Anda di halaman 1dari 32

ANALISIS KASUS

LANSIA :
GANGGUAN
PSIKOSOSIAL
KASUS LANSIA DENGAN DEPRESI
KEL 6 REG 2
ANGGOTA KELOMPOK

1. 2.
Edo Apriliano Pratama
Machlusi Husna Nur Fitria
185070200111016 185070200111020

4. 3.
Nafiza Syarafina Yanani Tiya Handayani Solihin
185070201111006 185070201111024
LATAR BELAKANG
Peningkatan jumlah lanjut usia (Lansia) saat ini terus terjadi menurut WHO pada Tahun
2016 jumlah lansia mencapai 700 juta jiwa. Bertambahnya jumlah lansia membutuhkan
peningkatan pelayanan kesehatan. Gobbens dan Assen, (2014) menyatakan prediksi
permasalahan kehidupan lansia meliputi kelemahan fisik, gangguan psikososial dan
kelemahan dukungan sosial. Beberapa hal yang menjadi sumber stressor psikososial adalah
perubahan fungsional tubuh, hilang peran dalam hubungannya didalam keluarga.
KONSEP LANSIA
Definisi Lansia
Lansia atau lanjut usia merupakan kelompok penduduk yang berusia 60 tahun
keatas yang merupakan tahap akhir dari perkembangan hidup manusia.

Perkembangan Lansia
Pada masa ini seseorang identik dengan berbagai penurunan status kesehatan
terutama status kesehatan fisik ataupun mental. Ketidaksesuaian kondisi lansia
dengan harapan mereka ini bahkan dapat menyebabkan lansia mengalami depresi.

Permasalahan Kesehatan Mental Lansia


Risiko yang terjadi pada lansia akan mempengaruhi permasalahan fisik. Hal tersebut
apabila dibiarkan akan mengakibatkan timbulnya permasalahan psikis pada lansia
hingga terganggu kesehatan mentalnya. Permasalahan yang berkaitan dengan aspek
mental yang sering terjadi pada lansia yaitu depresi, dengan prevalensi di dunia berkisar
8-15%.
DEPRESI PADA LANSIA
1. Prevalensi rata-rata depresi pada lansia adalah 13,5% dengan
perbandingan wanita dan pria adalah 14,1 : 8,6 (Zulkarnain et al,
2015).

2. Depresi adalah suatu kondisi seseorang merasa sedih, kecewa


saat mengalami suatu perubahan, kehilangan, kegagalan dan
menjadi patologis ketika tidak mampu beradaptasi.
TANDA GEJALA
Gejala Psikosis
Khayalan biasanya
tidak menyenangkan
atau halusinasi pada ● Konsentrasi
depresi berat yang buruk
● Penarikan dari
kegiatan sosial
● Penurunan
Pikiran gairah seks
● Pikiran bunuh
pikiran dan perasaan tidak diri
berharga, rasa bersalah, ● Insomnia
merasa tidak pantas, tidak
berdaya, putus asa, dan
membenci diri sendiri.
PATOFISIOLOGI
Patofisiologi depresi dijelaskan dalam beberapa hipotesis.

Depresi disebabkan menurunnya atau berkurangnya jumlah


Amina Biogenik
neurotransmitter norepinefrin (NE), serotonin ( 5 – HT ) dan dopamine
(DA) dalam otak

Perubahan patologis pada reseptor yang dikarenakan terlalu kecilnya


stimulasi oleh monoamine dapat menyebabkan depresi Sensitivitas Reseptor

Tidak beraturannya neurotransmitter sehingga terjadi gangguan


depresi dan psikiatrik.

Desregulasi
KLASIFIKASI
1. Depresi Ringan

Depresi ringan ini harus ada sekurang kurangnya dua


dari gejala depresi yang khas, selain itu juga ditambah
sekurang-kurangnya dua dari gejala depresi yang
lainnya dan tidak boleh ada gejala yang berat dalam
depresi, biasanya lamanya berlangsung adalah kurang
lebih sekitar dua minggu.

Tanda Gejala
Keadaan resah, serta sukar untuk melakukan pekerjaan
dan kegiatan sosial
KLASIFIKASI
2. Depresi Sedang

Depresi sedang ini harus ada sekurang-kurangnya dua


dari gejala yang khas dari depresi, kemudian ditambah
sekurang-kurangnya tiga dari gejala depresi lainnya.
Lamanya dari depresi sedang ini adalah minimal dua
minggu.

Tanda Gejala
individu sulit untuk melakukan kegiatan sosial, pekerjaan
dan urusan rumah tangga.
KLASIFIKASI
3. Depresi Berat

Pada depresi berat ini biasanya individu mengalami


ketegangan atau kegelisahan yang amat nyata.
Kehilangan harga diri dan perasaan dirinya tidak berguna
sangat nyata terlihat, dan bunuh diri merupakan hal
yang sangat nyata dialami oleh penderita depresi berat
ini.
FAKTOR PENYEBAB
1. Faktor Demografi
● Usia
Semakin tinggi usia maka semakin meningkat risiko terjadinya depresi. Usia 60 –
74 tahun (72,1 %) lebih rentan mengalami depresi dikarenakan proses menua yang
terjadi
● Jenis Kelamin
Proporsi kejadian depresi lebih banyak terjadi pada jenis kelamin perempuan
dibandingkan dengan laki-laki, dengan salah satu kemungkinan diakibatkan oleh
adanya pengaruh perubahan fisiologis, misalnya early onset of menopause atau
post-menopause

1. Faktor Genetika
Pada lansia ketidakseimbangan zat-zat kimia di otak menyebabkan sel-sel otak tidak
berfungsi dengan baik, kemungkinan faktor keturunan atau genetik dianggap sebagai
penyebabnya.
FAKTOR PENYEBAB
3. Faktor Medis
beberapa obat yang diberikan dapat menimbulkan gejala depresi pada lansia. Obat tersebut seperti
obat anti hipertensi, obat psikiatri dan analgetik.

4. Faktor Psikososial
● Hubungan sosial yang kurang baik dan kurangnya dukungan dari orang yang dapat dipercaya
(kehilangan dukungan anak, menantu, cucu, dan juga teman-teman)
● Kegagalan seseorang untuk menyesuaikan diri terhadap berbagai perubahan dan kehilangan
pada saat lanjut usia
● Perubahan status ekonomi
● Struktur keluarga yang cepat berubah
● Berkurangnya interaksi sosial sehingga kesepian

3. Faktor Kejadian dalam Hidup


Kejadian tersebut seperti kehilangan pekerjaan, bercerai, masalah keuangan dan kematian orang
tercinta.
PENATALAKSANAAN
FARMAKOLOGIS NON FARMAKOLOGIS

Monoamine oxidase inhibitors (MAOI), a. Guided Imagery


selective serotonin reuptake inhibitors b. Reminiscence group therapy (proses
(SSRIs), dan tricyclic antidepressant (TSA) terstruktur yang sistematik untuk
merefleksikan sebuah kehidupan)
c. Spiritual well-being merupakan yaitu
segala sesuatu tentang kehidupan
batin seseorang mencakup
hubungan dengan Tuhan (religious)
dan lingkungan termasuk
kebahagiaan hidup dan kepuasan
KASUS

Seorang lansia perempuan usia 69 tahun mengatakan bahwa klien biasanya selalu kelihatan murung,
tidak pernah lagi keluar rumah dan tidak pernah datang ke pertemuan warga baik pengajian maupun
posyandu. Klien memiliki riwayat sakit stroke 1 tahun yang lalu, tinggal bersama cucu laki-laki usia
17 tahun yang bekerja sebagai juru parkir di ruko dekat rumah. Suami klien meninggal 3 tahun yang
lalu karena sakit, sedangkan anak dan menantunya kecelakaan 12 tahun lalu sehingga sejak kecil
cucunya sudah tinggal dengan klien. Klien mengatakan sedih dan merasa tidak berguna karena
menyusahkan cucunya, sakit klien dan kondisi ekonomi mereka yang kurang membuat cucunya harus
berhenti sekolah dan bekerja. Klien mengatakan kadang merasa ingin mati saja agar tidak lagi
menyusahkan orang lain. TD = 170/100 mmHg, Nadi 80 x/menit, RR 16 x/mnt. GDS = 90 mg/dl,
Kolesterol 230 mg/dl. Keluhan yang paling sering dirasakan adalah pusing, lemas dan nyeri di
tengkuk. Kebiasaan tidur jam 9 tapi baru terlelap biasanya jam 10-an malam dan terbangun jam 2 atau
jam 3 kemudian tidak bisa tidur lagi. Geriatric Depressoion Scale= 11.
PENGKAJIAN DATA
Kategori dan Subkategori Data Subjektif dan Objektif

Respirasi DS:
Fisiologis
DO:
RR 16 x/mnt

Sirkulasi DS:
DO:
- TD 170/100 mmHg
- Nadi 80 x/mnt

Reproduksi dan DS:


Seksualitas DO:

Neurosensori DS:
DO:
- Riwayat stroke 1 tahun lalu
PENGKAJIAN DATA
Kategori dan Subkategori Data Subjektif dan Objektif

Nutrisi dan Cairan DS:


Fisiologis
- Kebiasaan makan dua kali sehari kadang satu kali saja karena tidak nafsu makan,
setiap kali makan biasanya antara 1-2 centong nasi dengan lauk sayur dan
tahu/tempe
DO:
- Klien nampak kurus dengan kondisi kulit kering dan keriput.

Eliminasi DS:
- Aktivitas di kamar mandi dibantu sebagian
- Setiap hari klien memakai pampers agar tidak kesulitan di kamar mandi
DO:

Aktivitas dan Istirahat DS:


- ADL dibantu sebagian khususnya aktivitas di kamar mandi dan berpindah dari
kursi roda. Klien masih bisa melakukan kegiatan memasak atau melipat baju.
- Kebiasaan tidur jam 9 tapi baru terlelap biasanya jam 10-an malam dan terbangun
jam 2 atau jam 3 kemudian tidak bisa tidur lagi. Tidur siang kadang-kadang hanya
satu jam
DO :
- Geriatric Depressoion Scale= 11.
PENGKAJIAN DATA
Kategori dan Subkategori Data Subjektif dan Objektif

Psikologis Nyeri dan Kenyamanan DS:


· Keluhan yang paling sering dirasakan adalah pusing, lemas dan nyeri di
tengkuk
DO:

Pertumbuhan dan DS:


Perkembangan DO:

Integritas Ego DS:


- Klien menangis ketika bercerita mengenai kehidupannya
- Klien mengatakan sedih dan merasa tidak berguna karena menyusahkan
cucunya, sakit klien dan kondisi ekonomi mereka yang kurang membuat
cucunya harus berhenti sekolah dan bekerja. Klien mengatakan kadang
merasa ingin mati saja agar tidak lagi menyusahkan orang lain
DO:
-
PENGKAJIAN DATA
Kategori dan Subkategori Data Subjektif dan Objektif

DS:
Perilaku Kebersihan Diri
- Klien dibantu sebagian oleh keluarga

DO:
Klien nampak kurus dengan kondisi kulit kering dan keriput. Kondisi kuku
agak panjang dan kotor.

Penyuluhan dan DS:


DO:
Pembelajaran
PENGKAJIAN DATA
Kategori dan Subkategori Data Subjektif dan Objektif

DS:
Rasional Interaksi Sosial
- Klien mengatakan jarang keluar rumah dan ikut kegiatan posyandu
karena takut menyusahkan orang lain dan tidak enak untuk bercerita
kepada orang yang bukan keluarganya. Setiap hari setelah masak
klien biasanya tiduran di depan TV, dan kadang sambil melipat baju.
Klien mengatakan sering melamun karena tidak ada teman
mengobrol.

DO:

Lingkungan DS:
Keamanan dan proteksi
DO:
ANALISA DATA
ANALISA DATA
ANALISA DATA
POHON MASALAH
DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Berduka bd kematian keluarga dd merasa sedih, bersalah, pola tidur
berubah, merasa tidak berguna.
2. Keputusasaan bd depresi sedang, penurunan kondisi fisiologis serta
pengasingan dd sulit tidur, selera makan menurun.
3. Gangguan Pola Tidur bd depresi sedang dd terbangun di malam hari dan
sulit tidur kembali.
4. Risiko Jatuh bd penurunan fungsi kognitif dd mengalami kelemahan di
kedua ekstremitas bawah, ADL dibantu sebagian, menggunakan alat bantu
kursi roda.
SIKI : Dukungan Proses Berduka
RENCANA INTERVENSI Ø Observasi
1 KEPERAWATAN
1. Identifikasi kehilangan yang dihadapi
2. Identifikasi proses berduka yang dialami
3. Identinikasi sifat keterikatan pada benda yang hilang atau orang
SIKI (D.0081) Berduka bd kematian keluarga bd merasa yang meninggal
sedih, bersalah, pola tidur berubah, merasa tidak berguna 4. Identifikasi reaksi awal terhadap kehilangan
Ø Terapuetik
1. Tunjukkan sikap menerima dan empati
2. Motivasi agar mau mengungkapkan perasaan kehilangan
3. Motivasi untuk menguatkan dukungan keluarga atau orang terdekat
SLKI : L.09094 Tingkat Berduka
4. Fasilitasi melakukan kebiasaan sesuai dengan budaya, agama dan
Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 2 x 24 norma sosial
5. Fasilitasi mengekspresikan perasaan dengan cara yang nyaman
jam, diharapkan tingkat berduka menurun
(mis. membaca buku.
6. menulis, menggambar atau bermain)
● Verbalisasi menerima kehilangan menurun (5)
7. Diskusikan strategi koping yang dapat digunakan
● Verbalisasi harapan menurun (5) Ø Edukasi
● Verbalisasi perasaan sedih menurun (5) 1. Jelaskan kepada pasien dan keluarga bahwa sikap mengingkar,
● Menangis menurun (5) marah, tawar menawar,
● Pola tidur membaik (5) 2. sepresi dan menerima adalah wajar dalam menghadapi kehilangan
3. Anjurkan mengidentifikasI ketakutan terbesar pada kehilangan
4. Anjurkan mengekspresikan perasaan tentang kehilangan
5. Ajarkan melewati proses berduka secara bertahap
RENCANA INTERVENSI
1 KEPERAWATAN CONT’ SIKI : Dukungan Perasaan Bersalah
Ø Observasi
1. Identifikasi Identifikasi adanya keyakinan tidak rasional
SIKI (D.0081) Berduka bd kematian keluarga bd merasa
Ø Terapuetik
sedih, bersalah, pola tidur berubh, merasa tidak berguna
1. Fasilitasi mengidentilfikasi situasi perasaan muncul dan respons
terhadap situasi
2. Fasilitasi mengidentifikasi refleksi perasaan yang destruktif
3. Fasitasi memahami rasa bersalah adalah reaksi umum terhadap
EVALUASI trauma.penganiayaan
4. Fasilitasi mengidentifikasi dampak situasi pada hubungan keluarga
● S : Pasien mengatakan menerima kehilangan 5. berduka, bencana, atau kecelakaan
● O : Pasien tidak merasa sedih 6. Fasitasi dukungan spiritual, jika perlu
● A : Masalah keperawatan berkurang dan tingkat Ø Edukasi
berduka pasien menurun 1. Bimbing untuk mengakui kesalahan diri sendiri
● 2. Ajarkan mengidentifikasi perasaan bersalah yang menyakitkan
P : Melanjutkan intervensi lanjutan
3. Ajarkan menggunakan teknik menghentikan pikiran dan substitusi
pikiran dengan relaksasi otat saat pikiran bersalah terus dirasakan
4. Ajarkan mengidentifikasi pilihan untuk mencegah, mengganti.
menebus kesalahan, dan penyelesaian
SLKI : L.09097 Tingkat Depresi
RENCANA INTERVENSI
2 KEPERAWATAN
Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 2 x 24
jam, diharapkan tingkat depresi menurun, dengan kriteria
hasil:
SIKI (D.0088) Keputusasaan bd depresi sedang, penurunan
kondisi fisiologis serta pengasingan dd sulit tidur, selera makan ● Kebersihan diri meningkat (5)
menurun. ● Perasaan tidak berharga menurun (5)
● Sedih menurun (5)
● Putus asa menurun (5)
SLKI : L.09082 Penerimaan ● Perasaan bersalah menurun (5)
● Nafsu makan dan pola tidur membaik (5)
Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 2 x 24
jam,diharapkan penerimaan kejadian lampau meningkat, SIKI :
dengan kriteria hasil: I.09256 Dukungan Emosional
Ø Observasi
● Verbalisasi penerimaan akan kehilangan meningkat (5) 1. Identifikasi fungsi frustasi bagi pasien
● Perilaku mencari perawatan /pengobatan tidak hanya 2. Identifikasi hal yang telah emmicu emosio
saat sakit saja meningkat (5) Ø Terapuetik
● 1. Fasilitasi mengungkapkan perasaan cemas, marah atau sedih
Menyusun perencanaan masa depan meningkat (5)
2. Buat pernyataan suportif/empati
● Kemampuan menghargai diri sendiri meningkat (5) 3. Lakukan sentuhana untuk memberikan dukungan (menepuk-nepuk)
● Menarik diri menurun (5) 4. Kurangi tuntutan berpikir saat sakit/ Lelah
Ø Edukasi
1. Jelaskan konsekuensi tidak menghadapi rasa bersalah
2. Anjurkan mengungkapkan perasaan bersalah
3. Anjurkan mengungkapkan pengalaman emosional sebelumnya dan pola
respons yang biasa digunakan
RENCANA INTERVENSI
2 KEPERAWATAN CONT’
SIKI : I.09320 Terapi Hipnosis
SIKI (D.0088) Keputusasaan bd depresi sedang, penurunan
kondisi fisiologis serta pengasingan dd sulit tidur, selera makan
Ø Observasi
menurun.
1. Identifikasi riwayat masalah
2. Identifikasi tujuan Teknik hypnosis
EVALUASI 3. Identifikasi penerimaan untuk menggunakan
hipnosis
● S : Pasien mengatakan menghargai diri sendiri dan Ø Terapuetik
paham dengan anjuran yang diajarkan 1. Ciptakan hubungan saling percaya
● O : Pasien melakukan latihan hypnosis rutin sesuai 2. Beri lingkungan nyaman dan aman
dengan anjuran 3. Gunakan Bahasa yang mudah dipahami
● A : Masalah keperawatan berkurang dan tingkat 4. Hindari menebak apa yang dipikirkan
harga diri pasien meningkat 5. Berikan umpan balik positif setelah setiap sesi
● P : Melanjutkan intervensi lanjutan
Ø Edukasi
1. Anjurkan menarik napas dalam untuk
mengintensifkan relaksasi.
RENCANA INTERVENSI SIKI :

3 KEPERAWATAN
1.05174 Dukungan Tidur
Ø Observasi
1. Identifikasi pola aktivitas dan tidur
2. Identifikasi faktor pengganggu tidur (fisik dan atau psikologis)
SIKI (D.0055) Gangguan Pola Tidur bd depresi sedang dd
Ø Terapuetik
terbangun di malam hari dan sulit tidur kembali. 1. Modifikasi lingkungan (mis. pencahayaan, kebisingan, suhu, matras, dan tempat
tidur) Batasi waktu tidur siang, jika perlu
2. Fasilitasi menghilangkan stres sebelum tidur
3. Lakukan prosedur untuk meningkatkan kenyamanan (mis. pijat, pengaturan
posisi, terapi akupresur)
SLKI : L.05045 Pola Tidur Ø Edukasi
Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 2 x 24 jam, 1. Jelaskan pentingnya tidur cukup selama sakit
gangguaan pola tidur menurun, dengan kriteria hasil: 2. Anjurkan menepati kebiasaan waktu tidur
3. Anjurkan menghindari makanan/minuman yang mengganggu tidur
● Keluhan sulit tidur menurun (1) 4. Ajarkan faktor-faktor yang berkontribusi terhadap gangguan pola tidur (mis.
● Keluhan sering terjaga menurun (1) psikologis, gaya hidup, sering berubah shift kerja)
● Keluhan tidak puas tidur menurun (1) Ajarkan relaksasi otot autogenik atau cara nonfarmakologi lainnya.
● Keluhan istirahat tidak cukup menurun (1)

EVALUASI
● S : Pasien mengatakan gangguan tidurnya menurun dan paham dengan
anjuran yang diajarkan
● O : Pasien melakukan latihan nonfarmakologi untuk mengurangi
gangguan pola tidur sesuai dengan anjuran
● A : Masalah keperawatan berkurang dan tingkat gangguan pola
tidurnya menurun
● P : Melanjutkan intervensi lanjutan
RENCANA INTERVENSI
4 KEPERAWATAN SIKI : Pencegahan jatuh (I.14540)
Ø Observasi:
1. Identifikasi faktor resiko jatuh (mis, usia >65 tahun, penurunan
SIKI (D.0143) Risiko Jatuh bd penurunan fungsi kognitif dd tingkat kesadaran, defisit kognitif, hipotensi ortostatik, gangguan
mengalami kelemahan di kedua ekstremitas bawah, ADL dibantu keseimbangan, gangguan penglihatan, neuropati )
sebagian, menggunakan alat bantu kursi roda. 2. Identifikasi resiko jatuh setidaknya sekali setiap shift atau sesuai
kebijakan institusi.
3. Identifikasi faktor lingkungan yang meningkatkan resiko jatuh (mis,
lantai licin, penerangan kurang ).
SLKI : Tingkat jatuh (L.14138) 4. Hitung resiko jatuh dengan menggunakan skala (mis, Fall Morse
Scall, Humty Dumty Scall) jika perlu.
5. Monitor kemammpuan berpindah dari tempat tidur ke kursi roda dan
Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 2 x 24 jam, sebaliknya.
diharapkan risiko jatuh berkurang, dengan kriteria hasil : Ø Terapeutik:
6. Orientasikan ruangan pada pasien dan keluarga.
7. Pastikan roda tempat tidur dan kursi roda selalu dalam kondisi
● Jatuh saat berjalan menurun (5) terkunci.
8. Pasang handrail tempat tidur□ Atur tempat tidur mekanis pada posisi
● Nyeri saat berjalan menurun (5) terendah
● Kekuatan otot meningkat (5) 9. Tempatkan pasien beresiko tinggi jatuh dekat dengan pemantauan
perawat dari nurse station.
● Keseimbangan gerakan meningkat (5) 10. Gunakan alat bantu berjalan (mis, kursi roda, walker )
11. Dekatkan bell pemanggil dalam jangkauan pasien
RENCANA INTERVENSI
4 KEPERAWATAN CONT’
SIKI (D.0143) Risiko Jatuh bd penurunan fungsi kognitif dd
mengalami kelemahan di kedua ekstremitas bawah, ADL dibantu
EVALUASI
sebagian, menggunakan alat bantu kursi roda.

● S : Pasien mengatakan risiko jatuh berkurang dan


paham dengan anjuran yang diajarkan
Ø Edukasi:
1. Anjurkan memanggil perawat jika membutuhkan ● O : Pasien melakukan latihan nonfarmakologi
bantuan un tuk berpindah□ Anjurkan menggunakan alas
kaki yang tidak licin untuk mengurangi risiko jatuh sesuai dengan
2. Anjurkan berkonsentrasi untuk menjaga keseimbangan
anjuran
tubuh
3. Anjurkan melebarkan jarak kedua kaki untuk ● A : Masalah keperawatan berkurang dan tingkat
meningkatkan keseimbangan saat berdiri.
4. Ajarkan cara menggunakan bell pemanggil untuk risiko jatuh menurun
memanggil perawat ● P : Melanjutkan intervensi lanjutan
TERIMAKASIH
Any Question?