Anda di halaman 1dari 21

Pembimbing : Dr. H. Abidin, Sp.OT Disusun Oleh : Intan Syahnaz Layyina 110.2003.

137

DEFINISI

Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang dan atau tulang rawan baik komplet ataupun inkomplet.

TRAUMA
LANGSUNG TIDAK LANGSUNG

KELELAHAN / STRESS
PATOLOGIK

ETIOLOGI

Klasifikasi etiologis Klasifikasi klinis Klasifikasi radiologis

Traumatik Taruma berulang Patologik

Fraktur Simple : Fraktur tertutup Fraktur Terbuka Fraktur Komplikasi : kerusakan pembuluh darah, saraf & organ visera

Lokalisasi Konfigurasi Menurut ekstensi Menurut hubungan antara fragmen dengan fragmen lainnya

SIMPLE FRACTURE

COMMINUTE D FRACTURE

OPEN FRACTURE

Klasifikasi radiologis
Lokalisasi

a) b) c) d)

Difasial Metafisial Intra-artikuler Fraktur dengan dislokasi

Konfigurasi
Fraktur transversal Fraktur oblik Fraktur spiral Fraktur Z Fraktur segmental Fraktur kominutif, fraktur lebih dari dua fragmen Fraktur baji, biasanya pada vertebra karena trauma kompresi Fraktur avulsi, fragmen kecil tertarik oleh otot atau tendo, misalnya fraktur epikondilus humeri, fraktur trokanter mayor, fraktur patela Fraktur depresi, karena trauma langsung, misalnya pada tulang tengkorak Fraktur impaks Fraktur pecah (burst), dimana terjadi fragmen kecil yang berpisah, misalnya pada fraktur vertebra, patela, talus, kalkaneus Fraktur epifisis

Menurut Eksistensi

Fraktur total Fraktur tidak total (fraktur crack)

Fraktur buckie atau torus

Fraktur green stick


Fraktur garis rambut

Menurut hubungan antara fragmen dengan fragmen lainnya

Tidak bergeser (undisplaced)


Bergeser (displaced)
1. Bersampingan 2. Angulasi 3. Rotasi 4. Distraksi 5. Over-riding 6. Impaksi

Anamnesis o Biasanya penderita datang dengan suatu trauma (traumatik, fraktur), baik yang hebat maupun trauma ringan dan diikuti dengan ketidakmampuan untuk menggunakan anggota gerak. oAnamnesis harus dilakukan dengan cermat, karena fraktur tidak selamanya terjadi di daerah trauma dan mungkin fraktur terjadi pada daerah lain. oPenderita biasanya datang karena adanya nyeri, pembengkakan, gangguan fungsi anggota gerak, krepitasi atau datang dengan gejala-gejala lain.

Look : - Adanya deformitas /tidak - Adanya luka pada sekitar tempat trauma - Adanya bengkak dan bekuan darah dibawah kulit (hematom)
Feel : - Krepitasi - nyeri tekan - suhu permukaan kulit hangat/ dingin - Refilling (pengisian) arteri pada kuku, warna kulit pada bagian distal daerah trauma , temperatur kulit

Pemeriksaa n fisik

Move : Pergerakan dengan mengajak penderita untuk menggerakkan secara aktif dan pasif sendi proksimal dan distal dari daerah yang mengalami trauma.

Pemeriksaan neurologis Pemeriksaan neurologis berupa pemeriksaan saraf secara sensoris dan motoris serta gradasi kelelahan neurologis, yaitu neuropraksia, aksonotmesis atau neurotmesis.

Pemeriksaan radiologis Pemeriksaan radiologis diperlukan keadaan, lokasi serta ekstensi fraktu untuk menentukan

Penatalaksanaan awal : Pertolongan pertama , penilaian klinis dan resusitasi Terapi definitif : 1. Dibiarkan saja 2. Imobilisasi dengan splint externa (tanpa reduksi) 3. Reduksi tertutup diikuti dengan imobilisasi 4. Reduksi tertutup dengan traksi terus menerus dan imobilisasi 5. Reduksi tertutup diikuti dengan functional fracturebracing

6. 7. 8. 9.

Reduksi tertutup dengan manipulasi yang diikuti fiksasi kerangka eksternal Reduksi tertutup dengan manipulasi yang diikuti fiksasi kerangka internal Reduksi terbuka diikuti fiksasi kerangka internal Eksisi pecahan fraktur dengan endoprostesis

Proses Penyembuhan Tulang


Fase inflamasi

Berakhir 1 - 2 minggu yang pada awalnya terjadi reaksi inflamasi.


Peningkatan aliran darah menimbulkan hematom fraktur yang segera diikuti invasi dari sel-sel peradangan yaitu netrofil, makrofag dan sel fagosit. Sel-sel tersebut termasuk osteoklas berfungsi untuk membersihkan jaringan nekrotik untuk menyiapkan fase reparatif. Secara radiologis, garis fraktur akan lebih terlihat karena material nekrotik disingkirkan.

Fase reparatif Umumnya berlangsung beberapa bulan. Fase ini ditandai dengan differensiasi dari sel mesenkim pluripotensial. Hematom fraktur lalu diisi oleh kondroblas dan fibroblas yang akan menjadi tempat matrik kalus.

Mula-mula terbentuk kalus lunak, yang terdiri dari jaringan fibrosa dan kartilago dengan sejumlah kecil jaringan tulang. Osteoblas kemudian yang mengakibatkan mineralisasi kalus lunak membah menjadi kalus keras dan meningkatkan stabilitas fraktur. Secara radiologis garis fraktur mulai tak tampak.

Fase remodelling Membutuhkan waktu bulanan hingga tahunan untuk merampungkan penyembuhan tulang meliputi aktifitas osteoblas dan osteoklas yang menghasilkan perubahan jaringan immatur menjadi matur, terbentuknya tulang lamelar sehingga menambah stabilitas daerah fraktur

KOMPLIKASI

Komplikasi umum
Syok karena perdarahan ataupun oleh karena nyeri

Komplikasi Lanjut
Delayed Union :fraktur sembuh dalam jangka waktu yang lebih dari normal Mal union : fraktur sembuh dengan deformitas (angulasi, perpendekan atau rotasi Non Union : bila tidak menyambung dalam 20 minggu

Terima kasih