Anda di halaman 1dari 16

KOMPLEKSOMETRI

HARIYANTI

TitrasiKompleksometri
Titrasi kompleksometri digunakan untuk menentukan kandungan garam-garam logam. Etilen diamin tetra asetat (EDTA) merupakan titran yang sering digunakan. Struktur EDTA

H4Y H+ + H3Y- K1 = 1,0 x 10-2 H3Y- H+ + H2Y-2 K1 = 2,16 x 10-3 H2Y- H+ + HY-3 K1 = 6,92 x 10-7 HY-3 H+ + Y-4 K1 = 5,50 x 10-11

EDTA akan membentuk kompleks 1:1 yang stabil dengan semua logam kecuali logam alkali seperti natrium dan kalium.
Logam-logam alkali tanah seperti kalsium dan magnesium membentuk kompleks vang tidak stabil dengan EDTA pada pH rendah, karenanya titrasi logamJogam ini dengan EDTA dilakukan pada larutan bufer amonia pH 10.

Persamaan reaksi umum pada titrasi kompleksometri adalah:

Untuk deteksi titik akhir titrasi digunakan indikator zat warna. Indikator zat warna ditambahkan pada larutan logam pada saat awal sebelum dilakukan titrasi dan akan membentuk kompleks berwarna dengan sejumlah kecil logam. Pada saat titik akhir titrasi (ada sedikit kelebihan EDTA) maka kompleks indikator-logam akan pecah dan menghasilkan warna yang berbeda.

Jenis Indikator
Indikator visual
Indikator logam Indikator Asam Basa Indikator redoks

Indikator instrument : potensiometri

Indikator Logam yang dapat digunakan untuk titrasi kompleksometri ini antara lain: Hitam eriokrom (Eriochrom Black T, Mordant Black II, Soloclrome Black): sampel Mg, Ca, Cd, Zn, Pb, Hg. mureksid; Cu, Co, Ni, Ca pH = 11 jingga pirokatekol; Cu, Zn, Cd, Ni, Co pH=10 jingga xilenol; asam kalkon karbonat; kalmagit; dan biru hidroksi naftol.

Macam-macam Titrasi Kompleksometri


Ada berbagai jenis titrasi kompieksometri yaitu: titrasi langsung; titrasi kembali; titrasi substitusi; titrasi tidak langsung; dan titrasi alkalimetri.

1. 2. 3. 4. 5.

1. Titrasi Langsung Titrasi langsung merupakan metode yang paling sederhana dan sering dipakai. Larutan ion yang akan ditetapkan ditambah dengan bufer, misalnya bufer pH 10 lalu ditambah indikator logam yang sesuai dan dititrasi langsung dengan larutan baku dinatrium edetat. Pada titik ekivalen, kadar ion logam yang ditetapkan ditunjukkan oleh perubahan warna indikator logam yang dipengaruhi oleh perubahan pM : -log (Mn+). Titik akhir juga dapat ditetapkan secara amperometri, konduktometri, spektrofotometri, atau potensiometri.

2. Titrasi Kembali
Cara ini penting untuk logam yang mengendap dengan hidroksida pada pH yang dikehendaki untuk titrasi; untuk senyawa yang tidak larut misalnya sulfat, kalsium oksalat; untuk senyawa yang membentuk kompleks yang sangat lambat; dan ion logam yang membentuk kompleks lebih stabil dengan natrium edetat daripada dengan indikator.
Pada keadaan demikian, dapat ditambahkan larutan baku dinatrium edetat berlebihan kemudian larutan ditambah bufer pada pH yang diinginkan, dan kelebihan dinatrium edetat dititrasi kembali dengan larutan baku ion logam. Titik akhir ditunjukkan dengan pertolongan indikator logam.

3. Titrasi substitusi Cara ini dilakukan bila ion logam tersebut tidak memberikan titik akhir yang jelas apabila dititrasi secara langsung atau dengan titrasi kembali, atau juga jika ion logam tersebut membentuk kompleks dengan dinatrium edetat lebih stabil daripada logam lain seperti magnesium dan kalsium. Kalsium, timbal dan raksa dapat ditetapkan dengan cara ini dengan indikator hitam eriokrom dengan hasil yang memuaskan. Mn+ + MgY2- (MY)+n4 + Mg2+

4. Titrasi tidak langsung


Cara titrasi tidak langsung (indirect titration) dapat digunakan untuk menentukan kadar ion-ion seperti anion yang tidak bereaksi dengan pengkelat. Sebagai contoh barbiturat tidak bereaksi dengan EDTA, akan tetapi secara kuantitatif dapat diendapkan dengan ion merkuri clalam keadaan basa sebagai ion kompleks 1:1. setelah pengendapan dengan kelebihan Hg(II), kompleks dipindahkan dengan cara penyaringan dan dilarutkan kembali dalam larutan baku EDTA berlebihan. Larutan baku Zn(II) dapat digunakan untuk menitrasi kelebihan EDTA ini menggunakan indikator yang sesuai untuk mendeteksi titik akhir.

Reaksi yang terjadi dapat ditulis sebagai berikut:

Pendekatan lain adalah pengendapan anion dengan kelebihan logam yang sesuai dan kelebihan ion logam dalam fitrat ini dititrasi dlengan larutan baku EDTA. Sebagai contoh sulfat dapat diendapkan dengan Ba(II) berlebihan, dan kelebihan Ba(II) dititrasi dengan larutan baku EDTA.

5. Titrasi alkalimetri Pada metode ini, Proton dari dinatrium edetat, Na2H2Y dibebaskan oleh logam berat dan dititrasi dengan larutan baku alkali sesuai dengan persamaan reaksi berikut:

Larutan iogam yang ditetapkan dengan metode ini sebelum dititrasi harus dalam suasana terhadap indikator yang digunakan. Penetapan titik akhir menggunakan indikator asam-basa atau secara potensiometri.

Latihan Soal PK Tawas


Lebih kurang 1,7 gram ditimbang saksama larutkan dalam air secukupnya hingga 100 ml. pada 20,0 ml larutan tambahkan 30,0 ml Na2EDTA 0,05 M dan 100 ml air, panaskan di atas penangas air slm 10 menit, dinginkan, tambahkan 5 g heksamin. Titrasi dengan Pbnitrat 0,05 M menggunakan larutan indikator 0,4 ml jingga ksilenol Tiap ml Na2EDTA 0,05 M ~ 23,72 mg KAl(SO4)2I2H2O

Dalam Farmakope Indonesia, titrasi kompleksometri digunakan untuk menentukan kadar zat antara lain::

bismut subkarbonat; bismut subnitrat; kalsium karbonat; kalsium klorida dan sediaan injeksinya; kalsium glukonat; kalsium hidrogen fosfat; kalsium hidroksida dan larutan topikal kalsium hidroksida;

kalsium laktat dan sediaan tabletnya; kalsium pantotenat; kalsium sulfat; magnesium karbonat; magnesium stearat; magnesium sulfat; mangan sulfat; zink klorida; dan zink sulfat.