Anda di halaman 1dari 7

SI NDR OM KORO NER AKUT

PENGERTIAN gawat darurat jantung dengan


menginvestasi klinis berupa perasaan tidak
Syndrome coroner acut suatu keadaan enak di dada atau gejala – gejala
lain sebagai akibat iskemia miokard. Syndrome coroner abut mencakup:
5. Infark miokard abut dengan elevasi segmen ST
6. Infark miokard abut tanpa elevasi segmen ST
7. Angina pektoris tak stabil (unstable angina pectoris)

DIAGNOSIS
Anamnesis
Nyeri dada tipikal (angina) berupa nyeri dada substernal, retrosternal,dan
recordial. Nyeri seperti ditekan ditindih benda berat, rasa terbakar, seperti
ditusuk, rasa diperas, dan dipelintir. Nyeri menjalar keleherlengan kiri,
mandibula, gigi,punggung/interskapula, dan dapat juga kelengan kanan. Nyeri
membaik atau hilang dengan istirahat atau obat mintrat, atau tidak. Nyeri
dicetuskan oleh latihan fisik, stres emosi, udara dingin, dan sesudah
makan.dapat disertai gejala mual, muntah, sulit bernafas, keringat dingin,dan
lemas.
Elektrokardiogram
 Angina pektoris tidak stabil : depresi segmen ST dengan atau tanpa inversi gelombang T,
kadang-kadang elevasi segmen ST sewaktu ada nyeri, tidak dijumpai gelombang Q
 Infark miokard ST elevasi : hiperakut T, elevasi segmen ST, gelombang Q inversi gelombang T
 Infark miokard non ST elevasi : depresi segmen ST, inversi gelombang T dalam.

Petanda Biomiokard
 CK, CKMB, Troponin-T, dll
 Enzim meningkat minimal 2 kali nilai batas atas normal

DIAGNOSIS BANDING
 Angina pektoris tak stabil : infark miokard abut
 Infark miokard abut : diseksi aorta, perikarditis abut, emboli paru abut, penyakit dinding dada,
Syndrome Tietze, gangguan gastrointestinal seperti : hiatus hernia dan refluks esofagitis,
spasme atau ruptur esofagus, kolesistitis abut, tukak lambung, dan pankreatitis abut.

PEMERIKSAAN PENUNJANG
 EKG
 Foto rotgen dada
 Petanda biokimia : darah rutin, CK, CKMB, Troponin T,dll
 Profil lipid, gula darah, ureum kreatinin
 Ekokariografi
 Tes Treadmill ( untuk stratifikasi setelah infrak miokard )
 Angiografi coroner
TERAPI
 Tirah baring di ruang rawat intensif jantung (ICCU)
 Pasang infus intravena dengan NaCl 0,9% atau dektrosa 5%
 Oksigenasi dimulai dengan 2 liter/menit 2-3jam, dilanjutkan bila asuransi oksigen arteri rendah
(<90%)
 Diet: puasa sampai bebas nyeri, kemudian diet cair. Selanjutnya diet jantung.
 Pasang monitor EKG secara kontinu

Atasi nyeri dengan


 Nitrat sublingual /transdermal/ nitrogliserin intravena titrasi (kontraindikasi bila TD sistolik
<90mmHg), bradikardia (<50kali/menit), takikardia, atau
 Morfin 2,5mg (2-4mg) intravena, dapat diulang tiap 5menit sampai dosis total 20mg atau petidin
25-50 mg intravena atau tramadol 25-50mg intravena.

Antitrombotik
 Aspirin (160-345mg), bila alergi atau intoleransi/tidak responsif diganti dengan tiklopidin atau
klopidogrel

Trombolitik dengan sterptokinase 1,5 juta U dalam 1 jam atau aktivator plasminogen jarinan (t-PA)
bolus 15 mg, dilanjutkan dengan 0,75mg/kbBB (maksimal 50 mg) dalam jam pertama dan 0,5
mg/kgBB (maksimal 35 mg) dan dalam 60 menit jika elevasi segmen ST> 0,1 mv pada dua atau lebih
sadapan ekstermitas berdampingan atau > 0,2 mv pada dua atau lebih sadapan prekordial
berdampingan, waktu mulai nyeri dada sampai terapi < 12 jam, usia < 75 tahun. Blok cabang (BBB)
dan anamnesis dicurigai infark miokard abut.
Antikoagulan Heparin direkomendasikan untuk pasien yang menjalani revaskularisasi perkuatan atau
bedah, pasien dengan resiko tinggi, terjadi emboli sistemik seprti infark miokadr anterior atau luas,
fibriasi atrial, riwayat emboli, atau diketahui ada trombus ventrikel kiri yang tidak ada kontraindikasi
heparin. Heparin diberikan dengan target aPTT 1,5-2 kali kontrol. Pada angina pktoris tak stabil
heparin 5000 unit bolus intravena, dilanjutkan dengan drip 1000 unit/jam sampai angina
yerkontral dengan menyrsuaikan aPTT 1,5-2 kali nilai kontrol. Pada infark miokard abut yang ST
elevasi > 12 jam diberikan heparin bolus intravena 5000 unit dilanjutkan dengan infus selama rata-
rata
5 hari dengan menyesuaikan aPTT 1,5-2 kali nilai kontrol. Pada infark miokard anverior transmural
luas anti koagulan diberikan sampai pulang rawat. Pada penderita dengan trombus ventrikular atau
dengan diskinesi yang luas didaerah afeks ventrikel kiri antikoagulan oral diberikan secara tumpang
tindih dengan heparin sejak beberapa hari sebelum heparin dihentikan. Antikoagulan oral diberikan
sekurang-kurangnya 3 bulan dengan menyesuaikan nilai INR (2-3).

Anti rasa takut atau cemas


Diazepam 3 X 2-5 mg oral atau IV

Pelunak Tinja
Laktulosa (laksadin) 2 X 15 ml

 Penyekat Beta diberikan bila tidak ada kontraksi


 Penghambat ACE diberikan bila keadaan menizinkan terutama pada infark miokard abut yang
luas, atau anterior, gagal jantung tanpa hipotensi, riwayat infark miokard
 Antagonis kalsium : verapamil untuk infark miokard non ST elevasi atau angina pektoris tak
stabil bila nyeri tidak teratasi.
Atasi Komplikasi :
2. Fibrilasi atrium

 Kardioversi elektrik untuk pasien dengan gangguan hemodinamik berat iskemia intraktabel
 Digitalisasi cepat
 Penyekat Beta
 Diltiazem atau verepamir bila penyekat beta dikontraindikasikan
 Heparinisasi

10. Fibrilasi ventrikel


DC shock unsynchronized dengan energi awal 200 J, jika tak berhasil harus diberikan shock
kedua 200-300 J dan jika perlu shock ketiga 360 J.

13. Takikardia ventrikel

 VT polimorvik menetap (> 30 detik) atau menyebabkan hemodinamik : DC Shock


unsynchronized denga energi awal 200 J, jika gagal harus diberikan shcok kedua 200-300 J
dan jika perlu shock ketiga 360 J
 VT monomorfik yang menetap diikuti anina, edema paru tau hiptensi harus diterapi dengan
Dc shcok synchronized energi awal 100 j. energi dapat ditingkatkan jika dosis awal gagal.
 VT monomorvik yang tidak disertai anginan, edema paru atau hipotensi dapat diberikan ;
Lidokain bolus 1-15 mg/kg BB. Bolus tambahan 0,5-0,75mg/kg BB tiap 5-10 menit sampai
dosis loading total maksimal 3 mg/kgBB. Kemudian loading dilanjutkan dengan infus 2-4
mg/menit (30-50ug/kgBB/menit) ; atau Disopiramid : bolus 1-2 mg/kgBB dalam 5-10 menit
dilanjutkan dosis pemeliharaan 1mg/kgBB/jam; atau Amiodaron 150 mg infus selama 10-20
menit atau 5 ml/kgBB 20-60 menit dilanjutkan dengan infus tetap 1mg/menit selama 6 jam
dan kemudian infus pemeliharaan 0,5 mg/menit; atau kardioversi elektrik synchronized
dimulai dosis 50 J (anestesi sebelumnya)
1. Bradiaritmia dan blok

 Bradikardia sinus simtomatik (frekuensi jantung < 50 kali/menit disertai hipotensi,


iskemia aritmia ventrikel escape)
 Asistol ventrikel
 Blok AV simtomatikterjadi pada tingkat nodus AV (derajat dua tipe 1 atau derajat
tiga dengan ritme escape kompleks sempit)
 Terapi dengan sulfast atropin 0,5-2 mg. isoproterenol 0,5-4 ug/menit bila atropin
gagal, sementara menunggu pacu jantung sementara

8. Gagal jantung abut, edema paru, syok kardiogenik diterapi sesuai standar
pelayanan medis megenai kasus ini

10. Perikarditis

 Aspirin (160-325 mg/hari)


 Idometasin,
 Ibuprofen
 Kortikosteroid

17. Komplikasi mekanik

 Ruptur muskulus papilaris, ruptur septum ventrikel, ruptur dinding ventrikel


ditatalaksana operasi.
KOMPLIKASI
2. Angina pektoris tak stabil ; payah jantung, syok kardiogenik, aritmia, infark miokard
abut
3. Infark miokard abut (dengan atau tanpa ST elevasi) : gagal jantung, syok kardiogenik,
ruptur korda, ruptur septum, ruptur dinding bebas, aritmia gangguan hantaran, aritmia
gangguan pembentukan rangsangan, perikarditis, sindrom dresler, emboli paru.

PROGNOSIS
Tergantung daerah jantung yang terkena, beratnya gejala, ada tidaknya komplikasi

WEWENANG
 RS pendidikan ; Dokter Spesialis Penyakit Dalam dan PPDS Penyakit Dalam
 RS non pendidikan : Dokter Spesialis Penyakit Dalam

UNIT YANG MENANGANI


 RS pendidikan : Departemen Ilmu Penyakit Dalam-Divisi Kardiologi
 RS non pendidikan : Bagian Ilmu Penyakit Dalam

UNIT YANG TERKAIT


 RS pendidikan : ICCU / medical High Care
 RS non pendidikan : ICCU /ICU