Anda di halaman 1dari 13

Ir.

Muchlison STT PLN

Meskipun harga minyak dunia telah turun, pembangunan PLTMH masih tetap atraktif
Meskipun investasi awal pembangunan PLTMH relatif mahal, namun banyak hal yang menguntungkan, seperti:

biaya operasi murah ramah lingkungan merangsang penggunaan teknologi dan tenaga dalam negeri dll.

Pada awalnya/ saat pertemuan minihydro ASEAN tahun 1990:


Mikrohidro Minihydro PLTA

: 0 200kW : 200 2000 kW : >2000kW (2MW)

Saat ini:

Mikrohidro Minihydro PLTA

: 10 1000kW (1MW) : 1MW 10MW (2x5MW) : > 10MW

Sebenarnya batasan tersebut tidak berlaku jika Head rendah. Misalnya 1 MW pun untuk Head rendah turbinnya cukup complicated.

1.

SURVEI
Sebenarnya potensi PLTMH cukup banyak namun sulit dilihat dari peta bakosurtanal kecuali yang mendekati 1 MW Karenanya potensi yang bagus diharapkan dari informasi dari daerah setempat Keuntungannya lingkup area PLTMH relatif kecil sehingga site identification lebih mudah untuk melihat atau memprediksi layak dan tidaknya PLTM tersebut untuk dikembangkan.

1.

SURVEI

Faktor faktor untuk melihat atraktif atau tidaknya PLTM tersebut untuk dikembangkan adalah: Jalan dan Access road untuk menjangkau lokasi tersebut Topografi, yaitu kemiringan sungai dan kondisi medan untuk menentukan letak bendung, trace dan panjang saluran, bak penenang, power house dan Head yang didapatkan. Hidrologi untuk menentukan debit desain dari duration curve Kondisi geologi, kondisi batuan sekitar bangunan sipil Jarak lokasi ke jaringan PLN/ konsumen Status lahan

Dua (2) macam fungsi/ status PLTMH


Komoditi: jika dekat dengan jaringan PLN Infrasturktur: untuk daerah remote yang jauh dari jaringan PLN

2. Unit Cost PLTMH


Cost per kW PLTMH relatif mahal dibandingkan miniydro atau PLTA Perlu batasan cost per kW yang dianggap layak, misalnya: - Minihidro : Rp 15 Jt/ kW - Mikrohidro : Rp 20 Jt/ kW Karenanya perlu penyederhanaan desain sipil dan peralatan elektromekaniknya

3. DESAIN PLTMH 3.1 Desain Sipil Bangunan sipil PLTM terdiri dari Bendung, Intake, Saluran Penghantar, Bak Penenang, Pipa Pesat, Power House & Tail Race Terutama bendung perlu pemikiran untuk penghematan/ penyederhanaan konstruksinya untuk kapasitas kecil

3. DESAIN PLTMH 3.2 Pemilihan Turbin Air Turbin air untuk PLTM atau PLTA biasa dipakai jenis: - Pelton: Head tinggi - Francis: Sedang tinggi - Kaplan: Head rendah Di Indonesia (mungkin juga dunia) diatas 95% memakai jenis Francis, jenis Kaplan dan Pelton hanya sedikit dipakai. Untuk Mikrohidro, Francis terlalu mahal kecuali untuk kapasitas 1MW sampai 500 kW. Turbin Kaplan selain terlalu mahal secara teknis juga sulit, karena diameter terlalu kecil.

3. 3.2

DESAIN PLTMH Pemilihan Turbin Air Untuk turbin mikrohidro yang banyak dikembangkan adalah: - Crossflow (Banki): di Indonesia sudah cukup maju dalam desain dan pembuatan turbin crossflow, contoh Hexahidro dengan efisiensi relatif tinggi sampi 80%. Turbin ini dapat dipakai dari Head rendah sampai tinggi - Pelton: Desain cukup mudah dan efisiensi cukup tinggi (90%). Hanya potensi untuk Pelton ini relatif sedikit (sulit dicari). - Untuk Head Rendah, prospektif dikembangkan jenis propeller. Keuntungan turbin ini dibandingkan Crossflow adalah: i) Tidak ada kehilangan Head akibat letak pemasangan turbin ii) Putaran relatif tinggi, sehingga mungkin bisa menghilangkan keperluan roda transmisi kecepatan. iii) Diameter relatif kecil Kerugian turbin jenis propeller: i) Efisiensi akan drop secara tajam jika Debit tidak sesuai debit desainnya ii) Terpaksa di pakai untuk debit minimum

3. DESAIN PLTMH 3.3 Peralatan Listrik Seperti dijelaskan permasalahan pembangunan PLTMH adalah bagaimana menekan cost/kW. Jika memakai Governor akan menambah tinggi cost peralatan elektromekanik. Untuk yang langsung masuk jaringan PLN dapat memakai generator asinkron tanpa memakai governor. Untuk yang isolated terpaksa memakai governor Peralatan listrik terdiri dari Generator, panel dan kontrol, switch gear, trafo dan jaringan.

Dengan asumsi biaya investasi pembangunan PLTMH Rp 2jt/kW, konfigurasi keekonomian PLTMH dengan kapasitas 1MW adalah sebagai berikut.

Asumsi: Biaya Invstasi: Rp 2jt/kW Bunga Pinjaman: 15% Bunga Equity: 8% (30% dari biaya investasi) IRR: 16% Payback Period: 6 tahun Untuk CF = 65% harga listrik = Rp 750/kWh Untuk CF = 80% harga listrik = Rp 620/kWh

Teknologi pengembangan PLTMH sudah sepenuhnya dikuasai oleh para ahli dalam negeri Hambatan terletak pada biaya/kW semakin mahal untuk kapasitas rendah terutama untuk Head rendah dan harga listrik tidak memadai. Perijinan secara aturan sudah jelas namun implementasinya tidak semudah itu Untuk kapasitas 1 MW per unit untuk Head sedang hingga tinggi, turbin airnya harus dibuat dalam negeri.