Anda di halaman 1dari 42

HIPERTENSI

Sartian Battung 0761050035

Apa itu Hipertensi?


Tekanan darah tinggi (hipertensi) adalah peningkatan tekanan darah di dalam arteri (pembuluh darah nadi) di atas angka normal. Pada pemeriksaan tekanan darah (tensi) akan didapat 2 angka yakni angka yang atas diperoleh saat jantung berkontraksi (sistolik) sedangkan angka bawah diperleh saat jantung relaksasi (diastolik). Sehingga hasil pemeriksaan tensi menunjukkan sekian per sekian,

Epidemiologi
Sampai saat ini, data hipertensi yang lengkap sebagian besar besar berasal dari negara-negara yang sudah maju Semakin meningkatnya populasi usia lanjut, maka jumlah pasien dengan hipertensi kemungkinan besar juga akan bertambah insiden hipertensi pada orang dewasa adalah sekitar 2931%, yang berarti terdapat 58-65 juta orang hipertensi di Amerika, dan terjadi peningkatan 15 juta Hipertensi esensial merupakan 95% dari seluruh kasus hipertensi

Klasifikasi Hipertensi : JNC VII


Tabel 1. Klasifikasi Tekanan Darah menurut JNC 7 Klasifikasi Tekanan Darah TDS (mmHg) Normal Prahipertensi Hipertensi derajat 1 Hipertensi derajat 2 < 120 120 - 139 140 159 160 dan atau atau atau < 80 80 89 90 99 100
JNC VII. JAMA 2003;289:2560-2572

TDD (mmHg)

Penyebabnya apa?
Sekitar 90 % penderita hipertensi tidak diketahui penyebabnya, disebut sebagai hipertensi esensial atau hipertensi primer. Para ahli sependapat bahwa hipertensi esensial berhubungan dengan faktor resiko.

PATOGENESIS
Hipertensi esensial adalah penyakit multifaktoral yang timbul terutama karena interaksi antara faktor-faktor risiko tertentu. Faktor-faktor risiko yang mendorong timbulnya kenaikan tekanan darah tersebut adalah : 1. Faktor risiko, seperti: genetik, usia, jenis kelamin, ras, janin, stress, geografi dan lingkungan, diet dan asupan garam, resistensi insulin/hiper insulinemia. 2. saraf simpatis, antara lain Tonus simpatis dan variasi diurnal. 3. Keseimbangan antara modulator vasodilatasi dan vasokonstriksi. 4. Pengaruh sistem otokrin setempat yang berperan pada sistem renin, angiontensin dan aldosteron.

Genetik : Beberapa penderita hipertensi didapatkan 7080% kasus hipertensi esensial dengan riwayat hipertensi dalam keluarga Usia :
Insidensi hipertensi meningkat seiring dengan bertambahnya usia. Dinding arteri akan mengalami penebalan oleh karena penumpukan zat kolagen pada lapisan otot, sehingga pembuluh darah akan berangsur-angsur menyempit dan menjadi kaku.

Jenis kelamin : Hipertensi pada usia muda cenderung lebih sering pada laki-laki daripada perempuan ,Namun hipertensi pada usia lanjut tidak memiliki perbedaan yang signifikan antara laki-laki dan perempuan. Pada wanita yang belum mengalami menopause dilindungi oleh hormon estrogen yang berperan dalam meningkatkankadar High Density Lipoprotein (HDL).

Ras : Hipertensi lebih banyak terjadi pada orang berkulit hitam dari pada yang berkulit putih. Pada orangkulit hitam ditemukan kadar renin yang lebih rendah dan sensitifitas terhadapvasopressin lebih besar. Janin : berat lahir rendah tampaknya merupakan predisposisi hipertensi dikemudian hari.

Geografi dan lingkungan : Terdapat perbedaan tekanan darah yang nyata antara populasi kelompok daerah kurang makmur dengan daerah maju Diet dan asupan garam / natrium : Banyak bukti yang mendukung peran natrium dalam terjadinya hipertensi, barangkali karena ketidakmampuan mengeluarkan natirum secara efisien . hormon natriuretik (de Wardener) yang menghambat aktivitas sel pompa natrium (ATPase natrium-kalium) dan mempunyai efek penekanan.

Resistensi insulin/hiperinsulinemia: Kaitan hipertensi primer dengan resistensi insulin telah diketahui sejak beberapa tahun silam, terutama pada pasien gemuk.Insulin merupakan zat penekanan karena meningkatkan kadar katekolamin dan reabsopsi natrium.(2)

Sistem saraf simpatis :


Dapat terlihat pada hipertensi umur muda terjadi hiperaktitas simpatis. Katekolamin akan memacu produksi rennin, menyebabkan konstriksi arteriol dan vena dan meningkatkan curah jantung

Keseimbangan antara modulator vasodilatasi dan vasokonstriksi:


Endotel pembuluh darah berperan utama, tetapi remodeling dari endotel, otot polos dan interstisium juga memberikan kontribusi akhir. Penderita hipertensi mengalami penurunan respons vasodilatasi terhadap nitrat oksida, dan endotel mengandung vasodilator seperti endotelin-I

Pengaruh sistem otokrin setempat yang berperan pada sistem renin, angiontensin dan aldosteron :
Renin memicu produksi angiotensin (zat penekan) dan aldosteron (yang memacu natrium dan terjadinya retensi air sebagai akibat). Sebagian pasien hipertensi primer mempunyai kadar renin yang meningkat, tetapi sebagian besar normal atau rendah, disebabkan efek homeostatic dan mekanisme umpan balik karena kelebihan beban volume dan peningkatan TD dimana keduanya diharapkan akan menekan produksi rennin

DIAGNOSIS

A. Gejala : Nyeri kepala Kelelahan

Diagnosis
B. Pemeriksaan Dasar : Untuk memutuskan seseorang mengalami hipertensi, hendaknya dilakukan pemeriksaan sebanyak tiga kali dengan waktu yang berbeda dalam beberapa minggu. Syarat Pengukuran Tekanan Darah : Diukur setelah pasien duduk dan istirahat beberapa menit di ruangan yang tenang. Cuff standar yaitu dengan balon 12 13 cm lebar dan panjang 35 cm, orang gemuk atau anak perlu alat yang sesuai dan dipasang setinggi jantung. Tekanan sistolik = suara fase I dan tekanan diastolik = fase V. Pengukuran pertama haarus pada kedua sisi lengan untuk menghindarkan kelainan pembuluh darah perifer. Harus diukur juga tekanan darah sewaktu berdiri pada manula, pasien DM, atau keadaan yang sering timbul hipotensi ortostatik.

Diagnosis
C. Pemeriksaan penunjang Tes
y Urinalisis

Alasan untuk darah dan Dapat menunjukkan penyakit ginjal

protein, elektrolit dan kreatinin baik sebagai penyebab atau disebabkan darah oleh hipertensi, atau (jarang) dapat dianggap hipertensi adrenal (sekunder)
y Glukosa darah

Untuk menyingkirkan diabetes atau intoleransi glukosa

y Kolestrol HDL dan kolestrol total Membantu

memperkirakan

risiko

serum
y EKG

kardiovaskular dimasa depan Untuk menetapka adanya hipertrofi ventrikel kiri

Target Kerusakan Organ


Mata retinopathy Otak stroke

Target Gagal Organ Kerusakan tergantung pada:

Ginjal

Jantung Peny.Jantung Koroner Pembesaran Jantung kiri Gagal Jantung

seberapa tinggi tekanan


darah

Berapa lama tidak


terkontrol dan tertangani

Peripheral arterial disease

EVALUASI HIPERTENSI
Evaluasi pada pasien hipertensi bertujuan untuk: Menilai pola hidup dan identifikasi faktor-faktor risiko kardiovaskular lainnya atau menilai adanya penyakit penyerta yang mempengaruhi prognosis dan menentukan pengobatan. Mencari penyebab kenaikan tekanan darah. Menentukan ada tidaknya kerusakan target organ dan penyakit kardiovakular.

Evaluasi Hipertensi
Anamnesis evaluasi pasien hipertensi : 1. Lama menderita hipertensi dan derajat tekanan darah 2. Indikasi adanya hipertensi sekunder 3. Faktor-faktor resiko 4. Gejala kerusakan organ 5. Pengobatan antihipertensi sebelumnya 6. Faktor-faktor pribadi, keluarga dan lingkungan

PENGOBATAN
Tujuan pengobatan pasien hipertensi adalah: Target tekanan darah < 140/90 mmHg, untuk individu berisiko tinggi (diabetes, gagal ginjal proteinuria) < 130/80 mmHg Penurunan morbiditas dan mortalitas kardiovaskular Menghambat laju penyakit ginjal proteinuria

TERAPI NON FARMAKOLOGIS


Pilihan modifikasi gaya hidup yang dapat mencegah dan mengontrol hipertensi

1. Stop merokok 2. Gaya hidup aktif 3. Memelihara berat badan ideal 4. Makan gizi seimbang 5. Menurunkan asupan garam 6. Membatasi konsumsi alcohol (bagi yang minum)

TERAPI FARMAKOLOGIS
Jenis-jenis obat antihipertensi untuk terapi farmakologis hipertensi yang dianjurkan JNC 7: 1. Diuretika, terutama jenis Thiazide (Thiaz) atau Aldosterone Antagonist (Aldo Ant) 2. Beta Blocker (BB) 3. Calcium Channel Blocker atau Calcium antagonist (CCB) 4. Angiotensin Converting Enzyme Inhibitor (ACEI) 5. Angiotensin II Receptor Blocker atau AT1 receptor antagonist/blocker (ARB)

Diuretik
Obat inj meningkatka volume urine Inhibotir transpor ion dalam ginjal Diuretik Tiazid : o Menghambat reabsoprsi nartiun dan klorida pada ansa henle asenden tebal dan awal tubulus distal o Kehilangan ion-ion ini meningkatkan volume urine

Direutik loop : o Menghambat reabsorpsi klorida pada ansa henle asenden tebal o Sering digunakan untuk mengurangi edema paru Diuretik hemat kalium : o Meningkatakan ekskresi natrium dan menahan kalium di tubulus distal o Dapat menyebabkan hiperkalemia

Angiotensin Converting Enzim Inhibitor


angiotensinogen

Angitensin 1

Angitensin 2

vasoko nstriksi

Sekresi aldosteron

Peningkatan tahanan vaskuler perifer

Peningkatan retensi natriun dan aair

Peningkatan tekanan darah

Beta adrenergik blocking agents (betabloker)


o o o o Menurunkan frekuensi irama jantung dan curah jantung Menurunkan tingkat renin di plasma Memodulai aktivitas eferen saraf perifer Efek sentral tidak langsung

Efek samping : Semua betabloker memicu spasme bronkial, misalnya pada pasien dengan asma bronkial

Obat penyekat terowongan kalsium (calcium channel antagonists, calcium channel blocking agents, CCT).
Calcium antagonist mengakibatkan relaksasi otot jantung dan otot polos, dengan demikian mengurangi masuknya kalsium kedalam sel. Obat ini mengakibatkan vasodilatasi perifer, dan refleks takikardia dan retensi cairan kurang bila dibanding dengan vasodilator lainnya Efek Samping Efek samping yang paling sering pada calcium antagonis ialah nyeri kepala, edema perifer, bradikardia dan konstipasi.

Angiotensin II Receptor Blocker (ARB)


Batuk tidak ditemukan pada pengobatan dengan ARB. Namun efek samping hipotensi dan gagal ginjal masih dapat terjadi pada pasien dengan stenosis arteri renal bilateral dan hiperkalemia Golongan Obat Candesartan, eprosartan, irbesartan, losartan, olmesartan, valsartan.

Terapi Farmakologis
Kombiansi yang telah terbukti efektif dan dapat ditoleransi pasien : Dieuretika dan Angitensin Convertinf Enzym Inhibitor atau Angiotensin II Receptor Bloker Calcium Channel Bloker dengan Beta Bloker (BB) Calcium Channel Bloker dengan Angiotensin Converting Enzym Inhibittor (ACEI) atau Angiotensin II Receptor Bloker (ARB) Calcium Channel Bloker (CCB) dengan Dieuretika Terkadang diperlukan tiga atau empat kombinasi obat

Initiation of Antihypertensive treatment : ESC 2OO7


Other risk factors, OD, or disease No other risk factors Normal SBP 120-129 or DBP 80-84 No BP intervention High normal SBP 130-139 or DBP 85-89 No BP intervention Grade 1 HT SBP 140-159 or DBP 90-99 Lifestyle changes for several months then drug treatment if BP uncontrolled Lifestyle changes for several weeks then drug treatment if BP uncontrolled Lifestyle changes + drug treatment Lifestyle changes + drug treatment Lifestyle changes + immediate drug treatment Grade 2 HT SBP 160-179 or DBP 100-109 Lifestyle changes for several weeks then drug treatment if BP uncontrolled Lifestyle changes for several weeks then drug treatment if BP uncontrolled Lifestyle changes + drug treatment Lifestyle changes + drug treatment Lifestyle changes + immediate drug treatment Grade 3 HT SBP u180 or DBP u 110 Lifestyle changes + immediate drug treatment

1-2 risk factors

Lifestyle changes

Lifestyle changes

Lifestyle changes + immediate drug treatment

u 3 risk factors, MS or OD

Lifestyle changes

Lifestyle changes and consider drug treatment Lifestyle changes + drug treatment Lifestyle changes + immediate drug treatment

Lifestyle changes + immediate drug treatment Lifestyle changes + immediate drug treatment Lifestyle changes + immediate drug treatment

Diabetes

Lifestyle changes

Established CV or renal disease

Lifestyle changes + immediate drug treatment

PEMANTAUAN
1. Pasien yang telah mulai mendapat pengobatan harus datang kembali untuk evaluasi lanjutan dan pengaturan dosis obat sampai target tekanan darah tercapaiSetelah tekanna darah tercapai dan stabil kunjungan selanjutnya dengan interval 3-6 bulan 2. tetapi frekuensi kunjungan ini juga ditentukan oleh ada tidaknya kormobiditas seperti gagal jantung, penyakiy yang berhubungan seperti diabetes dan kebutuhan akan pemariksaan laboratorium.

Jika dalam 6 bulan target pengobatan tidak tercapai, harus dipertimbangkan untuk melakukan, rujukan ke dokter spesilalis atau sub spesialis. Bial selain hipertensi ada kondisi lain seperti diabtes mellitus atau penyakit ginjal. Pengobatan antihipertensi umumnya untuk selama hidup. Penghentian pengobtan cepat atau lambat akan diikuti dengan naiknya tekanan darah sampai seperti sebelum dimulai pengobatan antihipertensi. Walaupun demikian, ada kemungkinan untuk menurunkan dosis dan jumlah obat antihipertensi secara bertahap bagi pasien yang diagnosis hipertensinya sudah pasti serta patuh terhadap pengobatan non farmakologis. Tindakan ini harus disertai dengan pengawasan tekana darah yang tepat.

RULE OF HALF
Pasien yang tidak berobat dan tidak kontrol Berobat tapi tidak kontrol rutin

25%

12.5% 12.5%

50%

Yang tidak tahu

Berobat dan terkontrol

Source : Joffres et al. (1997) Am. J. Hypertension 10: 1097-1102

Kesimpulan
Hipertensi esensial atau yang sering disebut hipertensi primer adalah peningkatan tekanan darah yang sampai saat ini masih belum diketahui penyebabnya. Namun hipertensi ini memiliki faktor resiko yang dapat mencetuskan terjadinya hipertensi antara lain : Faktor resiko, seperti: genetik, usia, jenis kelamin, ras, janin, stress, geografi dan lingkungan, diet dan asupan garam, resistensi insulin/hiper insulinemia. Saraf simpatis antara lain Tonus simpatis dan Variasi diurnal Keseimbangan antara modulator vasodilatasi dan vasokonstriksi: Pengaruh system otokrin setempat yang berperan pada sistem renin, angiontensin dan aldosteron

Dan dari segi penatalaksanaanya harus diperhatikan secara khusus yaitu : a. Terapi non faramakologi : o Menghentikan merokok o Menurunkan berat badan berlebih o Menurunkan konsumsi alkohol berlebih o Latihan fisik o Menurunkan asupan garam o Meningkatakan konsumsi buah dan sayur serta menurunkan asupan lemak b. Terapi farmakologis : o Diuretika o Beta Bloker (BB) o Cacium Channel Bloker (CCB) o Angiotensin Converting Enzym Inhibitor (ACEI) o Angiotensin II Receptor Bloker (ARB) o Anatagonis ReceptorAldosteron Selektof