Anda di halaman 1dari 20

BAB II

Hak Jawab
• Hak jawab (droit de re’ponse) salah satu
elemen penting dlm perkmbngan pers
mutakhir di Indonesia.
• Hak jawab sdh lama dikenal di Indonesia
ketika zaman kolonial diatur dlm Reglement
op de Drukwerken (staatsblad 186-74).
• Hak jawab yg sekarang dikenal sebenarnya
berasal & ‘dicontek’ dari kode etik
wartawan Amerika Serikat, bernama
“Cannon of Journalism”.
• Hak jawab tsb. diperkenalkan setahun
(1947) setelah berdirinya PWI di Solo thn
1946.
• Hak Jawab diatur dlm Kode Etik Jurnalistik
wartawan Indonesia dan UU No. 40 thn
1999 ttg Pers.
• Hak jawab dlm “Cannon of Journalism”
pasal VI ayat 2, dlm bab fair play
dirumuskan, “It is the priviledge, as it is
the duty, of a newspaper to make prompt
and complete correction of its own serious
mistake of fact or opinion, wherever their
origin”.
• Hak Jawab dlm Kode Etik Jurnalistik PWI
msh mempertahankan isi dari Cannon of
Journalism, yakni: “Wartawan dengan
kesadaran sendiri secepatnya mencabut
atau meralat setiap pemberitaan yang
kemudian ternyata tidak akurat dan
memberikan hak jawab secara
proporsional kepada sumber atau objek
berita.”
• Dua puluh tahun setelah ada Kode Etik Jurnalistik
PWI, lahirlah UU No. 11 thn 1966 ttg Ketentuan-
Ketentuan Pokok Pers.
• Pada saat itu UU ini merupakan reaksi thd sikap
Orde Lama yg membelenggu pers, namun hak jawab
belum dipandang perlu masuk menjadi UU.
• Hak jawab dimasukkan dlm UU No. 21 thn 1982 ttg
Perubahan thd UU No. 11 thn 1966, diatur dlm pasal
15a, sbb:
1. Hak jawab merupakan hak seseorang, organisasi,
atau badan hukum yang merasa dirugikan oleh
tulisan dalam sebuah atau beberapa penerbitan
pers, untuk meminta kepada penerbitan pers yang
bersangkutan agar penjelasan, dan tanggapannya
terhadap tulisan yang disiarkan atau diterbitkan,
dimuat dalam penerbitan pers tersebut.
2. Dalam batas-batas yang pantas, penerbitan pers
wajib memenuhi permintaan masyarakat
pembacanya yang menggunakan hak jwab.
3. Ketentuan lebih lanjut tentang hak jawab akan
diatur oleh pemerintah, setelah mendengar
• Penjelasan UU Pokok Pers No 21 thn
1982 mengenai hak jawab
menegaskan, “penggunaan hak
jawab tidak dibebani biaya pemuatan
atau penyiarannya.”
• Dlm UU No 40 thn 1999 ttg Pers, hak
jawab ttp diprtahankan dgn rumusan
lebih singkat dan disandingkan dgn
ayat ttg hak koreksi dlm pasal 5 ayat
(2) dan ayat (3).
• Dalam setiap kode etik organisasi
wartawan mencnatumkan hak jawab dgn
rumusan yg berbeda.
• Sedangkan dlm Kode Etik Jurnalistik
wartawan Indonesia terakhir disahkan
Dewan Pers tgl 14 Maret 2006 dan
ditandatangani oleh 27 organisasi pers,
hak jawab diatur dlm pasal 11, yakni,
“Wartawan Indonesia melayani hak jawab
dan hak koreksi secara proporsional.”
• Penjelasan pasal ini menerangkan,
“Proporsional berarti setara dengan
bagian berita yang perlu diperbaiki.”
• Pasal 7 ayat 2 UU No 40 thn 1999 ttg Pers
menyatakan, “Wartawan memiliki dan
menaati Kode Etik Jurnalistik.” Ketentuan
ini tlh menempatkan etika yg semula dlm
tatanan moral jd masuk dlm kaedah2
hukum.
• Konsekuensi dlm mengabaikan hak jawab
dan hak koreksi membawa dua kesimpulan
logis:
a. Pelanggaran thd hak jawab dan hak
koreksi bermakna sekaligus melanggar
baik UU maupun Kode Etik jurnalistik.
b. Pengertian dan pelaksanaan hak jawab
dan koreksi harus selalu dikaitkan dengan
makna dan ruang lingkup baik yg terdapat
dlm UU maupun Kode Etik Jurnalistik.
• Menurut UU No 40 thn 1999 ttg Pers dan
Kode Etik jurnalistik, penggunaan hak
jawab harus memenuhi ketentuan sbb.:
1.Penggunaan hak jawab haruslah seorang
atau sekelompok org.
2. Pengunaan hak jawab harus berupa
tanggapan atau sanggahan.
3. Penggunaan hak jawab harus thd
pemberitaan.
4. Penggunaan hak jawab harus thd fakta.
5. Penggunaan hak jawab harus thd fakta
pemberitaan yg merugikan org atau
sekelompok org yg menggunakan hak
jawab.
6. Pengguanaan hak jawab haruslah
proporsional yaitu setara dgn bagian berita
Fungsi Hak Jawab
• Memenuhi prinsip pemberitaan yg fair
• Memenuhi unsur demokrasi
• Menghindari korban sosial
• Mencegah munculnya kerugian yg lebih
besar
• Menghindari ongkos perkara yag mahal
• Bentuk kontrol atau pengawasan dari
masyarakat
• Pelaksanaan itikad baik pers
• Salah satu bentuk hukuman tidak
langsung
Pembatasan Hak Jawab
1. Tidak melanggar UU dan Kode etik
2. Tidak boleh menghilangkan nilai
berita
3. Kepentingan umum dan
keselamatan negara
Problematik dan Solusi Hak
Jawab
1. Siapakah yg berhak meminta hak
jawab?
a. Pengertian yg pertama
hanya penyajian berupa fakta saja
yg
boleh diberikan tanggapan atau
sang-
gahan oleh pihak terkait dlm hak
jwb.
b. Pengertan kedua
Problematik dan Solusi Hak
Jawab
2. Siapa yg berhak menentukan pelangaran
hak jawab?
- tentukan pelanggaran tsb apakah sbg
pelanggaran etika atau hukum?
- jika pelanggaran etika, maka sanksinya
berdasar moral atau etika. Sebaliknya jika
termasuk pidana, sanksinya hukuman
yg dijatuhkan dpt dipaksa utk dipatuhi
sesuai perundang-undangan berlaku.
Sanksi mengenai hak jawab diatur dlm
pasal 18 ayat 2 yg menegaskan
pelaggaran hak jawab dipidana dgn pidana
denda plg banyak Rp. 500 juta. Selain itu
dlm pasal tsb diletakkan Bab VIII ttg
Problematik dan Solusi Hak
Jawab
3. Termasuk delik materil atau formal?
Perbedaan pendapat antara pers dan org
yg “merasa dirugikan” berakhir pd
perdebatan.Penyelesaiannya melalui:
- Delik materiil, sblm hak jawab dpt
digunakan harus sdh lebih dulu dpt
dibuktikan bahwa bnr2 tlh terjadi
kerugian.
- Delik formal, pembuktian tdk perlu
dilakukan sepanjang scr formal ada berita
dan ada pihak yg dirugikan.
Problematik dan Solusi Hak
Jawab
4. Bagaiman format hak jawab?
Pada prinsipnya penerapan hak jawab
antara media cetak dan elektronik sama,
tetapi dlm teknis penyajian ada
perbedaan. Utk media cetak ada tiga
kemungkinan penempatan hak jawab:
• Di tempat (halaman) yg sama dgn hlmn
tempat berita itu dimuat.
• Di halaman rubrik/surat pembaca
menulis.
• Di kombinasi keduanya.
Dilhat sifatnya, hak jawab terbagi dua
menjadi
bersifat tanggapan dan sangahan
Problematik dan Solusi Hak
Jawab
5. Apa kriteria batas “proporsional”?
Proporsional mengandung pengertian:
c. Isi berita yg ditanggapi/disanggah setara
dgn isi tanggapan atau sanggahannya.
d. Jumlah hlmn dan atau waktu yg dipakai
oleh hak jawab harus wajar di bidang
jurnalistik.
e. Pelayanan hak jawab juga proporsional
dlm memperhatikan dampak yg
ditimbulkan berita.
f. Reputasi seseorang yg sdh dibangun dgn
lama hrs diberikan hak jawab yg setara
Problematik dan Solusi Hak
Jawab
6. Tanggung jawab siapa isi hak jawab?
Ada tiga posisi pers dlm hak jawab:
c. Pemuatan atau penyiaran hak jawab adalah
perintah UU No 40/1999 ttg Pers.
d. Apabila pers tdk melaksanakan perintah UU, yakni
kewajiban harus melayani hak jawab, pers akan
dihukum.
e. Pers tdk mempunyai kewenangan thd isi bantahan
hak jawab, termasuk mengubahnya.
Berdasarkan tiga alasan tsb muncul dua aliran yg,
pertama berpendapat, bahwa yg bertanggung
jawab thd isi hak jawab adalah mereka yg membuat
hak jwb. Kedua, karena di dlm pers sdh ditentukan
penanggungjawabnya, maka pihak dari bersalah yg
Problematik dan Solusi Hak
Jawab
7. Berapa lama tenggang waktu hak jawab?
Pemuatan hak jawab hrs berdasar ketentuan2 sbb.:
c. Hak jawab hrs dilakukan secepat mungkin.
d. Perbedaan tenggang waktu layanan hak jawab,
baik karena perbedaan jenis, sifat media dan
frekuensi penerbitannya.
e. Untuk surat kabar harian pelaksanaan hak jawab
yg bersifat sanggahan dua hari stlh pemberitaan
dimuat. Dan tanggapan tiga hari stlh dimuat.
f. Untuk majalah, hak jawab hrs dimuat pd
penerbitan berikutnya.dan selama-lamanya pd
penerbitan kedua setelah pemuatan berita yg
dijawab.
g. Untuk televisi dan radio hak jawab bersifat
sanggahan harus disiarkan pd hari yg sama dgn
Problematik dan Solusi Hak
Jawab
8. Kompensasi atau tidak atas hak
jawab itu?
Dari susdut pandang perundang-
undangan dan Kode Etik Jurnalistik,
tdk ada satupun pasal atau petunuk
yg menyatakan pemakai hak jawab
harus membayar dan memberikan
kompensasi dlm bentuk apapun kpd
pers.
Sanksi Hak jawab: Pidana atau
Etik?
• Jenis sanksi thd pelanggaran hak
jawab harus tegas, bersifat pidana
atau pelanggaran etika.
• Apabila bersifat etik,
penyelesaiannya dlm intern pers
sendiri.
• Apabila saknsinya pidana,
penyelesaian kasus hak jawabdiambil
alih oleh pengadilan.
Bolehkah menggugat ke
pengadilan setelah memakai
hak jawab?
Apakah pelayanan hak jawab membawa konsekuensi hd pihak2
pemakainya? Ada du pikiran utama muncul.
Pertama, hak jawab merupakan salah satu jalan keluar yg khas
di bidang pers.
Kedua, hak jawabyg diberikan UU adalah utk memenuhi unsur
perimbangan dan demokrasi dlm mekanisme pers.
Menurut Syaefurrachman Al Banjary, sblm pihak yg merasa
dirugikan oleh pers mengajukan tuntutan (perdata) ke
pengadilan, harus dibuktikan lbh dahulu bahwa pers yg
menyiarkan berita tsb memang sdh terbukti tdk melayani
hak jawab.
Menurutnya urutan langkah hukum yg diambil, pertama pihak
yg merasa dirugikan hrs mengirim lbh dulu hak jawab kpd
pers yg menyiarkan berita tsb. Jika hak jawab tdk dilayani,
pihak yg dirugikan melayangkan somasi sampai tiga kali.
Apabila tk ditanggapi, pihak yg dirugikan dpt melaporkan
kasusnya ke polisi berdasar pelanggaran pasal 5 ayat 2 dan
pasal 18 ayat 2. Setelah pengadilan menyatakan pers yg