Anda di halaman 1dari 90

TRAUMA TULANG BELAKANG

Click to edit Master subtitle style ISURA FEBRIHARTATI

0618011020

Preseptor 4/20/12 dr. R.A. Neilan Amroisa,

I. IDENTITAS PASIEN
NAMA UMUR ALAMAT AGAMA PEKERJAAN STATUS

: Efran Budi Prasetyo : 23 tahun : Tegal Sari Pringsewu : Islam : Petani : Belum menikah : Jawa : 29 April 2011 4/20/12

SUKU BANGSA TANGGAL MASUK

II. RIWAYAT PENYAKIT ANAMNESIS ( auto dan alloanamnesa )


Keluhan utama : kedua tungkai tidak dapat

digerakkan

sejak 7 hari yang lalu ujung

Keluhan tambahan : anggota badan

dibawah pusar hingga kaki mati rasa, nyeri pinggang, tidak bisa BAK dan BAB

4/20/12

Riwayat Perjalanan Penyakit Pasien datang dengan keluhan kedua

tungkai yang tiba-tiba tidak bisa digerakkan sejak 7 hari yang lalu. Keluhan tersebut disertai anggota badan dibawah pusar hingga ujung kaki mati rasa, nyeri pinggang, tidak bisa BAK dan BAB.

4/20/12

7 hari SMRS pasien jatuh dari pohon kelapa

ketinggian 8 meter dengan posisi terduduk, lalu pingsan 0,5 jam. Saat terbangun, pasien tiba-tiba merasakan tidak dapat menggerakkan kedua tungkainya secara keseluruhan (tidak menjalar dari ujung kaki ke atas maupun sebaliknya) dan bersamaan (kanan dan kiri). Keluhan tersebut disertai nyeri pinggang yang dirasakan terus menerus. Setengah jam kemudian pasien mulai merasakan baal dan kesemutan dari mulai daerah dibawah pusar hingga kedua ujung 4/20/12 kakinya.

6 hari SMRS Pasien mengeluhkan tidak bisa BAK dan BAB. Pasien lalu berobat ke mantri, diberikan vitamin dan dipasang kateter sehingga pasien dapat BAK. Pasien masih belum dapat BAB, kedua tungkai tidak dapat digerakkan, baal dan kesemutan pada tungkai. 5 hari SMRS hingga 1 hari SMRS, pasien mengeluhkan nyeri pinggang yang dialami pasien semakin hebat hingga membuat pasien berobat ke RSAM.
4/20/12

Pasien menyangkal riwayat mual, muntah,

penurunan kesadaran, maupun kencing berwarna merah ketika dan sesudah kejadian.

Pasien menyangkal riwayat kelemahan

otot, baal, kesemutan. Pasien juga menyangkal keluhan demam, batuk lama yang lebih dari 2 bulan, keringat malam, penurunan berat badan. Selain itu, pasien juga menyangkal adanya benjolan pada tubuhnya sebelumnya.
Pasien menyangkal adanya nyeri pada 4/20/12

pinggang lama dan berulang sebelumnya.

Pasien juga menyangkal adanya nyeri

pinggang yang menjalar ke tungkai bawah, yang semakin berat bila mengejan, batuk, dan mengangkat berat, dan berkurang bila pasien berbaring sebelumnya. bungkus/hari.

Pasien mempunyai kebiasaan merokok 1

4/20/12

Riwayat Penyakit Dahulu


Pasien menyangkal riwayat kencing manis

dan hipertensi.

Riwayat Penyakit Keluarga


Tidak ada anggota keluarga lain yang

mengalami penyakit serupa, riwayat kencing manis dan hipertensi.

4/20/12

Riwayat Sosial Ekonomi

Pasien merupakan anak pertama dari 2 orang bersaudara. Ayah adalah petani dengan penghasilan Rp. 300.000,-/bulan. Ibu adalah ibu rumah tangga. Pasien adalah seorang petani dengan penghasilan Rp. 800.000,-/bulan. Adik pasien masih dalam tanggungan orangtua.

4/20/12

III. PEMERIKSAAN FISIK


Status Present

Keadaan umum Kesadaran GCS Vital sign

: tampak sakit sedang : composmentis

: E4 V5 M6 = 15 : 110/60 mmHg

Tekanan darah Nadi RR

: 72 x/menit : 25 x/menit
4/20/12

Status Generalis
Kepala Rambut : Hitam, tidak mudah dicabut. Mata : Konjungtiva ananemis, sklera

anikterik.
Telinga : Liang lapang, serumen (-). Hidung : Liang lapang, sekret (-), septum

deviasi (-).

Mulut

: Bibir tidak kering dan tidak sianosis, lidah tidak kotor


4/20/12

Leher
Pembesaran KGB

: tidak ada pembesaran

Pembesaran tiroid : tidak ada pembesaran JVP Trakea

: tidak terlihat : di tengah

4/20/12

Thorak
Cor

Inspeksi : Iktus kordis tidak terlihat Palpasi : Iktus kordis tak teraba Perkusi :

Batas kanan : Sela iga V garis midclavicula dextra Batas kiri : Sela iga V garis midclavicula sinistra Batas atas : Sela iga II 4/20/12 garis

Pulmo
Inspeksi: Pergerakan hemi thorak simetris,

retraksi sela iga (-) kiri

Palpasi : Fremitus taktil dan vokal kanan = Perkusi : Sonor pada seluruh lapang paru Auskultasi : Vesikuler ( +/+ ), wheezing ( -/-

), ronkhi (-/-)

4/20/12

Abdomen
Inspeksi Palpasi

: Perut datar dan simetris : Soffle, Hepar dan lien tidak : Timpani : Bising usus (+) normal :

teraba.

Perkusi Auskultasi

Ekstremitas

Superior : oedem (-/-), sianosis (-/-), deformitas (-), Inferior : oedem (-/-), sianosis (-/-), deformitas (-), turgor kulit baik
4/20/12

IV. PEMERIKSAAN NEUROLOGIS


Saraf cranialis Kanan / Kiri

N. olfaktorius ( N. I ) Daya penciuman hidung

Normosmia/normosmia

4/20/12

N. opticus ( N. II )
Tajam penglihatan

: VODS > 3/60 on bedsite : sama dengan

Lapang penglihatan

pemeriksa
Tes warna Fundus oculi

: tidak buta warna : tidak dilakukan

4/20/12

N. occulomotorius, N. trochlearis, N. abducen ( N.III-N.IV-N.VI )


Kelopak mata :
Ptosis Endophtalmus Exopthalmus

:(-/-) :(-/-) :(-/-)

4/20/12

Pupil :
Diameter Bentuk Isokor / anisokor Posisi

: 3 mm / 3 mm : bulat / bulat : isokor : sentral / sentral :(+/+) :(+/+)

Reflek cahaya langsung

Reflek cahaya tidak langsung

4/20/12

Gerakan bola mata :


Medial Lateral Superior Inferior

:(+/+) :(+/+) :(+/+) :(+/+) :(+/+) :(+/+) :(+/+) :(+/+)


4/20/12

Obliqus, superior Obliqus, inferior

Reflek pupil akomodasi Reflek pupil konvergensi

N. trigeminus ( N. V )
Sensibilitas
Ramus oftalmikus Ramus maksilaris Ramus mandibularis

: baik : baik : baik

Motorik
M. maseter M. temporalis M. pterigoideus

: Simetris : Simetris : Simetris


4/20/12

Reflek

N. fascialis ( N. VII )
Inspeksi wajah sewaktu :
Diam Tertawa Meringis Bersiul Menutup mata

: simetris : simetris : simetris : simetris : menutup rapat,

simetris

Pasien disuruh untuk :


Mengerutkan dahi

: simetris
4/20/12

Menutup mata kuat-kuat: simetris

N. acusticus ( N. VIII )
N. cochlearis
Ketajaman pendengaran Tinitus

:(+/+)

:(/)

N. vestibularis
Test vertigo Nistagmus

:() :(/)

4/20/12

Suara bindeng / nasal : ( - ) Posisi uvula Palatum mole

N. glossopharingeus dan N. vagus ( N. IX dan N. X )


: ditengah : Istirahat : ditengah Bersuara : terangkat : Istirahat :

Arcus palatoglossus

ditengah

terangkat
Arcus pharingeus

Bersuara : : Istirahat : ditengah


4/20/12

Reflek batuk Reflek muntah Peristaltik usus Bradikardi Takikardi

:(+) :(+) : menurun :(+) :(+)

4/20/12

N. accesorius ( N. XI )
M. sternocleidomastoideus M. trapezius

: simetris

: simetris

4/20/12

N. hipoglossus ( N. XII )
Atropi Fasikulasi Deviasi

:() :() :()

4/20/12

Tanda perangsangan selaput otak


Kaku kuduk

:() :(/) :(/) :() :()

Kernig test Lasseque test Brudzinsky I Brudzinky II

4/20/12

Sistem motorik Superior ka / ki Inferior ka / ki - Gerak aktif / aktif


hipoaktif / hipoaktif
- Kekuatan otot - Tonus - Klonus - Atrophi

5/5

0/0

normotonus / normotonus / /

4/20/12

- Reflek fisiologis

Pattela

Bicep ( + / ) (/)

Achiles

Tricep ( + / ) (/)

4/20/12

Reflek patologi

Hoffman trommer ( / ) Babinsky ( / )

Chaddock ( / ) Oppenheim ( / ) Schaefer Gordon Gonda (/) (/) (/)

4/20/12

Sensibilitas
Eksteroseptif / rasa permukaan

( superior / Inferior ) vertebrae thorakal XII

Rasa raba : setinggi medulla spinalis Rasa nyeri : setinggi medulla spinalis

vertebrae thorakal XII


Rasa suhu panas

: setinggi medulla spinalis vertebrae thorakal XII


Rasa suhu dingin

: setinggi medulla spinalis vertebrae

4/20/12

Propioseptif / rasa dalam


Rasa sikap Rasa getar

:(+/+ /) : tidak terasa setinggi SIAS. :(+/+ /)

Rasa nyeri dalam

Fungsi kortikal untuk sensibilitas


Asteriognosis Agnosa taktil

:(+/+) :(+/+)

Two point discrimination : baik 4/20/12 daerah pada

yang sensitif

Koordinasi
Tes tunjuk hidung Tes pronasi supinasi

:(+) :(+)

4/20/12

Susunan saraf otonom


Miksi Defekasi Salivasi

: ( + ) dengan kateter :(+) : (+)

4/20/12

Fungsi luhur
Fungsi bahasa Fungsi orientasi Fungsi memori Fungsi emosi

: baik : baik : baik : baik

4/20/12

DIAGNOSIS
Klinis

paraplegi inferior + retensio urin + retensio alvi + parestesi setinggi medula spinalis vertebrae segmen thorakal XII
Topis

medula spinalis vertebrae segmen thorakal XII


Etiologi

Fraktur kompresi vertebrae segmen thorakal XII ec. trauma 4/20/12

DIAGNOSIS BANDING
SOL primer / metastase Spondilosis TB

4/20/12

PENATALAKSANAAN
Umum
Tirah baring, imobilisasi Dietetik : per oral, makan biasa

Medikamentosa
IVFD Ringer Laktat gtt XX / menit Dexamethason amp. 0,5 cc 3 dd1 Ranitidin amp 2 dd
4/20/12

Non-Medikamentosa
Laminektomi, dekompresi vertebrae

segmen thorakal XII Rehabilitasi


Psikologi

Fisioterapi post op.

4/20/12

PEMERIKSAAN PENUNJANG :
Laboratorium
Darah Lengkap : Hb. Ht, Diff count, LED,

Trombosit, CT, BT
Biokimia : Fungsi ginjal (ureum,

creatinin, asam urat), lipid profil (kolesterol total, HDL, LDL trigliserida), GDS

4/20/12

Radiologi : Rontgen thorak

4/20/12

RONGTEN VERTEBRAE THORACAL

4/20/12

PROGNOSA
Quo ad Vitam

: dubia ad bonam : dubia ad malam : dubia ad malam

Quo ad Fungtionam Quo ad Sanationam

4/20/12

4/20/12

4/20/12

TINJAUAN PUSTAKA
4/20/12

4/20/12

4/20/12

4/20/12

4/20/12

Pemeriksaan
Inspeksi Palpasi Perkusi

4/20/12

Sistem motorik
Nilai Kontraksi 0 1 2 Tidak ada Ada, tanpa gerakan yang nyata Dapat menggeser / 0 10 % Persentase

menggerakkan11 25 %

lengan tanpa beban dan tahanan 3 Dapat mengangkat lengan melawan26 50 % gaya berat dan tanpa tahanan 4 5 Dapat mengangkat lengan dengan51 75 % 100

tahanan ringan Dapat mengangkat lengan melawan76. gaya berat dengan beban tahanan berat

% 4/20/12

Sistem sensorik
Untuk menentukan level dari paraplegia terutama digunakan sistem sensoris, bukan motoris.

4/20/12

a.Reflek Superficial 1.ReflekKulit Dinding Perut


Kulit dinding perut digores dengan ujung

gagang palu refleks atau ujung kunci. Refleks kulit dinding perut menghilang pada lesi piramidalis. 2.ReflekKremaster dan Reflek Skrotal
Penggoresan dengan pensil, ujung gagang

palu refleks atau ujung kunci terhadap kulit 4/20/12 bagian medial

3.ReflekGluteal
Refleks ini terdiri dari gerakan reflektorik

otot gluteus ipilateral bilamana digores atau ditusuk dengan jarum atau ujung gagang palu refleks. Refleks gluteal menghilang jika terdapat lesi di segmen L IV S I. 4.ReflekAnal Eksterna
Refleks ini dibangkitkan dengan jalan

penggoresan atau ketukan terhadap kulit 4/20/12 atau mukosa daerah perianal.

Refleks Patologis
1.RefleksChaddock Penggoresan terhadap kulit dorsum pedis pada

bagian lateralnya atau penggoresan terhadap kulit di sekitar maleolus eksterna.

4/20/12

2.RefleksOppenheim
Pengurutan dari proksimal ke distal secara

keras dengan jari telunjuk dan ibu jari tangan terhadap kulit yang menutupi os. telunjuk dan ibu jari tangan terhadap kulit yang menutupi os. tibia atau pengurutan itu dilakukan dengan menggunakan sensi interfalangeal jari telunjuk dan jari tengah dari tangan yang mengepal

4/20/12

3.RefleksGordon
Cara membangkitkanEkstensor Plantar

Responseialah dengan menekan betis secara keras.

4/20/12

4.RefleksScaeffer
Cara membangkitkan respon tersebut

adalah dengan menekan tendon Achilles secara keras.

4/20/12

5.RefleksGonda
Respon patologik tersebut diatas timbul

pada penekukan (plantar fleksi) maksimal dari jari kaki keempat.

4/20/12

6.RefleksBing
Dibangkitkan dengan memberikan

rangsangan tusuk pada kulit yang menutupi metatarsal kelima.

4/20/12

Perkusi
Refleks otot dinding perut (bagian atas T8-9, tengah T9-10, bawah T1112)
Sikap :

Pasien berbaring terlentang dengan kedua tangan lurus di samping badan.


Stimulasi :

Ketukan pada jari yang ditempatkan pada bagian atas, tengah dan bawah dinding perut.
Respons :

Otot perut yang mengganjal.

4/20/12

2. Refleks tendon lutut (L 2-3-4, N.

Femoralis)

Sikap :
Pasien duduk dengan kedua kakinya

digantung

Pasien duduk dengan kedua kakinya

ditapakkan di lantai
Pasien berbaring terlentang dengan

tungkainya difleksikan di sendi lutut


4/20/12

Stimulasi :
Ketukan pada tendon Patella

3. Refleks Biseps Femoralis (L4-5,S1-2,

N.Ischiadicus)

Sikap :
Pasien berbaring terlentang dengan

tungkai ditekuk ke lutut.

Stimulus : Ketukan pada jari di pemeriksa yang

ditemoatkan pada tendon M. Biseps femoralis Respons :


Kontraksi M.biceps femoralis
4/20/12

4. Refleks Tendon Achilles (L5,S1-2,

N.Tibialis)

Sikap :
Tungkai ditekuk di sendi dan kaki

didorsofleksikan

Pasien Berlutut dengan kedua kaki bebas

Stimulus :
Ketukan pada tendon Achilles

Respons :
Plantarfleksi kaki
4/20/12

SENSIBILITAS
Dermaton adalah daerah pada kulit yang dipersarafi oleh akson sensoris dari radiks saraf segmental. Pengertian terhadap beberapa level dermatom utama tidak terlalu bermakna untuk menentukan level cedera dan menentukan perbaikan atau penurunan neurologis.

4/20/12

DERMATOM
Titik titik sensoris :
C5 Area pada deltoid C6 Ibu jari C7 Jari tangan tengah C8 Kelingking T4 papillae mammae T8 Ksifisternum T10 Umbilikus T12 - Simfisis
4/20/12

MIOTOM
Setiap saraf segmental (radiks)

mempersarafi lebih dari satu otot dan kebanyakan otot dipersarafi oleh lebih dari satu saraf (biasanya dua)

4/20/12

C5 Area pada deltoid C6 ekstensor pergelangan (biceps,

ekstensor carpi radialis longus dan brevis)


C7 ekstensor siku (triceps) C8 fleksor jari-jari sampai dengan jari

tengah (fleksor digitorum profundus)


T1 Abduktor jari kelingking )abductor

digiti minimal)

L2- fleksor panggul (illiopsoas) L3, 4 ekstensor lutut (otot quadriceps,

patella reflex)

L4,5 sampai S1 fleksor lutut hamstrings


4/20/12

L5 Dorsofleksi pergelangan kaki dan

4/20/12

Kehilangan fungsi sensorik dan motorik

yang terjadi, dapat diklasifikasikan berdasarkan menurut American Spinal Injury Association, yaitu :

4/20/12

4/20/12

Cedera tulang belakang


Cedera Stabil jika bagian yang terkena tekanan hanya bagian medulla spinalis anterior, komponen vertebral tidak bergeser dengan pergerakan normal, ligamen posterior tidak rusak sehingga medulla spinalis tidak terganggu, fraktur kompresi dan burst fraktur adalah contoh cedera stabil

4/20/12

Cedera tidak stabil


Cedera tidak stabil artinya cedera yang dapat bergeser dengan gerakan normal karena ligamen posteriornya rusak atau robek, Fraktur medulla spinalis disebut tidak stabil jika kehilangan integritas dari ligamen posterior.

4/20/12

Mekanisme cedera

Tipe pergeseran yang penting:


(1) Hiperekstensi (2) Fleksi (3) tekanan aksial (4) fleksi dan tekanan digabungkan dengan

distraksi posterior dan

(5) fleksi yang digabungkan dengan rotasi (6) translasi horizontal.


4/20/12

Cedera cervical
Segmen cervical adalah segmen yang

paling mudah digerakkan dan mudah cedera. Cedera cervical dengan mengenai bagian atas medulla spinalis akan berakibat fatal dan penyebab kematian pada pasien kecelakaan saat pasien diperjalanan menuju rumah sakit. Nyeri dan kekakuan leher atau keluhan paraestesia atau kelemahan pada tungkai atas, harus diperhatikan

4/20/12

1. Fraktur Atlas C 1 2. Pergeseran C 1 C2 ( Sendi

Atlantoaxial)

3. Fraktur Kompresi Corpus Vertebral 4. Flexi Subluksasi Vertebral Cervical 5. Fleksi dislokasi dan fraktur dislokasi

cervical

6. Ekstensi Sprain ( Kesleo) Cervical

(Whiplash injury)

7. Fraktur Pada Cervical Ke 4/20/12 -7

(Processus Spinosus)

Fraktur Vertebra Thorakalis (T1 samapi korpus Fraktur baji karena kompresi bagian anterior T10)
Axial loading disertai dengan fleksi menghasilkan suatu fraktur kompresi baji pada bagian anterior.

4/20/12

Fraktur burst

Fraktur burst (fraktur yang pecah) disebabkan oleh kompresi vertical aksial.

4/20/12

Fraktur chance adalah fraktur transversal pada korpus

vertebra, disebabkan oleh fleksi dengan aksis anterior dari kolumna vertebralis dengan aksis anterior dari columna vertebralis dan sering dijumpai setelah kecelakaan dimana penderita hanya menggunakan lap belt saja tanpa shoulder belt.

4/20/12

Fraktur dislokasi Fraktur ini relative jarang pada daerah

thoracal dan lumbal, hal ini karean orientasi dari sendi faset.

4/20/12

Cedera Vertebra Thorakolumbar


Fraktur kompresi (Wedge fractures) adanya kompresi pada bagian depan corpus vertebralis yang tertekan dan membentuk patahan irisan. Fraktur ini dapat disebabkan oleh kecelakaan jatuh dari ketinggian dengan posisi terduduk ataupun mendapat pukulan di kepala, osteoporosis dan adanya metastase kanker dari tempat lain ke vertebra kemudian membuat bagian vertebra tersebut menjadi lemah dan 4/20/12 akhirnya mudah mengalami fraktur

Vertebra dengan fraktur kompresi akan menjadi lebih pendek ukurannya daripada ukuran vertebra sebenarnya

4/20/12

Fraktur remuk (Burst fractures)


fraktur yang terjadi ketika ada penekanan corpus vertebralis secara langsung, dan tulang menjadi hancur. Fragmen tulang berpotensi masuk ke kanalis spinais. Terminologi fraktur ini adalah menyebarnya tepi korpus vertebralis kearah luar yang disebabkan adanya kecelakaan yang lebih berat dibanding fraktur kompresi. tepi tulang yang menyebar atau melebar itu akan memudahkan medulla spinalis untuk cedera dan ada fragmen tulang yang mengarah ke medulla spinalis dan dapat menekan medulla spinalis dan menyebabkan paralisi atau 4/20/12 gangguan syaraf parsial

Fraktur dislokasi
terjadi ketika ada segmen vertebra berpindah dari tempatnya karena kompresi, rotasi atau tekanan. Ketiga kolumna mengalami kerusakan sehingga sangat tidak stabil, cedera ini sangat berbahaya. Terapi tergantung apakah ada atau tidaknya korda atau akar syaraf yang rusak.

4/20/12

4/20/12

Tipe fraktur Wedge fractures Burst fractures Fracture/dislocation injuries

Bagian yang terkena Hanya Anterior

Stable vs Unstable Stable

Anterior dan middle Unstable Anterior, posterior Anterior, posterior middle, Unstable

Seat belt fractures

middle, Unstable
4/20/12

penatalaksaan
1. Imobilisasi 2. Cairan itravena 3. Obat-obatan

4/20/12