang program sertifikasi kelaikan operasi prasarana dan sarana perkeretaapian; 4. Percepatan pelaksanaan akreditasi lembaga pengujian prasarana dan sarana perkeretaapian sebagai upaya pembinaan pemerintah sebagai regulator perkeretaapian; 5. Pembentukan lembaga diklat untuk menyiapkan SDM yang profesional dan kompeten di bidang perkeretaapian yang didukung fasilitas, kurikulum dan pola diklat sesuai standar kompetensi yang dipersyaratkan di dalam peraturan teknis perkeretaapian; 6. Kajian pembentukan Badan regulasi perkeretaapian yang bertugas memantau persaingan layanan kereta api, mengatur tarif; market entry dan perijinan/pemberian lisensi, memantau kontrak akses prasarana dan menyelesaikan sengketa antar operator perkeretaapian; 7. Perumusan pola diklat berbasis kompetensi (Competence Based Training) termasuk kurikulum/silabus diklat sesuai dengan perkembangan teknologi perkeretaapian; 8. Pelaksanaan sertifikasi SDM untuk menjamin terpenuhinya kompetensi SDM dalam upaya meningkatkan keselamatan dan kualitas layanan jasa transportasi perkeretaapian.

7. TEKNOLOGI DAN INDUSTRI


1. Keret A i Cepat a. Rancang Bangun  Pengembangan konsep dan bl eprint per j dan kereta api cepat,  Pengembangan prototip dan test track (pengembangan lab ji),  Pengembangan Lembaga Penyelenggara Kereta Cepat,  Pengembangan Instit si iset Kereta Api Cepat b. Teknologi prasarana  Pengembangan teknologi sinyal, telekomunikasi dan listrik untuk mendukung pengoperasian yang aman (fail-safe); c. Teknologi sarana  Penguasaan teknologi utama (bogie, badan kereta alumunium, sistem propulasi, train controling and monitoring system) kereta cepat  etup Line Production komponen utama kereta cepat 2. Kereta api antar kota dengan kecepatan 120-140 km/jam : a. Teknologi prasarana  Pengembangan teknologi perangkat luar support elektrifikasi  Peningkatan kualitas track  Pembangunan elektrifikasi kV  Pengembangan konsep&teknologi sinyal ( I , lectronic Interlocking, Automatic rain top)  Setup line production untuk MOBIS dan Automatic rain Stop  Pengembangan teknologi automatic train protection b. Teknologi sarana  Pengembangan Teknologi kereta ramah lingkungan dan hemat energi  Pengembangan teknologi konstruksi ringan dan modular  Pengembangn teknologi kereta Tilting dan acti e/semi acti e suspension  Setup Line Production sistem produksi kereta dengan teknologi modular

3. Kereta api dengan gauge 1435 mm a. Penyiapan dokumen (basic design dll) dan persiapan konstruksi jalan rel b. Pembangunan konstruksi jalan rel dan elektrifikasi c. Pengadaan sarana dan operasional 4. Angkutan Perkotaan : a. Teknologi prasarana  Pengembangan teknologi perangkat luar support elektrifikasi  Peningkatan kualitas track  Pembangunan elektrifikasi  Pengembangan konsep & teknologi sinyal (MOBIS, electronic interlocing, automatic train stop), pengembangan teknologi sinyal (electronic interlocking)  Pengembangan teknologi centralized train control  Pengembangan teknologi sinyal (electronic interlocking)  Pengembangan teknologi automatic train control  Setup line production dan automatic train control

 Setup line production untuk MOBIS dan automatic train stop  Pengembangan teknologi automatic train protection  Setup untuk electronic site inspection b. Teknologi sarana  Pengembangan teknologi kereta ramah lingkungan dan hemat energi  Pengembangan teknologi konstruksi ringan dan modular  Pengembangan teknologi bogie low floor  Penguasaan teknologi kereta ringan dan new transportation system (LRT, Monorail, Tram, dan lain-lain)

5. Kereta Barang :     Pengembangan teknologi intermoda; Pengembangan teknologi distributed traction power; Penguasaan teknologi lokomotif elektrif ACAC Pengembangan kapasitas produksi dengan piramida industri dan sinergi perusahaan dalam negeri; Penguatan INKA sebagai technology provider; Pengembangan dan perkuatan kemampuan dan kompetensi industri pendukung seperti : casting component, soring component, dll. Pengembangan dan penguasaan teknologi material komponen bagi industri pendukung

7. Pengembangan teknologi informasi yang mendukung pelayanan jasa perkeretaapian. 8. Pengembangan teknologi sarana perkeretaapian yang efisien dan ramah lingkungan.

 

6. Pengembangan industri perkeretaapian diarahkan untuk : a. Mendorong penggunaan kandungan lokal; b. Mendorong kemandirian industri komponen pendukung kereta api; c. Mengoptimalkan kapasitas industri prasarana kereta api.

8. KESELAMATAN DAN KUALITAS PELAYANAN


1. Menjamin ketersediaan norma, standar, prosedur dan kriteria sebagai pedoman dalam pelaksanaan program peningkatan keselamatan dan kualitas pelayanan kereta api. 2. Menyusun dan melaksanakan rencana aksi secara terpadu antara lembaga dalam rangka peningkatan keselamatan dan keamanan perkeretaapian; 3. Pengembangan sistem audit keselamatan yang menjamin terselenggaranya program keselamatan pada operator penyelenggaraan perkeretaapian; 4. Melaksanakan sertifikasi kelaikan sarana, prasarana dan fasilitas operasi perkeretaapian secara menyeluruh dan berkala; 5. Melaksanakan akreditasi terhadap lembaga pengujian, lembaga pendidikan dan pelatihan SDM operasi dan penguji serta lembaga pendukung lainnya; 6. Peningkatan kapasitas dan keandalan prasarana, sarana dan fasilitas pendukung operasi serta fasilitas perawatan kereta api; 7. Meningkatkan kuantitas dan kualitas penelitian keselamatan perkeretaapian; 8. Monitoring pelaksanaan program keselamatan dan operasi dari setiap penyelenggara perkeretaapian. 9. Melaksanakan pelatihan dan sosialisasi keselamatan perkeretaapian. 10. Menyusun dan menetapkan Standar Pelayanan Minimal dalam rangka menjamin kualitas pelayanan perkeretaapian.

9. RENCANA INVESTASI, PENDANAAN DAN PERAN SWASTA


1. Pendanaan pemerintah diprioritaskan pada pembangunan infrastruktur perkeretaapian difokuskan pada peningkatan aksesibilitas dan keterjangkauan bagi publik seperti angkutan kereta api di wilayah perkotaan dan penyediaan angkutan kereta api untuk memperlancar pergerakan barang/logistik dengan mempertimbangkan besarnya manfaat ekonomi yang diperoleh. 2. Mendorong partisipasi swasta dalam pendanaan infrastruktur perkeretaapian dengan strategi penyiapan program insentif dan paket pembangunan yang menarik dan memberikan keuntungan dalam pengelolaan bisnis perkeretaapian. 3. Kebutuhan pendanaan untuk pembangunan infrastruktur perkeretaapian sampai dengan Tahun 2030 diperkirakan membutuhkan investasi sebesar Rp.700 Triliun terdiri dari Investasi Pemerintah/Pemda sebesar Rp.500 Triliun dan Swasta sebesar Rp.200 Triliun. 4. Merumuskan dan menetapkan mekanisme pelaksanaan kontrak pendanaan IMO dengan Badan Usaha Penyelenggara Prasarana (BUP); 5. Merumuskan dan menetapkan pedoman pelaksanaan TAC yang mengatur hubungan antara Badan Usaha Penyelenggara Sarana (BUS) dengan Badan Usaha Penyelenggara Prasarana (BUP); 6. Ketersediaan pendanaan PSO dalam rangka menjamin peningkatan aksesibilitas dan keterjangkauan pelayanan kereta api terhadap publik.

SEKIAN & TERIMA KASIH


Departemen Perhubungan Direktorat Jenderal Perkeretaapian Gedung Karsa Lt.2 Jl.Medan Merdeka Barat No.8
Telp.021-3506204, 385683 Fax.021-3813972
Website : www.perkeretaapian.dephub.go.id