Anda di halaman 1dari 18

DETOKSIFIKASI NAPZA

KELOMPOK 11 ASTRIA RUDIYANTI Click SUHERLAN GIAN to edit Master subtitle style GINA PURNAMASARI

4/21/12

Pengertian Detoksifikasi

Detoksifikasi adalah bentuk terapi untuk menghilangkan racun NAPZA dari tubuh klien penyalahgunaan dan ketergantungan narkotika dan zat adiktif. (Hawari, 4/21/12 2000)

Tujuan detoksifikasi

Mengeluarkan sebanyak mungkin zat dari dalam tubuh Mengurangi penderitaan klien selama dalam perawatan Mencegah komplikasi medic Menghindarkan klien kembali menggunakan zat sesudah peraawatan atau pulang

4/21/12

Click to edit Master subtitle style

Jenis-jenis detoksifikasi

4/21/12

1. Detoksifikasi tanpa anastesi Detoksifikasi dengan pemutusan segera Detoksifikasi simptomatik Detoksifikasi substitusi

4/21/12

2. Detoksifikasi dengan anastesi

Disebut juga dengan istilah DOCA (Detoksifikasi Opioid Cepat dengan Anastesi). Proses detoksifikasi dengan DOCA umumnya berlangsung 4-6 jam terutama pada withdrawal opioid yang mengancam nyawa. 4/21/12

3. Detoksifikasi penyalahgunaan zat selain opioid

Detoksifikasi ketergantungan marijuana atau ganja Detoksifikasi ketergantungan obat tipe barbiturate atau sedative Detoksifikasi ketergantungan alcohol

4/21/12

ASUHAN KEPERAWATAN

4/21/12

A. Pengkajian

Pengkajian keperawatan klien detoksifikasi terdiri dari pengkajian : Data demografi Data masuk rumahsakit Riwayat penyalahgunaan zat Riwayat psikososial

1. 2. 3. 4. 5.

Status mental 4/21/12

Dengan data : Subyektif Klien mengeluh nyeri pada sendi, otot, tulang, merasa panas dingin, insomnia, mual muntah, diare, kepala terasa berat dan pusing, mengatakan obatnya tidak mencukupi kebutuhan, mengatakan sakaw, minta dilakukan penyuntikan, mengancam perawat, mengancam akan merusak barang-barang di ruangan, mengatakan sulit berhenti 4/21/12 memakai obat, mengatakan hanya

B. Masalah- masalah keperawatan


1. 2. 3. 4. 5.

Gangguan rasa nyaman, nyeri Gangguan pola tidur dan istirahat Perilaku kekerasan Koping individu inefektif Gangguan konsep diri harga diri rendah Koping keluarga tidak efektif

6. 7.

Distress spiritual 4/21/12

C. Intervensi keperawatan
1. Gangguan rasa nyaman, nyeri

Tujuan : diharapkan nyeri klien berkurang Intervensi : Tunjukkan empati Kaji karakteristik nyeri, meliputi: lokasi, durasi, intensitas, frekuensi, radiasi

Jelaskan bahwa nyeri yang 4/21/12 dirasakan normal

2. Gangguan pola tidur dan istirahat

Tujuan : setelah dilakukan intervensi kebutuhan istirahat dan tidur klien terpenuhi Intervensi : Anjurkan hal-hal yang berhubungan dengan kebiasaan tidur (waktu dimana klien bisa tidur, lingkungan bersih, benda-benda yang member rasa nyaman, membaca majalah)

Bantu untuk menciptakan lingkungan 4/21/12 tersebut jika memungkinkan

3. Perilaku kekerasan

Tujuan : setelah dilakukan intervensi perilaku kekerasan tidak terjadi atau terkontrol Intervensi : Ciptakan lingkungan yang nyaman untuk klien Beri kesempatan untuk mengungkapkan marah

Observasi perasaan dan kebutuhan 4/21/12 klien

1. Koping individu inefektif

Tujuan : setelah dilakukan intervensi klien akan menemukan dan menggunkan koping yang adaptif Intervensi : Tunjukkan empati Bantu untuk menenangkan diri Kaji perasaan dan kebutuhan klien Bantu pemenuhan kebutuhan tersebut Observasi cara penyelesaian

4/21/12

5. Gangguan konsep diri harga diri rendah

Tujuan : setelah dilakukan intervensi klien tidak mengalami HDR dan dapat bersosialisasi dengan efektif Intervensi : Dorong untuk mengungkapkan perasaan Panggil klien dengan nama yang disukainya Hindari kata-kata yang memojokkan

4/21/12

1. Koping keluarga tidak efektif

Tujuan : setelah dilakukan intervensi koping keluarga efektif Intervensi : Jelaskan perkembangan klien selama dirawat Anjurkan untuk tidak saling menyalahkan Anjurkan keluarga untuk menyediakan waktu untuk klien Anjurkan untuk memenuhi

4/21/12

7. Distress spiritual

Tujuan : setelah dilakukan intervensi klien dapat melaksanakan aktivitas spiritual yang teratur Intervensi : Kaji keyakinan klien Jelaskan manfaat pemenuhan kebutuhan spiritual Diskusikan masalah spiritual Hindari sikap menghakimi

4/21/12