Anda di halaman 1dari 24

PRESENTASI KASUS POLI VESICOLITHIASIS

Identitas Umum
 Nama     

: Tn. T Umur : 35 tahun Alamat : Jl. Kerta, Sumedang Agama : Islam Pekerjaan : Buruh Tanggal Pemeriksaan : 14 Juni 2011

Anamnesis
 KU: Sakit saat BAK  AK: Sejak 4 hari SMRS, penderita mengeluh sering

sakit saat BAK. Sakit pertama kali dirasakan sejak 5 tahun lalu yang hilang timbul dan sekarang dirasakan terus-menerus. Keluhan disertai dengan BAK menetes, tiba-tiba berhenti dan dapat menetes kembali setelah berubah posisi. Penderita merasa BAK tidak puas dan lebih sering merasa ingin BAK. Keluhan juga disertai dengan keluar butiran seperti pasir saat BAK, dan BAK disertai darah. Keluhan disertai dengan nyeri pinggang di sebelah kiri yang hilang timbul . Riwayat demam (-). Riw operasi batu (-)

Pemeriksaan Fisik
 Status Generalis
Konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik Lain-lain dalam batas normal

Status Urologis  a/r flank dextra dan sinistra:


perabaan ginjal -/-, nyeri tekan -/-, nyeri ketok CVA -/-

 a/r suprapubis:
Nyeri tekan (+), buli penuh

 a/r GE:
meatal stenosis (-)

Foto Polos Abdomen (14-6-2011)

 Diagnosa Banding

Urolithiasis DD/ Vesicolithiasis, ureterolithiasis, nephrolithiasis


 Diagnosa Kerja

Vesicolithiasis
 Usulan Pemeriksaan

- Pemeriksaan kimia klinik (Ureum, Kreatinin) - Urinalisis - BNO - USG ginjal, ureter, kandung kemih

 Terapi

- Minum banyak - Expectative: pasang catheter - Antibiotik dan analgesik - Rencana Operasi: Vesicolithotomi
 Prognosa
Quo ad vitam: ad bonam Quo ad functionam: ad bonam

PEMBAHASAN

Teori proses pembentukan batu saluran kemih




Secara teoritis batu dapat terbentuk diseluruh saluran kemih terutama pafda tempat-tempat yang sering mengalami hambatan aliran urin (stasis urin), yaitu pada sistem kalises ginjal atau buli-buli. Adanya kelainan bawaan pada pelvikalises (stenosis ureteropelvis), divertikel, obstruksi infravesika kronis seperti pada hiperplasia prostat benigna, striktura, dan buli-buli neurogenik merupakan keadaan-keadaan yang memudahkan terjadinya pembentukkan batu.

Overview

Faktor Resiko
 Terbentuknya batu saluran kemih diduga ada hubungannya dengan gangguan aliran urin, gangguan metabolic, infeksi saluran kemih, dehidrasi, dan idiopatik.  Secara epidemiologis terdapat beberapa factor yang mempermudah terjadinya batu saluran kemih pada seseorang. Faktor factor itu adalah:

- factor intrinsic yaitu keadaan yang berasal dari tubuh seseorang - faktor ekstrinsi yaitu pengaruh yang berasal dari lingkungan sekitarnya.

Faktor intrinsic antara lain :


 Herediter (keturunan)  Umur : Penyakit ini sering didapatkan pada usia

30- 50 tahun  Jenis kelamin : jumlah pasien laki-laki lebih banyak dari pasien perempuan

Faktor ekstrinsik
 Geografi : pada beberapa daerah menunjukkan angka kejadian

batu saluran kemih yang lebih tinggi daripada daerah lain sehingga dikenal sebagai daerah stone belt (sabuk batu), sedangkan daerah Bantu di afrika selatan hampir tidak dijumpai batu saluran kemih.
 Iklim dan temperatur  Asupan air : kurangnya asupan air dan tingginya kadar mineral

kalsium pada air yang dikonsumsi.


 Diet : diet banyak purin, oksalat, dan kalsium mempermudah

terjadinya penyakit batu saluran kemih.


 Pekerjaan : Penyakit ini sering dijumpai pada orang yang

pekerjaannya banyak duduk atau kurang aktifitas.

Pathogenesis
 Kelainan bawaan atau cedera, keadaan patologis yang disebabkan

karena infeksi, pembentukan batu di saluran kemih dan tumor, keadan tersebut sering menyebabkan bendungan. Hambatan yang menyebabkan sumbatan aliran kemih baik itu yang disebabkan karena infeksi, trauma dan tumor serta kelainan metabolisme dapat menyebabkan penyempitan atau struktur uretra sehingga terjadi bendungan dan statis urin. Jika sudah terjadi bendungan dan statis urin lama kelamaan kalsium akan mengendap menjadi besar sehingga membentuk batu.

Teori Pembentukan Batu


1. Teori Supersaturasi Tingkat kejenuhan komponen-komponen pembentuk batu ginjal mendukung terjadinya kristalisasi. Kristal yang banyak menetap menyebabkan terjadinya agregasi kristal dan kemudian menjadi batu. 2. Teori Matriks Matriks merupakan mikroprotein yang terdiri dari 65 % protein, 10 % hexose, 3-5 hexosamin dan 10 % air. Adanya matriks menyebabkan penempelan kristal-kristal sehingga menjadi batu. 3. Teori Kurangnya Inhibitor Pada individu normal kalsium dan fosfor hadir dalam jumlah yang melampaui daya kelarutan, sehingga membutuhkan zat penghambat pengendapan. fosfat mukopolisakarida dan fosfat merupakan penghambat pembentukan kristal. Bila terjadi kekurangan zat ini maka akan mudah terjadi pengendapan.

4. Teori Epistaxy Merupakan pembentuk batu oleh beberapa zat secara bersama-sama. Salah satu jenis batu merupakan inti dari batu yang lain yang merupakan pembentuk pada lapisan luarnya. Contoh ekskresi asam urat yang berlebih dalam urin akan mendukung pembentukan batu kalsium dengan bahan urat sebagai inti pengendapan kalsium. 5. Teori Kombinasi Batu terbentuk karena kombinasi dari bermacammacam teori diatas.

Gejala klinis
 Asimptomatik  Nyeri di daerah suprapubik  Disuria  Intermitensi  Frekuensi  Hesitansi  Nokturia  Retensio urin  Hematuria  BAK disertai pasir  Referred pain di bagian skrotum, perineum, punggung dan pelvis yang

bertambah saat aktivitas dan berkurang dalam posisi telentang.

Pemeriksaan Penunjang


1. Urine a pH lebih dari 7,6 biasanya ditemukan kuman area splitting, organisme dapat berbentuk batu magnesium amonium phosphat, pH yang rendah menyebabkan pengendapan batu asam urat. b Sedimen : sel darah meningkat (90 %), ditemukan pada penderita dengan batu, bila terjadi infeksi maka sel darah putih akan meningkat. c Biakan Urin 2. Darah a Hb akan terjadi anemia pada gangguan fungsi ginjal kronis. b Leukosit terjadi karena infeksi. c Ureum kreatinin untuk melihat fungsi ginjal. d Kalsium, fosfat dan asam urat.

 3. Radiologis

a Foto polos abdomen b Foto BNO/IVP untuk melihat posisi batu, besar batu, apakah terjadi bendungan atau tidak. c Pada gangguan fungsi ginjal maka IVP tidak dapat dilakukan, pada keadaan ini dapat dilakukan retrogad pielografi.
 4. USG (Ultra Sono Grafi)

Untuk mengetahui sejauh mana terjadi kerusakan pada jaringan ginjal.

Penatalaksanaan
 1. Mengatasi Simtom

Ajarkan dengan tirah baring dan cari penyebab utama dari vesikolitiasis, berikan analgetik 2. Pengambilan Batu a Batu dapat keluar sendiri - Batu tidak diharapkan keluar dengan spontan jika ukurannya >6 mm. b Vesikolithotomi.

 c Pengangkatan Batu

1. Lithotripsi gelombang kejut ekstrakorporeal (ESWL) Prosedur non invasif yang digunakan untuk menghancurkan batu. Litotripsi adalah alat yang digunakan untuk memecahkan batu tersebut, tetapi alat ini hanya dapat memecahkan batu dalam batas ukuran 3 cm ke bawah. Bila batu di atas ukuran ini dapat ditangani dengan gelombang kejut atau sistolitotomi melalui sayatan prannenstiel. Setelah batu itu pecah menjadi bagian yang terkecil seperti pasir, sisa batu tersebut dikeluarkan secara spontan.


2. Metode endourologi pengangkatan batu Bidang endourologi mengabungkan ketrampilan ahli radiologi mengangkat batu renal tanpa pembedahan mayor. Batu diangkat dengan forseps atau jarring, tergantung dari ukurannya. Selain itu alat ultrasound dapat dimasukkan ke selang nefrostomi disertai gelombang ultrasonik untuk menghancurkan batu. 3. Ureteroskopi
 Ureteroskopi mencakup visualisasi dan akses ureter dengan memasukkan

alat ureteroskop melalui sistoskop. Batu dapat dihancurkan dengan menggunakan laser, litotrips elektrohidraulik, atau ultrasound kemudian diangkat.

Daftar Pustaka
 http://emedicine.medscape.com/article/440657-overview#a04  http://healthsciencetechnology.wikispaces.com/Urinary+Tract+Stones  http://catalog.nucleusinc.com/generateexhibit.php?ID=787  http://afifsurg.wordpress.com/2011/04/17/vesicolithiasis/