Anda di halaman 1dari 59

PENGATURAN FREKWENSI

Kelompok IV Marwan Agus


(D41107132)

Moh. Usman Ali Akbar


(D41107125)

1. Daya Aktif dan Frekwensi


Sistem tenaga listrik harus mampu menyediakan tenaga listrik bagi para pelanggan dengan frekwensi yang praktis konstan.kalaupun ada, Penyipangan frekwensi dari nilai nominal harus selalu dalam batas toleransi yang diperbolehkan. Daya aktif mempunyai hubungan erat dengan nilai frekwensi dalam sistem, dimana beban sistem yang berupa daya aktif dan reaktif ini selalu

Penyesuaian daya aktif ini dilakukan dengan mengatur besarnya kopel penggerak generator. generator yang umum digunakan yaitu generator sinkron 3 fasa untuk pembangkit tenaga listrik yang utama, karnanya pengaturan frekwensi sistem praktis tergantung kepada karakteristik generator sinkron.
3

S e p e rtiya n g te rl h a t p a d a g a m b a r d ib a w a h p e n g a tu ra n i a ru s m e d a n g e n e ra to r h a n ya a ka n m e m p e n g a ru h ip a n j n g a p e n d e kn ya ve kto r ya n g se l n j tn ya a ka n p u l a u a m e m p e n g a ru h ip a n j n g p e n d e kn ya ve kto r E ka re n a V e kto r a E se b a n d i g d e n g a n n

2. PRINSIP KERJA GOVERNOR


P E N G A T U R A N FR E K W E N S I SI TEM S

PE N G A T U RAN PE N Y E D I AAN D A YA A KT I F

Respons governor yang stabil


6

Dari gambar di atas maka dapat disimpulkan bahwa :

setelah ada penambahan beban, frekwensi menurun dan governor beraksi untuk mengembalikan frekwensi ke nilai semula yaitu F0. daLam proses mengembalikan nilai frekwensi ke nilai semula F0 ternyata apabila telah tercapai nilai F0 nilai T=0,hal ini terjadi pada saat nilai frekwensi F F0. Dari uraian di atas ternyata governor tidak bisa mencapai nilai F0 kembali secara stabil melainkan akan berosilasi disekitar nilai F0,dikatakan bahwa governor bersifat statis.7

1. Pa d a sa a t t= t1 a d a penam bahan beban. 2. Pa d a sa a t t= t2 g o ve rn o r m u l i a m e m b e rire sp o n s. 3. G a ri a s m e n g g a m b a rka n re sp o n s ya n g ti a k d sta b i , b e ro si a si l l 4. G a ri e s m e n g g a m b a rka n re sp o n ya n g l n g su n g sta b i a l 5. G a ri b s m e n g g a m b a rka n 8 re sp o n s

Apabila pada beban penuh (100%) dikehendaki frekwensi = 100% dan untuk ini frekwensi pada beban nol harus= 104% maka dikatakan bahwa governor mempunyai speed droop = 4%.

3. PENYETELAN SPEED DROOP


SPEED DROP MERUPAKAN SALAH SATU KARAKTERISTIK GOVERNOOR YANG PERLU DIPERHATIKAN DALAM PENGATURAN FREKWENSI SISSTEM

10

Penyetelan speed droop


Jarak titik B D Sifat Governor Speed Droop Dekat Makin cepat Menghasilkan menghentikan speed droop Jauh Makin lambat Menghasilkan tanggapannya yang besar menghentikan speed droop terhadap tanggapannya yang kecil perubahan terhadap frequensi, dan perubahan dikatakan frekwensi, bersifat malas rajin Kestabilan Kecil kemungkinan Besar untuk tidak kemungkinanny stabil tidak a untuk stabil

11

Speed Droop Diatur Dengan Menyetel Posisi Engsel E

Penyetelan Governor dapat dilakukan dengan menyetel jarak titik B dan D .

12

Lanjutan Speed droop sesungguhnya merupakan hasil umpan balik dari gerakan penambahan uap atau air, yaitu dengan bergeraknya titik C dan D ke atas yang selanjutnya melalui engsel E sprt terlihat pada gambar menekan rumah pengisap kiri ke bawah sehingga menutup lubang lubang yang meneruskan tekanan minyak ke pengisap kanan dan akhirnya menghentikan proses penambahan uap atau air.

13

Gambar disamping menunjukkan perubahan frekwensi sebagai fungsi waktu. Pada saat t=t0 ada penambahan beban sehingga frekwensi menurun menurut garis. Apabila inersia sistem lebih kecil maka penurunan frekwensi akan -lebih cepat , misalnya menurut garis I2. pada saat t=t1 governor mulai terasa kerjanya, mulai melakukan pengaturan primer sampai t=t2 dan tercapai frekwensi = F1. Pada saat t=t3 dilakukan pengaturan sekunder sehingga frekwensi kembali menjadi F0 . Besarnya F tergantung pada penyetelan speed droop governor.
14

Dalam praktek governor adalah tidak sesederhana seperti pada gambar sebelumnya, untuk lebih detailnya dapat dilihat pada gambar disamping,dilengkapi dengan rangkaian peredam (dashpot) dan menggunakan penguatan bertingkat.juga perlu terdapat katub darurat .
15

4. PRINSIP KERJA GOVERNOR WOODWARD

Governor woodward banyak ditemui dilingkungan PLN maupun diluar PLN. Governor jenis ini khususnya untuk unit unit pembangkit Diesel, karna langsung menggerakkan pompa pengatur bahan bakar yang tidak memerlukan gaya mekanis yang besar.
16

17

Sploaded accumulator bersama bersama gear pump bertugas menyelenggarakan ring tekanan minyak untuk sistem hidrolik,khususnya untuk menggerakkan piston ke atas atau ke bawah. Pilot valve mengarahkan piston. Terminal sahft menambah bahan bakar dan menggerakkanspeed droop link. Receving compensating piston melalui foating lever bertugas sebagai peredam agar tidak mudah timbul osilasi. Compensanting needle valve dipakai untuk menyetel besar kecilnya redaman.

18

1.Tombol speed droop control untuk mengatur besar kecilnya speed droop dari governoor. 2.Tobmbol load limit control dipakai untuk membatasi beban mesin diesel. 3. 4.Tombol Synchronizer control dipakai untuk mengatur putaran mesin diesel. 5.Tombol yang ada di bawah tombol synchronizer yang tidak diberi nama Cuma mengikuti perputaran tombol synchronizer control ( menunjukkan seberapa banyak tomol synchronizer telah berputar)

5.Compensating needle valve berfungsi untuk menyetel besar kecilnya lubang miinyak sistem peredam 6.Compensating adjusting pointer menunjukkan seberapa jauh tingkat peredaman telah berlangsung.
19

5. HUBUNGAN ANTARA SPEED DROOP DAN PEMBAGIAN BEBAN


Gambar grafik di bawah menunjukkan dua buah unit pembangkit yang bekerja secara paralel dan melayani beban sebesar P, di gambar dapat dilihat bahwa beban P selalu = jumlah daya yang dibangkitkan, yaitu = P1 + P2 unit pembangkit 1 mempunyai speed droop S1 sedang Unit pembangkit 2 speed droopnya = S2

20

21

22

23

6. Tinjauan matematis terhadap pengaturan primer dalam keadaan statis


Statisme suatu sistem adalah suatu angka yang menggambarkan berapa hertz frekwensi akan berubah untuk perubahan beban dalam MW tertentu

24

Dengan memperhatikan gambar di atas maka :

IV.3

Dimana F1- F2= turunnya frekwensi karena beban naik dari P1 menjadi P2 . Dan F2-F3 = turunnya frekwensi karena beban naik dari P2 menjadi P3. tanda negatif menunjukkan frekwensi F turun apabila beban P naik.
25

Dari persamaan IV.3 dapat dirubah ke persamaan berikut: IV.4

Jika diberi tanda k sedangkan F1-F2= F1 dan F2F3= F2 sedangkan P1-P2 = P1 dan P2-P3= P2 maka persamaan dapat ditulis: IV.5 Secara umum persamaan IV.5 dapat ditulis : Kebalikan dari statisme yaitu 1/k dapat ditulis Kf sehingga didapat :

26

Karena frekwensi dalam seluruh sistem yang di interkoneksikan adalah sama, maka persamaan di atas menjadi : Uraian di atas tidak menggambarkan uraian matematis dari respon governor sebagai fungsi waktu melainkan hanya sebagai fungsi beban.

27

7.

Tinjauan Matematis Respon Waktu dari Governor terhadap Frekwensi (keadaan dinamis)

Frekwensi versus waktu, menggambarkan respon waktu dari Governor. Dengan ini akan di ulas dalam pendekatan matematis.

28

untuk mengadakan tinjauan matematis terhadap respon waktu dari governor kita tinjau gambar di bawah ini:

Penyederhanaan dari gambar IV.7

Masukan input ke governor diterima : Melalui titik A yaitu apabila terjadi perubahan frekwensi yang selanjutnya akan diikuti dengan pengaturan primer dari governor. Melalui titik B2 yaitu apabila dilakukan pengaturan sekunder baik secara manual maupun melalui motor pengatur putaran Apabila arah gerakan yang positif adalah seperti yang ditunjukkan oleh arah panah pada gambar IV.14 maka di dapat
29

Karena gerakan titik engsel B1 dipengaruhi oleh gerak titik engsel A dan titik engsel B2 maka :
Dari gambar gambar ini dapat dilihat bahwa besarnya gerakan titik D tergantung kepada: 1. Jauh dekatnya titik B1 bergerak untuk membuka aliran minyak bertekanan ke arah pengisab yang mengangkat titik D. 2. Lamanya titik B1 memberi kesempatan tekanan minyak tersebut pada butir 1) mengangkat pengisap titik D. Sehingga dapat dinyatakan dalam rumus:

30

31

Pengaturan Sekunder Pada Governor

Pengaturan sekunder untuk kenaikan frekwensi


32

Pengaturan

sekunder,

dapat

dilakukan

secara

manual ataupun oleh komputer.


jika dilakukan secara manual dalam sistem yang terdiri dari banyak unit pembangkit dan juga banyak pusat listrik yang tersebar, pelaksanaannya perlu dikoordinir. Koordinasi pengaturan sekunder ini, berarti pula koordinasi pembagian dalam sistem, oleh karenanya dilakukan oleh Pusat Pengatur Beban Sistem Tenaga Listrik. Jika pengaturannya dilakukan dengan

menggunakan komputer maka software dari komputer harus diisi datanya oleh Pusat Pengatur Beban agar sesuai dengan kondisi sistem.
33

Dalam

prakteknya

begitu

frekwensi

naik,

langsung diikuti dengan kenaikan beban khususnya untuk beban yang terdiri dari motor listrik, walaupun kenaikan beban ini memerlukan waktu karena adanya kelembaman sistem mekanik dari motor-motor listrik. Jika pengaturan sekunder sistem berlangsung cukup lama maka pengaruh proses pengaturan sekunder seperti digambarkan oleh gambar diatas tadi, sebenarnya berlangsung setapak demi setapak seperti digambarkan pada gambar selanjutnya, yang merupakan kelanjutan proses pengaturan sekunderyang digambarkan sebelumnya.
34

GAMBAR

PENGATURAN SEKUNDER YANG DIIKUTI DENGAN PERUBAHAN BEBAN SISTEM


35

Frekwensi

dinaikkan

dari

titik

ke

titik

2,

ini

menyebabkan kenaikan beban sistem mengikuti kenaikan frekwensi. Kenaikan beban ini menyebabkan penurunan frekwensi sepanjang garis statisme sistem menuju titik 3. kemudian frekwensi naik ke titik 4dan seterusnya sampai ke titik 7. dalam prose ini dianggap bahwa selama langkah kenaikan frekwensi dari titik 1 ke titik 2, dari titik 3 ke titik 4, dari titik 5 ke titik 6, tidak terjadi kenaikan beban karena karena langkah-langkah kenaikan frekwensi ini cukup kecil dan berlangsung cukup cepat sehingga beban belum naik. Dengan naiknya frekwensi dati titik 1 ke titik 7, beban juga naik sebear B.

36

Pengaturan Frekwensi Dan Beban (Load Frequency Control)

Tie Lines

Dua buah sistem A dan B yang dihubungkan oleh 3 buah tie lines
37

Pada gambar dapat dilihat dua buah sistem A dan B yang dihubungkan satu sama lain oleh 3 buah tie lines. Setiap sistem merupakan suatu kesatuan yang integrated sehingga praktis tidak ada masalah pengukuran yang perlu pengawasan khusus dalam operasi. Sedangkan 3 buah tie lines yang menghubungkan kedua sistem A dan B relatif adalah lemah dan bebannya perlu diawasi secara khusus. Maka timbul masalah frekwensi dari sistem, oleh karenanya perlu ada Load Frequency Control (LFC). Dalam LFC ada dua kebesaran fisik yang diamati yaitu frekwensi sistem dan beban (MW)dari tie lines. Dua kebesaran fisik ini dibandingkan terhadap kebesaran yang kita inginkan dan selisihnya dipakai untuk menentukan langkah-langkah koreksi yang harus dilakukan yaitu menambah atau mengurangidaya yang dibangkitkan. Koreksi yang diperlukan dinyatakanoleh persamaan:
38

= K1 (P0-P1) + K1 (F0-F)

= K1 (P0-P1) + K1 (F0-F)
Dimana : P = daya tambahan/ pengurangan yang harus dibangkitkan dalam sistem F0 = frekwensi yang diinginkan dalam sistem (Hertz) F = frekwensi yang sesungguhnya terjadi dalam sistem

(Hertz) P0 = Jumlah transfer daya yang diinginkan/dijadwalkan melalui tie lines(MW) P1 = Jumlah transfer daya yang sesungguhnya pada tie lines (MW) K1 = Konstanta pengaturan sekunder (MW/Hertz) yang dikehendaki untuk memberikan respons terhadap
39

Dalam praktek apabila koreksi daya dilakukan, berdasar persamaan tersebut maka mudah terjadi osilasi. Untuk mencegah osilasi ini maka besarnya koreksi daya yang harus dilakukan atas dasar besarnya penyimpangan yang terjadi ditambah dengan integral penyimpangan terhadap waktu, beikut persamaannya: = CrK1 (P0-P1) + Kf (F0-F) + Ci 0 (P0-P1) + Kf (F0-F) dt Dimana: Cr yang adalah suatu konstanta yang menggambarkan kepekaan diinginkan dari Load Frequency Controller terhadap

besarnya penyimpangan frekwensi dan transfer daya tie lines yang terjadi. Ci yang adalah suatu konstanta yang menggambarkan kepekaan diinginkan dari Load Frequency Controller terhadap
40

akumulasi penyimpangan frekwensi dan transfer daya tie lines yang terjadi.

Setelah nilai P didapat denngan menggunakan persamaan awal, maka P didispacth kepada unit-unit pembangkit seperti halnya yang diuraikan dalam pasal 11. LFC banyak dipakai di Eropa maupun di USA karena adanya masalah export-import energi listrik antar neara maupun antar perusahaan. Dalam sistem jawa LFC akan dipakai mulai tahun 1986. Pada saat ini sistem perusahaan PT Krakatau Steel di interkoneksikan dengan sistem PLN dan PT Krakatau Steel mempunyai alat LFC tetapi konstanta kf diambil = 0 sehingga alat ini hanya berfungsi sebagai tie lines controller.
41

Pelepasan Beban (Load Shedding)


Jika terdapat gangguan dalam sistem yang

menyebabkan daya tersedia tidak dapat melayani beban, misalnya karena ada unit pembangkit yang besar jatuh (trip), maka untuk menghindarkan sistem menjadi collapsed perlu dilakukan pelepasan beban. Keadaan yang kritis dalam sistem karena jatuhnya unit pembangkit dapat dideteksi melalui frekwensi sistem yang menurun dengan cepat.

42

Gambar

P e ru b a h a n fre k w e n si se b a g a i fu n g si w a k tu d e n g a n a d a n y a p e le p a sa n b e b a n
43

Turunnya frekwensi dapat menurut garis 1, garis 2 atau garis 3. Makin besar unit pembangkit yang jatuh (makin besar daya tersedia yang hilang) makin cepat frekwensi menurun. Kecepatan menurunnya frekwensi juga tergantung kepada besar kecilnya inersia sistem. Makin besar inersia sistem, makin kokoh sistemnya, makin lambat turunnya frekwensi. Pada gambar sebelumnya, dimisalkan bahwa

frekwensi menurun menurut garis 2. setelah mencapai titik B dilakukan pelepasan beban tingkat pertama oleh Under Frequency Relay (UFR) yang bekerja setelah mendeteksi frekwensi sebesar F8 . Dengan adanya pelepasan beban tingkat pertama maka penurunan frekwensi berkurang kecepatannya, sampai di titik C UFR mendeteksi frekwensi 44

Setelah pelepasan tingkat kedua frekwensi sistem tidak lagi menurun tapi menunjukkan gejala yang baik yaitu naik kembali menuju titik D. Naiknya frekwensi dari titik C menuju titik D disebabkan karena daya yang masih tersedia dalam sistem adalah lebih besar daripada beban setelah mengalami pelepasan beban tingkat kedua. Mulai dari titik D, yaitu setelah proses tersebut diatas berlangsung selama TD . Governor unit-unit pembangkit dalam sistem mulai melakukan pengaturan primer. TD berkisar sekitar 4 detik. Periode sebelum governor melakukan pengetahuan primer disebut periode transien dan ini berlangsung selama kira-kira 4 detik. Setelah Governor melakukan pengaturan primer maka frekwensi mencapai titik FE yaitu kondisi pada titik E. kemampuan governor melakukan pengaturan primer sangat tergantung kepada besarnya spinning reserve yang masih tersedia dalam sistem. Seandainya unit-unit pembangkit yang masuk (paralel) kedalam sistem mempunyai kemampuan pembangkitan 100 MW tetapi bebannya baru 70 MW maka dikatakan bahwaspinning reserve masih 100-70 = 30 MW. Setelah mencapai titik E, masih ada deviasi frekwensi sebesar F terhadap frekwensi yang didinginkan yaitu F0 dan deviasi ini dikoreksi 45

Apabila unit pembangkit yang jatuh tidak begitu besar mungkin penurunan frekwensi tidak pernah mencapai nilai FC
sehingga dalam hal ini pelepasan beban tingkat pertama saja sudah cukup untuk menghindarkan sistem menjadi collapsed. Dalam praktek pelepasan beban (load shedding) dilakukan dengan memasang UFR pada berbagai feeder distribusi yang dipilih menurut kondisi setempat. Feeder diberiUFR. sisitem. Pelepasan beban dapat pula dilakukan melalui Komputer Pusat Pengaturan Beban yang dapat diprogram sebelumnya sesuai dengan kebutuhan operasi setiap saat dan kondisi setempat. Jumlah UFR harus sedikitnya cukup melepas beban sebesar unit terbesar dalam

46

MACAM-MACAM PEMBANGKITAN

CADANGAN

Selisih antara kebutuhan daya dalam sistem (beban) dengan daya yang siap untuk dibangkitkan dalam sistem, merupakan cadangan pembangkitan dalam sistem. Namun, karena tidak semuaunit pembangkit yang siap operasi selalu dioperasikan maka timbul beberapa cadangan pembangkitan yaitu : 1. Cadangan Berputar (Spinning Reserve) 2. Cadangan Panas (Hot Reserve) 3. Cadangan Dingin (Cold Reserve)

47

a. Cadangan Berputar (spinning Reserve) Ialah cadangan daya pembangkitan yang terdapat pada unit-unit pembangkit yang beroperasi paralel dengan sistem. a. Cadangan Panas (Hot Reserve) Ialah cadangan daya pembangkitan yang terdapat pada unit pembangkit yang siap operasi dan telah dalam kondisi untuk dapat segera paralel dengan sistem. Istilah ini biasanya dipakai untuk unit PLTU yang siap operasi dalam keadaan ketelnya panas dan telah bersedia uap untuk sewaktu waktu menjalankan turbin, api ketel dalam keadaan menyala kecil sehingga uap tetap panas dan siap untuk menjalankan turbin uap. Walaupun ketel sudah dalam keadaan panas masih diperlukan waktu beberapa puluh turbin. c. Cadangan Dingin (Cold Reserve) Ialah cadangan daya pembangkitan yang terdapat pada unitunit pembangkit yang siap operasi tetapi dalam keadaan berhenti/dingin.
48

untuk menjamin terdapatnya pengaturan frekwensi baik, selain harus tersedia yakni dapat bergerak

yang

cadangan berputar yang cukup perlu bebas. Karena alasan-alasan teknis

pula diperhatikan bahwa keadaan governor adalah bebas (free) adakalanya governor terkunci (locked), sehingga dengan demikian unit pembangkit yang bersangkutan tidak dapat berpartisipasi dalam pengaturan frekwensi sistem baik pengaturan primer maupun pengaturan sekunder dalam hal ini terjadi kenaikan beban yang memerlukan tambahan daya dari unit pembangkit. Salah satu alasan teknis untuk mengunci adalah adanya gangguan mekanis pada unit pembangkit yang memerlukan pembatasan daya yang dibangkitkan. Makin besar cadangan berputar dalam sistem makin handal sistem tersebut dalam menghadapi gangguan, tetapi besar juga makin biaya operasinya khususnya biaya bahan bakarnya. Oleh
49

karenanya perlu ada kompromi antara keandalan dan biaya operasi.

PERHITUNGAN PENURUNAN FREKWENSI KARENA GANGGUAN UNIT PEMBANGKIT Pada Bab ini akan dibahas bagaimana menghitung

penurunan frekwensi yang terjadi dalam sistem sebagai akibat gangguan unit pembangkit yang mengalami trip dari sistem, tanpa memperhitungkan respon darigovernor. Respon dari governor tidak diperhitungkan agar didapat hasil perhitungan yang lebih aman, karena perhitungan penurunan frekwensi sebagai akibat tripnya salah satu unit pembangkit dimaksudkan untuk merencanakan pelepasan beban dengan menggunakan Under Frequency Relay (UFR) untuk menghindarkan gangguan (semi) total dalam sistem yang disebabkan terlalu banyak unit pembangkit yang ikut trip karena menjadi berbeban lebih. Hal ini secara kwalitatif diuraikan dalam load shedding. Sedangkan perhitungan kwantitatif. Sebelum ada unit pembangkit yang trip, keadaan adalah
50

dalam bab ini

akan dilakukan

PELEPASAN

BEBAN

UNTUK

MENGHINDARKAN

GANGGUAN

BERAT DALAM SISTEM.

Gangguan disebabkan

pada

unit

pembangkit unit

mengakibatkan apabila

terjadinya perubahan energi kinetis. Turunnya frekwensi yang adanya gangguan pembangkit lajunya (df/dt) besar dapat membahayakan sistem, sehingga untuk menghindarkan gangguan yang lebih besar perlu dilakukan pelepasan beban. Dengan memperhatikan uraian sebelumnya pelepasan beban artinya adalah sama dengan memperkecil pengaruh PS0 dan selanjutnya persamaanpersamaan dalam uraian sebelumnya dapat dipakai. Dalam perhitungan pelepasan beban sebaiknya pengaruh governor diabaikan sehingga didapat hasil perhitungan yang lebih
51

FLOW

CHART

UNTUK

MENGHITUNG

FREKWENSI

SEBAGAI FUNGSI WAKTU


Dalam perhitungan nilai frekwensi ini, dianggap bahwa nilai frekwensi berbah secara bertahap dan selama setiap selang waktu nilai frekwensi dianggap konstan. Jadi perubahan frekwensi dianggap berlangsung setapak demi setapak (discrete) pada setiap akhir selang waktu. Makin kecil selang waktu yang dipilih makin teliti hasil perhitungan yang didapat. Seperti diuraikan dalam uraian sebelumnya perubahan frequensi sebagai fungsi waktu setelah ada gangguan unit pembangkit dinyatakan dalam persamaan f = a P + b. Masalahnya adalah bahwa dalam persamaan tersebut terdapat nilai f0 yang sesungguhnya adalah nilai frekwensi yang terjadi dalam sistem, nilai frekwensi ini besarnya tidak konstan karena nilai o, sedangkan nilai df/dt 0 frekwensi pada suatu saat : F = fo + (df/dt). t
52

53

Gambar

P e n g g a m b a ra n p e ru b a h a n fre k w e n si se ca ra se ta p a k d e m i se ta p a k
54

Dimana

f0 adalah nilai frekwensi

pada permulaan

selang waktu t. oleh karenanya persoalan baru dapat dipecahkan apabila dalam selang waktu t nilai frekwensi dianggap konstan = f0. Nilai frekwensi f yang baru dihitung kembali dengan persamaan f = fo + (df/dt). t. Nilai frekwensi f yang baru dihitung ini kemudian menjadi f0 pada selang waku t berikutnya dan seterusnya. Dengan menggunakan cara perhitungan setapak demi setapak seperti tersebut diatas, dapat digunakan komputer dengan algoritma perhitungan menurut Flow Chart, yang digambarkan pada gambar sebelumnya.

55

Dengan menggunakan program Komputer untuk perhitungan Perubahan frekwensi sesuai Flow Chart pada gambar sebelumnya, dapat dilakukan berbagai alternatif pelepasan beban untuk seterusnya dipilih yang paling sesuai dengan keadaan operasionil. Mengingat bahwa keadaan operasionil sistem selalu berubah maka perhitungan semacam ini perlu dilakukan secara rutin, disesuaikan dengan perkembangan operasi sistem. Dalam flow chart pada gambar sebelumnya dianggap pelepasan beban dilakukan apabila frekwensi turun dan mencapai nilai 48Hz tanpa penundaan waktu oleh relay. Apabila Under Frekwensi Relay yang melakukan pelepasan beban ini mempunyai penundaan waktu (Time Delay), maka flow chartnya perlu dirubah. Dari gambar sebelumnya juga terlihat bahwa apabila waktu t = 5 detik frekwensi tidak turun sampai 48Hz maka perhitungan bisa diberhentikan, tidak perlu dilanjutkan. Hal ini adalah dengan anggapan bahwa apabila dalam 5 detik maka tidak perlu dilakukan pelepasan beban, persoalan dapat diatai dengan pengaturan primer dan pengaturan sekunder dari governor. Tetapi 2 hal ini dianggap kurang meyakinkan dapat saja nila t dirubah misalnya menjadi 10 detik. Demikian juga apabila diinginkan bahwa pelepasan 56

Batas frekwensi yang terlalu dini memberikan resiko bahwa pelepasan beban yang sesunguhnya tidak diperlukan bisa terjadi. Sebaliknya batas frekwensi yng terlalu rendah bisa memeberikan total. untuk menentukan batas frekwensi pelepasan beban tersebut diatas diperlukan kompromi antar kedua resiko tersebut, penggunaan time delay untuk Under Frekwensi Delay dapat pula dipakai untuk memperkuat kompromi ini, resiko bahwa pelepasan beban telah berlangsung terlambat sehingga bisa terjadi gangguan(semi)

Frekwensi Kerja Waktu Tunda misalnyaHertzdisetting sebagai detik 49 UFR 2 berikut : 48,5 Hertz 1 detik 48 Hertz 0 detik

57

HUBUNGAN ANTARA SPEED DROOP DAN KF


Apabila governor unit pembangkit setting pada speed droop 4%, maka akan didapat droop frekwensi sebesar 4% antara keadaan unit berbeban nol dengan keadaan unit berbeban penuh 100% tanpa ada pengaturan sekunder, yang mana frekwensi dapat dilihat pada gambar berikut

K u rva fre kw e n si te rh a d a p b e b a n d e n g a n sp e e d d ro o p = 4 %
58

TERIM KASIH A

59