Anda di halaman 1dari 40

Bobby 2004,TGD ITB

BAGIAN - 2

REVIEW

GD-3131 Fotogrametri 1
1

Bobby 2004,TGD ITB

RESTITUSI FOTO TUNGGAL


Foto udara tegak sempurna, dengan orientasi arah dan ketinggian pesawat yang diketahui secara pasti, untuk permukaan tanah yang relatif datar, maka informasi planimetri (X,Y) yang dikandung pada foto udara = peta. Namun secara umum, setiap foto udara tidak pernah dapat dipotret secara tegak sempurna serta diketahui ketinggian secara pasti. Dengan restitusi foto tunggal, pembuatan peta planimetri (X,Y) untuk daerah yang relatif datar dapat dilakukan. Pada restitusi foto tunggal proses yang dilakukan adalah mengoreksi kemiringan foto dan penyesuaian skala. Proses ini disebut sebagai proses rektifikasi dan alat analog yang digunakan dikenal dengan nama rectifier. Rektifikasi dapat pula dilakukan secara numerik dengan menggunakan hubungan proyektif antara foto negatif dengan permukaan tanah. (lihat Lampiran .. ). Gambar 19 memperlihatkan distorsi akibat tilt dan penyimpangan skala serta bagaimana cara mengkompensasinya.
2

Bobby 2004,TGD ITB

REKTIFIKASI ANALOG
   

REKT IKAS ERS EKT I I I U T KOR I OT T UK EKS O U


   

vertik l

(pitc hing) obliq e kedepan

(roll + pitc h) obliq e diagonal

(rolli

) obliq e kesa i

KO

IS ES I AWAT

AKI AT A A OT O

CARA ME

OREKSI

skala

skala

skala

skala

Bobby 2004,TGD ITB

RESTITUSI FOTO STEREO


Restitusi (restitution) dapat diartikan sebagai pengembalian sesuatu yang hilang, atau rekonstruksi model fiktif (3D) dari pasangan foto (2D). Model fiktif ini kemudian digunakan sebagai panduan penurunan peta. Pembentukan model 3D dari pasangan foto dilakukan melalui tahapan sebagai berikut :

 Orientasi dalam (inner orientation),

 Orientasi relatif (relative orientation), dan  Orientasi absolut (absolute orientation).

Bobby 2004,TGD ITB

Orientasi Dalam
Orentasi dalam pada hakekatnya adalah merekonstruksi berkas sinar dari foto udara seperti pada saat foto tersebut diambil oleh kamera. Berkas sinar yang berpasangan tersebut disimulasikan dengan memproyeksikan pasangan foto positifnya menggunakan proyektor. Proyektor yang digunakan diset sesuai dengan karakteristik kamera yang dipakai dalam pemotretan.

Bobby 2004,TGD ITB

Orientasi Relatif
Dua berkas sinar yang sepadan/ berpasangan dari proyektor kiri dan kanan dipertemukan melalui orientasi relatif. Bila minimal 5 pasang sinar dapat dipertemukan, maka seluruh pasangan sinar dari kedua berkas akan saling berpotongan membentuk model D fiktif. Pada instrumen restitusi analog yang dilakukan adalah menghilangkan paralaks y di 6 titik standard (minimal 5 titik + 1 titik untuk checking). Hasil model 3D yang terbentuk masih mempunyai kedudukan relatif dengan sistem koordinat sebarang. Oleh sebab itu proses ini disebut orang sebagai orientasi relatif. Dengan cara digital, orientasi relatif dapat menggunakan syarat kesegarisan antara titik pada foto, titik pusat proyeksi dan titik tsb di tanah (colinearity condition) atau syarat kesebidangan (coplanarity)

Bobby 2004,TGD ITB

Orientasi Absolut
Dalam orientasi absolut, model 3D relatif yang masih dalam sistem koordinat instrumen (sebarang) di transformasikan ke dalam sistem definitif. Pada tahap ini diperlukan minimal 3 titik kontrol model yang ditentukan sebelumnya (lihat triangulasi udara). ecara analog, terhadap model relatif dilakukan penyekalaan dan pendataran. Bila dilakukan secara numerik, maka yang digunakan rumus yang digunakan adalah transformasi sebangun 3D. X= Y= Z= x xo + yo zo
7

[, J, O

y z

Bobby 2004,TGD ITB

VISUALISASI RESTITUSI FOTO STEREO (Stereo Restitution)


Inner Orientation
REKONS RUKS BERKAS S T I INAR FOT O KIRI DAN KANAN S ECARA ANALOG MELIPUT : I
3 4 3
2 2

PENEMP AN DIAPOS IF FOT AT IT O P ADA PENY ANGGA FOT DI O PROYEKT S OR EPERT S I AATDI KAMERA PENGES AN P ET ANJANG FOKUS PROYEKT = KAMERA OR PENYERT AAN DAT KALIBRAS A I

1 5 5 1 6

BERKAS S INAR KIRI DAN KANAN BELUM S ALING BERPOT ONGAN S U DENGAN LAINNY AT A

z y
3 1 5
2

Relative Relative Orientation Orientation

P ADA T AHAP INI ENAM P ANG AS S INAR (MINIMAL LIMA) DIPERT EMUKAN S ECARA ANALOG DENGAN MENGELIMINAS I P ARALAKS Y P ADA ENAM T IK S ANDARD IT T ELIMINAS DILAKUKAN DENGAN I MENGAT KOMBINAS S T UR I ET ING LIMA ELEMEN ORIENT I, Y AS AKNI

(
4

Bx,by,bz )

DENGAN CARA DIGIT ORIENT I RELAT AL, AS IF DAP MENGGUNAKAN S ARAT KES AT Y EGARIS AN (COLLINEARIT CONDIT Y ION) HAS DARI ORIENT I RELAT BERUP MODEL IL AS IF A RELAT Y IF ANG MAS DALAM S T KOORDINAT IH IS EM INS RUMEN (LOKAL) T T 1,2,3,4,5 & 6 adalah itik titik tandard atau titik Otto Von Gruber

model relatif

Absolute Absolute Orientation Orientation


P D T H P INI O D L REL T IF DIT RAN FORMASI AN E DALAM . SIST DEFINIT ABSOL T EM IF/ SECARA ANALOG DILAKUKAN DENGAN SCALLING DAN LEVELING SEDANG DENGAN CARA DIGIT AL ADALAH DENGAN T RANSFORMASI SEBANGUN 3D UNT ORIENT ABSOLUT UK ASI DIPERLUKAN T IGA AT EMPAT AU T IK KONT IT ROL DALAM SIST EM KOORDINAT DEFINIT T IF/ ANAH HASIL DARI ORIENT ABSOLUT ASI ADALAH MODEL ABSOLUT YANG SIAP UNT DIDIGIT AT PLOT UK AU
A,B,C,D adalah titik KONT ROL T ANAH

Z
D

model absolut

$ "

$ !

Bobby 2004,TGD ITB

Diagram Proses Pembuatan Peta Garis Secara Fotogrametris

Bobby 2004,TGD ITB

TRIANGULASI UDARA
Case : Independent Model Triangulation

10

Bobby 2004,TGD ITB

RESTITUSI FOTO STEREO dan PLOTTING PETA GARIS

A n al og St er eo Pl ot t er

11

Bobby 2004,TGD ITB

KONSEP ORTOFOTO
Distorsi Akibat Undulasi Dikoreksi dengan panduan model 3D atau DTM
pi el(c elah) dari sala h satu foto
'

p'

p''

inp ut data tinggi pi el(c elah)


'

profil p em andu m odel 3D pem a ndu sc a nning

dH

pi el(c ela h) setelah koreksi dip royeksikan m em bentuk ortofoto

'

('

Distorsi Foto Akibat Pergeseran Relief Topografi

Mekanis e koreksi Skala ( ) P osisi ( , )


&

P'

ortofoto

12

Bobby 2004,TGD ITB

Fotogrametri Analitik
1. Fotogrametri Analitik adalah suatu term yang menggambarkan kalkulasi matematis secara rigorous dari koordinat ruang suatu titik berdasarkan parameter kamera, koordinat foto dan kontrol tanahnya. 2. Proses yang rigorous ini memperhitungkan kemiringan foto sekecil apapun. Pada umumnya akan melibatkan persamaan yang kompleks dan berlebih yang diselesaikan dengan metoda kuadrat terkecil. 3. Fotogrametri analitik merupakan fondasi dari sistem perangkat keras dan lunak, seperti plotter analitik, softcopy, pembentukan DTM, proses orthofoto, rektifikasi foto digital dan triangulasi udara. 4. Pengamatan yang paling fundamental yang digunakan dalam Fotogrametri Analitik adalah pasangan koordinat foto x dan y 5. Oleh karena hubungan matematis yang dipakai dalam fotogrametri analitik mengasumsikan sinar berjalan secara garis lurus dan bidang fokus datar sempurna maka sebagai konsekuensinya koordinat foto dari obyek-obyek berkaitan memerlukan penyempurnaan/ koreksi-koreksi terhadap penyimpangan-penyimpangan yang terjadi seperti distorsi lensa, panjang fokus, dlsb.
13

Bobby 2004,TGD ITB

Syarat Kesegarisan
Collinearity Condition

Dalam fotogrametri analitik syarat fundamental yang banyak digunakan adalah syarat kesegarisan berkas sinar (collinearity condition) yaitu suatu kondisi dimana titik pusat proyeksi, titik foto dan titik obyek di tanah terletak pada satu garis dalam ruang.

14

Bobby 2004,TGD ITB

Bentuk persamaan non-liniernya adalah sbb :

Bentuk persamaan setelah linierisasi :

dimana :

xa, ya koordinat foto/citra vxa, vya residual errors dari xa, ya d ,d ,d koreksi terhadap harga awal sudut orientasi foto dXL, dYL, dZL koreksi terhadap harga awal koordinat titik pusat proyeksi dXA, dYA, dZA koreksi terhadap harga awal koordinat ruang titik A lihat slide selanjutnya . 15

Bobby 2004,TGD ITB

Lanjutan ..

16

Bobby 2004,TGD ITB

Syarat Kesebidangan
(Coplanarity Condition)
Syarat kesebidangan adalah syarat bahwa kedua titik pusat eksposur dari sepasang foto stereo, sebarang titik obyek di tanah dan titik tersebut pada kedua foto terletak pada satu bidang

titik L1, L2, a1, a2 dan A seluruhnya terletak pada satu bidang.

17

Bobby 2004,TGD ITB

Komponen biaya pekerjaan pemetaan secara fotogrametrik


Perencanaan pekerjaan fotogrametri meliputi : - Pemilihan methoda komponen proses yang digunakan - Perencanaan peralatan yang akan dipakai - Perencanaan personil pelaksana - Estimasi biaya, dan -Estimasi waktu pelaksanaan

Komponen Utama Biaya 1. 2. 3. 4. 5. Pemotretan Pengukuran Titik kontrol Triangulasi Udara Restitusi Penyajian hasil

Satuan luas (Ha) km, jum.titik foto/ model foto/ model lembar peta

Variabel skala, jenis film, OL/SL kondisi lapangan densitas detail, jenis produk, skala material, rangkap, media, format

18

Bobby 2004,TGD ITB

Perencanaan Misi Pemotretan Udara


1)Tinggi terbang Hr = Sf x f dimana : Hr = tinggi terbang terhadap tinggi tanah rata-rata Sf = bilangan skala foto f = panjang fokus kamera

2) Jarak antar dua jalur dimana : sl lf

W = (100-sl)% x lf x bsf

= adalah jarak antar dua jalur pemotretan = pertampalan ke samping (sidelap) = lebar sisi foto

bsf = bilangan skala foto 3) Interval waktu pemotretan Interval waktu pemotretan (eksposur) diset pada intervalometer sesuai dengan panjang basis udara (B) dan kecepatan pesawat terbang (Vkm/jam). Sedang panjang basis udara dihitung dari skala foto dan pertampalan kedepan (overlap %) yang ditetapkan. B (km) dt = V (km/jam) = detik 19

Bobby 2004,TGD ITB

Menghitung jumlah foto/ model


p Jumlah foto/strip (nf) = (100-ol)% X pf X bsf + 2 + 2 (2 =safety factor)

l Jumlah strip (ns) = (100-sl)% X lf X bsf +1 (1 =safety factor)

dimana :

p = panjang daerah, l = lebar daerah, ol = overlap, sl = sidelap

pf = panjang sisi bingkai foto, lf = lebar sisi foto , utk foto metrik pf = lf = G = 23 cm, bsf = bilangan skala foto

Total foto yang diperlukan = nf x ns

Cara ini hanya dapat digunakan untuk bentuk daerah yang mempunyai bentuk persegi empat atau kombinasi bentuk persegi empat. 20

Bobby 2004,TGD ITB

Neat Model
Perkiraan jumlah model yang diperlukan berdasarkan luas neat model. Luas area Jumlah model = luas neat model

Luas satu neat model = {(100-ol)% X 23cm X bsf}{(100-sl)% X 23cm X bsf} Cara ini tidak memberikan informasi tentang jumlah strip nya, namun dapat digunakan untuk estimasi jumlah model bentuk area yang tidak teratur.
21

Bobby 2004,TGD ITB

Perencanaan pemotretan & estimasi volume


(dengan bantuan pola blok model)

Perencanaan misi pemotretan dapat dilakukan sekaligus dengan perencanaan penempatan titik kontrol dan mengestimasi komponenkomponen biaya dan waktu dengan menggunakan bantuan blok model . Yang dapat diestimasi lainnya : line km = untuk menghitung jam terbang yang diperlukan, jumlah model untuk AT dan plotting, jumlah titik kontrol yang diperlukan, dan panjang jalur pengukuran polygon/ traverse & levelling (bila cara ini yang digunakan).

22

Bobby 2004,TGD ITB

Tahapan
1. 2. 3. 4. 5. 6. Batasi area yang akan difoto/ dipetakan pada peta kerja (topografi), lihat Gambar E1 Buat pola blok model berdasarkan ukuran model (b x 2b) pada skala peta kerja pada kertas transparan atau kalkir, lihat Gambar E2, Overlaykan pola blok model diatas area pemotretan yang telah dibatasi pada peta kerja, Batasi model-model yang masuk pada blok efektif, Buat rencana jalur-jalur terbang (R1, R2,..Rn) sesuai dengan panduan blok model, Tempatkan titik-titik kontrol planimetrik dan tinggi sesuai dengan aturan AT (pada contoh ini untuk jarak antar titik kontrol planimetrik pada perimeter dan rangkaian titik kontrol tinggi masing-masing 4 basis), dan Hitung panjang total jalur, jumlah model efektif, jumlah titik kontrol (panjang jalur pengukuran yang diperlukan)

7.

23

Bobby 2004,TGD ITB

Perencanaan dengan menggunakan pola blok model

Ditumpang-susunkan (overlay)

Pola blok model disiapkan dengan ukuran b = (100 60)% x 23 cm x bilangan skala foto/ bilangan skala peta kerja. Bila overlap tidak sama dengan 60 % dan sidelap tidak sama dengan 20% maka panjang dan lebar model harus dihitung sendiri-sendiri

24

Bobby 2004,TGD ITB

Hasil Perencanaan

25

Bobby 2004,TGD ITB

PREMARK
Dalam proses triangulasi diperlukan sejumlah titik kontrol tanah yang diketahui koordinat tanahnya. Titik-titik kontrol tersebut harus dapat terlihat dengan jelas pada foto/ model. Untuk memperjelas keberadaan titik kontrol tersebut digunakan tanda lapangan atau premark yang dipasang pada titiktitik kontrol tanah tersebut. Tergantung dari jenis permukaan tanahnya premark dapat dibuat dari bahan plastik, kain atau cat sedemikian rupa agar kontras terhadap latarbelakangnya. Bentuknya dapat berupa tanda silang dengan tiga atau empat lengan dengan ukuran yang disesuaikan dengan skala foto, d = 30 s/d 50 Q pada skala foto.

26

Bobby 2004,TGD ITB

Pola Pemotretan

POLA PEMOTRETAN

Pemotretan pola blok

Pemotretan pola strip

27

Bobby 2004,TGD ITB

PEMOTRETAN UDARA

Secara teknis, perencanaan misi pemotretan memperhitungkan penggunaan :  jenis kamera,  jenis film,  tinggi terbang,  jenis pesawat,  persentase pertampalan ke muka dan ke samping, dlsb.

Perencanaan misi pemotretan yang meliputi pembuatan (1) peta rencana terbang dan (2) ketentuan-ketentuan / spesifikasi penerbangan yang harus dipenuhi.
28

Bobby 2004,TGD ITB

Faktor Lapangan Yang Perlu Diperhitungkan Dalam suatu Misi Pemotretan Udara

Disamping faktor teknis yang berkaitan dengan pemrosesan datanya, faktor lapangan juga harus diperhitungkan. Faktor lapangan meliputi :  lokasi pemotretan terhadap lapangan terbang terdekat,  kondisi topografi,  kondisi cuaca : angin, awan, turbulensi,  halangan-halangan (obstacle),  jalur penerbangan sipil  daerah larangan (restricted area)
29

Bobby 2004,TGD ITB

Lokasi pemotretan Waktu dan bahan bakar pesawat yang diperlukan menuju ke dan pulang dari lokasi (site) Jenis Kamera  kamera format kecil 35 mm x 24 mm atau 60 mm x 60 mm.  kamera metrik WA 23 cm x 23 cm dengan f = 152 mm. Atau SWA 23 cm x 23 cm dengan f = 88 mm. Jenis film  panchromatic B&W,  true color,  false color atau  infrared.

30

Bobby 2004,TGD ITB

Jenis pesawat Beban angkut (payload) kira-kira 200 kg dan awak pesawat sejumlah minimal 4 orang (1 pilot, 1 navigator, 1 camera man dan 1 technician), contoh : Piper PA-31 Navajo, Cessna 402 B, Beech King Air A-100, Dornier Do28 D-2 Skyservant, Gates Learjet 24D, 25C, 35,dlsb. Untuk FUFK digunakan pesawat ringan seperti Gelatik PZL-105 dan sejenisnya atau dengan pesawat terkendali radio (R/C) bila daerahnya relatif kecil. Tinggi terbang Tinggi terbang = f (fokus kamera dan skala foto). Pada tahun 1970-an untuk sejumlah alat restitusi pernah digunakan besaran Cfaktor yakni Cfaktor = H/IK, dimana H = tinggi terbang pesawat terhadap permukaan tanah rata-rata dan IK = interval kontur dari peta yang akan diturunkan. sampai dengan 1/8 bahkan lebih. Disamping pertimbangan pemrosesan data faktor lapangan juga harus diperhitungkan seperti kondisi topografi, kondisi cuaca (cloud ceiling) dan kemungkinan adanya rintangan (obstacle).

31

Bobby 2004,TGD ITB

INTERPRETASI FOTO UDARA (Penafsiran Foto Udara)

Sesuai dengan perkembangannya, ada beberapa definisi interpretasi foto udara yang dikenal, antara lain : Berdasarkan American Society of Photogrammetry (ASP) - Colwell, 1960, Interpretasi foto didefinisikan sebagai pekerjaan pencermatan (act of examining) foto udara untuk keperluan identifikasi obyek dan memperkirakan signifikansinya. Dalam Manual of Remote Sensing, Colwell, 1983, interpretasi foto merupakan bagian dari inderaja (remote sensing) yang mendefinisikan sebagai pengukuran (measurement) atau akuisisi (acquisition) informasi dari suatu obyek atau fenomena menggunakan alat perekam tanpa adanya kontak secara fisik dengan obyek atau fenomena yang sedang dipelajari.

32

Bobby 2004,TGD ITB

STEREOSKOP dan PARALAKS BAR

33

Bobby 2004,TGD ITB

KUNCI INTERPRETASI CITRA


1. 2. 3. 4. Derajat kehitaman (tone) dan warna (color), merupakan elemen dasar yang paling utama dan yang secara langsung digunakan. Ukuran (size), merupakan elemen dasar yang banyak digunakan dalam membedakan dua jenis obyek dengan kenampakan yang sama, namun jenis yang berbeda. Bentuk (shape), bentuk juga merupakan elemen dasar utama dalam pengenalan obyek. Tinggi (height), tinggi merupakan informasi yang tidak kalah pentingnya setelah tone. Untuk membedakan dua obyek kadang kala dibutuhkan informasi tinggi bila kunci lainnya kurang pasti. Bayangan (shadow), untuk mengenali jenis suatu obyek dari foto khususnya sekitar titik utama kadang perlu dibantuan bayangan spesifik dari obyek tersebut. Derajat kehalusan (texture), kadang diperlukan dalam membedakan berbagai jenis kebun dengan melihat derajat kehalusan dari kenampakan pohon-pohon dari kebun tersebut. Pola (pattern), sebagai mana dengan derajat kehalusan, pengenalan jenis kumpulan obyek dalam suatu area dapat pula dilihat dari polanya. Tempat (site), kunci ini biasanya dikombinasikan dengan penggunaan kinci lain. Obyek dapat dikenali dari tempat atau lokasinya. Keterkaitan (association), pengenalan obyek dapat pula dikenali dari keterkaitannya dengan unsur atau fenomena tertentu.
34

5. 6. 7. 8. 9.

Bobby 2004,TGD ITB

ILUSI BAYANGAN DALAM INTERPRETASI FOTO


Dalam melakukan interpretasi citra terkadang ilusi bayangan (tipuan penglihatan) dapat menimpulkan kesalahan seperti yang dapat dilihat pada contoh berikut ini :

35

Bobby 2004,TGD ITB

36

Bobby 2004,TGD ITB

37

Bobby 2004,TGD ITB

38

Bobby 2004,TGD ITB

PUSTAKA
1. James M Anderson,, Edward M. Mikhail : Introduction to Surveying, McGraw-Hill, 1985. 2. Paul R.Wolf : Elements of Photogrammetry, McGraw-Hill, 1985. 3. Warren R.Philipson : Manual of Photogrammetric Photo Interpretation, ASPRS, 1997. 4. Robert N.Colwell, History ad Place of Photographic Interpretation, ASPRS, 1997. 5. Paul R.Wolf, Bon A. Dewitt : Elements of Photogrammetry, McGrawHill , 2000. 6. Wang Zhizhuo : Principles of Photogrammetry, Press of Wuhan Technical University of Surveying and Mapping, 1990 7. Toni Schenk : Digital Photogrammetry, Ohio State University, Terra Science, 1999. 8. Bobby Santoso D : Pengantar Fotogrametri, Catatan Kuliah, DTGD, 1999
39

Bobby 2004,TGD ITB

Setiap bagian dari presentasi ini (gambar, diagram atau teks) boleh/dapat digunakan sebagai rujukan untuk penulisan skripsi, thesis atau makalah dengan menyebutkan sumbernya.
40