Anda di halaman 1dari 64

LANDASAN PENDIDIKAN

H. Sholeh Hidayat

Pengertian Landasan Pendidikan


Secara leksikal,landasan berarti tumpuan, dasar atau alas, karena itu landasan merupakan tempat bertumpu atau titik tolak atau dasar pijakan. Titik tolak atau dasar pijakan dapat bersifat material (contoh: landasan pesawat terbang); dapat pula bersifat konseptual (contoh: landasan pendidikan). Landasan yang bersifat koseptual identik dengan asumsi. Asumsi dapat dibedakan menjadi tiga macam asumsi, yaitu aksioma, postulat dan premis tersembunyi.

Landasan pendidikan adalah asumsi-asumsi yang menjadi dasar pijakan atau titik tolak dalam rangka praktek pendidikan dan atau studi pendidikan. Fungsi Landasan Pendidikan Pendidikan yang diselenggarakan dengan suatu landasan yang kokoh, maka prakteknya akan mantap, artinya jelas dan tepat tujuannya, tepat pilihan isi kurikulumnya, efisien dan efektif cara-cara pendidikan yang dipilihnya, dst. Dengan landasan yang kokoh setidaknya kesalahankesalahan konseptual yang dapat merugikan akan dapat dihindarkan sehingga praktek pendidikan diharapkan sesuai dengan fungsi dan sifatnya, serta dapat dipertanggungjawabkan (responsibilty) dan dipertanggunggugatkan (acountability).

Pengertian luas pendidikan


Dalam arti luas, hidup adalah pendidikan, dan pendidikan adalah hidup (life is education, and education is life). Pendidikan adalah segala pengalaman hidup (belajar) dalam berbagai lingkungan yang berlangsung sepanjang hayat dan berpengaruh positif bagi pertumbuhan atau perkembangan individu.

Praktik Pendidikan
Kegiatan seseorang atau sekelompok orang atau lembaga dalam membantu individu atau sekelompok orang untuk mencapai tujuan pendidikan. Kegiatan bantuan dalam praktek pendidikan dapat berupa pengelolaan pendidikan (makro maupun mikro), dan dapat berupa kegiatan pendidikan (bimbingan, pembelajaran dan atau latihan) (Redja Mudyaharjo).

Studi Pendidikan
Seperangkat kegiatan intelektual yang bertujuan memahami suatu prinsip, konsep atau teori pendidikan (Mudyahardjo) Contoh: Mahasiswa Pascasarjana sedang mengikuti kuliah Landasan Pendidikan Dosen sedang membaca buku Beknopte Theoretishe Pedagogik karya MJ. Langeveld

Hubungan Studi dan Praktik Pendidikan



STUDI PENDIDIKAN: Menjadi dasar suatu praktik pendidikan Menjadi alat untuk mencek keberhasilan praktik pendidikan PRAKTIK PENDIDIKAN: Menjadi sumber pelaksanaan studi pendidikan Menjadi sarana pengujian kebenaran prinsip pendidikan

Jenis-Jenis Landasan Pendidikan


Landasan religius pendidikan, yaitu asumsi-asumsi yang bersumber dari religi atau agama yang menjadi titik tolak dalam rangka praktek pendidikan dan atau studi pendidikan. Landasan filosofis pendidikan, yaitu asumsi-asumsi yang bersumber dari filsafat yang menjadi titik tolak dalam rangka praktek pendidikan dan atau studi pendidikan. Landasan ilmiah pendidikan, yaitu asumsi-asumsi yang bersumber dari berbagai cabang atau disiplin ilmu yang menjadi titik tolak dalam rangka praktek pendidikan dan atau studi pendidikan.

Jenis landasan Pendidikan


Yang tergolong ke dalam landasan ilmiah pendidikan antara lain: landasan psikologis pendidikan, landasan sosiologis pendidikan, landasan antropologis pendidikan, landasan historis pendidikan, landasan ekonomi pendidikan dsb. Landasan ilmiah pendidikan dikenal pula sebagai landasan empiris pendidikan atau landasan faktual pendidikan. Landasan yuridis atau hukum pendidikan, yaitu asumsi-asumsi yang bersumber dari peraturan perundang-undangan yang berlaku yang menjadi titik tolak dalam rangka praktek pendidikan dan atau studi pendidikan.

Landasan Religius Pendidikan


Asumsi-asumsi yang bersumber dari religi atau agama yang menjadi titik tolak dalam rangka praktek pendidikan dan atau studi pendidikan. QS. Surat al-Nahl,16:78 Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati agar kamu bersyukur.

Landasan religius Pendidikan


Hendaklah ada diantara kamu suatu golongan orang yang menyeru manusia kepada yang maruf dan melaranynya dari yang mungkar. (Ali Imron:104) Barang siapa menginginkan kebahagiaan dunia maka dengan ilmu dan barangsiapa menginginkan kebahagiaan akherat, maka dengan ilmu (Hadits) Carilah ilmu sejak dari buaian hingga masuk liang lahat/meninggal dunia.Menuntut ilmu adalah fardhlu bagi setiap muslim. (Hadist). Implikasinya, bagi setiap muslim bahwa belajar atau melaksanakan pendidikan sepanjang hayat merupakan suatu kewajiban.

Landasan Filosofis Pendidikan


Landasan filsafat pendidikan adalah suatu titik tolak untuk menelaah dan memecahkan masalah-masalah pendidikan dengan menggunakan prinsip-prinsip filsafat. Pengetahuan atau teori pendidikan yang dihasilkan dengan susut pandang filsafat ini ialah filsafat pendidikan. Henderson: Filsafat pendidikan adalah filsafat yang diterapkan untuk menelaah dan memecahkan masalah-masalah pendidikan.

Masalah Pokok Filsafat Pendidikan


Landasan filosofis menjawab tiga pertanyaan pokok pendidikan secara menyeluruh, yaitu: 1) apakah pendidikan itu, 2) apa yang seharusnya dicapai oleh pendidikan, 3) Dengan cara-cara bagaimana cita-cita/tujuan pendidikan dapat dicapai. Jawaban terhadap persoalan-persoalan tersebut di atas akan sangat tergantung atau sangat ditentukan oleh filsafat atau pandangan hidup.

Peranan Filsafat Pendidikan


Merupakan landasan filosofis yang menjiwai seluruh kebijaksanaan dan pelaksanaan pendidikan. Hubungan fungsional antara filsafat dan teori pendidikan dapat diuraikan : Analisis filsafat merupakan salah satu cara pendekatan yang digunakan oleh para ahli pendidikan dalam memecahkan problematika pendidikan. Aliran filsafat tertentu akan mempengaruhi dan memberikan bentuk serta corak tertentu terhadap teori-teori pendidikan yang dikembangkan atas dasar aliran filsafat tersebut. Filsafat berfungsi memberikan arah agar teori pendidikan yang telah dikembangkan ahlinya dapat mempunyai relavansi dengan kehidupan nyata. Filsafat pendidikan mempunyai fungsi untuk memberikan petunjuk dalam pengembangan teori-teori pendidikan menjadi ilmu pendidikan atau pedagogik.

Aliran Filsafat Pendidikan Idealisme


Realitas akhir adalah roh, bukan fisik Hakikat manusia jiwanya, rohaninya atau mind Pengetahuan diperoleh melalui indera tidak pasti dan tidak lengkap, karena dunia hanyalah tiruan, maya(bayangan).

Tujuan Pendidikan
Untuk membantu perkembangan pikiran dan diri pribadi (self) siswa. Mengingat bakat manusia berbeda-beda maka pendidikan yang diberikan kepada setiap orang harus sesuai dengan bakatnya masing-masing.

Metode Pendidikan
Tidak cukup mengajar siswa tentang bagaimana berpikir, sangat penting bahwa apa yang siswa pikirkan menjadi kenyataan dalam perbuatan. Metode mangajar hendaknya mendorong siswa untuk memperluas cakrawala, mendorong berpikir reflektif, mendorong pilihan-pilihan moral pribadi, memberikan keterampilan-keterampilan berpikir logis, memberikan kesempatan menggunakan pengetahuan untuk masalahmasalah moral dan sosial, meningkatkan minat terhadap isi mata pelajaran, dan mendorong siswa untuk menerima nilainilai peradaban manusia (Callahan and Clark,1983).

Peran Guru dan Siswa


Para filsuf idealisme mempunyai harapan yang tinggi dari para guru. Keunggulan harus ada pada guru, baik secara moral maupun intelektual. Tidak ada satu unsur pun yang lebih penting di dalam sistem sekolah selain guru. Guru hendaknya bekerjasama dengan alam dalam proses menggabungkan manusia, bertanggung jawab menciptakan lingkungan pendidikan bagi para siswa. Sedangkan siswa berperan bebas mengembangkan kepribadian dan bakatbakatnya(Edward J.Power,1982).

Filsafat Pendidikan Realisme


Aliran Realisme : memandang realitas sebagai dualitas. Aliran realisme memandang dunia ini mempunyai hakikat realitas yang terdiri dari dunia fisik dan dunia rohani.

Pandangan tentang pendidikan


Pendidikan merupakan suatu proses untuk meningkatkan diri guna mencapai kebenaran abadi. Kebenaran bukan dibuat melainkan sudah ditentukan dan belajar harus mencerminkan kebenaran itu. Cornerius : pendidikan harus universal, seragam dan merupakan suatu kewajiban dimulai dengan pendidikan yang lebih rendah. Pada tingkat pendidikan yang paling rendah, anak akan menerima jenis pendidikan yang sama. Pembawaan dan sifat manusia sama pada semua orang.

Pandangan tentang Pendidikan


Inisiatif dalam pendidikan terletak pada pendidik bukan pada peserta didik. Materi atau bahan pelajaran yang baik adalah bahan pelajaran yang memberi kepuasan pada minat dan kebutuhan pada peserta didik. Yang paling penting bagi pendidik adalah bagaimana memilih bahan pelajaran yang benar, bukan memberikan kepuasan terhadap minat dan kebutuhan pada peserta didik.

Implikasi Filsafat Pendidikan Realisme


(1) Tujuan: penyesuaian hidup dan tanggung jawab sosial; (2) Kurikulum: komprehensif mencakup semua pengetahuan yang berguna berisi pengetahuan umum dan pengetahuan praktis; (3) Metode: Belajar tergantung pada pengalaman baik langsung atau tidak langsung. Metodenya harus logis dan psikologis. Metode Conditioning (StimulusRespon) adalah metode pokok yang digunakan; (4) Peran peserta didik adalah menguasai pengetahuan yang handal dapat dipercaya. Dalam hal disiplin, peraturan yang baik adalah esensial dalam belajar. Disiplin mental dan moral dibutuhkan untuk memperoleh hasil yang baik; (5) Peranan pendidik adalah menguasai pengetahuan, terampil dalam teknik mengajar dan dengan keras menuntut prestasi peserta didik.

Filsafat Pendidikan Pragmatisme


Makna dari segala sesuatu tergantung dari hubungannya dengan apa yang dapat dilakukan. Realitas merupakan interaksi antara manusia dengan lingkungannya Perubahan merupakan esensi realitas Pendidikan: Suatu proses reorganisasi dan rekonstruksi pengalaman-pengalaman individu

Pentingnya Pendidikan (Dewey)


Pendidikan sebagai kebutuhan untuk hidup Pendidikan sebagai pertumbuhan Pendidikan sebagai fungsi sosial

Tujuan Pendidikan (Pragmatisme)


Tidak ada Tujuan pendidikan yang berlaku universal Tujuan pendidikan tidak mutlak dan temporer Pendidikan harus mengajarkan seseorang tentang bagaimana berpikir dan menyesuaikan diri terhadap perubahan yang terjadi di dalam masyarakat. Sekolah harus bertujuan untuk mengembangkan pengalaman-pengalaman yang akan memungkinkan seseorang terarah kepada kehidupan yang baik.

Tujuan Pendidikan meliputi:


Kesehatan yang baik
Keterampilan-keterampilan dan kejujuran dalam bekerja Minat dan hobi untuk kehidupan yang menyenang kan Persiapan untuk menjadi orang tua Kemampuan untuk bertransaksi secara efektif dengan masalah-masalah sosial

Kurikulum
Pendidikan berfokus pada kehidupan yang baik pada masa sekarang dan masa yang akan datang. Kurikulum pendidikan pragmatisme berisi pengalaman-pengalaman yang telah teruji, yang sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa. Kurikulum tersebut akan berubah

Metode Pendidikan
Lebih mengutamakan penggunaan metode pemecahan masalah (problem solving method) serta metode penyelidikan dan penemuan (inquiri and discovery method). Dalam praktiknya (mengajar), metode ini membutuhkan guru yang memiliki sifat pemberi kesempatan, bersahabat, seorang pembimbing, berpandangan terbuka, antusias, kreatif, sadar bermasyarakat, siap siaga, sabar, bekerjasama, dan bersungguh-sungguh agar belajar berdasarkan pengalaman dapat diaplikasikan oleh siswa dan apa yang dicita-citakan dapat tercapai.

Peranan Guru dan Siswa


Dalam pembelajaran, peranan guru bukan menuangkan pengetahuanya kepada siswa. Setiap apa yang dipelajari oleh siswa haruslah sesuai dengan kebutuhan, minat dan masalah pribadinya. Pragmatisme menghendaki agar siswa dalam menghadapi suatu pemasalahan, hendaknya dapat merekonstruksi lingkungan untuk memecahkan kebutuhan yang dirasakannya.

Peran Guru
a. Menyediakan berbagai pengalaman yang akan memuculkan motivasi. Field trips, film-film, catatan-catatan, dan tamu ahli merupakan contohcontoh aktivitas yang dirancang untuk memunculkan minat siswa. Membimbing siswa untuk merumuskan batasan masalah secara spesifik Membimbing merencanakan tujuan-tujuan individual dan kelompok dalam kelas guna memecahkan suatu masalah Membantu para siswa dalam mengumpulkan informasi berkenaan dengan masalah. Bersama-sama kelas mengevaluasi apa yang telah dipelajari, bagaimana mereka mempelajarinya, dan informasi baru yang ditemukan oleh setiap

b. c. d. e.

siswa.

Fisalafat Pendidikan Eksistensialisme


Eksistensialisme merupakan filsafat yang secara khusus mendeskripsikan eksistensi dan pengalaman manusia dengan metedologi fenomenologi, atau cara manusia berada. Eksistensialisme adalah suatu reaksi terhadap materialisme dan idealisme Pendapat materialisme terhadap manusia adalah manusia adalah benda dunia, manusia itu adalah materi , manusia adalah sesuatu yang ada tanpa menjadi Subjek

Pandangan Pendidikan
Sikun Pribadi (1971) eksistensialisme sangat berhubungan dengan pendidikan. Karena pusat pembicaraan eksistensialisme adalah keberadaan manusia sedangkan pendidikan hanya dilakukan oleh manusia.

Tujuan Pendidikan
Untuk mendorong setiap individu agar mampu mengembangkan semua potensinya untuk pemenuhan diri. Implikasi filsafat eksistensialisme dalam pendidikan Tujuan pendidikan : Memberikan bekal pengalaman yang luas dan komprehensif dalam semua bentuk kehidupan

Status siswa Mahluk rasional dengan pilihan bebas dan tanggungjawab atau pilihan suatu komitmen terhadap pemenuhan tujuan pendidikan Kurikulum Yang diutamakan kurikulum liberal. Yaitu merupakan landasan bagi kebebasan manusia. Kebebasan memiliki aturanaturan. Oleh karena itu di sekolah harus diajarkan pendidikan sosial untuk mengajar respek rasa hormat terhadap kebebasan untuk semua. Proses pembelajaran, pengetahuan tidak ditumpahkan melainkan ditawarkan. Untuk menjadi hubungan antara guru dengan siswa sebagai suatu dialog.

Peranan Guru
Melindungi dan memelihara kebebasan akademik Metode Tak ada pemikiran yang mendalam tentang metode , tetapi metode apapun yang dipakai harus merujuk pada cara unik mencapai kebahagian dan karakter yang baik.

Landasan Psikologis Pendidikan


Asumsi-asumsi yang bersumber dari kaidah-kaidah psikologi yang dijadikan titik tolak dalam pendidikan. Contoh.Setiap individu mengalami perkembangan secara bertahap, dan pada setiap tahap perkembangannya setiap individu memiliki tugas-tugas perkembangan yang harus diselesaikannya. Implikasinya, pendidikan mesti dilaksanakan secara bertahap, tujuan dari isi pendidikan mesti disesuaikan dengan tahapan dan tugas perkembangan individu/peserta didik.

Keberhasilan pendidik dalam berbagai peranannya antara lain akan dipengaruhi oleh pemahamannya tentang perkembangan peserta didik, serta kemampuan mengaplikasikannya dalam praktek pendidikan. Pernyataan ini mengacu kepada asumsi bahwa : Peranan pendidik adalah membantu peserta didik untuk dapat menyelesaikan tugas-tugas perkembangan sesuai dengan tahap perkembangannya. Tahap perkembangan peserta didik mengimplikasikan kemampuan dan kesiapan belajarnya. Keberhasilan peserta didik menyelesaikan tugas-tugas perkembangan pada tahapnya akan mempengaruhi keberhasilan penyelesaian tugastugas perkembangan pada tahap perkembangan selanjutnya. Pendidikan yang dilaksanakan menyimpang dari tahapan dan tugas-tugas perkembangan peserta didik memungkinkan akibat negatif bagi perkembangan peserta didik selanjutnya.

Landasan Sosiologis Pendidikan


Asumsi-asumsi yang bersumber dari kaidah-kaidah sosiologi yang dijadikan titik tolak dalam pendidikan. Contoh. Di dalam masyarakat yang menganut stratifikasi sosial terbuka terdapat peluang besar untuk terjadinya mobilitas sosial. Fakta yang memungkinkan terjadinya mobilitas sosial itu antara lain bakat dan pendidikan. Implikasinya, para orang tua rela berkorban membiayai pendidikan anak-anaknya.

Pendidikan Sosial & Enkulturasi


Manusia berbeda dengan hewan yang seluruh perilakunya dikendalikan oleh naluri(insting) yang diperoleh sejak kelahirannya. Saat kelahirannya, manusia dalam keadaan tak berdaya, karena naluri yang dibawa ketika kelahirannya relatif tidak lengkap. Ia belum memiliki sistem nilai, norma, pengetahuan, adat kebiasaan, belum mengetahui dan belum dapat menggunakan dengan tepat berbagai benda sebagai hasil karya masyarakatnya.

Landasan antropologis Pendidikan


Asumsi-asumsi yang bersumber dari kaidahkaidah antropologi yang dijadikan titik tolak dalam studi dan praktik pendidikan. Contoh : perbedaan kebudayaan masyarakat di berbagai daerah (misalnya: system mata pencaharian, bahasa, kesenian, dsb). mengimplikasikan perlu diberlakukan kurikulum muatan lokal.

Pendidikan sebagai Pranata Sosial


Pranata sosial adalah suatu sistem peran dan norma sosial yang saling berhubungan dan terorganisasi disekitar pemenuhan kebutuhan atau fungsi sosial yang penting. Pendidikan Formal (Sekolah); Pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi. (Pasal 1 (11) UU RI No. 20 Tahun 2003).

Fungsi Pendidikan Sekolah


Fungsi transmisi kebudayaan masayarakat Fungsi sosialisasi (memilih dan mengajarkan peranan sosial) Fungsi integrasi sosial Fungsi mengembangkan kepribadian individu/anak Fungsi mempersiapkan anak untuk suatu pekerjaan Fungsi inovasi/men-transformasi masyarakat dan kebudayaan

Landasan Antropologis
Prinsip-prinsip Antropologis Keharusan Pendidikan ; Manusia sebagai Makhluk yang perlu didik dan mendidik diri (Animal educandum). Prinsip-prinsip Kemungkinan Pendidikan : Manusia sebagai Makhluk yang Dapat Dididik (Animal educabile)

Landasan Historis Pendidikan


Asumsi-asumsi pendidikan yang bersumber dari konsep dan praktek pendidikan masa lampau (sejarah) yang dijadikan titik tolak perkembangan pendidikan masa kini dan masa datang. Contoh Semboyan tut wuri handayani. sebagai salah satu peranan yang harus dilaksanakan oleh para pendidik, dan dijadikan semboyan pada logo Depdiknas/Kemendiknas, adalah semboyan dari Ki Hadjar Dewantara (Pendiri Perguruan Nasional Taman Siswa pada tanggal 3 Juli 1992 di Yogyakarta) yang disetujui hingga masa kini dan untuk masa datang karena dinilai berharga.

Landasan Historis
Sejak Kebangkitan Nasional (1908) sifat perjuangan rakyat Indonesia dilakukan melalui berbagai partai dan organisasi, baik melalui jalur politik praktis, jalur ekonomi, sosial budaya, dan khususnya melalui jalur pendidikan. Sifat perjuangan bangsa Indonesia saat itu tidak lagi hanya menitik beratkan pada perjuangan fisik.

Landasan Historis
Ciri-ciri pendidikan yang diselenggarakan pemerintah Kolonial Belanda tidak memungkinkan bangsa Indonesia untuk menjadi cerdas, bebas, bersatu, dan merdeka. Kaum pergerakan semakin menyadari bahwa pendidikan yang bersifat nasional harus segera dimasukan ke dalam program perjuangannya.

Pendidikan Masa Pendudukan Jepang


Tujuan dan isi pendidikan diarahkan demi kepentingan perang Asia Timur Raya. Hilangnya Sistem Dualisme dalam pendidikan. Sistem pendidikan yang bersifat dualistis membedakan dua jenis sekolah untuk anak-anak bangsa Belanda dan anak-anak Bumi Putera dihapuskan pada zaman Jepang. Sekolah Desa masih tetap ada dan namanya diganti menjadi Sekolah Pertama.

Landasan Ekonomi Pendidikan


Asumsi-asumsi yang bersumber dari prinsip-prinsip ekonomi menjadi titik tolak dalam rangka praktek pendidikan dan atau studi pendidikan. Dalam dunia modern, lebih-lebih pada zaman pasca modern seperti sekarang hampir semuanya dikendalikan oleh uang (Made Pidarta) Maju mundurnya pendidikan ditentukan oleh anggaran/biaya. Tugas pendidikan pengembangan SDM (Human Resources Development)

Landasan Ekonomi Pendidikan


Tujuan kebanyakan menempuh pendidikan agar bisa mencari uang atau meningkatkan penghasilan. Efisiensi dan efektivitas dana pendidikan Ekonomi dalam pendidikan berfungsi: a.Menunjang kelancaran proses pendidikan b.Sebagai materi pelajaran untuk mengembangkan manusia ekonomi.

Manusia Ekonomi
Memiliki etos kerja Terbiasa bekerja dengan sempurna tidak setengah-setengah Bersifat produktif Biasa hidup hemat, tidak bermewah-mewah Biasa hidup efisien (Made Pidarta)

Landasan Ekonomi Pendidikan


Pengembangan SDM melalui pendidikan menyokong secara langsung terhadap pertumbuhan ekonomi, dan karenanya pengeluaran untuk pendidikan harus dipandang sebagai investasi yang produktif dan tidak semata-mata dilihat sebagai sesuatu yang konsumtif tanpa manfaat balikan yang jelas (rate of return). Studi Bank Dunia mengenai 83 negara sedang berkembang menunjukkan bahwa di 10 negara yang mempunyai tingkat pertumbuhan riil tertinggi dari GNP perkapita antara tahun 1960 dan 1977, adalah negara yang tingkat melek hurup pada tahun 1960 rata-rata 16 persen lebih tinggi daripada negaranegara lain

Landasan Yuridis Pendidikan


Asumsi-asumsi yang bersumber dari peraturan perundanganan yang berlaku, yang dijadikan titik tolak dalam pendidikan. Contoh. UUD 1945: Tiap-tiap warganegara berhak mendapatkan pendidikan Undang-undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, dsb.

Landasan Yuridis
Pasal 31(3) UUD 1945 mengamanatkan: Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang.

Landasan Yuridis
Pendidikan nasional berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 yang berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia dan tanggap terhadap tuntutan perubahan (UU.No.20/2003 Pasal 1 ayat 2)

Strategi Bangdiknas
Pelaksanaan pendidikan agama serta akhlak mulia Pengembangan dan pelaksanaan kurikulum berbasis kompetensi Proses pembelajaran yang mendidik dan dialogis Evaluasi, akreditasi dan sertifikasi pendidikan yang memberdayakan Peningkatan keprofesionalan pendidik dan tenaga kependidikan Penyediaan sarana belajar yang mendidik Pembiayaan pendidikan yang sesuai dengan prinsip pemerataan dan berkeadilan

Strategi Bangdiknas
Penyelenggaraan pendidikan yang terbuka dan merata Pelaksanaan wajib belajar Pelaksanaan otonomi manajemen pendidikan Pemberdayaan peran masyarakat Pusat pembudayaan dan pembangunan masyarakat, Pelaksanaan pengawasan dalam sistem pendidikan nasional

Pengertian Pendidikan Dalam Berbagai Perspektif


Perspektif Sosiologi : Pendidikan dipandang identik dengan sosialisasi yaitu suatu proses membantu generasi muda agar menjadi anggota masyarakat yang diharapkan. Emile Durkheim (Jeane H. Ballantine, 1985) : Education is the influence exercised by adult generations on those that are not yet ready for social life. It is object is to arouse and to develop in the child a certain number of physical society as a whole and the special milieu for which he is specifically destined. (Pendidikan adalah pengaruh yang dilakukan oleh generasi orang dewasa kepada mereka yang belum siap untuk melakukan kehidupan sosial. Sasarannya adalah membangun dan mengembangkan sejumlah kondisi fisik, intelektual, dan moral pada diri anak sesuai dengan tuntutan masyarakat politis secara keseluruhan dan oleh lingkungan khusus tempat ia akan hidup dan berada).

Perspektif Sosiologi
Anak manusia harus belajar dalam waktu yang relatif lebih panjang untuk mampu melaksana kan berbagai peranan sesuai statusnya dan sesuai kebudayaan masyarakatnya. Perspektif Antropologi: Pendidikan merupakan transfer nilai dari generasi tua kepada generasi muda (Enkulturasi).

Perspektif ekonomi: Pendidikan dipandang sebagai human investment atau usaha penanaman modal pada diri manusia untuk mempertinggi mutu tenaga kerja, sehingga mempertinggi produksi barang dan/atau jasa. Perspektif politik, pendidikan didefinisikan sebagai proses civilisasi, yaitu Suatu upaya menyiapkan warga Negara yang sesuai dengan aspirasi bangsa dan negaranya (Odang Muchtar 1976).

Pendidikan berdasarkan Pendekatan sistem Pendidikan dapat merupakan suatu keseluruhan yang terdiri atas sejumlah komponen yang saling berhubungan secara fungsional dalam rangka mencapai tujuan pendidikan (mentransformasi input menjadi out put).

Karakteristik Sistem
a. memiliki tujuan;
b. memiliki batas yang memisahkannya dari lingkungannya; c. memiliki sifat wholism (memiliki unsur/ bagian/komponen yang saling berhubungan/ketergantungan sebagai suatu keseluruhan); d. ada proses transformasi, yaitu mengubah masukan menjadi keluaran; e. Memiliki sub sistem-sub sistem dan berhubungan dengan supra sistem.

Diagram Sistem Pendidikan


INSTRUMENTAL INPUT

RAWINPUT

PROCESS

OUTPUT

ENVIRONMENTAL INPUT

Unsur-Unsur Sistem Pendidikan


Raw input : individu degan karakteristik tertentu yang akan mengalami proses pendidikan. Instrumental input : segala sesuatu yang sengaja diadakan atau dirancang untuk keperluan pendidikan (pendidik, kurikulum, program, biaya, sarana dan praarana, dst.); Environmental input : berupa lingkungan lingkungan fisik dan lingkungan sosial budaya; Output : peserta didik yang telah mengikuti proses pendidikan dalam waktu tertentu dan telah mengalami perubahan tingkah laku dengan kualifikasi tertentu (tujuan pendidikan).

Supra sistem Sisdiknas

Anda mungkin juga menyukai