Anda di halaman 1dari 82

Ardin Amir

Buku pegangan:
1. Bernet,R.C,1974
Monheim’s Local Anesthesia and Pain Control in dental practice
5 th ed.
The C.V Mosby Co, St.Lewis.
2. Gustainis,JF., and Peterson, 1981: An Alternatif method of
mandibular nerve block, JADA V ( 103 ) : 33 – 36
3. Howe, G.L,Whitehead,F.J
Local anesthesia in Dentistry, Bristol John Ltd,1972
4. Hermann F. Sailer, Gion F.Pajarola.
Oral Surgery for the General Dentist, Thieme,Stuttgart.New
York 1999
5. Jastak,JT Cs,: 1995, Local anesthesia of the oral cavity,
Philadelphia, W.B. Saunders Company.
6. Malomed S.T
7. Handbook Local anesthesi St Louis Mosby Year Book 1994
Anestesi

Absence of Sensitivity
Oliver Wendhel Holmes
1847, Boston

Hilangnya kesadaran dan perasaan nyeri pada


General
seluruh tubuh

Lokal Hilangnya perasaan pada daerah tertentu


tanpa hilangnya kesadaran
Novocaine = Procaine
Para amino acid Monocaine =Buthetamine
Pontocaine = Tetracaine
Ravocaine=Propoxycaine

Anestetikum Meta amino Unacaine

Orocaine
Benzoic acid Kincaine

Xylocaine =Lidocaine
Amida Carbocaine=Mepivacaine
Dynacaine = Pyrrocaine
Citanest = Prilocaine
Bahan-bahan anestesi

Alkaloid dari daun erythroxylon coca, sejenis


tumbuh-tumbuhan dipergunungan Peru
Amerika Selatan
1.Cocaine
Kohler 1884  pertama kali menggunakannya
sebagai lokal anestetik pada manusia
Sekarang tak dipakai lagi
Sifat toksik + adiksi kuat  kematian
2. Procaine = Novocaine

Lokal anestesi yang >> aman + << toksik dibanding


cocaine  cepat dinetralisir oleh hepar setelah masuk
dalam sirkulasi darah
Konsentrasi Procaine 0,5% - 2% dalam larutan
Toksik: Vena  16 X
Arteri  4 X
Jaringan  1 X
Side efek sistemik terjadi karena:
1. Overdosis
2. Absorpsi cepat
3. Injeksi lokal anestesi >>>
4. Suntikan masuk vaskular
5. Injeksi tanpa vasokonstriktor
6. Kerusakan hepar
Lidocaine = Xylocaine = Lignocaine

1943  Astra Pharmaceutical Company Sweden


Konsentrasi 0,5 – 2 % dalam larutan
Konsentrasi dengan epinephrine 1 : 100.000
Kebaikan : tidak mempengaruhi tekanan darah
pulsasi
pernapasan
Efek toksik terhadap jantung > kecil dibanding procaine
Bahan-bahan Vasokonstriktor
1.Epinephrine = Adrenaline
Mikrokristal keabu-abuan
Tak berbau
Hitam bila terbuka
Larut dalam air
Tak larut dalam eter, chloroform, aceton, minyak
Mempercepat denyut jantung
Keuntungan:
Vasokonstriktor lokal  perdarahan <<
Memperpanjang masa baal lokal anestesi
Efek toksik (-)
Dosis dalam larutan 1 : 25.000 – 1 : 100.000
Cardiac failure dosis  1 : 1.000 (1mg) i.v, i.m, subcutan
2. Levophed
= Leveoarterenol
= Noradrenaline
= Norepinephrine
Kristal putih
Larut dalam air
Teroksidasi oleh O2 + sinar

Adrenalin Nor Adrenalin


Mempercepat denyut jantung Memperlambat denyut Cor
Hyperglikemik Hyperglikemik 1/8 adrenalin
Toksik Toksik ½ adrenalin
Dosis>> dilatasi Cor,Kematian Dosis >>  depresi sistem
karena cardiac failure pernapasan  oedem paru
Vasokonstriksi + Vasodilatasi Vasokonstriksi , Vasodilatasi (-)
Aktif Aktif 1/7 X adrenalin
Lokal Anestesi

Suatu keadaan baal terhadap sakit lokal yang didapat


dari
Suntikan
Aplikasi (olesan)
Instalasi (penetesan)
Dengan bahan-bahan persenyawaan kimia
Dimana zat kimia tersebut dapat mengkoagulasi
Reversibel protoplasma saraf  sehingga dapat
mencegah penyaluran impuls sensoris yang menyakitkan
menuju otak
Obat lokal anestesi
Topikal Anestesi
= Surface anestesi
= Anestesi superfisialis
Zalf/larutan yang mengandung senyawan
kimia berkhasiat anestetik dipoleskan pada
mukosa/kulit  membaalkan ujung saraf
sensoris  karena adanya penetrasi zat tsb
melalui epitel kedalam serat-serat saraf

1. Cairan yang mudah menguap : - Chlorethyl


Dalam tabung gelas + spray nozzle  pancaran
halus disemprotkan kepermukaan kulit/mukosa
2. Zalf : - Benzocaine 5 %
Jenis Contralgin
Xylotox
Lidocaine
3. Spray : - Xylocaine
Gingicaine
Chlorethyl + Spray
Semprotkan kapas dengan chlorethyl.
Kapas letakan pada daerah mukosa
bagian bukal dan palatal/lingual gigi
yang akan dicabut.

Teknik
pemakaiannya Zalf
Kapas kecil dioleskan zalf  letakan
pada oral mukosa

Menghilangkan rasa sakit pada mukosa


bersifat sementara
1.Mengurangi rasa sakit pada insertio jarum
Indikasi 2.Ekstraksi gigi susu
3.Ekstraksi gigi tetap yang sudah goyang
4.Insisi abses
Anestesi melalui suntikan

I. Infiltrasi Anestesi

1.Periapical supraperiosteum
= Paraperiosteum Infiltrasi Anestesi

Infiltrasi pada jaringan lunak larutan anestesi


diinjeksikan kedalam jaringan lunak, sekitar daerah
pembedahan
Dengan difusi sekitar daerah tsb Ujung-ujung saraf
dapat dibaalkan
Yod tinc 3%

Cartridge spuit dan carpule untuk


lokal anestesi
Bibir & pipi & membran
mukosa mulut ditarik

Injeksi periapical supra periosteum


Bevel jarum mengarah
ketulang + jarum sejajar
tulang
Tusukan jarum
menyelusuri periosteum
sampai ujungnya
mencapai setinggi akar
gigi
Titik tusukan jarum ditengah-tengah interdental papilla
1. Ekstraksi
2. Odontectomy
3. Alveolectomy
4. Insisi & drainage pada abses
Indikasi
5. Apicoectomy=Apex resectie=Apex
Lokal amputasi
Anestesi 6. Cystectomy
7. Operculectomy
8. Frenectomy
9. Endodontik
10. Operasi gingival hypertropi
1. Infeksi akut supurativ  dimana jarum
akan menusuk daerah supurativ tsb
2. Pericoronitis, Periodontitis
3. Anak-anak dibawah umur
4. O.S tidak kooperativ
Kontra
5. T.M.J ankylosis
Indikasi
6. Trismus
7. Fraktur complicated
8. Cellulitis
9. Hyperthyroidism
10. Hepatitis
11. Penyakit cardiovascular
1. R.A (Infiltrasi anestesi)
Gigi Anterior
n.Alveolaris superior anterior bagian labial
n.Nasopalatinus  bagian palatal
Gigi Premolar
Saraf yang
dibaalkan n.Alveolaris superior media  bagian bukal
n.Palatinus mayus  bagian palatal
Pada waktu
ekstraksi Gigi Molar 1
gigi n.Alveolaris superior media  bagian bukal
n.Alveolaris superior posterior  bagian bukal
n.Palatinus mayus  bagian palatal
Gigi Molar 2 dan 3
n.Alveolaris superior posterior  bagian bukal
n.Palatinus mayus  bagian palatal
N.Alveolaris superior
anterior

I1 atas

I2 atas

C atas
I 1 atas
C atas
N.alv.sup.media

P1 atas Akar mesio buccal M1atas


P2 atas
P1 atas
Titik tusukan jarum P1 atas
N.alv.sup.posterior

Akar distal ( disto buccal )M1 atas


M2 atas
M1 atas
Titik tusukan jarum M2 atas
n.nasopalatinus

n.Palatinus mayus
Injeksi n.nasopalatinus
Operator Berdiri didepan kanan o.s

Posisi pada R.A


waktu
melakukan O.S didudukan sedemikian rupa
anestesi  bidang oklusal berposisi 45
derajat dengan lantai
O.S
R.B
Permukaan oklusal sejajar lantai
Teknik Periapical Supraperiosteum anesthesia

1. Mukobukal fold tempat tusukan jarum dioles


dengan antiseptik Yod.3%
Jari kiri menahan atau menarik bibir dan pipi o.s
2. Jarum ditusukan dengan < 45 derajat pada
mukosa bukal sedalam ½ - 1 cm. Tepat pada
periosteum tulang
3. Aspirasi
4. Bila tak ada darah  larutan depositkan
11/2 -13/4 cc
5. Sisa ½ - ¼ cc untuk bagian palatal atau lingual
R.B
Gigi anterior ( Infiltrasi anestesi)
n.Alveolaris Inferior  bagian bukal
n.Lingualis  bagian lingual
Gigi posterior (Mandibular blok anestesi)
n.Alveolaris inferior  mandibular blok
anestesi
n.Lingualis  mandibular blok
anestesi
n.Bukalis  infiltrasi anestesi
N.alv.inferior
Titik tusukan jarum I1 bawah
N.Lingualis
Tempat tusukan N.lingualis
Daerah tusukan jarum untuk n.lingualis
Teknik Intraosseous
(Intra Septal)

1. Jaringan submukosa ditengah-tengah dasar


interdental papilla tempat tusukan jarum bersihkan
dengan antiseptik
2. Jarum suntikan dengan < 45 derajat, tusukan
ditengah-tengah interdental papila
3. Bila sudah mengenai periosteum, spuit diputar
melalui cortex sampai menembus cortex tulang
4. Jarum masukan sedalam ½ inch
5. Aspirasi
6. Bila tak ada darah
7. Larutan anestesi masukan 11/2 – 13/4 cc
Intra osseous anestesi
Titik tusukan jarum ditengah-tengah interdental papilla
Intra osseous anestesi
Kontra Indikasi Bila terdapat infeksi didaerah apikal

Keuntungan 1.Anestesi cepat


2.Anestesi >> sempurna

1. Larutan diresorbsi cepat kedalam


darah
Kerugian
2. Efek toksik >> tinggi
1. Teknik Mandibular Blok Anestesi
( Teknik Fisher )
1. Jari telunjuk tangan kiri diletakan pada mukobukalfold
tepat dihadapan gigi P bawah, didaerah gigi yang akan
dianestesi
2. Jari telunjuk geser ke posterior
3. Terasa ada deleksi keatas karena adanya external
oblique ridge dan linea obliqua interna
4. Teraba titik terdalam coronoid notch
5. Jari telunjuk putar  permukaan kuku jari sejajar
bidang sagital
6. Jari geser kelingual
7. Ada depresi trigonum retromolar  teraba internal
oblique ridge
8. O.S muka mulut lebar
9. Spuit dipegang tepat diatas gigi P kontra lateral
10. Jarum tusukan pada membran mukosa ditengah-
tengah ujung kuku kira-kira 7 mm diatas bidang
oklusal, sedalam 5-6 mm
11. Jarum suntik dirubah arahnya, arahkan sejajar dengan
gigi yang akan dicabut, masukan sedalam 5-6 mm
12. Posisi jarum rubah lagi kearah kontra lateral
13. Masukan jarum sedalam 6-12 mm
14. Aspirasi  Depositkan larutan anestesi 11/4 cc
untuk n.alveolaris inferior
15. Tanpa merubah arah jarum.
Spuit tarik ½ panjang jarum.
Depositkan ¼ cc untuk n.lingualis
16. Tarik jarum keluar seluruhnya
17. Infiltrasi pada mukobukalfold gigi
yang bersangkutan  n.bukalis ½ cc
18. Tunggu 5-10 menit
N.Alveolaris inferior Foramen mentale
1. Glandula parotis
2. Ramus mandibula
3. N.alveolaris Inferior
4. M.pterygoideus
medialis
5. N.lingualis
6. M.pterygoideus
externus
7. Trigonum
pterygomandibulare
8. M.masseter

Potongan ramus mandibula


Tempat jarum masuk setinggi 7 mm dari bidang oklusal
Jarum ditusukan didaerah linea obliqua interna
N.alveolaris.inferior

N.Lingualis

N.Buccalis longus
Titik tempat injeksi jarum

B. Gigi Anterior R.A


A. Gigi
Posterior R.A
A

C. Gigi D. Gigi Posterior R.B


Anterior R.B
C

E.Mukosa
Palatal

Titik tempat injeksi jarum


Tanda-tanda subjektif pada
o.s setelah mandibular blok
anestesi

1. Adanya rasa panas, tebal, semutan pada


bibir
2. Dimulai pada sudut mulut menjalar
hingga bibir bagian tengah
3. Rasa semutan lambat laun  tebal  bibir
terasa bengkak
4. Ujung dan samping lidah kesemutan
menebal
Kesalahan-kesalahan Mandibular Blok anestesi

I. Tusukan terlalu tinggi sepanjang internal oblique ridge


a. Bila tusukan terlalu tinggi dan terlalu dalam
- Penebalan pada telinga  karena pembaalan
N.Auricule temporalis
- Larutan dideponir pada insertio m.pterygoideus
externus  nyeri + trismus  anestesi gagal
- Jarum melalui sigmoid notch  larutan
dideponir M.maseter  oedem, trismus 
anestesi gagal
b. Tusukan jarum terlalu tinggi dan dangkal

1.Larutan dideponir pada insertio


M.temporalis  nyeri ,trismus, gagal
2. Tusukan jarum >> dalam  meliwati
insertio M.Temporalis  ujung jarum
tepat pada daerah areolar + diatas
permukaan dalam ramus  larutan
bergravitasi kebawah  baal sedikit
II. Tusukan terlalu rendah, sepanjang internal
oblique ridge

a. Tusukan dibawah sulkus mandibula + tak terlalu dalam


 komplikasi (-)  anestesi gagal
b. Tusukan jarum terlalu dalam didalam jaringan :
* Insertio m.pterygoideus internus  trismus + sakit
* V.facialis posterior
efek toksik  16 X
* N.facialis yang terbenam dalam gl.parotis :
paralise sementara  sampai masa kerja anestesi <<
III. Tusukan terlalu tinggi dan terlalu dalam,
medial internal oblique ridge

a. M.pterygoideus internus  trismus


b. Plexus v.pterygoideus yang menutup
M.pterygoideus internus  hematoma 
false ankylosis T.M.J
c. Menusuk ligamentum pterygomandibularis
d. M. constrictor pharyngeus posterior 
tenggorokan tebal  batuk-batuk
Injeksi N.Palatinus Anterior(Mayus)
Lokasi Keluar dari Foramen Palatinus Mayus

Mukoperiosteum palatum m3 sampai


Mempersarafi caninus

1. Suntikan dari sisi daerah yang akan


dioperasi
Teknik 2. Jarum ditusukan kira-kira 15mm
anterior dari foramen palatinum mayus
3. Jarum tusukan dengan sudut siku-siku
kemukosa sampai kontak tulang
4. Larutan anestesi depositkan ½ cc
N.Palatinus
anterior

Foramen palatinus mayus


Larutan anestesi masuk kedalam foramen
palatinus mayus :
1. N.Palatinus medius dan posterior  baal
Kegagalan
2. Mukosa palatum molle + pharynx  baal
3. O.s batuk-batuk bersin
Keuntungan blok anestesi dibanding Infiltrasi anestesi

1. Anestesi > sempurna + > lama


2. Rasa baal > lama
3. Kontaminasi jarum + penyebaran infeksi > kecil  karena
tempat tusukan > jauh dari tempat infeksi
4. Tidak terdapat oedem + peracunan khemis setempat  dapat
menghambat penyembuhan jaringan

5. Efek Ischemic setempat karena vasokonstriktor (-)


6. Dengan 1 suntikan dapat membaalkan daerah yang >> luas
7. Rasa sakit (-) + trauma tusukan (-)  karena tusukan jarum
Komplikasi Post Injeksi pada Lokal anestesi
1. Sincope
Keadaan tidak sadarkan diri karena adanya gangguan
sirkulasi darah ischaemia temporer pada otak

Pusing + panas  kesadaran menurun


Gejala Pucat + kulit dingin
Nadi lemah + cepat
Keringat >>>
Kejang-kejang  kesadaran hilang

1. Trendelenburg’s position
2. Ventilasi baik
Terapi 3. Aromatic spirit  alkohol, amoniak
4. Kopi panas
Posisi Trendelenburg
2. Toxic
Paralise organ respirasi  Kematian
Depresi sirkulasi  Tekanan darah turun
Efek C.N.S
n.sensoris  nervus,takut, tak dapat
bicara
n. motoris  tremor + convulsi
Medula oblongata  nausea + vomiting

Terapi Asphyxia + Convulsi  Artificial Respiratory


Penyumbatan jalan napas
Membuka penyumbatan jalan napas
Teknik Membuka Jalan napas
3. Hematoma
Difusi darah kedalam jaringan  karena
pembuluh darah tertusuk jarum pada waktu
suntikan

Suntikan n.alveolaris superior posterior (Tuberositas Maxillari


Injection)
Pembengkakan pada pipi  jaringan terisi darah  berasal
v.plexus pterygoideus terluka
Hematoma sekitar ramus  suntikan n.bukalis + n.alveolaris
inferior

Terapi 24 jam pertama kompres dingin


>> 24 jam kompres panas
4. Dolor post injectionem
Rasa sakit setelah suntikan

1. Suntikan menusuk kedalam


otot,ligamentum, gl.parotis, T.M.J
2. Larutan yang tidak isotonis
Sebab
3. Kontaminasi zat-zat yang mengiritir
kedalam larutan anestesi
4. Larutan terlalu dingin
5. Suntikan terlalu cepat
6. Tusukan jarum >>>
5. Trismus

Sebab 1. Jarum menusuk otot + ligamentum


2. Jarum kurang steril

1. Jarum steril(-)
Sebab
2. Kontaminasi bakteri
pada mukosa sekitar
6. Infeksi suntikan

Oedem
Gejala Trismus
Suhu tubuh naik
Sakit
7. Anestesi lebih lama dari seharusnya

1. Kontaminasi larutan lokal anestesi 


alkohol + larutan germicide
2. Trauma jaringan
Sebab
n.alv.inferior  bibir baal
n.lingualis  lidah baal
n.chorda tympani  rasa pengecap (-)

1. Sirkulasi didaerah tsb usahakan sebaik mungkin


Terapi
2. Kompres panas
8.Ulcer

Sebab Suntikan n.alveolaris inferior 


Neurotropic ulcers  ulcer pada bibir

9. Facial paralysis

Injeksi n.alv.inferior  anestesi dideponir dekat


n.facialis  suntikan terlalu dalam menembus
Sebab
gl.parotis  Bell’s palsy
10. Buta sementara

Sebab Pada suntikan n.alveolaris inferior + n.alv.superior


posterior  dimana larutan anestesi dideponir
mencapai n.opticus

11.Jarum patah