Anda di halaman 1dari 23

PENATALAKSANAAN LUKA BAKAR

FASE Fase resusitasi yang darurat/segera

DURASI Dari awitan cedera hingga selesainya resusitasi cairan

PRIORITAS 1. Pertolongan pertama 2. Pencegahan syok 3. Pencegahan gangguan pernapasan 4. Deteksi dan penanganan cedera yang menyertai 5. Penilaian luka dan perawatan pendahuluan

Fase akut

Dari dimulainya diuresis hingga hamper selesainya proses penutupan luka

1. Perawatan dan penutupan luka 2. Pencegahan/penanganan komplikasi termasuk infeksi 3. Dukungan nutrisi

Fase rehabilitasi

Dari penutupan luka yang besar hingga kembalinya kepada tingkat penyesuaian fisik dan psikososial yang optimal

1. Pencegahan parut&kontraktur 2. Rehabilitasi fisik, oksupasional&vokasional 3. Rekonstruksi fungsional&kosmetik 4. Konseling psikologi

1. Fase darurat/Resusitasi Perawatan Luka Bakar


Pertolongan pertama Perawatan di Tempat Kejadian 1. Mematikan api 2. Mendinginkan luka bakar 3. Melepaskan benda penghalang 4. Menutup luka bakar 5. Mengirigasi Luka bakar kimia b. Pencegahan syok
a.

Fase Akumulasi Cairan (Fase Syok) Plasma menuju cairan interstisial (Edema pada tempat yang terbakar) Observasi Dehidrasi yang menyeluruh Berkurangnya volume darah Penjelasan Plasma mengalir keluar (bocor) lewat pembuluh darah kapiler yang rusak Terjadi sekunder akibat hilangnya plasma, penurunan tekanan darah dan berkurangnya curah jantung Berkurangnya haluran urin Terjadi sekunder akibat: a. penurunan aliran darah renal b. kehilangan cairan c. Retensi Na & air karena peningkatan kortek adrenal (hemolisis sel darah merah yang menyebabkan hemoglobinuria & mionekrosis /mioglobinuria)

Kadar K+ yang berlebihan

Trauma seluler yang massif menyebabkan pelepasan ion K+ ke dalam cairan ekstraseluler

Kadar Na+ yang kurang/deficit

Sejumlah besar ion Na+ hilang dalam cairan edema yang terperangkap dan mengalami eksudasi serta berpindah ke dalam sel ketika ion K+ dilepas dari dalam sel

Asidosis metabolic (deficit basa Kehilangan ion-ion bikarbonat menyertai kehilangan natrium bikarbonat) Komponen darah yang cair mengalir ke dalam ruang ekstravaskuler Hemokonsentrasi (Kenaikan hematokrit)

PENGGANTIAN CAIRAN
Beberapa kombinasi kategori cairan dapat digunakan, diantaranya: Koloid: whole blood, plasma, serta expander Kristaloid/elektrolit: larutan NaCl fisiologik atau Ringer Laktat

Pedoman dan Rumus untuk Penggantian Cairan pada Pasien Luka Bakar

Rumus Konsensus
Larutan Ringer Laktat (atau larutan saline seimbang lainnya): 2-4 ml X kg BB X % luas luka bakar. Separuh diberikan dalam 8 jam pertama, sisanya diberikan dalam 16 jam

Rumus Parkland/Baxter
Larutan ringer laktat: 4ml X kg BB X luas luka baker Hari 1: Separuh diberikan dalam 8 jam pertama, separuh sisanya dalam 16 jam selanjutnya. Hari 2: Bervariasi.

selanjutnya

Ditambahkan koloid

Rumus Evans Koloid: 1ml X kg BB X % luas luka bakar Elektrolit (saline): 1ml X kg BB X % luas luka bakar

Rumus Brooke Army Koloid: 0,5ml X kg BB X % luas luka bakar Elektrolit (larutan ringer laktat): 1,5ml X kg BB X % luas luka baker Glukosa (5% dalam air): 2000ml untuk kehilangan insensible

Glukosa (5% dalam air): 2000ml untuk kehilangan insensible

Hari 1: Separuh diberikan dalam 8 jam pertama,


separuh sisanya dalam 16 jam selanjutnya. Hari 2: Separuh dari cairan elektrolit dan koloid yang diberikan pada hari sebelumnya, seluruh

Hari 1: Separuh diberikan dalam 8 jam pertama,


separuh sisanya dalam 16 jam selanjutnya. Hari 2: Separuh dari cairan koloid, separuh elektrolit, seluruh penggantian cairan insensible.

penggantian cairan insensible.

Luka bakar derajat II dan III yang melebihi 50% luas

Maksimum 10.000 selama 24 jam. Luka bakar derajat II permukaan tubuh dihitung berdasarkan 50% luas dan III yang melebihi 50% luas permukaan tubuh dihitung berdasarkan 50% luas permukaan tubuh. Larutan Salin Hipertonik Larutan pekat natrium klorida dan laktat dengan konsentrasi 250-300 mEq natrium perLiter yang diberikan pada kecepatan yang cukup untuk mempertahankan volume keluaran urin yang diinginkan. Jangan meningkatkan kecepatan infuse selama 8 jam pertama pasca luka baker. Kadar natrium serum harus dipantau dengan ketat. Tujuan: meningkatkan kadar natrium serum dan osmolalitas untuk mengurangi edema dan mencegah komplikasi permukaan tubuh.

c. Pencegahan gangguan pernapasan diarahkan untuk mengawasi tanda-tanda bahaya dari ABC: 1. Airway 2. Breathing 3. Circulation

d. Deteksi dan penanganan cedera yang menyertai Pemberian anti tetanus diperlukan pada luka-luka sebagai berikut : Disertai patah tulang Luka yang menembus ke dalam Luka dengan kontaminasi benda asing (terutama serpihan kayu) Luka dengan komplikasi infeksi Luka dengan kerusakan jaringan yang besar (contoh luka bakar) Luka dengan kontaminasi tanah, debu atau produk cairan atau kotoran kuda Implantasi ulang dari gigi yang tanggal

e. Penilaian luka dan perawatan pendahuluan Penatalaksanaan Medis Darurat Pemindahan ke Unit Luka Bakar Penentuan pengobatan didasarkan pada Beratnya Luka Bakar, yaitu: Ringan tanpa komplikasi: berobat jalan Sedang: sebaiknya rawat inap untuk observasi Berat : rujuk ke RSUD dengan infus terpasang

Penatalaksanaan menurut derajat Luka Bakar:

Derajat 1: cuci dengan larutan antiseptik dan beri analgesik. Bila mengenai daerah muka, genital rawat inap Derajat 2: inj. ATS 1500 IU im atau inj. Tetanus Toksoid (TT) 1 ml im Derajat 2 tidak luas tetapi terbuka : dicuci dengan larutan antiseptik, ditutup kasa steril, beri zalf levertran. Bila tidak ada tanda infeksi, kasa diganti tiap 2 minggu Derajat 3: rujuk ke RSUD dengan infus terpasang

2. Fase Akut atau Intermediat Perawatan Luka Bakar


berlangsung sesudah fase darurat dan dimulai 48

hingga 72 jam setelah terjadinya luka bakar.

Perawatan dan penutupan luka Perawatan umum 1. Pembersihan luka hidroterapi 2. Debridemen 3. Terapi antibiotic topical 4. Pembalutan b. Pencegahan/penanganan komplikasi termasuk infeksi teknik aseptik + antibiotik c. Penatalaksanaan Nyeri perawatan luka dengan cepat dan terampil, analgetik, bius
a.

d. Dukungan nutrisi: Karbohidrat Protein Lipid Vitamin dan mineral Pemberian nutrisi parenteral total (NPT) dengan indikasi: penurunan berat badan melebihi 10% dari berat badan normal asupan nutrisi enteral yang tidak adekuat karena status klinis pasien keterpajanan luka yang lama keadaaan malnutrisi yang sudah tidak baik pada saat sebelum pasien mengalami luka bakar

3. Fase Rehabilitasi
Pencegahan parut & kontraktur pakaian tekan elastic (elastic pressure garment) b. Rekonstruksi fungsional&kosmetik Pembedahan rekontruksi c. Konseling psikologi perawat, psikolog, dan juga faktor pendukung (keluarga, teman, orang terdekat)
a.

Penatalaksanaan pada Nn. A

1.

Tanda-tanda perubahan cairan dan elektrolit yang perlu dikaji pada Nn. A (lihat tabel)

Perubahan Adanya penurunan tekanan darah dan berkurangnya curah jantung

Nilai Normal tekanan darah = 100/60 140/90 mmHg (rata-rata 120/80 mmHg) curah jantung = 5L/menit

Pada Nn. A Perlu dikaji

Berkurangnya haluaran urin

Urin = 1cc/kgBB/jam

Urine output hanya 20cc/

Pada Nn. A dengan


BB 56 kg seharusnya urin output = 56cc/jam

jam

Kadar K+ yang berlebihan

Kadar K+ urin = 40-80 mEq/hari Kadar K+ serum = 3,55,5 mEq/L Kadar Na+ urin = 40180 mEq/hari Kadar Na+ serum = 135145 mEq/hari Kadar HCo3 sampel arteri = 22-26 mEq/L Kadar HCO3 sampel vena = 23-27 mEq/L

Perlu dikaji

Kadar Na+ yang kurang/deficit

Perlu dikaji

Defisit basa bikarbonat (H2Co3)

Perlu dikaji

Kenaikan hematokrit

Hematokrit wanita=

Perlu dikaji

39-47%

2. Penggantian cairan pada Nn. A Berat Badan Nn. A = 56 dengan luas luka bakar 36% Larutan Ringer Laktat (atau larutan saline seimbang lainnya): 2-4 ml X kg BB X % luas luka bakar 2 x 56 x 36 = 4032 ml 4 x 56 x 36 = 8064 ml antara 4032 ml 8064 ml Separuh diberikan dalam 8 jam pertama, sisanya diberikan dalam 16 jam selanjutnya Rencana pemberian infuse: pada 8 jam pertama: 2016 4032 ml atau 252 504 ml/jam pada 16 jam berikutnya: 2016 4032 ml atau 126 252 ml/jam

3. Berikan cairan secara intravena melalui infuse, karena luas luka bakar Nn. A > 10% (yaitu 36%) 4. Kaji tanda-tanda bahaya dari ABC (Airway, Breathing, Circulation) 5. Kaji adanya stridor (mengorok), suara serak, dahak berwarna jelaga (black sputum), gagal napas, bulu hidung yang terbakar, bengkak pada wajah 6. Nn. A harus dirawat inap dan dirujuk ke unit luka bakar 7. dapat dilakukan dengan hidroterapi menggunakan wheerpool (bak mandi rendam). 8. Berikan antibiotic topical 9. Debridemen mekanis dapat dilakukan setiap hari pada saat penggantian balutan serta pembersihan luka

10. Gunakan pakaian tekan elastic (elastic pressure garment) 11. Dapat dilakukan graft (pencangkokan) kulit dari pasien sendiri jika diinginkan 12. Lindungi daerah luka bakar dari kontaminasi 13. Pembiusan pada tindakan eksisi bedah secara dini dengan pencangkokan kulit, untuk mengurangi rasa nyeri 14. Kaji adanya mual pasang selang nasogatrik dan dihubungkan dengan alat pengisap untuk mencegah ileus paralitik (bekurangnya peristaltis) 15. Pasang kateter infuse berdiameter besar (ukuran 16 atau 18) pada daerah yang tidak terbakar

16. Kaji nilai gas darah arteri, elektrolit, golongan darah serta hasil pencocokan silang (cross matching), urinalisis, dan foto rontgen toraks 17. Kaji status imun Nn. A, jika tidak jelas lakukan tindakan profilaksis 19. tutup dengan kasa steril (perawatan tertutup) 20 Kaji berat badan sebelum dan setelah mengalami luka bakar, jika terdapat penurunan > 10%, pasang nutrisi parenteral total (NPT) 21. Konseling

Referensi Smeltzer, Suzanne C., dan Brenda G. Bare. (2002). Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth. Vol. 3. Ed. 8. Jakarta: EGC