Anda di halaman 1dari 22

ASSIGNMENT MOLA HIDATIDOSA

DIBUAT OLEH : Dina Rahayu Saputri Elita Purnama sari Lubis DOSEN PEMBIMBING : dr. Herlambang, Sp. OG (K)

Defenisi
Mola hidatidosa adalah suatu kehamilan yang berkembang tidak wajar dimana kadang ditemukan janin ataupun tidak ditemukan janin dan hampir seluruh vili korialis mengalami perubahan berupa degenerasi hidropik.

Mola hidatidosa mudah dikenal yaitu berupa gelembung gelembung putih, tembus pandang, berisi cairan jernih, dengan ukuran bervariasi dari beberapa milimeter sampai satu atau dua sentimeter.

Gambaran mola hidatidosa

Etiologi

Penyebab mola hidatidosa tidak diketahui, faktor faktor yang dapat menyebabkan antara lain : 1. Faktor ovum : ovum memang sudah patologik sehingga mati, tetapi terlambat dikeluarkan. 2. Imunoselektif dari Tropoblast 3. keadaan sosioekonomi yang rendah 4. paritas tinggi 5. kekurangan protein 6. infeksi virus dan factor kromosom yang belum jelas.

Epidemiologi
Ras Insiden Mola Hidatidosa (khususnya Mola Hidatidosa Komplit) di Negara Asia jauh lebih tinggi daripada di Amerika Serikat dan Negara Barat lainnya. 3 Umur Mola Hidatidosa sering terjadi pada usia sebelum 20 tahun dan setelah 40 tahun, serta ada riwayat mola hidatidosa pada kehamilah sebelumnya dapat meningkatkan resiko Mola Hidatidosa pada kehamilan selanjutnya.

Patofisiologi
Dikenal dua tipe mola hidatidosa yang berbeda: Mola komplet : mola ini dihasilkan dari dari pembuahan satu atau dua sperma pada ovum yang telah kehilangan semua kromosomnya. Semua materi kromosom berasal dari sperma.pada 90% kasus, satu sperma terlibat dan kariotipe mola adala 46, XX.. pada 10% kariotipenya memiliki semua kromosom-kromosom Y. Pada mola komplet , kematian embriogenik dini pasti terjadi dan tidak terlihat bagian2 janin.
Mola parsial : mola ini dihasilkan oleh pembuahan sebuah ovum oleh dua sperma :satu 23,X ,dan lainnya 23 Y. Oleh karena itu mola parsial adalah triploid (69 ,XXY) . embrio dapat berkembang selama beberapa minggu dan bagian janin bisa terlihat jika mola dievakuasi .

continue
1. Mola komplet : uterus biasanya membesar. Rongga uterus berisi massa yang berstruktur seperti anggur , berdinding tipis, Transulen, kistik, dan berwarna putih keabu-abuan. Massa inilah yang disebut mola hidatidosa. Berat massa yang bisa dievakuasi biasanya melebihi 200 gram. Tidak ada bagian2 janin yang teridentifikasi.Secara makroskopis , kista tersusun atas villi korionik yang terdilatasi , bagian dalamnya terisi stroma avaskular maskoid yang longgar. Proliferasi trofoblastik mengahsilkan lembaran lembaran sel sitotrofoblastik dan sinsiotrofoblastik . atipia sitologik dapat terjadi.Mola komplet terkait dengan banyaknya peningkatan kadar gonadotropin korionik. Tingginya kadar gonadotropin menyebabkan kista teka lutein bilateral multipel didalam ovarium . 1. Mola parsial : uterus mungkin tidak akan membesar . pembesaran dan edema hanya mengenai sebagian villi dan banyak villi normal terdapat bersamaan . bagian- bagian janin mungkin ada. Derajat proliferasi trofoblastik ringan dan kadar serum gonadotropin korionik sering kali hanya

continue
2. Mola parsial : Uterus mungkin tidak akan membesar . Pembesaran dan edema hanya mengenai sebagian villi dan banyak villi normal terdapat bersamaan . bagian- bagian janin mungkin ada. Derajat proliferasi trofoblastik ringan dan kadar serum gonadotropin korionik sering kali hanya meningkat sedikit.

Manifestasi klinis
Amenore Muntah karena hamil ,sering kali berat dan tes kehamilan positif. Pembesaran uterus biasanya besar daripada kasus kehamilan normal. Perdarahan vagina biasanya terjadi pada kehamilan ketiga atau keempat. Keluarnya gumpalan seperti anggur dan bercampur dengan darah dan dapat pula terlihat.pemeriksaan dengan ultrasinografi biasanya bersifat diagnostik, memperlihatkan pembesaran plasenta multikistik dan tidak adanya janin. Diagnosis ini

cont
Tidak terabanya bagian janin pada palpasi dan tidak terdengar bunyi jantung sekalipun uterus sudah membesar setinggi pusar atau lebih. Manifestasi klinis hipertiroid : Intoleransi terhadap panas Kelelahan Tangan tremor Kehilangan berat badan Gejala preeclampsia yang terjadi pada trimester pertama atau awal trimester ke 2. Peningkatan tekanan darah Pembengkakan pada kaki, pergelangan kaki, dan tungkai

Penegakan Diagnosis
1. Anamnesis - Amenore - Mual muntah - Perdarahan pervaginam - Perut terasa lebih besar - Tidak terasa pergerakan anak Ginekologis - Uterus lebih besar dari lamanya amenore - Tanda pasti kehamilan : Negatif 3. Laboratoris - Kadar -hCG : Lebih dari normal, pada saat ini lebih banyak mempunyai nilai prognostik dibanding dengan nilai diagnostik

2.

4. USG : Tidak tampak kantung janin maupun bagian dari janin. Seluruh cavum uteri berisi gambaran vesikuler

Diagnosis Kerja
Sudah kelur gelembung mola Gambaran vesikuler pada USG

Diagnosis Pasti
Hasil pemeriksaan Patologi Anatomi : tampak vili korealis besar,bulat, hidropik, avaskuler, sisterna (+), proliferasi sel sito dan sinsitio trofoblas dengan inti atipik

Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan Laboratorium 4
Pemeriksaan kadar F-hCG , Peningkatan hCG melebihi 100.000 mlU/mL. Pemeriksaan darah rutin Kadang ditemukan anemia dan koagulopati. Pemeriksaan fungsi hati Pemeriksaan serum kreatinin dan Blood Urea Nitrogen (BUN) Pemeriksaan kadar Tiroksin dalam serum

Pemeriksaan radiologi (Ultrasonography) Pemeriksaan Mikroskopis / Histologi

Untuk kepentingan prognostik dan tindakan selanjutnya, perlu diperiksa :


Hemodinamik / Keadaan Umum ( KU) Hemopoetik lengkap Fungsi hepar dan ginjal T3, T4 dan TSH Foto Thoraks Persiapan Operasi bila perlu Konsul ke bagian lain Kadar -hCG, untuk menentukan nilai prognostik

Diagnosis banding
Kehamilan ganda Abortus Hidroamnion Kario Karsinoma

Tata laksana
1. Stabilisasi / Perbaikan Keadaan Umum - Tranfusi darah - Anti hipertensi / anti konvulsi - Obat anti tiroid 2. Evakuasi Jaringan - Kuretase Vakum (KV) - Histerektomi (HT)

Komplikasi
Perforasi uterus dapat terjadi selama dilakukan suction curettage karena ukuran uterus yang membesar. Perdarahan yang dapa menyebabkan syok hipovolemik. Malignant Trophoblastic Disease dapat terjadi pada 20% pasien yang mengalami

Prognosis Dengan diagnosa yang cepat dan penatalaksanaan yang adekuat, mortalitas akibat Mola Hidatidosa dapat tidak terjadi.

Referensi
1. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawroharjo. 2005. Ilmu Kandungan. Edisi II. Jakarta : 260 261. 2. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawroharjo. 2005. Ilmu Kandungan. Edisi II. Jakarta : 262. 3. Kumar, V, Cotran, R. S, & Robbins, S. L. 2003. Buku Ajar Patologi. Edisi 7. Volume 2. New York : ElsevierSaunders : 785. EGC 4. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawroharjo. 2005. Ilmu Kandungan. Edisi II. Jakarta : 263. 5. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawroharjo. 2005. Ilmu Kandungan. Edisi II. Jakarta : 264. 6. Cuninngham. F.G. dkk. Mola Hidatidosa Penyakit Trofoblastik Gestasional Obstetri Williams. Edisi 21. Vol 2. Penerbit Buku Kedokteran. EGG Jakarta. 2006. Hal 930-938. 7. Martaadisoebrata. D, & Sumapraja, S. Penyakit Serta Kelainan Plasenta & Selaput Janin. ILMU KEBIDANAN. Yayasan Bina pustaka SARWONO PRAWIROHARDJO. Jakarta.2005 Hal 488-490. 8. Mansjoer, A. dkk. Mola Hidatidosa. KAPITA SELEKTA KEDOKTERAN. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jilid I.Media Aesculapius. Jakarta.2001. Hal 265-267