Anda di halaman 1dari 18

Prasasti Butak (1294 M) Prasasti ini dikeluarkan oleh Raden Wijaya setelah naik takhta.

Bercerita tentang runtuhnya Singosari dan berdirinya Majapahit. Kidung Harsawijaya dan Kidung Panji Wijayakrama Kedua kidung ini menceritakan tentang Majapahit dimasa pemerintahan Raden Wijaya. Kitab Pararaton Kitab ini menceritakan tentang pemerintahahn Raja Raja Singosari dan Majapahit. Kitab Negarakertagama Kitab ini menceritakan tentang Raja Hayam Wuruk.

Kerajaan Majapahit merupakan puncak keemasan Kerajaan Hindu Budha di Indonesia dan juga negara nasional kedua. Kerajaan Majapahit berdiri pada tahun 1293 setelah Raden Wijaya berhasil melarikan diri dari penyerangan Jayakatwang atas Singosari dan memanfaatkan tentara Kubilai Khan untuk membalas dendam terhadap Jayakatwang. Sebelumnya, Majapahit merupakan kawasan hutan Tarik yang berada di sekitar delta sungai Brantas (Mojokerto). Atas bantuan Arya Wiraraja, bupati Sumenep, daerah Tarik kemudian diberikan kepada Raden Wijaya dan diubahnya menjadi kawasan maju dan diberi nama Majapahit.

Seperti yang dipaparkan dalam kitab Negarakertagama, daerah-daerah yang berada di bawah kekuasaan kerajaan Majapahit meliputi Sumatera, Semenanjung Melayu, Kalimantan, Jawa, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, dan Irian, bahkan beberapa daerah di Asia Tenggara. Hayam Wuruk menerapkan politik yang berwawasan cakrawala mandala seperti yang dilakukan oleh Kertanegara. Seperti kerajaan yang besar, wilayah kekuasaan Majapahit mempunyai sistem ketatanegaraan yang teratur. Raja Majapahit dan keraton dianggap sebagai pusat dunia yang memiliki kektuatan tertinggi.

Raden Wijaya (1293-1309 M) Raden Wijaya dinobatkan menjadi Raja Majapahit pada tahun 1293 dengan gelar Kertarajasa Jayawardana. Raden Wijaya mengawini empat orang puteri Raja Kertanegara, yaitu Tribhuwaneswari, Narendraduhita, Prajnaparamita, dan Gayatri. Tujuannya untuk memperkuat kedudukan dan agar seluruh warisan Kerajaan Singhasari berpindah kepadanya. Namun keturunan Gayatrilah yang melahirkan raja raja Majapahit. Selama pemerintahan Raden Wijaya, Majapahit aman dan tenteram. Orang - orang yang telah membantu Raden Wijaya mendirikan Kerajaan Majapahit juga diberi jabatan. Tahun 1309 Raden Wijaya meninggal dan dimakamkan di Candi Sumberjati, Blitar.

Jayanegara (1309-1328 M) Kalagemet atau Jayanegara naik takhta pada tahun 1309 dengan gelar Sri Jayanegara. Banyak pemberontakan dalam masa pemerintahannya, antara lain : 1. Pemberontakan Ranggalawe tahun 1309 2. Pemberontakan Sora tahun 1311 3. Pemberontakan Nambi tahun 1316 4. Pemberontakan Kuti tahun 1319 Diantara pemberontakan tersebut yang paling hebat adalah pemberontakan Kuti karena telah berhasil menduduki ibukota. Jayanegara terpaksa mengungsi ke Desa Badander dikawal Gajah Mada. Berkat Gajah Mada ibukota dapat direbut kembali dan jayanegara kembali berkuasa. Atas jasanya Gajah Mada diangkat menjadi Patih di Kahuripan. Tahun 1328 Jayanegara wafat dibunuh Tanca, tabib istana yang sedang mengobatinya

Tribhuwanatunggadewi (1328 1350 M) Pada masa pemerintahan Tribhuwanatunggadewi , tahun 1331 terjadilah pemberontakan Sadeng dan Keta. Gajah Mada diberi tugas membasmi pemberontakan tersebut. Berkat kecerdikan dan kegigihan Gajah mada, pemberontakan tersebut berhasil ditumpas. Lalu gajah Mada diangkat menjadi Patih Majapahit dan saat pengangkatannya ia mengucapkan Sumpah Amukti Palapa yang isinya tidak akan menikmati Palapa (kenikmatan dunia) sebelum seluruh Nusantara disatukan dibawah Majapahit. Pada tahun 1343 sumpah tersebut mulai tampak dengan dikuasainya Bali, sumatera, maluku, dsb. Tribhuwanatunggadewi menyerahkan takhtanya pada Hayam Wuruk, anaknya pada tahun 1350.

Hayam Wuruk (1350 1385 M) Hayam Wuruk naik takhta seumuran dengang kita, yaitu umur 16 tahun dengan gelar Sri Rajasanegara. Hayam Wuruk berarti ayam jantan muda Pada masa pemerintahan Hayam Wuruk Majapahit mencapai zaman keemasannya. Wilayah kekuasaanya melebihi wilayah NKRI sekarang. Semua ini berkat kerja keras Patih Gajah Mada. Untuk mempertahankan daerah kekuasaanya dibentuklah Angkatan laut yang kuat dibawah pimpinan Laksamana Nala. Selain itu Kerajaan Majapahit juga mencapai kemajuan diberbagai bidang seperti sosial, ekonomi, politik dan kebudayaan. Hayam Wuruk meninggal pada tahun 1389.

Bidang sastra dan keindahan bangunan candi amat diperhatikan oleh pemerintah Majapahit. Hal ini menyebabkan para pujangga rajin berkarya. Contohnya Kitab Negarakertagama dari Empu Prapanca, Kitab Sutasoma dan Arjunawiwaha dari Empu Tantular. Istilah Bhineka Tunggal Ika juga diambil dari Kitab Sutasoma. Selain itu, karya-karya yang dihasilkan banyak berisi puji-pujian terhadap raja. Candi candi yang dibangun pada saat berdirinya kerajaan Majapahit misalnya Candi Panataran, Bajangratu, Sawentar, Sumberjati, Tigawangi, Surawana, Jabung, Pari, Tikus, Kedaton, dan Sukuh.

Penduduk Majapahit sebagian besar memeluk agama Hindu dan Buddha. Adanya perbedaan agama di Majapahit ternyata amat dihargai. Hal ini dapat dibuktikan dengan aktifnya pihak kerajaan memperhatikan aspek kehidupan agama yang berbeda itu. Pemerintah telah mengatur kehidupan beragama dengan membentuk Dharmadhyaksa ring Kasaiwan yang mengurus Siwaisme (Hindu pemuja Siwa) dan Dharmadhyaksa ring Kasogatan untuk agama Buddha. Selain itu, Hayam Wuruk yang memeluk agama Hidu dapat bekerja sama dengan Gajah Mada yang beragama Buddha. Perbedaan agama ternyata tidak menghalangi kerjasama diantara para pembesar Majapahit maupun rakyatnya untuk membesarkan Kerajaan Majapahit.

Masyarakat Majapahit juga mengenal kasta seperti di India, namun tidak ketat sehingga kehidupannya aman tenteram. Sebagai Negara agraris, Majapahit melaksanakan pembangunan ekonomi dengan baik. System pertaniannya sangat maju dengan pengairan yang teratur dan pengolahan baik. Majapahit juga mempunyai bandar - bandar dagang yang besar seperti Bandar Tuban, Surabaya, Ujung Galuh, Canggu, dan Gresik. Di Bandar ini, dijual beras dan rempah - rempah yang sangat dibutuhkan konsumen. Untuk mengembangkan perdagangan Majapahit telah menciptakan alat tukar yang dikenal dengan uang gobog.

Walaupun

Majapahit telah melakukan kesalahan dengan memanfaatkan tentara Kubilai Khan, namun Majapahit tetap mampu mengembangkan hubungan dengah negara negara lain seperti Siam, Birma, Kampuchea, Anam, India dan Cina. Pada waktu itu berkembang mitreka satata yang artinya negara sahabat. Kepulauan Filipina saat itu juga merupakan daerah pengaruh Majapahit.

Tidak Ada pembentukan pemimpin baru (tidak ada kaderisasi) Gajah Mada tidak memberi kesempatan kepada generasi penerus untuk tampil, sehingga sepeninggalnya tidak ada penggantinya yang cakap dan berpengalaman. Perang Paregreg yang melemahkan kekuatan. Daerah daerah melepaskan diri karena pemerintahan pusat Kerajaan Majapahit lemah dan kacau. Kelemahan pemerintahan pusat Kerajaan Majapahit akibat perang saudara mengakibatkan kemunduran ekonomi. Perdagangan di Nusantara diambil alih pedagang islam dan melayu. Masuk dan menyebarnya agama Islam.

Terjadi Banjir Bandang selama 100 hari akibat meletusnya Gunung Kelud. Sirna Ilang Kertaning Bumi 0 0 4 1 1400 tahun Saka atau 1478 M