Anda di halaman 1dari 19

Disusun Oleh:  Eskawati Puji R.

 Diny Apriliani  Dian Rahmayani  Isnaini Rahmawati  Nur Aeni

4301407003 4301407004 43014070 43014070 4301407064

PENDAHULUAN
Salah satu peran sabun bagi manusia adalah melindungi kesehatan masyarakat. Pada era modernisasi saat ini sabun dapat dijumpai dalam berbagai macam bentuk, salah satunya sabun cair. Penggunaan sabun cair yang relatif praktis menyebabkan ketertarikan masyarakat akan penggunaan sabun cair sangatlah besar. Selain itu, teknologi pembuatan sabun cair termasuk dalam kategori sederhana.

LANDASAN TEORI
Bahan utama sabun cair merupakan golongan SURFAKTAN yaitu Emal-70 dan Arkopal N 100. Sifat dari larutan surfaktan : berbusa, agen pembasah, pengemulsi, dan pendispersi. Dalam surfakatan sulfat gugus hidrofiliknya adalah yang melekat pada atom karbon melalui SO 3 atom oksigen. Keunggulan dari surfaktan antara lain : busa yang dihasilkan banyak, agen pembasah yang baik, pengelmusi dan pengadsorbsi yang baik serta ketahanannya terhadap air sadah baik. Penggunaan garam pada surfaktan berfungsi menjaga sifat dari larutan surfaktan .

SURFAKTAN
Karboksilat, sulfonat, sulfat, fosfat. 2. NONIONIK hidroksil,rantai polyoksietilen 3. KATIONIK amina primer, sekunder, tersier dan gugus amonium kuarterner. 4. AMFOTERIK kombinasi dari surfaktan anionik dan nonionik. 1. ANIONIK

Jadi Emal-70 C termasuk dalam kategori Surfaktan Dengan Gugus Hidrofil Anionik Yaitu Sulfat.

PERMASALAHAN YANG SERING TERJADI


Permasalahan yang sering terjadi pada proses pembuatan sabun yaitu : Cairan yang tidak jernih Cairan mengandung bintik-bintik putih Cairan terkontaminasi cairan berwarna Pemilihan warna Cairan mengental Konsentrasi garam Konsentrasi garam Pelarut garam

ALAT DAN BAHAN


Alat : 1. Timbangan 2. Wadah atau tempat reaksi 3. Pengaduk 4. Tempat menampung hasil 5. Peralatan kontrol kualitas 6. Peralatan pelengkap

ALAT DAN BAHAN


Bahan : 1. Email-70 C 18% = 0,18 x 1 kg = 180 g 2. Arkopal N 100 1% = 0,01 x 1 kg = 10 g 3. Larutan garam (20%) 18%= 0,18 x 1 kg = 180 g 4. EDTA2Na 0,4% = 0,004 x 1 kg = 4 g 5. Parfum = 0,004 x 1 kg = 4 g 6. Pewarna = sangat sedikit(trave) 7. Air 62,2% = 0,622 x 1 kg = 622 kg

CARA PEMBUATAN
A. Menyusun Formula
BAHAN Emal -70 C Arkopal N 100 Larutan garam EDTA2Na Parfum Pewarna Air FORMULA 1 18% 1% 18% (L.G.20%) 0.4% 0.4% trace 62.2% FORMULA 2 18% 2% 20%(L.G.18%) 0.4% 0.4% trace 59.2% FORMULA 3 185% 1% 15%(L.G.18%) 0.4% 0.4% Trace 63.2%

Cara membuat 1. Timbang bahan-bahan sesuai kebutuhan, lalu tempatkan dalam wadah yang telah disediakan. 2. Masukkan air sekitar 2/3 bagian ke dalam wadah (sisanya untuk membilas bahan lain). 3. Masukkan pewarna ke dalam wadah(sebelumnya larutkan terlebih dahulu dengan air)aduk hingga larut semua. 4. Masukkan EDTA2Na ke dalam wadah

5. Masukkan email-70 C bilas sisa email-70 C dengan air,kemudian masukkan ke dalam ember. Aduk hingga larut semua. 6. Masukkan Arkopal N 100. Bilas sisa Arkopal N 100 dengan air, kemudian masukkan dalam ember. Aduk hingga larut semua. 7. Masukkan larutan garam sedikit demi sedikit ke dalm ember sambil diaduk hingga adonan agak kental. 8. Masukkan parfum ke dalam ember dan aduk hingga rata. 9. Diamkan sejenak hingga busa berkurang 10. Lakukan kontrol kualitas. 11. jika kualitas bagus,produk siap dikemas.

ANALISIS USAHA
SKALA RUMAH TANGGA

Modal tetap
Timbangan Ember Wadah bahan baku Pengaduk Perlengkapan kontrol kualitas Keselamatan kerja Perlengkapan lain-lain Jumlah Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp 100.000,00 20.000,00 30.000,00 6.000,00 100.000,00 300.000,00 100.000,00 656.000,00

Modal Kerja
Persediaan bahan baku dan kemasan Persediaan barang jadi Jumlah Rp 3.000.000,00 Rp 500.000,00 Rp 3.500.000,00

3) Total Modal (total investasi)


Total modal = modal tetap + modal kerja = Rp 656.000,00 + Rp 3.500.000,00 = Rp 4.156.000,00

b. Biaya Operasional
Bahan baku dan kemasan Penyusutan alat rata-rata Rp 656.000,00/5/12 Listrik Operasional penjualan Jumlah Total biaya operasional Rp Rp Rp Rp Rp Rp 3.000.000,00 10.933,00 50.000,00 150.000,00 3.210.933,00 3.210.933,00

c. Perhitungan keuntungan
Diket harga bahan baku sabun tangan cair/kg adalah: Emal-70 C Rp Arkopal N 100 Rp Garam Rp EDTA2Na Rp Parfum Rp Pewarna Rp Air Rp 12.500,00 13.500,00 2.000,00 50.000,00 200.000,00 100.000,00 5,00

Larutan garam 20% = 0,2 x Rp 2000,00 + 0,8 x Rp 5,00 Harga pokok material /kg dihitung sbb: Emal-70 C 18% = 0,18 x Rp 12.500,00 Arkopal N 100 1% = 0,01 x Rp 13.500,00 Larutan garam (20%) 18% = 0,18 x Rp 404,00 EDTA2Na 0,4% = 0,004 x Rp 50.000,00 Parfum 0,4% = 0,004 x Rp 200.000,00 Pewarna sangat sedikit Air 62,2% = 0,622 x 20.600 x Rp 5,00 jumlah

Rp

404,00

Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp

2.250,00 135,00 73,00 200,00 800,00 10,00 3,00 3.471,00

Jadi harga pokok material sabun tangan cair adalah Rp 3.471,00 per kg atau sama dengan Rp 3.124.000,00/liter. Dengan memasukkan biaya kemasan maka harga pokok produksi (HPP) sabun = Rp 3.500,00/liter. Selanjutnya ditentukan harga jual per liternya ke penyalur/warung Rp 6.500,00 sehingga diperkirakan harga eceran tertinggi Rp 7.500,00/liter. Dengan demikian keuntungan per liternya adalah Rp 6.500,00 Rp 3.500,00 = Rp 3.000,00

d. Perhitungan Break Even Point


Dengan persamaan yang disederhanakan, BEP dihitung sebagai berikut :

BEP !
!

Biaya Operasiona l H arg a Jual


Rp 3.210.933,00 Rp 6.500,00

! 494 liter

Jika dihitung dalam hari : 494 liter / bulan ! 25 hari / bulan

! 20 liter / hari
Dengan demikian, agar tidak rugi, paling sedikit harus terjual sebanyak 20 liter per hari

e. Perhitungan Pay Back Period (PBP) Pay Back Period atau rentang waktu kembali modal dihitung sebagai :

PBP !

Total inveestasi (t arg et penjualan  BEP) keuntungan / literxhari ker ja

2. Prospek Usaha dan Pemasaran


a. Perizinan Hal-hal yang harus diperhatikan dalam proses perizinan : 1. Izin Mendirikan Bangunan-Bangunan (IMBB). Bagi yang menyewa tempat menunjukkan lembaran perjanjian kontrak diseertai dengan fotocopy IMBB peilik bangunan yang dilegalisir. 2. Akte pendirian perusahaan yang dikeluarkan oleh Direktorat Kehakiman Pusat Jakarta. 3. Tanda Izin Usaha Perdagangan (HO Perdagangan). 4. Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) yang diteruskan dengan Nomor Pokok Pengusaha Kena Pajak (NPPKP). 5. Tanda Daftar Perusahaan (TDP). 6. Tanda Daftar Industri (HO Produksi). 7. Izin merk. 8. Tanda barcode (jika produk dijual di supermarket). 9. Izin Departemen Kesehatan (Dep Kes) untuk mendapatkan nomor DepKes.

Pada saat mengurus izin ke Departemen Kesehatan, keterangan persyaratan yang disertakan antara lain : 1. Peta lokasi 2. Daerah bangunan (diperiksa oleh Balai POM) 3. Daftar macam dan bentuk produk 4. Daftar alat produksi dan perlengkapan produksi 5. Daftar alat laboratorium 6. Daftar buku kepustakaan Biasanya, untuk merek menunggu waktu selama beberapa bulan. Hal ini untuk menghindari kemungkinan pemberian nama merek produk yang sama dengan merek produk yang lain yang lebih dulu. Jika terjadi, merek produk kita yang dikalahkan dan harus diganti merek

b. Peluang Pasar Harus diakui bahwa konsumsi sabun tangan cair di Indonesia belum sebesar produk cairan pencuci piring atau detergen bubuk. Di negara-negara yang lebih maju (tingkat ekonominya tinggi), hampir semua rumah menggunakan produk ini. Meskipn demikian peluang untuk memasarkan produk sabun tangan cair ini masih cukup terbuka. Hampir setiap restoran dan perkantoran juga menggunakan produk ini. Hal ini merupakan peluang pasar yang sudah dilihat sebagian orang yang berniat menekuni usaha dibidang produksi sabun tangan cair.