Anda di halaman 1dari 46

PELATIHAN KOMPETENSI JABATAN KERJA

PETUGAS KESELAMATAN KONSTRUKSI

MENERAPKAN PERATURAN DAN


PERUNDANGAN DALAM DOKUMEN
SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN
KONSTRUKSI (SMKK)
TUJUAN PEMBELAJARAN
• PESERTA MAMPU MENYIAPKAN PERATURAN DAN
PERUNDANGAN TERKAIT SMKK
• PESERTA MAMPU MELAKSANAKAN PERATURAN
PERUNDANG-UNDANGAN YANG TELAH DIPILIH SESUAI
DENGAN DOKUMEN SMKK
• PESERTA MAMPU MENGEVALUASI PENERAPAN TINDAK
LANJUT HASIL PELAKSANAAN PERATURAN PERUNDANG
UNDANGAN YANG ADA DI DALAM DOKUMEN SMKK

2/44
OUTLIN
E
• MENYIAPKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN YANG
TELAH DIIDENTIFIKASI DALAM DOKUMEN SMKK
• MELAKSANAKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN
YANG TELAH DIPILIH SESUAI DENGAN DOKUMEN SMKK
• MENGEVALUASI PENERAPAN TINDAK LANJUT HASIL
PELAKSANAAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN YANG
ADA DI DALAM DOKUMEN SMKK
`

3/44
PETUGAS KESELAMATAN KONSTRUKSI-SKKNI NO 48 TAHUN 2022

4/44
SKKNI NOMOR 48 TAHUN 2022-PETUGAS KESELAMATAN KONSTRUKSI

5/44
MENYIAPKAN PERATURAN
PERUNDANG-UNDANGAN YANG
TELAH DIIDENTIFIKASI DALAM
DOKUMEN SMKK
Peraturan dan Perundangan Terkait SMKK

1.Undang – Undang Nomor 1 Tahun 1970, tentang


Keselamatan Kerja
2.Undang – Undang Nomor 2 Tahun 2017, tentang Jasa
Konstruksi
3.Undang – Undang Nomor 11 Tahun 2020, tentang Cipta Kerja
4.Peraturan Pemerintah Nomor 50 Tahun 2012, tentang
Penerapan SMK3
5.Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 2021, tentang
Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2020
tentang Peraturan Pelaksanaan Undang – Undang Nomor 2
tahun 2017 tentang Jasa Konstruksi.
6.Permen PUPR Nomor 10 Tahun 2021 tentang Pedoman
SMKK
7.SE N0.10/SE/N/ Tahun 2022 tentang Panduan Operasional
Tertib Penyelenggaraan Keselamatan Konstruksi di
Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat
7/44
Peraturan dan Perundangan Kementerian Tenaga Kerja

7/44
DAFTAR PERATURAN DAN PERUNDANGAN TERKAIT K3 DARI KEMENTERIAN TENAGA KERJA

7/44
PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2021
TENTANG PEDOMAN SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN KONSTRUKSI

DIFINISI
Petugas Keselamatan dan Kesehatan Kerja Konstruksi yang selanjutnya disebut Petugas K3
Konstruksi adalah petugas yang memiliki Sertifikat Kompetensi Kerja Konstruksi yang diterbitkan oleh
lembaga sertifikasi profesi atau instansi yang berwenang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan.

Petugas Keselamatan Konstruksi adalah orang yang memiliki kompetensi khusus di bidang Keselamatan
Konstruksi dalam melaksanakan dan mengawasi penerapan SMKK yang dibuktikan dengan Sertifikat
Kompetensi Kerja Konstruksi

Sertifikat Kompetensi Kerja Konstruksi adalah tanda bukti pengakuan kompetensi tenaga kerja
konstruksi.

7/44
UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 1970 TENTANG KESELAMATAN KERJA

BAB I-ISTILAH
PASAL 1

(1) TEMPAT KERJA UNSUR TEMPAT KERJA


MELIPUTI:
• RUANGAN/ LAPANGAN • PENGURUS
• TERTUTUP/ TERBUKA • SUMBER BAHAYA
• USAHA
• BERGERAK/ TETAP
(2) PENGURUS: PUCUK PIMPINAN (BERTANGGUNG JAWAB/ KEWAJIBAN)
(3) PENGUSAHA: ORANG/ BADAN HUKUM YANG MENJALANKAN USAHA ATAU TEMPAT
KERJA

8/44
UU NO. 1 TAHUN 1970 TENTANG KESELAMATAN KERJA
BAB 2-RUANG LINGKUP
PASAL 2
1. TEMPAT KERJA, DALAM WILAYAH HUKUM REPUBLIK INDONESIA
A. DARAT, TANAH, UDARA
B. PERMUKAAN AIR, DALAM AIR
C. UDARA
2. RINCIAN TEMPAT KERJA, TERDAPAT SUMBER BAHAYA YANG BERKAITAN DENGAN:
A. KEADAAN MESIN/ ALAT/ BAHAN
B. LINGKUNGAN KERJA
C. SIFAT PEKERJAAN
D. CARA KERJA
E. PROSES PRODUKSI
3.KEMUNGKINAN UNTUK PERUBAHAN ATAS RINCIAN TEMPAT KERJA

9/44
BAB III
SYARAT-SYARAT KESELAMATAN KERJA
Pasal 3
(1) Dengan peraturan perundangan ditetapkan syarat-syarat keselamatan kerja untuk:
a. Mencegah dan mengurangi kecelakaan;
b. Mencegah, mengurangi, dan memadamkan kebakaran;
c. Mencegah dan mengurangi bahaya peledakan;
d. Memberi kesempatan atau jalan menyelamatkan diri pada waktu kebakaran atau
kejadian-kejadian lain yang berbahaya;
e. Memberi pertolongan pada kecelakaan;
f. Memberi alat perlindungan diri pada para pekerja.

10/44
g. Mencegah dan mengendalikan timbul atau menyebarluasnya suhu,
kelembaban, debu, kotoran, asap, uap, gas, hembusan angin, cuaca, sinar
atau radiasi, suara dan getaran;
h. Mencegah dan mengendalikan timbulnya penyakit akibat kerja baik physik
maupun psychis, peracunan, infeksi dan penularan;
i. Memperoleh penerangan yang cukup dan sesuai;
j. Menyelenggarakan suhu dan lembab udara yang baik;
k. Menyelenggarakan penyegaran udara yang cukup;
l. Memelihara kebersihan, kesehatan dan ketertiban;

11/44
m.Memperoleh keserasian antara tenaga kerja, alat
kerja, lingkungan, cara dan proses kerjanya;
n. Mengamankan dan memperlancar pengangkutan
orang, binatang, tanaman atau barang;
o. Mengamankan dan memelihara segala jenis
bangunan;
p. Mengamankan dan memperlancar pekerjaan
bongkar-muat, perlakuan dan penyimpanan barang;
q. Mencegah terkena aliran listrik yang berbahaya;
menyesuaikan dan
menyempurnakan pengamanan pada pekerjaan
yang bahaya kecelakaannya menjadi bertambah
tinggi.
r. Menyesuaikan dan menyempurnakan pengamanan
pada pekerjaan yang bahaya kecelakaannya menjadi
bertambah tinggi.
12/44
UU 2 tahun 2017 UU 11 tahun 2020
tentang Jasa Konstruksi tentang Cipta Kerja Pasal 52
Ps. 4 ayat 1 huruf c Perubahan Ketentuan UU 2/2017
Ps. 5 ayat 3

Pemerintah Pusat bertanggung Untuk mencapai tujuan sebagaimana dimaksud


jawab atas terselenggaranya dalam Pasal 4 ayat (l) huruf c, Pemerintah Pusat
Jasa Konstruksi yang sesuai memiliki kewenangan
a. mengembangkan Standar Keamanan,
dengan Standar Keamanan,
Keselamatan, Kesehatan, dan Keberianjutan
Keselamatan, Kesehatan, dan dalam penyelenggaraan Jasa Konstruksi
Keberlanjutan b. menyelenggarakan pengawasan penerapan
Standar Keamanan, Keselamatan, Kesehatan,
dan Keberlanjutan dalam penyelenggaraan
dan pemanfaatan Jasa Konstruksi oleh badan
usaha Jasa Konstruksi;
Ayat
Ayat 2
1 Ketentuan lebih lanjut mengenai penyelenggaraan Jasa
Dalam setiap penyelenggaraan Jasa Konstruksi,
Pengguna Jasa dan Penyedia Jasa wajib Konstruksi, Pengguna Jasa, dan Penyedia Jasa wajib
memenuhi standar Keamanan, Keselamatan,
memenuhi Standar Keamanan, Keselamatan,
Kesehatan, dan Keberlanjutan.
Ps 59 Kesehatan, dan Keberlanjutan sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) diatur dalam Peraturan Pemerintah.

14/44
SERTIFIKASI KOMPETENSI KERJA Pasal 70

(1) Setiap tenaga kerja konstruksi yang bekerja di bidang Jasa Konstruksi wajib memiliki
Sertifikat Kompetensi Kerja.
(2) Setiap Pengguna Jasa dan/atau Penyedia Jasa wajib mempekerjakan tenaga kerja
konstruksi yang memiliki Sertifikat Kompetensi Kerja sebagaimana dimaksud pada ayat
(1).
(3) Sertifikat Kompetensi Kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diperoleh melalui uji
kompetensi sesuai dengan Standar Kompetensi Kerja.
(4) Sertifikat Kompetensi Kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diregistrasi oleh
25/08/2018 17

Menteri.
(5) Pelaksanaan uji kompetensi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dilakukan oleh lembaga
sertifikasi profesi.
(6) Lembaga sertifikasi profesi sebagaimana dimaksud pada ayat (5) wajib mengikuti
ketentuan pelaksanaan uji kompetensi sesuai dengan ketentuan peraturan
perundangundangan.
15/44
SERTIFIKASI KOMPETENSI KERJA Pasal 71

(1) Lembaga sertifikasi profesi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 70 ayat (5) dapat dibentuk oleh:
a. asosiasi profesi terakreditasi; dan
b. lembaga pendidikan dan pelatihan yang memenuhi syarat sesuai dengan ketentuan peraturan
perundangundangan.
(2) Akreditasi terhadap asosiasi profesi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a diberikan oleh
Menteri kepada asosiasiprofesi yang memenuhi persyaratan:
a. jumlah dan sebaran anggota;
b. pemberdayaan kepada anggota;
18
c. pemilihan pengurus secara demokratis;
d. sarana dan prasarana di tingkat pusat dan daerah; dan
e. pelaksanaan kewajiban sesuai dengan ketentuan peraturan perundangan-undangan.
(3) Lembaga sertifikasi profesi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan lisensi sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan setelah mendapat rekomendasi dari Menteri.
18

16/44
17/44
18/44
19/44
20/44
21/44
22/44
23/44
SUBLAMPIRAN PERMEN PUPR NO 10 /2021 TENTANG SISTEM
MANAJAMEN KESELAMATAN KONSTRUKSI

A. Tugas, Tanggung jawab dan Wewenang Pengguna dan Penyedia


B. Tata Cara PMPM Keselamatan Konstruksi
C. Rancangan Konseptual SMKK
D. Rencana Keselamatan Konstruksi (RKK)
E. Rencana Mutu Pekerjaan Konstruksi
F. Program Mutu
G. Rencana Kerja Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan (RKLPP)
H. Rencana Manajemen Lalu Lintas Pekerjaan
I. Laporan Pelaksanaan
J. Kriteria Penentuan Tingkat Risiko Keselamatan Konstruksi
K. Komponen Penerapan Kegiatan SMKK

24/44
PERATURAN PELAKSANAAN
UU No. 1 Tahun 1970

- Per .Menaker No. 04/1980 - APAR


- Per. Menaker No. 37/2016 - K3 Bejana Tekanan dan Tangki Timbunan
- Per. Menaker No. 02/1983 - Instalasi Alarm Kebakaran Otomatik
- Per. Menaker No. 03/1985 - K3 Pemakaian Asbes
- Per. Menaker No. 38/2016 - K3 Pes. Tenaga & Prod.
- Per. Menaker 05/2018: K3 Lingkungan Kerja

25/44
PERATURAN PELAKSANAAN
UU No. 1 Tahun 1970

- Per. Menaker No. 03/1998 - Tata Cara Pelaporan dan Pemeriksaan Kecelakaan
- Per. Menaker No. 12/2015 - K3 Listrik di Tempat Kerja
- Per. Menaker No. 02/1980 - Pemeriksaan Kesehatan Tenaga Kerja
- Per. Menaker No. 02/1982 - Syarat dan Kualifikasi Juru Las

26/44
MELAKSANAKAN PERATURAN
PERUNDANG-UNDANGAN YANG
TELAH DIPILIH SESUAI DENGAN
DOKUMEN SMKK
LIMA ELEMEN SMKK

RENCANA KESELAMATAN
KONSTRUKSI (RKK)
Kepemimpinan dan partisipasi
1 tenaga kerja dalam
Keselamatan Konstruksi

Perencanaan Keselamatan
RKK
2 Konstruksi
Dukungan Keselamatan
3 Konstruksi
Operasi Keselamatan
4 Konstruksi
Evaluasi Kinerja Penerapan
5 SMKK
28/44
RKK PENGAWASAN
DISUSUN OLEH PENYEDIA JASA KONSULTANSI
1 PENGAWASAN

RKK MANAJEMEN PENYELENGGARAAN

RKK
KONSTRUKSI
2 DISUSUN OLEH PENYEDIA JASA MANAJEMEN
PENYELENGGARAAN KONSTRUKSI

RKK PELAKSANAAN PEKERJAAN KONSTRUKSI


3 DISUSUN OLEH PENYEDIA JASA PEKERJAAN KONSTRUKSI

29/44
PENGERTIAN BAHAYA & RISIKO
CONTOH SUMBER:
 Orang
A Definisi Bahaya
 Material, Benda
 Alat
• Bahaya adalah segala kondisi yang dapat  Lokasi
merugikan baik cidera atau kerugian lainnya;  Metode Kerja

CONTOH KONDISI:
• Bahaya adalah segala sesuatu berupa sumber,
 lubang lantai tanpa railing
kondisi atau tindakan tidak selamat yang berpotensi  lantai licin
mengakibatkan kerugian  jalan berlubang
 kabel listrik terkelupas,
Kerugian dapat berupa :  tepian lantai tanpa railing
 Cedera (fatalitas, luka berat, cacat, luka ringan)
 Kerusakan harta benda (alat, material, mesin dsb) CONTOH TINDAKAN:
 Kerusakan lingkungan (tanah, udara, dan air)
 mengemudi terlalu cepat
 Terganggunya proses  naik tanpa tangga
 Kombinasi dari semuanya.  bekerja tanpa APD
 bekerja tanpa kompetensi
30/44
PENGERTIAN BAHAYA & RISIKO
B Definisi Risiko dan Tingkat Risiko
Tingkat Risiko Keparahan
Risiko adalah kemungkinan akibat atau Kekerapan 1 2 3 4 5
kemungkinan terjadinya kerugian, yang 1 1 2 3 4 5
disebabkan karena terpapar oleh suatu 2 2 4 6 8 10
bahaya. 3 3 6 9 12 15
4 4 8 12 16 20
5 5 10 15 20 25
Tingkat Risiko adalah perpaduan antara tingkat
kekerapan (frekuensi, probability) dan tingkat
keparahan (besarnya akibat, severity) yang Keterangan
merupakan besaran dari kemungkinan kerugian 1-4 : Tingkat risiko kecil
dari suatu kecelakaan atau penyakit akibat kerja 5-12 : Tingkat risiko sedang
15-25 : Tingkat risiko besar

Tingkat Risiko = Tingkat Kekerapan x Tingkat Keparahan


31/44
PENGERTIAN BAHAYA & RISIKO
C Hirarki Pengendalian Risiko
HIRAR JENIS
FUNGSI CONTOH
KI PENGENDALIAN
Meniadakan Bahaya dan Risiko • Menghindari bahaya dan risiko dengan
1 Eliminasi menggunakan robot dan remote control
Mengganti alat, material, metode, proses, tata • Memasang bola lampu dengan stick sebagai ganti
2 Substitusi letak, dengan yang bahaya dan risikonya lebih tangga
kecil • Mengganti panel asbes dengan panel GRC

Mencegah / mengurangi kemungkinan terjadinya • Menggunakan perancah, tangga, platform dan


railing ketika mengecor beton kolom tinggi > 2
Rekayasa teknis kecelakaan dengan merubah kondisi tidak m
3 selamat (unsafe condition) menjadi kondisi yg
Engineering Control • Memasang turap pada pekerjaan galian tanah,
selamat (safe condition) untuk mencegah longsor

Pengendalian Mengurangi kemungkinan & keparahan • Untuk melaksanakan pekejaan berbahaya, selain
Administratif terjadinya kecelakaan, dengan merubah perilaku menggunakan SOP harus mengikuti prosedur ijin
4 kerja, dengan lebih dulu melakukan AKK
Administrative atau tindakan tidak selamat (unsafe act) menjadi • Pelatihan dan sertifikasi, memasang rambu
tindakan selamat (safe action). rambu
Control

Alat Pelindung Diri Melindungi dan mengurangi keparahan cedera • Menggunakan fullbody harness dan life line
5 ketika bekerja di ketinggian
(APD) jika kecelakaan terjadi • Menggunakan topeng ketika mengelas
Dalam penetapan jenis pengendalian risiko ketika menyusun Identifikasi Bahaya Penilain Risiko dan Peluang (IBPRP), wajib
mengikuti hirarki pengendalian tersebut di atas dan jika tidak mungkin melakukan eliminasi dan substitusi, maka minimal harus
menerapkan Rekayasa Teknis, Pengendalian Administratif, dan APD.

32/44
JENIS JENIS BAHAYA

JENIS JENIS BAHAYA KESELAMATAN

JENIS JENIS BAHAYA KESEHATAN


Meliputi semua bahaya yang menciptakan
kondisi kerja yang tidak selamat, karena terjadi • Kebisingan  Tuli
kontak dengan energi tertentu. Misal: • Pencahayaan  Tingkat Paparan  Buta
• Tekanan  Dosis – respon  Depresi
1. Bahaya ketinggian (energi gravitasi) BAHAYA • Radiasi  Konsentrasi  Kanker
2. Bahaya struktur ambruk (energi mekanika) FISIK • Suhu ekstrim  Intensitas  Kelelahan Fisik
3. Bahaya kesetrum, meledak (energi listrik) • Getaran  Lama paparan  Jaringan otot rusak
4. Bahaya benda bergerak (energi kinetik)
• Partikulat K  Silikosis, asbestosis
5. Bahaya tabrakan (energi kinetik) A  Tingkat Paparan R
 Flamable, eksplosif  Iritasi Kulit
BAHAYA •G D  Dosis – respon I
 Beracun  Keracunan
6. Bahaya longsor (energi KIMIA •P  Konsentrasi
•C
 Iritan, Korosif A 
S  Cacat Pance Indera
mekanik/gravitasi)  Karsinogen, Alergen Intensitas  Kanker, Alergi
R  Lama paparan I
7. Bahaya kebakaran (energi panas) • Virus  Intensitas K  DB, HIV, Malaria
8. Bahaya terdsandung (enegi kinetik) BAHAYA • Serangga  Lama Paparan O  Inifeksi
W
BIOLOGI • Bakteri  Imunitas  Bisa/Racun
9. Bahaya radiasi (energi radiasi) • Jamur, dll A  Sensitivitas  Alergi
10. Bahaya lainnya yang umumnya termasuk • Salah posisi K  Sakit punggung
dalam kategori bahaya fisik.
BAHAYA • Gerakan janggal T  Terkilir
 Lama Paparan
ERGONOMI • Gerak monoton
U
 Carpal Syndrome
• Letak tidak sesuai  Cacat permanen
BAHAYA • Stress beban kerja  Intensitas  Gangguan mental
• Pelecehan, kekerasan  Imunitas  Depresi, Gelisah
PSIKOLOGI • Intoleran, dll  Sensitivitas  Tidak konsentrasi
JENIS BAHAYA KONSTRUKSI
Technological
1 Hazard 5 Lifting Hazard

2 Structure Hazard 6 Traffic Hazard

Temporary Works
3 Hazard 7 Mechanical Hazard

Moving and
4 Vehicles Hazard
8 Electrical Hazard

34/44
01 ORANG/ TENAGA KERJA SUMBER BAHAYA KONSTRUKSI

02 PERALATAN

03 BAHAN

METODE KERJA
04

05 LOKASI / LINGKUNGAN

35/44
Unsafe Condition & Unsafe Action
Unsafe Condition
adalah kondisi pekerjaan yang
belum terlindung dari bahaya, risiko,
dan kerugian
Keselamatan adalah kondisi terlindung
dari bahaya, risiko, atau cedera atau
kerugian

Unsafe Action
adalah perilaku atau sikap dari pekerja atau orang di
25/08/2018 38

tempat kerja yang tidak mematuhi/ tidak sesuai


dengan persyaratan, prosedur standar keselamatan
dan kesehatan kerja

Kesehatan adalah kondisi fisik, mental, dan sosial


yang lengkap dan bukan sekadar tidak adanya
penyakit atau kelemahan.
36/44
DEFINISI KECELAKAAN KONSTRUKSI
KECELAKAAN KONSTRUKSI TEORI KECELAKAAN
Suatu kejadian akibat kelalaian pada tahap ACCIDENT PRONENESS THEORY
pekerjaan konstruksi karena tidak terpenuhinya Terdapat orang tertentu yang dari bawaan
Standar Keamanan, Keselamatan,Kesehatan pribadinya lebih rawan kecelakaan dibandingkan
dan Keberlanjutan yang mengakibatkan harta orang lain
benda, waktu kerja, kematian, cacat tetap GOALS FREEDOM ALERTNESS THEORY
dan/atau kerusakan lingkungan.
Pekerja yang diberi kebebasan untuk menetapkan
target kerjanya sendiri akan menghasilkan hasil kerja
yang lebih berkualitas dan berperilaku lebih aman.
ADJUSTMENT STRESS THEORY
40

Terdapat faktor negatif dalam lingkungan kerja, baik


internal maupun eksternal.

38/44
PENYEBAB KECELAKAAN DAN AKIBAT KERUGIANNYA
KECELAKAAN ADALAH AKIBAT DARI RANGKAIAN
SEBAB-AKIBAT (DOMINO EFFECTS)

LACK OF BASIC IMMEDIATE INCIDENT LOSS


CONTROL CAUSES CAUSES

LEMAH PENGENDALIAN/ SEBAB-SEBAB SEBAB LANGSUNG KONTAK DENGAN KERUGIAN


PENGAWASAN DASAR 1. TINDAKAN TAK ENERGI ATAU BAHAN 1. MANUSIA
1. PROGRAM TAK SESUAI 1. FAKTOR AMAN 2. HARTA BENDA
2. STANDAR TAK COCOK PERSONAL 2. KONDISI TAK AMAN 3. PROSES KERJA
3. TAK PATUH STANDAR 2. FAKTOR 4. LINGKUNGAN
PEKERJAAN 5. MASYARAKAT
39/44
MENGEVALUASI PENERAPAN TINDAK
LANJUT HASIL PELAKSANAAN
PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN
YANG ADA DI DALAM DOKUMEN
SMKK
PEMASANGAN PERANCAH
BAHAYA LONGSOR PADA PEKERJAAN YANG TIDAK SESUAI
GALIAN PERATURAN

41/44
Permenaker No.01 Tahun 1980, pasal (1) huruf (e): Perancah adalah bangunan pelataran kerja
(platform) yang dibuat untuk sementara dan digunakan sebagai penyangga tenaga kerja, bahan dan
alat pada setiap pekerjaan konstruksi termasuk pekerjaan pemeliharaan dan pembongkaran.

PEMASANGAN PERANCAH YANG PEMASANGAN PERANCAH YANG


TIDAK SESUAI PERATURAN BENAR

X OK

42/44
CONTOH CONTOH
Penggunaan panel listrik yang tidak Penggunaan perancan yang tidak
memenuhi Persyaratan Umum sesuai Permenaker No 1 tahun 1980
Instalasi Listrik ( PUIL ) 2011

43/44
TERIMA KASIH
TERIMA KASIH