Anda di halaman 1dari 43

CACINGAN DAN

PENATALAKSANAANNYA
PUSKEMAS JEMURSARI
SURABAYA
Epidemiologi
 Penyakit Infeksi dari cacing yang di tularkan
melalui tanah ( Soil Transmitted Helminths /
STH )
 Siklus hidupnya memerlukan Tanah untuk
berkembang biak menjadi bentuk Infektif
Jenis cacing
 Cacing gelang ( Ascaris Lumbricoides )
 Cacing Cambuk ( Trichuris Trichiura )
 Cacing Tambang ( Ancylostoma Duodenale )
CACING GELANG
( Ascaris Lumbricoides )
Morfologi dan Siklus Hidup
 Tempat hidup di Tanah / Tanah Liat
 Cacing betina dapat bertelur 100.000 – 200.000
perhari ( terdiri dari telur yang di buahi dan
yang tidak di buahi )
 Telur yang di buahi dlm kondisi lingkungan
yang sesuai ( lingkungan yg hangat dan lembab
) akan berkembang nenjadi bentuk infektif dlm
waktu < 3 mgg.
Siklus Hidup
Akibat Migrasi Larva
 Trauma/ perdarahan dalam jaringan paru
. Reaksi radang disekitar larva
. Peningkatan mukus di bronchus, spasme
 Sensitisasi pada host, allergi, serangan asthma
 Demam
 Batuk dengan sputum bercampur darah, sesak,
urticaria  Sindrom Loeffler

Pada pemeriksaan darah : sel Eosinophil meningkat


Pada pemeriksaan auskultasi : wheezing dan ronchi
Akibat Cacing Dewasa
 Habitat cacing dewasa di dalam lumen usus halus
 menghisap makanan dari host
 Gejala klinik tergantung dari :
. jumlah cacing / berat ringannya infeksi
. keadaan umum penderita
 Faktor yang menimbulkan gejala :
. Faktor mekanis, karena gerak cacing dewasa
. Faktor khemis, karena produksi metabolik dari
cacing
 Gejala: rasa tidak enak pada perut, diare, kolik,
anoreksia,
gejala keracunan, oedema, appendicitis
 Cacing dewasa dapat keluar spontan melalui anus,
mulut
Akibat Migrasi Cacing Dewasa
 Migrasi cacing dewasa mencapai organ lain,
menimbulkan gejala akut seperti :
. Ileus, obstruksi usus
. Perforasi usus, cacing menembus dinding
usus
. Peritonitis

Komplikasi sering dijumpai pada anak-anak


Diagnosa
• telur dalam tinja : dari hapusan langsung /
cara konsentrasi
• larva dalam sputum : gastric washing
• anamnesa yaitu keluarnya cacing dewasa
melalui mulut, hidung, anus
CACING CAMBUK
Trichuris trichiura
Trichuris trichiura
 Nama dalam bahasa Indonesia : cacing cambuk
 Penyakitnya disebut trichuriasis / whipworm
infection
 Hospes definitif : manusia
 Habitat / predileksi : mucosa cecum dan colon
 Bentuk infektif : telur infektif
 Cara penularan : peroral (tertelan telur infektif)
Distribusi geografis &Epidemiologi
 Trichuriasis merupakan penyakit tropis terutama
pada anak-
anak usia 5-15 tahun .
 Terbanyak dijumpai pada daerah rural di Asia.
 Ditemukan juga di Amerika Selatan terutama pada
keluarga-keluarga dengan sanitasi yang buruk.
 Tersebar secara kosmopolitan ( tersebar di seluruh
dunia )
terutama di daerah-daerah tropis yang panas dan
lembab.
 Di Indonesia, cacing ini sering ditemukan disamping
Ascaris
TELUR
 Berbentuk seperti tempayan, tong anggur (barrel shape) atau
lemon shape, ukuran 50 x 23 mikron, pada kedua ujungnya
terdapat dua buah mucoid plug (sumbat yang jernih)
 Dinding luar telur berwarna kuning kecoklatan, dinding dalam
transparan, isi berupa massa yang tidak bersegmen.
Cacing dewasa
 Cacing dewasa berbentuk seperti
cambuk
 3/5 tubuh bagian depan kecil,
mengandung oesophagus.
 2/5 tubuh bagian belakang lebar,
mengandung intestine
dan satu set alat reproduksi.
 Cacing jantan berukuran 30-45 mm,
ujung posterior
membengkok dan mempunyai
spikula dengan selubung
yang retraktil.
 Cacing betina berukuran 35-50 mm,
ujung posterior lurus
dan membulat.
Siklus Hidup
 Telur keluar dari tubuh bersama feses jatuh pada tanah.
 Di luar tubuh manusia telur berkembang dan menjadi
infektif dalam waktu 15 – 30 hari.
 Infeksi terjadi oleh karena menelan telur infektif.
 Setelah tertelan oleh manusia, telur menetas di usus halus,
larva keluar, penetrasi ke dalam villi usus, kemudian turun
ke caecum dan menjadi dewasa.
 Cacing dewasa menanamkan tubuh bagian anteriornya
pada mukosa caecum.
 Cacing betina mulai meletakkan telurnya 60-70 hari
setelah infeksi, dan mengeluarkan telur sebanyak 3.000–
20.000 telur per hari.
 Life span cacing dewasa 1 tahun.
Kondisi yang baik untuk bertelur

- Suhupanas/hangat (27–32 C)


- Kelembaban cukup 60–80%
- Keadaan yang teduh
- Tanah berhumus/tanah liat
Gejala Klinis
 Pada umumnya tidak menimbulkan gejala.
 Gejala klinik baru tampak pada infeksi berat,
terutama pada anak- anak, berupa :
. mual dan muntah
. nyeri abdomen, terutama pada titik Mc. Burney
. diare yang disertai bercak-bercak darah, tanpa panas.
. kadang–kadang konstipasi
. anoreksia
. berat badan menurun
. anemia
Diagnosa
Diagnosa ditegakkan berdasarkan
- gejala klinis
- ditemukannya telur yang khas di
dalam tinja
Pada infeksi berat, dapat terjadi
prolapsus recti dengan
ditemukannya cacing dewasa.
Pencegahan
 Menghilangkan sumber infeksi dengan cara
pengobatan penderita.
 Training pada anak-anak dan orang dewasa untuk
defekasi di WC.
 Mencuci tangan adalah penting untuk mencegah
reinfeksi.
 Menjaga kebersihan baik secara pribadi maupun
kebersihan lingkungan.
 Pendidikan kesehatan.
CACING TAMBANG
CACING TAMBANG
Ancylostoma Duodenale
Necator Americanus
CACING TAMBANG =
Hookworm
2 Species yang penting : Ancylostoma duodenale dan
Necator americanus
 Penyakitnya disebut : ancylostomiasis/necatoriasis
 Hospes definitif : manusia
 Habitat / predileksi : mucosa duodenum dan jejunum
 Bentuk infektif : larva filariform
25
Morfologi Telur Hookworm

 bulat lonjong
 kulit terdiri dari 1
lapis hyaline yang
transparan
 ukuran 57-76 µm x 35-
47 µm
Morfologi Larva
 Rhabditiform  Filariform
Gemuk, tidak infektif, Langsing, infektif, 600µ
panjang 250µ
Morfologi cacing dewasa
• Berbentuk silindrik & bengkok, putih kelabu, kecil
. betina : 9-13 x 0,4-0,6 mm
. jantan : 5-11 x 0,3-0,45 mm
• Cuticula cukup tebal
• Ujung ekor :
. betina runcing
. jantan terdapat bursa copulatrix, organ seperti payung
yang ditegakkan oleh ruji-ruji dari chitine yang
susunannya khas untuk tiap spesies.
Di dalam bursa terdapat 2 buah spiculae yang langsing
panjang.
Cacing Tambang
Necator Ancylostoma
americanus duodenale

Bentuk badan menyerupai huruf S


Cacing berina bertelur 5000 –
10.000 perhari
- Di usus halus cacing menghisap
darah 0,005 – 0,1 cc/hari
• Bentuk menyerupai huruf C
cacing Betina dapat bertelur 10.000 – 25.000 per hari
Telur kelur bersama feces dan menetas menjadi larva
filariform (3hr), larva ini dapat menembus kulit dan
masuk ke aliran darah dan organ tubuh kmd masuk ke
usus halus menjadi cacing dewasa
Di usus halus cacing menghisap darah 0,08 – 0,34 cc/hari
CACING TAMBANG

 Sekitar seperempat penduduk dunia terinfeksi oleh cacing tambang.


 Necator americanus banyak ditemukan di Amerika, Sub-Sahara Afrika,
Asia Tenggara, Tiongkok, dan Indonesia, sementara Ancylostoma
duodenale lebih banyak di Timur Tengah, Afrika Utara, India, dan
Eropa bagian selatan.
 Ancylostoma duodenale dan Necator americanus adalah cacing
berbentuk bulat (roundworms) panjangnya 5-13 mm. berwarna abu-abu
keputihan atau merah muda dengan kepala agak menekuk ke arah
tubuh
 Cacing betina berukuran lebih panjang dan lebih besar dari cacing
jantan.
 Cacing dapat. Lekukan inilah yang membentuk seperti kait (hook)
maka cacing ini disebut hookworms. Necator americanus berukuran
sedikit lebih kecil daripada Ancylostoma dan bentuk kait lebih jelas
pada Necator americanus.
CACING TAMBANG
 Mamalia yang berperan sebagai inangnya adalah anjing,
kucing, maupun manusia.
 Cacing betina yang menginfeksi usus mamalia
mengeluarkan ribuan telur setiap harinya dan telur-telur
tersebut dikeluarkan melalui tinja.
 Telur akan menetas 1-2 hari pada tanah berpasir lembab lalu
menjadi larva (rhabditiform) kemudian menjadi bentuk
filariform yang dapat bertahan hidup di tanah selama 3-4
minggu.
 Larva stadium ketiga/ Filariform berukuran 500-700 milimeter
dan mampu menembus kulit normal kaki/ tangan dengan
cepat.
 Umur cacing dewasa biasanya 1 -2 tahun
Daur Hidup
Cacing Tambang
Larva kulit dinding pembuluh darah

peredaran darah

jantung

paru-paru.

tenggorokan

ke saluran cerna. cacg dewasa


(usus) telur(5mg)
Cacing dewasa
dlm tanah usus
Siklus Hidup Hookworm
Telur dikeluarkan bersama tinja  waktu 1-2 hari pada kondisi optimal
menetas  larva rhabditiform (bersifat aktif, pendek gemuk, mencari makan
dari debris)  5 hari larva filariform (langsing, non feeding, infektif bagi
manusia) menembus kulit pada dorsum pedis /kulit tangan ( pekerja
tambang/petani )  pembuluh darah  jantung  paru-paru menembus
alveoli disebut “ lungmigration ” oesophagus  usus halus cacing
dewasa.
Waktu yang diperlukan mulai dari infeksi sampai menjadi dewasa sekitar 5-6 minggu.

Kondisi optimal :
- tanah bersifat lepas (pasir), pertukaran hawa/oksigen
- kelembaban cukup, suhu 23–30ºC
- tidak terkena matahari langsung
Penularan Kecacingan
Bermain di tanah

BAB sembarangan Jajan terbuka (dihinggapi lalat)


GEJALA CACINGAN

Lesu,lemas tidak bergairah Berat badan kurang

Gatal di daerah anus


CACINGAN
CACINGAN

kasus kecacingan anak 10 tahun di Bandung Jawa Barat


DAMPAK CACINGAN
Manifestasi cacing

KH & Protein dihisap Darah dihisap

Lemas ANEMIA
GIZI BURUK
mengantuk
BBLR Perdarahan
Kemampuan belajar turun/ ibu bersalin
sering tidak masuk sekolah

Prestasi belajar menurun Kematian Kematian

Produktivitas menurun

Sosial Ekonomi rendah


PENGOBATAN
Jenis Obat, Frekuensi, Dosis Pemberian
Massal Obat Cacing

 Obat yang digunakan : Albendazole dosis tunggal


 Frekuensi pemberian obat :
• Prevalensi ≥ 20% - 50% : 1 kali/tahun
• Prevalensi ≥ 50% : 2 kali/tahun
 Dosis albendazole:
• Anak usia 1 - 2 tahun : ½ tab (200 mg)
• Anak usia ≥ 2 tahun : 1 tablet (400 mg)
Keuntungan Program Pengobatan Cacingan
 Menurunkan angka tidak masuk sekolah sampai 25%¹
 Menurunkan kurang gizi dalam bentuk wasting sampai
60%²
 Menurunkan Anemia sedang sampai 59%²
 Meningkatkan pertumbuhan (20% berat badan and 7%
tinggi badan)³
 Keuntungan dari masa anak bebas cacing tambang
adalah meningkatkan 45% penghasilan di masa dewasa4
 Meningkatkan pendapatan per kapita sampai 45%4

(1) US Annual Report 2003, (2) Stoltzfus 2004, (3) Stoltzfus 1997, (4) Bleakley 2003
TERIMA KASIH
43