Anda di halaman 1dari 46

PENGEMBANGAN BUDAYA SEKOLAH DAN PEMBERDAYAAN PEMANGKU KEPENTINGAN PENDIDIKAN

Kisyani-laksono
Sumber: Bahan-bahan Ditjen Dikti

Hasrat untuk Mengubah Diri


Ketika aku masih muda serta bebas berfikir dengan khayalanku, Aku bermimpi untuk mengubah dunia Seiring dengan bertambahnya usia dan kearifanku, Kudapati bahwa dunia tidak kunjung berubah, maka cita-cita itupun kupersempit citadan kuputuskan untuk hanya mengubah negeriku. Namun tampaknya itupun tiada hasilnya. Ketika usia senja mulai kujelang, Lewat upaya terakhir yang penuh keputusasaan, Kuputuskan untuk mengubah murid-muridku dan keluargaku, orang-orang yang paling muridorangdekat denganku, namun alangkah terkejutnya aku, merekapun tak kunjung berubah!!!

Kini, sementara berbaring di tempat tidur menjelang kematianku, baru kusadari: Andaikan yang pertama-tama kuubah adalah diriku pertamasendiri, maka lewat memberi contoh sebagai panutan, mungkin murid-murid dan keluargaku bisa kuubah, muridBerkat inspirasi dan dorongan mereka, kemudian aku menjadi mampu memperbaiki negeriku dan siapa tahu, bahkan aku juga bisa mengubah dunia.

An Anglican Bishop (1100 A.D), as writen in the crypts of Westminter Abby (Quoted & published by House of Ideas, 1997)

Pengertian Budaya Sekolah


Kualitas kehidupan sekolah, termanifestasikan dalam aturanaturan atau norma, tata kerja, kebiasaan kerja, gaya kepemimpinan seorang atasan maupun bawahan (cf. Hodge & Anthony, 1991). Kualitas kehidupan sekolah, baik yang terwujud dalam kebiasaan kerja maupun kepemimpinan dan hubungan tersebut tumbuh dan berkembang berdasarkan spirit dan keyakinan tertentu yang dianut sekolah. Spirit dan keyakinan sekolah yang mendasari lahirnya aturan-aturan, norma-norma, dan nilai-nilai yang mengatur bagaimana seseorang harus bekerja, stuktur yang mengatur bagaimana seorang anggota sekolah berhubungan secara formal maupun informal dengan orang lain, sistem dan prosedur kerja yang mengatur bagaimana kebiasaan kerja seharusnya dimiliki seorang pemimpin maupun anggota sekolah (cf.Tomngton & Weightman, dalam Preedy, 1993).

Konsep budaya dapat dipahami dari dua sisi. Dari sisi isi, budaya bersumber dari spirit dan nilai-nilai kualitas kehidupan. Dari sisi manifestasi atau tampilannya. Budaya sekolah dapat dipahami dengan cara merasakan atau mengamati manifestasi atau tampilannya, yaitu aturan-aturan dan prosedur-prosedur yang mengatur bagaimana pemimpin dan anggota sekolah seharusnya bekerja, struktur yang mengatur bagaimana seorang anggota sekolah seharusnya berhubungan secara formal maupun informal dengan orang lain, sistem dan prosedur kerja yang seharusnya diikuti, dan bagaimana kebiasaan kerja dimiliki seorang pemimpin maupun anggota sekolah. Budaya sekolah dapat diartikan sebagai kualitas kehidupan sekolah yang tumbuh dan berkembang berdasarkan spirit dan nilai-nilai tertentu yang dianut sekolah (cf. Hanson, 1985)

Kualitas kehidupan sekolah biasanya dapat tertampilkan dalam bentuk bagaimana pemimpin sekolah, pendidik, dan tenaga kependidikan bekerja, belajar, dan berhubungan satu sama lainnya, sebagaimana telah menjadi tradisi sekolah. Idealnya, setiap sekolah memiliki spirit atau nilai-nilai tertentu, misalnya spirit dan nilai-nilai jujur, cerdas, tangguh, dan peduli. Spirit dan nilai-nilai tersebut akan mewarnai gerak langkah sekolah dan cepat atau lambat akan membentuk kualitas kehidupan fisiologis maupun psikologis sekolah, dan lebih lanjut akan membentuk perilaku, baik perilaku sistem (sekolah), perilaku kelompok, maupun perilaku perorangan warga sekolah.

www.themegallery.com

Bilamana sekolah memiliki spirit jujur dan peduli,misalnya, maka yang tumbuh dan berkembang di sekolah adalah latar fisik, lingkungan, suasana, rasa, sifat, serta iklim kejujuran dan kepedulian. Semua struktur organisasi sekolah, deskripsi tugas sekolah, sistem dan prosedur kerja sekolah, kebijakan dan aturan-aturan sekolah, tata tertib sekolah, dan hubungan formal maupun informal dalam sekolah mencerminkan kejujuran dan kepedulian. Dampaknya, perilaku yang tumbuh dan berkembang di sekolah adalah pemimpin sekolah, pendidik, tenaga kependidikan, dan peserta didik yang penuh kejujuran dan kepedulian melaksanakan tugas; ketertiban sekolah yang sangat dijunjung tinggi; tata tertib yang selalu dijaga.
www.themegallery.com

Gambar 1

Hubungan Kultur Sekolah dan Pembentukan Karakter Peserta Didik


Spirit dan nilainilai Karakter Peserta Didik Lingkungan Peserta Didik PERILAKU INDIVIDU kebijakan

struktur

latar fisik TRADISI SEKOLAH suasana

hubungan

sistem

www.themegallery.com

Perilaku peserta didik mencakup sikap, minat, persepsi, motivasi, pemikiran, keterampilan, dan kepribadiannya. Secara sistemik, perilaku individu peserta didik dipengaruhi oleh perilaku kelompok dan budaya sekolah. Budaya sekolah yang baik akan membentuk perilaku kelompok dan individu peserta didik yang baik

www.themegallery.com

Tiga Faktor yang Berpengaruh terhadap Perilaku Peserta Didik


KARAKTERISTIK BAWAAN

PERILAKU SISTEM

BENTUKAN PERILAKU SISWA

Budaya

Sekolah

Sikap, persepsi, pemikiran, keterampilan, kepribadian

minat, motivasi,

(pengalaman belajar siswa atau pendidikan luas) di sekolah proses secara

LINGKUNGAN (keluarga dan sosial)


www.themegallery.com

Etika Profesi

Perilaku peserta didik dapat dimaksimalkan melalui budaya sekolah yang baik atau kondusif. Budaya sekolah yang kondusif adalah keseluruhan latar fisik lingkungan, suasana, rasa, sifat, dan iklim sekolah yang secara produktif mampu memberikan pengalaman-baik bagi tumbuh kembangnya kecakapan hidup peserta didik yang diharapkan.
www.themegallery.com

Pendidikan Karakter, Pendidikan Kecakapan Hidup, dan Budaya Sekolah


Pendidikan karakter dan pendidikan kecakapan hidup akan efektif bilamana disemayamkan dalam budaya sekolah dan dalam diri peserta didik, bukan sekadar diinformasikan dan dilatihkan. Dengan budaya sekolah yang kondusif, sekolah akan mampu mendudukkan dirinya sebagai lembaga penyemayaman bagi tumbuh dan berkembangnya kecakapan personal/ kecakapan berpikir rasional, kecakapan sosial, kecakapan akademik, dan kecakapan vokasional pada diri peserta didik.

www.themegallery.com

Implementasi Pengembangan Budaya Sekolah dalam KTSP Untuk Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah
Komponen KTSP 1. Visi 2. Misi 3. Tujuan Sekolah 4. Struktur Kurikulum 5. Kalender Akademik Rincian Kegiatan Kegiatan Ekstra Kurikuler Kegiatan Bimbingan Konseling Kegiatan Terprogram Kegiatan Rutin Kegiatan Spontan Keteladan Integrasi dalam mata pelajaran Muatan Lokal

Implementasi Pengembangan Nilai/Budaya Sekolah dalam Pembelajaran


Nilai-nilai/karakter dicantumkan dalam Silabus dan RPP Pengembangan nilai-nilai tersebut dilakukan dengan: Mengkaji Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) Menentukan apakah kandungan nilai karakter sudah tercakup di dalam SK dan KD. Memetakan keterkaitan antara SK/KD/Kompetensi dengan nilai dan indikator untuk menentukan nilai yang akan dikembangkan. Menetapkan nilai-nilai/ karakter (prioritas). Mencantumkan nilai-nilai yang sudah ditetapkan dalam RPP

Mengembangkan proses pembelajaran yang memungkinkan peserta didik memiliki kesempatan melakukan internalisasi nilai dan menunjukkannya dalam perilaku yang sesuai Memberikan bantuan kepada peserta didik yang mengalami kesulitan untuk internalisasi nilai mau pun untuk menunjukkannya dalam perilaku.

Siapa yang berani mengajar Ia harus berani belajar selamanya


(John Calton Dana)

Budaya Sekolah yang Kondusif


Pertama, mampu memberikan pengalaman bagi tumbuh kembangnya perilaku jujur, cerdas, tangguh, dan peduli yang terjabar dalam berbagai hal a.l.:
(1) keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, (2) kesahajaan dan nasionalisme, (3) semangat kebersamaan, persatuan, dan kerja kelompok, (4) semangat membaca dan mencari referensi, (5) keterampilan dalam mengkritisi data dan memecahkan masalah hidup, (6) kecerdasan emosional, (7) keterampilan komunikasi, baik secara lisan maupun tertulis, (8) kemampuan berpikir objektif dan sistematis; (9) kecakapan dalam bidang tertentu yang terdapat di masyarakat.
www.themegallery.com

Kedua, budaya sekolah yang kondusif, akan tampak atau tecermin dalam berbagai hal, antara lain:
struktur organisasi sekolah, deskripsi tugas sekolah, sistem dan prosedur kerja sekolah, perilaku pendidik, tenaga kependidikan,dan peserta didik kebijakan dan aturan, tata tertib sekolah, kepemimpinan, acara ritual, dan penampilan fisik sekolah.

www.themegallery.com

Pengembangan Budaya Sekolah


Pengembangan budaya sekolah dapat dimulai dengan pengembangan pada tataran spirit dan nilai-nilai, yaitu dengan cara mengidentifikasi berbagai spirit dan nilai-nilai. Budaya sekolah bersumber dari spirit dan nilai-nilai kualitas kehidupan sekolah

www.themegallery.com

Langkah-langkah Pengembangan Budaya Sekolah yang Kondusif


1. Identifikasi spirit dan nilai-nilai sebagai sumber budaya sekolah yang dilakukan bersama oleh pendidik dan tenaga kependidikandengan seluruh pemangku kepentingan. Hasil identifikasi ditetapkan sebagai kebijakan resmi sekolah dalam bentuk surat keputusan kepala sekolah. 2. Sosialisasi spirit dan nilai-nilai secara kontinu kepada seluruh pemangku kepentingan. 3. Kepala sekolah selalu menumbuhkan komitmen seluruh pemangku kepentingan, memegang teguh spirit dan nilainilai yang telah ditetapkan bersama.

www.themegallery.com

Identifikasi Nilai
Nilai pada dasarnya terkait dengan karakter Karakter pribadi merupakan hasil olah hati, olah pikir, olahraga, serta olah rasa/karsa. Aspek-aspek karakter juga dpt diturunkan dari 4 karakteristik manusia: believer, thinker, doer, networker. Karakter juga dapat dikaitkan dg konsep psikologi: SQ, IQ, AQ, dan EQ. Karakter juga dapat dirujukan ke sifat utama: sidiq, amanah, tabligh, fathonah.

LOGIKA

RASA

OLAH PIKIR

OLAH HATI

INTRAPERSONAL

FATHONAH THINKER IQ

SIDDIQ BELIEVER SQ

OLAHRAGA

OLAH RASA & KARSA

INTERPERSONAL

AMANAH DOER AQ

TABLIGH NETWORKER EQ

cerdas, kritis, kreatif, inovatif, ingin tahu, berpikir terbuka, produktif, berorientasi Ipteks, dan reflektif

OLAH PIKIR

OLAH HATI

jujur, beriman dan bertakwa, amanah, adil, bertanggung jawab, berempati, berani mengambil resiko, pantang menyerah, rela berkorban, dan berjiwa patriotik

Perilaku Berkarakter

tangguh, bersih dan sehat, disiplin, sportif, andal, berdaya tahan, bersahabat, kooperatif, determinatif, kompetitif, ceria, dan gigih

OLAH RAGA

OLAH RASA/ KARSA

NILAI-NILAI LUHUR

peduli, ramah, santun, rapi, nyaman, saling menghargai, toleran, suka menolong, gotong royong, nasionalis, kosmopolit , mengutamakan kepentingan umum, bangga menggunakan bahasa dan produk Indonesia, dinamis, kerja keras, dan beretos kerja
24

Seperti halnya sikap, suatu nilai tidaklah berdiri sendiri, tetapi berbentuk kelompok Karakter dan kecakapan hidup terbentuk dari internalisasi nilai yang bersifat konsisten, artinya terdapat keselarasan antarelemen nilai. Sebagai contoh, nilai kejujuran, terbentuk dalam satu kesatuan utuh antara tahu makna jujur (apa dan mengapa jujur), mau bersikap jujur, dan berperilaku jujur. Karena setiap nilai berada dalam spektrum atau kelompok nilai-nilai, maka secara psikologis dan sosiokultural suatu nilai harus koheren dengan nilai lain dalam kelompoknya untuk membentuk karakter dan kecakapan hidup yang utuh.
www.themegallery.com

Tema Pembangunan Karakter Bangsa dan Pendidikan Karakter

Membangun generasi yang JUJUR, CERDAS, TANGGUH, dan PEDULI

Pembangunan Karakter Bangsa melalui Bidang Pendidikan

PELAKSANAAN PENDIDIKAN KARAKTER DI SATUAN PENDIDIKAN

Pendidikan Komprehensif:
Ilmu Pengetahuan, Budi Pekerti (Akhlak, Karakter), Kreativitas, Inovatif

pendidikan adalah daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran (intellect), dan tubuh anak. Bagian-bagian itu tidak boleh dipisahkan agar kita dapat memajukan kesempurnaan hidup anak-anak kita.. (Ki Hajar Dewantoro)

PT

Pendidikan AKADEMIK DSB

SMA

SMP
Pendidikan KARAKTER

SD

Pemberdayaan Pemangku Kepentingan


Secara manajerial pengembangan kultur sekolah menjadi tanggung jawab pemimpin sekolah, sedangkan secara operasional sehari-hari menjadi tugas seluruh personel sekolah dan pemangku kepentingan terkait.

www.themegallery.com

Alangkah sia-sianya, bilamana di sekolah dibangun kejujuran, sementara orang tua peserta didik selaku pemangku kepentingan tidak mampu memberikan keteladanan kejujuran kepada anaknya masing-masing.

www.themegallery.com

RENUNGAN
Terkadang siswa bukan ahli dalam MENDENGAR (sesuatu yang dipetuahkan gurunya), tapi mereka sangat ahli dalam MENIRU perilaku gurunya. (Richard Harre)

Jadilah Tuntunan. dan Jangan Menjadi Tontonan

Pengembangan Budaya Sekolah dalam Tataran Teknis


Pemimpin sekolah bersama pemangku kepentingan mengembangan berbagai prosedur kerja manajemen, sarana manajemen, dan kebiasaan kerja berbasis sekolah yang betul-betul merefleksikan spirit dan nilai-nilai yang akan dibudayakan di sekolah.

www.themegallery.com

Langkah-langkah Pengembangan Budaya Sekolah dalam Tataran Teknis


1. Pemimpin sekolah bersama pendidik, tenaga
kependidikan, dan seluruh pemangku kepentingan terkait mengevaluasi sejauh mana keseluruhan komponen sistem sekolah telah merefleksikan spirit dan nilai-nilai dasar yang sangat fungsional bagi tumbuh dan berkembangnya kecakapan hidup peserta didik.

www.themegallery.com

2. Dikembangkan berbagai kebijakan teknis pada


setiap komponen antara lain Struktur organisasi sekolah Deskripsi tugas sekolah Tata tertib pendidik dan tenaga kependidikan Tata tertib peserta didik Standar sistem pembelajaran yang harus diikuti pendidik maupun peserta didik

www.themegallery.com

Pola hubungan formal dan informal pemimpin sekolah dengan pendidik dan tenaga kependidikan atau sesama pendidik dan tenaga kependidikan, termasuk hubungan dengan peserta didik Berbagai sanksi bagi peserta didik yang tidak jujur dan tidak peduli Berbagai program kerja dalam rangka membina keimanan dan ketakwaan peserta didik terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
www.themegallery.com

Berbagai program kerja sekolah dalam rangka membiasakan peserta didik melakukan pemecahan masalah Berbagai program ekstrakurikuler yang dapat menumbuhkembangkan kejujuran, kedisiplinan, rasa tanggung jawab, semangat hidup, persatuan dan kesatuan Berbagai strategi belajar dan pembelajaran yang mendorong peserta didik agar semangat belajar. Berbagai aturan perawatan dan kebersihan fisik sekolah.

Pengembangan Budaya Sekolah dalam Tataran Sosial


Seluruh kebijakan dan aturan teknis yang dikembangkan berdasarkan spirit dan nilai-nilai tertentu disosialisasikan, diamalkan (diimplementasikan), dan secara kontinu diinstitusionalisasikan sehingga menjadi suatu kebiasaan (work habits) di sekolah dan di luar sekolah.

www.themegallery.com

Pengembangan Budaya Sekolah


PROSES PENGEMBANGAN HASIL PENGEMBANGAN Pengembangan Tataran Spirit dan Nilai-nilai KESEPAKATAN TENTANG SPIRIT DAN NILAI-NILAI

Pengembangan Tataran Teknis

BERBAGAI KEBIJAKAN: ATURAN dsb YANG MEREFLEKSIKAN SPIRIT DAN NILAI-NILAI

Pengembangan Tataran Sosial

PEMIMPIN SEKOLAH, dll. BERPERILAKU SESUAI DENGAN KEBIJAKAN

www.themegallery.com

Pengembangan budaya sekolah akan berhasil bilamana sejumlah spirit dan nilainilai sebagaimana termanifestasikan dalam berbagai kebijakan dan peraturan sekolah menjadi perilaku sosial sehari-hari di sekolah.

www.themegallery.com

Institusionalisasi budaya sekolah sangat bergantung kepada peran serta pendidik sebagai duta budaya bagi seluruh peserta didiknya. Komponen yang paling esensial dan menentukan keberhasilan pengembangan kultur sekolah adalah pendidik.

www.themegallery.com

Kau adalah guruku Di hatiku kau begitu indah Kau bantu daku kembangkan ilmu O banggaku Di setiap langkahku Kau selalu jadi teladanku Kau contohkan sikap dan juga prilaku O banggaku Janganlah kau tinggalkan diriku Ku tak mampu hadapi ini semua Kau adalah tladanku Kau adalah panutanku, kau contoh karakterku, lengkapi diriku, o guruku kau begitu ... SEMPURNA
lagu Sempurna (Andra and The Black Bone)

www.themegallery.com

Evaluasi Pengembangan Budaya Sekolah dan Pemberdayaan Pemangku Kepentingan


BT: Belum Terlihat, apabila peserta didik belum memperlihatkan tanda- tanda awal perilaku yang dinyatakan dalam indikator karena belum memahami makna dari nilai itu (Tahap Anomi) MT: Mulai Terlihat , apabila peserta didik sudah mulai memperlihatkan adanya tanda-tanda awal perilaku yang dinyatakan dalam indikator tetapi belum konsisten (Tahap Heteronomi) MB: Mulai Berkembang, apabila peserta didik sudah memperlihatkan berbagai tanda perilaku yang dinyatakan dalam indikator dan mulai konsisten, karena selain sudah ada pemahaman dan kesadaran juga mendapat penguatan lingkungan terdekat dan lingkungan yang lebih luas (Tahap Socionomi) MK: Membudaya, apabila peserta didik terus menerus memperlihatkan perilaku yang dinyatakan dalam indikator secara konsisten karena selain sudah ada pemahaman dan kesadaran dan mendapat penguatan lingkungan terdekat dan lingkungan yang lebih luas sudah tumbuh kematangan moral (Tahap Autonomi)

Asesmen
Berperilaku JUJUR sehingga menjadi teladan Berperi laku dan berpenampilan CERDAS sehingga menjadi teladan Berperi laku TANGGUH sehingga menjadi teladan Berperilaku PEDULI sehingga menjadi teladan Menempatkan diri secara proporsional dan bertanggung jawab Mampu menilai diri sendiri (melakukan refleksi diri) sehingga dapat bertindak Berperilaku kreatif sehingga menjadi teladan Berperilaku bersih sehingga menjadi teladan Berperilaku sehat sehingga menjadi teladan

Karakter Pendidik
Menunjukkan diri sebagai pendidik yang dapat diteladani, khususnya dalam hal kejujuran, kecerdasan, ketangguhan, dan kepedulian. Menunjukkan komitmen terhadap tugas sebagai pendidik Menjaga kode etik profesi pendidik Bekerja keras Melaksanakan tugas secara bertanggung jawab Mengembangkan diri secara terus-menerus sebagai pendidik Bertindak atas dasar kemanfaatan peserta didik Bertindak atas dasar kemanfaatan satuan pendidikan formal dan nonformal Bertindak atas dasar kemanfaatan masyarakat Mengemukakan pendapat yang berpengaruh positif terhadap peserta didik Menunjukkan tindakan yang berpengaruh positif terhadap peserta didik Berperilaku yang dihormati oleh peserta didik Berperilaku yang dihormati oleh sejawat