Anda di halaman 1dari 22

0FFRAtKY THF000RuS

(11-2009-077)
PFHlHlt6.
0R. ARYA PuRA SPA
hycobacterIum tubercuIosa
Panjangnya 14 mIkron dan lebarnya antara J6 mIkron.
Tumbuh optImal pada suhu sekItar J7
o
C dengan pH optImal pada 6,7 sampaI 7,0.
0apat hIdup dan tetap vIrulen beberapa mInggu dalam keadaan kerIng, dalam
caIran matI pada suhu 60`C dalam 1520 menIt.
TerdIrI darI lemak dan proteIn.
Lemak terdIrI darI asam stearat, asam mIkolIk, mycosIdes, sulfolIpId, cord
factor. SIfat tahan asam. |enyebabkan fIbrosIs dan terbentuknya sel epIteloId
dan sel tuberkel
ProteIn utamanya adalah tuberkulo proteIn. |enyebabkan nekrosIs jarIngan.
Permulaan tuberkulosIs sukar dIketahuI karena
gejalanya tIdak khas dan tIdak jelas.
|enegakan dIagnosIs kerja umumnya dengan
gambaran klInIs, hasIl ujI tuberkulIn, dan foto
rongten paru.
W$IstemIk
(umumltIdak
spesIfIk)
W erat badan turun atau malnutrIsI tanpa sebab yang jelas.
W Nafsu makan tIdak ada (anoreksIa) dengan gagal tumbuh.
W 0emam lama atau berulang tanpa sebab yang jelas, dapat
dIsertaI kerIngat malam.
W Cejala respIratorIk: batuk dapat terjadI karena IrItasI oleh
kelenjar yang membesar dan menekan bronkus. Pada anak
yang lebIh besar gejala tuberkulosIs dapat sepertI
penderIta dewasa, yaItu terdapat batuk dengan dahak dan
dapat pula terjadI hemoptIsIs.
W Cejala gastroIntestInal: dIare persIsten yang tIdak sembuh
dengan pengobatan dIare
W$pesIfIk
(organlIokaI)
W elenjar lImfe,
W TuberkulosIs otak dan saraf
W TuberkulosIs tulang dan sendI
W TuberkulosIs kulIt
W TuberkulosIs mata
W TuberkulosIs organ laIn
W&jI tuberkulIn
WFadIologIs
WSerologIs (pemerIksaan ImunItas selular)
W|IkrobIologI
WPatologI anatomI
WIologI molekular
0DTS (0rectly Dbserve Trectment Shortcourse)
PenderIta dIdampIngI oleh seorang yang telah
dIlatIh sIngkat tentang cara pengawasan
langsung menelan obat (P|D) setIap harI
Termasuk P|D : petugas kesehatan, keluarga
penderIta, kader, penderIta yang sudah sembuh,
tokoh masyarakat yang sudah dIlatIh strategI
baru penanggulanan T
PemberIan lebIh mudah, faktor lupa juga dapat
dIkurangI
H (NH): 1015 mg/kgbb maks J00 mg, dosIs tunggal
F (FIfampIcIn): 1015 mg/kgbb/harI, dosIs tunggal 1
jam sebelum makan
Z (PIrazInamId): 20J5 mg/kgbb, dIbagI 2 dosIs maks
2 gr/hr
S (StreptomIcIn): 2050 mg/kgbb (maks. 750mg/hr)
selama 1 bulan
E (Ethambutol) : 1020 mg/kgbb selama 6 bulan
&ntuk TC berat berIkan 45 macam obat. SelaIn
obat dI atas dIberIkan obat tambahan:
Pengobatan dIbagI menjadI 2 fase.
Fase IntensIf (2 bulan pertama) dan sIsanya sebagaI
fase lanjutan. Tujuannya adalah untuk membunuh
kuman Intraseluler dan ekstra seluler serta mengurangI
kemungkInan terjadInya resIstensI dan relaps
PrInsIp dasar pengobatan tuberkulosIs adalah mInImal 2
macam obat dan dIberIkan dalam waktu relatIf lam (6
12 bulan)
Saat InI paduan obat yang baku untuk sebagIan besar kasus
T adalah paduan rIfampIzIn, IzonIasId, dan pIrazInamId.
Pada fase IntensIf dIberIkan rIfampIsIn, IsonIazId, dan
pIrazInamId, sedangkan pada fase lanjutan hanya dIberIkan
rIfampIsIn dan IsonIazId.
Pada keadaan T berat baIk pulmonal maupun
ekstrapulmonal sepertI T mIlIer, menIngItIs Tb, T system
skeletal dan laInlaIn pada fase IntensIf dIberIkan mInImal
empat macam obat (rIfampIsIn, IsonIazId, pIrazInamId, dan
etambutol atau streptomIcIn). Pada fase lanjutan dIberIkan
rIfampIsIn dan IsonIazId selama sepuluh bulan.
&ntuk kasus T tertentu yaItu menIngItIs Tb, Tb mIlIer, efusI
pleura Tb, perIkardItIs Tb, Tb endobronkIal, dan perItonItIs
Tb dIberIkan kortIkosteroId (prednIsone) dengan dosIs 12
mg/kgbb/harI dIbagI dalam J dosIs, maksImal 60 mg dalam
1 harI. Lama pemberIan kortIkosteroId adalah 24 mInggu
dengan dosIs penuh, dIlanjutkan tcperny o]] 12 mInggu
Salah satu masalah dalam terapI Tb adalah keteraturan pasIen dalam
menjalanI pengobatan yang relatIve lama dengan jumlah obat yang banyak.
&ntuk mengatasI hal tersebut, dIbuat suatu sedIaan obat kombInasI dengan
dosIs yang dItentukan, yaItu F0C atau kombInasI dosIs tetap (0T).
euntungan penggunaan F0C dalam pengobatan T adalah sebagaI berIkut:
W|enyederhanakan pengobatan dan mengurangI kesalahan penulIsan resep
W|enIngkatkan penerImaan dan keteraturan pasIen
W|emungkInkan petugas kesehatan untuk memberIkan pengobatan standar
dengan tepat.
W|empermudah pengelolaan obat
W|engurangI kesalahan penggunaan obat Tb (monoterapI) sehIngga
mengurangI resIstensI terhadap obat Tb
W|engurangI kemungkInan kegagalan pengobatan dan terjadInya
kekambuhan
W|empercepat dan mempermudah pengawasan menelan obat sehIngga
dapat mengurangI beban kerja
W|empermudah penentuan dosIs berdasarkan
PSebaIknya pasIen control setIap bulan.
EvaluasI hasIl pengobatan dIlakukan setealah
2 bulan terapI. EvaluasI pengobatan pentIng
karena dIagnosIs Tb pada anak sulIt dan tIdak
jarang terjadI salah dIagnosIs. EvaluasI
pengobatan dIlakukan dengan beberapa cara,
yaItu:
PEvaluasI klInIs
PEvaluasI radIologIs
PPemerIksaan LE0
PEfek sampIng yang cukup serIng terjadI pada
pemberIan IsonIazId dan rIfampIsIn adalah
gangguan gastroIntertInal, hepatotoksIsItas,
ruam dan gatal serta demam. Salah satu efek
sampIng yang perlu dIperhatIkan adalah
hepatotoksIsItas.
PTatalaksana hepatotoksIsItas bergantung
pada beratnya kerusakan hatI yang terjadI.
PAnak dengan gangguan fungsI hatI rIngan
mungkIn tIdak membutuhkan perubahan
terapI.
P ApabIla penIngkatan enzIm transamInase lebIh darI
atau sama dengan 5 tanpa gejala atau lebIh darI
atau sama dengan J kalI batas atas normal dIsertaI
dengan gejala maka semua DAT dIhentIkan
P adar enzIm transamInase dIperIksa kembalI
setelah 1 mInggu penghentIan. DAT dIberIkan
kembalI apabIla nIlaI laboratorIum telah normal.
TerapI berIkutnya dIlakukan dengan cara pemberIan
IsonIazId dan rIfampIsIn dengan dosIs yang
dInaIkkan secara bertahap dan harus dIlakukan
pemantauan klInIs dan laboratorIum dengan
cermat. HepatotoksIsItas dapat tImbul kembalI
pada pemberIan terapI berIkutnya jIka dosIs
dIberIkan langsung secara penuh dan pIrazInamId
dIgunakan dalam paduan pengobatan.
PPasIen dIkatakan putus obat bIla berhentI
menjalanI pengobatan selama lebIh darI atau
sama dengan 2 mInggu. SIkap selanjutnya
untuk penanganan bergantung pada hasIl
evaluasI klInIs saat pasIen datang kembalI,
sudah berapa lama menjalanI pengobatan,
dan berapa lama obat telah terputus. PasIen
tersebut perlu dIrujuk untuk penanganan
selanjutnya.
P|ultIdrug resIstance T adalah Isolate
Tuberculoss yang resIsten terhadap dua atau
lebIh DAT lInI pertama, mInImal terhadap
IsonIazId dan rIfampIsIn.
PecurIgaan adanya |0FT adalah apabIla secara
klInIs tIdak ada perbaIkan dengan pengobatan.
|anagement Tb semakIn sulIt dengan
menIngkatnya resIstensI terhadap DAT yang bIasa
dIpakaI.
PAda beberapa penyebab terjadInya resIstensI
terhadap DAT, yaItu pemakaIan obat tunggal,
paduan obat yang tIdak memadaI termasuk
pencampuran obat yang tIdak dIlakukan secara
benar, dan kurangnya keteraturan menelan obat.
ontak (+) dengan
penderIta TC terbuka,
laInlaIn tak ada kelaInan
|antoux (+), kontak (),
laInlaIn ()
Ila mendapat InfeksI
berat: morbIlI, pertusIs dll.
|endapat ImunosupresIf 7
harI dIberIkan
H 510mg/kgbb
selama 6 bulan
H 510 mg/kgbb
selama J bulan.
H 510 mg/kgbb
selama J bulan
H 510 mg/kgbb
selama pemberIan
ImunosupresIf
Pengamatan rutIn:
emajuan klInIs dan efek
sampIng obat
JIka ada Ikterus atau keluhan
gastroIntestInal perIksa
SCDT/SCPT
Normal th/ dIteruskan
|enIngkat 2 kalI, F
dan H dosIs menjadI
separuhnya
|enIngkat 5 kalI,
obat dIstop
alau terjadI reaksI alergI
obat dIhentIkan