Anda di halaman 1dari 37

Era Reformasi

Pemerintahan B.J. Habibie

 Presiden Habibie segera membentuk sebuah kabinet.


Salah satu tugas pentingnya adalah kembali
mendaptkan dukungan dari Dana Moneter
Internasional dan komunitas negara-negara donor
untuk program pemulihan ekonomi. Ia juga
membebaskan para tahanan politik dan mengurangi
kontrol pada kebebasan berpendapat dan kegiatan
organisasi.
Lintas Peristiwa
 Sidang Istimewa MPR yang mengukuhkan Habibie sebagai Presiden,
ditentang oleh gelombang demonstrasi dari puluhan ribu mahasiswa dan
rakyat di Jakarta dan di kota-kota lain. Gelombang demonstrasi ini
memuncak dalam peristiwa Tragedi Semanggi, yang menewaskan 18
orang.
 Masa pemerintahan Habibie ditandai dengan dimulainya kerjasama dengan
Dana Moneter Internasional untuk membantu dalam proses pemulihan
ekonomi. Selain itu, Habibie juga melonggarkan pengawasan terhadap
media massa dan kebebasan berekspresi.
 Presiden BJ Habibie mengambil prakarsa untuk melakukan koreksi.
Sejumlah tahanan politik dilepaskan. Sri Bintang Pamungkas dan Muchtar
Pakpahan dibebaskan, tiga hari setelah Habibie menjabat. Tahanan politik
dibebaskan secara bergelombang. Tetapi, Budiman Sudjatmiko dan
beberapa petinggi Partai Rakyat Demokratik baru dibebaskan pada era
Presiden Abdurrahman Wahid. Setelah Habibie membebaskan tahanan
politik, tahanan politik baru muncul. Sejumlah aktivis mahasiswa diadili
atas tuduhan menghina pemerintah atau menghina kepala negara. Desakan
meminta pertanggungjawaban militer yang terjerat pelanggaran HAM tak
bisa dilangsungkan karena kuatnya proteksi politik. Bahkan, sejumlah
perwira militer yang oleh Mahkamah Militer Jakarta telah dihukum dan
dipecat karena terlibat penculikan, kini telah kembali duduk dalam jabatan
struktural.
 Beberapa langkah perubahan diambil oleh Habibie,
seperti liberalisasi parpol, pemberian kebebasan pers,
kebebasan berpendapat, dan pencabutan UU
Subversi. Walaupun begitu Habibie juga sempat
tergoda meloloskan UU Penanggulangan Keadaan
Bahaya, namun urung dilakukan karena besarnya
tekanan politik dan kejadian Tragedi Semanggi II
yang menewaskan mahasiswa UI, Yun Hap.
 Kejadian penting dalam masa pemerintahan Habibie
adalah keputusannya untuk mengizinkan Timor
Timur untuk mengadakan referendum yang berakhir
dengan berpisahnya wilayah tersebut dari Indonesia
pada Oktober 1999. Keputusan tersebut terbukti tidak
populer di mata masyarakat sehingga hingga kini pun
masa pemerintahan Habibie sering dianggap sebagai
salah satu masa kelam dalam sejarah Indonesia.
Tragedi Semanggi
 Pada bulan November 1998 pemerintahan transisi Indonesia mengadakan
Sidang Istimewa untuk menentukan Pemilu berikutnya dan membahas agenda-
agenda pemerintahan yang akan dilakukan. Mahasiswa bergolak kembali
karena mereka tidak mengakui pemerintahan ini dan mereka mendesak pula
untuk menyingkirkan militer dari politik serta pembersihan pemerintahan dari
orang-orang Orde Baru.
 Masyarakat dan mahasiswa menolak Sidang Istimewa 1998 dan juga
menentang dwifungsi ABRI/TNI karena dwifungsi inilah salah satu penyebab
bangsa ini tak pernah bisa maju sebagaimana mestinya. Benar memang ada
kemajuan, tapi bisa lebih maju dari yang sudah berlalu, jadi, boleh dikatakan
kita diperlambat maju. Sepanjang diadakannya Sidang Istimewa itu masyarakat
bergabung dengan mahasiswa setiap hari melakukan demonstrasi ke jalan-jalan
di Jakarta dan kota-kota besar lainnya di Indonesia. Peristiwa ini mendapat
perhatian sangat besar dari dunia internasional terlebih lagi nasional. Hampir
seluruh sekolah dan universitas di Jakarta, tempat diadakannya Sidang
Istimewa tersebut, diliburkan untuk mecegah mahasiswa berkumpul. Apapun
yang dilakukan oleh mahasiswa mendapat perhatian ekstra ketat dari pimpinan
universitas masing-masing karena mereka di bawah tekanan aparat yang tidak
menghendaki aksi mahasiswa. Sejarah membuktikan bahwa perjuangan
mahasiswa tak bisa dibendung, mereka sangat berani dan jika perlu mereka rela
mengorbankan nyawa mereka demi Indonesia baru.
 Pada tanggal 12 November 1998 ratusan ribu mahasiswa dan
masyrakat bergerak menuju ke gedung DPR/MPR dari segala
arah, Semanggi-Slipi-Kuningan, tetapi tidak ada yang berhasil
menembus ke sana karena dikawal dengan sangat ketat oleh
tentara, Brimob dan juga Pamswakarsa (pengamanan sipil
yang bersenjata bambu runcing untuk diadu dengan
mahasiswa). Pada malam harinya terjadi bentrok pertama kali
di daerah Slipi dan puluhan mahasiswa masuk rumah sakit.
Satu orang pelajar, yaitu Lukman Firdaus, terluka berat dan
masuk rumah sakit. Beberapa hari kemudian ia meninggal
dunia.
 Esok harinya Jum'at tanggal 13 November 1998 ternyata
banyak mahasiswa dan masyarakat sudah bergabung dan
mencapai daerah Semanggi dan sekitarnya, bergabung dengan
mahasiswa yang sudah ada di depan kampus Atma Jaya
Jakarta. Jalan Sudirman sudah dihadang oleh aparat sejak
malam hari dan pagi hingga siang harinya jumlah aparat
semakin banyak guna menghadang laju mahasiswa dan
masyarakat. Kali ini mahasiswa bersama masyarakat dikepung
dari dua arah sepanjang Jalan Jenderal Sudirman dengan
menggunakan kendaraan lapis baja.
 Jumlah masyarakat dan mahasiswa yang bergabung diperkirakan puluhan ribu
orang dan sekitar jam 3 sore kendaraan lapis baja bergerak untuk membubarkan
massa membuat masyarakat melarikan diri, sementara mahasiswa mencoba
bertahan namun saat itu juga terjadilah penembakan membabibuta oleh aparat dan
saat di jalan itu juga sudah ada mahasiswa yang tertembak dan meninggal seketika
di jalan. Ia adalah Teddy Wardhani Kusuma, merupakan korban meninggal pertama
di hari itu.
 Mahasiswa terpaksa lari ke kampus Atma Jaya untuk berlindung dan merawat
kawan-kawan dan masyarakat yang terluka. Korban kedua penembakan oleh aparat
adalah Wawan, yang nama lengkapnya adalah Bernadus R Norma Irawan,
mahasiswa Fakultas Ekonomi Atma Jaya, Jakarta, tertembak di dadanya dari arah
depan saat ingin menolong rekannya yang terluka di pelataran parkir kampus Atma
Jaya, Jakarta. Mulai dari jam 3 sore itu sampai pagi hari sekitar jam 2 pagi terus
terjadi penembakan terhadap mahasiswa di kawasan Semanggi dan saat itu juga lah
semakin banyak korban berjatuhan baik yang meninggal tertembak maupun terluka.
Gelombang mahasiswa dan masyarakat yang ingin bergabung terus berdatangan
dan disambut dengan peluru dan gas airmata. Sangat dahsyatnya peristiwa itu
hingga jumlah korban yang meninggal mencapai 15 orang, 7 mahasiswa dan 8
masyarakat. Indonesia kembali membara tapi kali ini tidak menimbulkan
kerusuhan.
 Anggota-anggota dewan yang bersidang istimewa dan tokoh-tokoh politik saat itu
tidak peduli dan tidak mengangap penting suara dan pengorbanan masyarakat
ataupun mahasiswa, jika tidak mau dikatakan meninggalkan masyarakat dan
mahasiswa berjuang sendirian saat itu. Peristiwa itu dianggap sebagai hal lumrah
dan biasa untuk biaya demokrasi. "Itulah yang harus dibayar mahasiswa kalau
berani melawan tentara".
Semanggi II
 Untuk yang kesekian kalinya tentara melakukan tindak kekerasan kepada
mahasiswa dalam menghentikan penolakan sikap mahasiswa terhadap
pemerintahan. Lokasi penembakan mahasiswa pun di tempat yang sangat strategis
yang dapat dipantau oleh banyak orang awam yaitu di bawah jembatan Semanggi,
depan kampus Universitas Atma Jaya Jakarta, dekat pusat sentra bisnis nasional
maupun internasional.
 Kala itu adanya pendesakan oleh pemerintahan transisi untuk mengeluarkan
Undang-Undang Penanggulangan Keadaan Bahaya (UU PKB) yang materinya
menurut banyak kalangan dan mahasiswa sangat memberikan keleluasaan kepada
militer untuk melakukan keadaan negara sesuai kepentingan militer. Oleh karena
itulah mahasiswa bergerak dalam jumlah besar untuk bersama-sama menentang
diberlakukannya UU PKB karena ini menentang tuntutan mereka untuk
menghilangkan dwifungsi ABRI/TNI. Karena hanya dengan berdemonstrasi,
mereka yang mau mensahkan Undang-Undang tersebut baru berpikir, sebab
tampaknya mereka sudah tak punya hati nurani lagi dan entah bagaimana membuat
mereka peduli dengan bangsanya daripada peduli terhadap perut buncit mereka itu
yang duduk di kursi parlemen menggunakan logo Pancasila dengan bangganya di
jas mereka.
 Malang nasib mahasiswa yang selalu harus berkorban, kali ini mahasiswa
Universitas Indonesia harus kehilangan seorang pejuang demokrasi mereka, Yun
Hap.
Semanggi II
Tragedi Lampung
 Tragedi Lampung terjadi berawal ketika mahasiswa dari Universitas
Lampung (Unila) berjalan menuju Universitas Bandar Lampung (UBL)
untuk bergabung dengan rekan mereka melakukan aksi untuk menentang
RUU PKB serta unjuk rasa solidaritas bagi rekan mereka yang meninggal
dari Universitas Indonesia, Yun Hap, empat hari sebelumnya di Jakarta.
Setelah bergabung, mereka melakukan unjuk rasa dan berjalan menuju
Makorem 043/Garuda Hitam. Akan tetapi, ketika melewati Markas
Koramil Kedaton dekat UBL mahasiswa terprovokasi karena bendera
merah putih masih dipasang penuh, dengan segera mereka menurunkannya
menjadi setengah tiang demi penghormatan bagi Pahlawan Reformasi
mereka yang baru saja gugur.
 Setelah itu keadaan menjadi tidak terkendali karena Komandan Koramil
menolak kehendak mahasiswa untuk menandatangani penolakan
diberlakukannya UU PKB sehingga mahasiswa melempari kantornya
dengan batu. Anggota Koramil lainnya menghindar untuk kemudian
setelah itu membalas dengan melakukan penembakan. Mahasiswa
terpencar dan lari menyelamatkan diri ke dalam kampus UBL. Saat itulah
diketahui butiran peluru telah mengambil nyawa Muhammad Yusuf Rizal.
 Hari itu tanggal 28 September 1999 Muhammad Yusuf Rizal, mahasiswa
jurusan FISIP Universitas Lampung (Unila) angkatan 1997, meninggal dunia
dengan luka tembak di dadanya tembus hingga ke belakang dan juga sebutir
peluru menembus lehernya (sumber: Suara Pembaruan 29/9/99). Ia tertembak
di depan markas Koramil Kedaton. Puluhan mahasiswa juga mengalami luka-
luka sehingga harus masuk rumah sakit.
 Banyaknya korban disebabkan kampus Universitas Bandar Lampung (UBL)
dimasuki oleh aparat keamanan baik yang berseragam maupun yang tidak
berseragam, yang melepaskan tembakan saat mahasiswa melakukan
demonstrasi yang menentang RUU PKB pada tanggal 28 September 1999
tersebut. Aparat juga melakukan pengejaran dan pemukulan terhadap
mahasiswa. Selain itu aparat juga melakukan perusakan di dalam kampus yaitu
berupa gedung, kendaraan roda dua dan roda empat. Tindakan anarkis aparat
ini sungguh menakutkan mahasiswa maupun dosen di UBL sehingga kampus
harus diliburkan untuk beberapa hari.
 Berbeda dengan kejadian gugurnya mahasiswa lain di luar Lampung, ternyata
untuk peristiwa ini ada yang mengakui untuk bertanggung jawab, hanya
bagaimana penyelesaian secara hukumnya saja yang sampai kini tak jelas.
Komandan Detasemen POM II/3 Sriwijaya Lampung Letkol CPM Bagoes
Heroe Sucahyo menyatakan bahwa Dewan Eksekutif Mahasiswa Unila telah
menerima surat permintaan maaf dari Kol Inf Mujiono (Danrem 043/Garuda
Hitam). Sementara itu ia (Bagoes H. Sucahyo) juga menyita proyektil peluru
yang bersarang di tubuh korban. Dengan ini ia merupakan orang yang paling
bertanggung jawab akan barang bukti yang membunuh Yusuf Rizal.
Kerusuhan Ambon
Kerusuhan Sampit
Pemerintahan
Abdurrahman Wahid
 Pemilu untuk MPR, DPR, dan DPRD diadakan pada 7 Juni
1999. PDI Perjuangan pimpinan putri Soekarno,
Megawati Sukarnoputri keluar menjadi pemenang pada
pemilu parlemen dengan mendapatkan 34% dari seluruh
suara; Golkar (partai Soeharto - sebelumnya selalu menjadi
pemenang pemilu-pemilu sebelumnya) memperoleh 22%;
Partai Persatuan Pembangunan pimpinan Hamzah Haz 12%;
Partai Kebangkitan Bangsa pimpinan Abdurrahman Wahid
(Gus Dur) 10%.
 Tetapi karena jabatan presiden masih dipilih oleh MPR saat
itu, Megawati tidak secara langsung menjadi presiden.
Abdurrahman Wahid, pemimpin PKB, partai dengan suara
terbanyak kedua saat itu, terpilih kemudian sebagai presiden
Indonesia ke-4. Megawati sendiri dipilih Gus Dur sebagai
wakil presiden.
 Pada Oktober 1999, MPR melantik Abdurrahman
Wahid sebagai presiden dan Megawati sebagai
wakil presiden untuk masa bakti 5 tahun. Wahid
membentuk kabinet pertamanya, Kabinet Persatuan
Nasional pada awal November 1999 dan melakukan
reshuffle kabinetnya pada Agustus 2000.
 Pemerintahan Presiden Wahid meneruskan
proses demokratisasi dan perkembangan
ekonomi di bawah situasi yang menantang.
 Masa pemerintahan Abdurrahman Wahid diwarnai
dengan gerakan-gerakan separatisme yang makin
berkembang di Aceh, Maluku dan Papua. Selain itu,
banyak kebijakan Abdurrahman Wahid yang
ditentang oleh MPR/DPR.
 Di Timor Barat, masalah yang ditimbulkan
rakyat Timor Timur yang tidak mempunyai
tempat tinggal dan kekacauan yang dilakukan
para militan Timor Timur pro-Indonesia
mengakibatkan masalah-masalah kemanusiaan
dan sosial yang besar.
 MPR yang semakin memberikan tekanan
menantang kebijakan-kebijakan Presiden
Wahid, menyebabkan perdebatan politik yang
meluap-luap.
 Pada Sidang Umum MPR pertama pada
Agustus 2000, Presiden Wahid memberikan
laporan pertanggung jawabannya.
 Di bawah tekanan dari MPR untuk
memperbaiki manajemen dan koordinasi di
dalam pemerintahannya, dia mengedarkan
keputusan presiden yang memberikan
kekuasaan negara sehari-hari kepada Wakil
Presiden Megawati.
 Pada 29 Januari 2001, ribuan demonstran berkumpul
di Gedung MPR dan meminta Gus Dur untuk
mengundurkan diri dengan tuduhan korupsi. Di
bawah tekanan yang besar, Abdurrahman Wahid lalu
mengumumkan pemindahan kekuasaan kepada wakil
presiden Megawati Soekarnoputri. Sekitar pukul
20.48, Gus Dur keluar dari Istana Merdeka. Saat
berdiri di ujung teras, Gus Dur malah sempat
melambaikan tangan kepada massa pendukungnya
yang berunjuk rasa. Hanya pohon yang ditebang
kelompok pendukung Gus Dur sebagai pelampiasan
emosi.
 Melalui Sidang Istimewa MPR pada 23 Juli 2001,
Megawati secara resmi diumumkan menjadi Presiden
Indonesia ke-5.
Pemerintahan
Megawati Soekarnoputri

 Megawati dilantik di tengah harapan akan membawa perubahan kepada


Indonesia karena merupakan putri presiden pertama Indonesia, Soekarno.
 Meski ekonomi Indonesia mengalami banyak perbaikan, seperti nilai mata
tukar rupiah yang lebih stabil, namun Indonesia pada masa
pemerintahannya tetap tidak menunjukkan perubahan yang berarti dalam
bidang-bidang lain.
 Popularitas Megawati yang awalnya tinggi di mata masyarakat Indonesia,
menurun seiring dengan waktu. Hal ini ditambah dengan sikapnya yang
jarang berkomunikasi dengan masyarakat sehingga mungkin membuatnya
dianggap sebagai pemimpin yang 'dingin'.
 Megawati menyatakan pemerintahannya berhasil dalam memulihkan
ekonomi Indonesia, dan pada 2004, maju ke Pemilu 2004 dengan harapan
untuk mempertahankan kekuasaannya sebagai presiden.
Pemilihan Umum 2004
 Pada tahun 2004, Indonesia menyelenggarakan pemilu
presiden secara langsung pertamanya. Ujian berat dihadapi
Megawati untuk membuktikan bahwa dirinya masih bisa
diterima mayoritas penduduk Indonesia. Dalam kampanye,
seorang calon dari partai baru bernama Partai Demokrat,
Susilo Bambang Yudhoyono, muncul sebagai saingan yang
hebat baginya.
 Partai Demokrat yang sebelumnya kurang dikenal, menarik
perhatian masyarakat dengan pimpinannya, Yudhoyono, yang
karismatik dan menjanjikan perubahan kepada Indonesia.
Karisma Yudhoyono berhasil menarik hati mayoritas pemilih
dan Demokrat memenangkan pemilu legislatif pada awal 2004
, yang diikuti kemenangan Yudhoyono pada pemilihan
presiden.
 Pemilihan Umum Indonesia 2004 adalah pemilu
pertama yang memungkinkan rakyat untuk memilih
presiden secara langsung, dan cara pemilihannya
benar-benar berbeda dari Pemilu sebelumnya.
 Pada Pemilu ini, rakyat dapat memilih langsung
presiden dan wakil presiden (sebelumnya presiden
dan wakil presiden dipilih oleh MPR yang anggota-
anggotanya dipilih melalui Presiden).
 Selain itu, pada Pemilu ini pemilihan presiden dan
wakil presiden tidak dilakukan secara terpisah
(seperti Pemilu 1999) -- pada Pemilu ini, yang dipilih
adalah pasangan calon (pasangan calon presiden dan
wakil presiden), bukan calon presiden dan calon
wakil presiden secara terpisah.
Peserta Pemilu Legislatif 2004
Pemilu legislatif pada Pemilu 2004 ini diikuti 24 partai politik, yaitu:
 Partai Nasional Indonesia Marhaenisme,
 Partai Buruh Sosial Demokrat,
 Partai Bulan Bintang,
 Partai Merdeka,
 Partai Persatuan Pembangunan,
 Partai Persatuan Demokrasi Kebangsaan,
 Partai Perhimpunan Indonesia Baru,
 Partai Nasional Banteng Kemerdekaan,
 Partai Demokrat,
 Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia,
 Partai Penegak Demokrasi Indonesia,
 Partai Persatuan Nahdlatul Ummah Indonesia,
 Partai Amanat Nasional,
 Partai Karya Peduli Bangsa,
 Partai Kebangkitan Bangsa,
 Partai Keadilan Sejahtera,
 Partai Bintang Reformasi,
 Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan,
 Partai Damai Sejahtera,
 Partai Golongan Karya,
 Partai Patriot Pancasila,
 Partai Sarikat Indonesia,
 Partai Persatuan Daerah,
 Partai Pelopor.
Hasil Pemilu Legislatif 2004
Nomo Nama Partai Politik Jumlah Suara Persen Jumlah Kursi
r Urut

1. PNI Marhaenisme 923.159 0,81% 1

2. Partai Buruh Sosial 636.397 0,56% 0


Demokrat

3. Partai Bulan Bintang 2.970.487 2,62% 11

4. Partai Merdeka 842.541 0,74% 0

5. Partai Persatuan 9.248.764 8,15% 58


Pembangunan

6. Partai Persatuan 1.313.654 1,16% 5


Demokrasi Kebangsaan

7. Partai Perhimpunan 672.952 0,59% 0


Indonesia Baru
8. Partai Nasional Banteng 1.230.455 1,08% 1
Kemerdekaan

9. Partai Demokrat 8.455.225 7,45% 57

10. Partai Keadilan dan 1.424.240 1,26% 1


Persatuan Indonesia

11. Partai Penegak Demokrasi 855.811 0,75% 1


Indonesia

12. Partai Persatuan Nahdlatul 895.610 0,79% 0


Ummah Indonesia

13. Partai Amanat Nasional 7.303.324 6,44% 52

14. Partai Karya Peduli Bangsa 2.399.290 2,11% 2

15. Partai Kebangkitan Bangsa 11.989.564 10,57% 52


16. Partai Keadilan Sejahtera 8.325.020 7,34% 45

17. Partai Bintang Reformasi 2.764.998 2,44% 13

18. Partai Demokrasi Indonesia 21.026.629 18,53 % 109


Perjuangan
19. Partai Damai Sejahtera 2.414.254 2,13% 12

20. Partai Golongan Karya 24.480.757 21,58% 128

21. Partai Patriot Pancasila 1.073.139 0,95% 0

22. Partai Sarikat Indonesia 679.296 0,60% 0

23. Partai Persatuan Daerah 657.916 0,58% 0

24. Partai Pelopor 878.932 0,77% 2

JUMLAH 113.462.414 100,00 % 550


SUARA SAH
Pemilu Presiden Putaran Pertama 2004
 Setelah Pemilu legislatif selesai, partai yang memiliki suara
lebih besar atau sama dengan tiga persen dapat mencalonkan
pasangan calon presiden dan wakil presidennya untuk maju ke
Pemilu presiden putaran pertama. Apabila dalam Pemilu ini
ternyata ada pasangan calon yang memperoleh suara lebih dari
50 persen, maka pasangan calon itu langsung diangkat menjadi
presiden dan wakil presiden.
 Selebihnya, Pemilu presiden putaran kedua akan
diselenggarakan dengan dua pasangan calon dengan suara
terbanyak. Pemilu presiden putaran pertama 2004 ini diikuti
oleh 5 pasangan calon presiden dan wakil presiden, dan telah
diselenggarakan pada tanggal 5 Juli 2004. Hasil pemilu ini
sendiri telah diumumkan pada tanggal 26 Juli 2004, dengan
hasil masih perlu diadakan pemilu presiden putaran kedua
karena belum adanya pasangan calon yang mendapatkan suara
paling tidak 50 persen.
Peserta Pemilu Presiden Putaran Pertama 2004

 Ada lima pasangan calon presiden dan calon wakil presiden


yang dicalonkan di pemilu presiden putaran pertama, yaitu:
 H. Wiranto, SH. dan Ir. H. Salahuddin Wahid (dicalonkan oleh Partai
Golongan Karya),
 Hj. Megawati Soekarnoputri dan KH. Ahmad Hasyim Muzadi
(dicalonkan oleh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan),
 Prof. Dr. HM. Amien Rais dan Dr. Ir. H. Siswono Yudo Husodo
(dicalonkan oleh Partai Amanat Nasional),
 H. Susilo Bambang Yudhoyono dan Drs. H. Muhammad Jusuf Kalla
(dicalonkan oleh Partai Demokrat, Partai Bulan Bintang, dan Partai
Persatuan dan Kesatuan Indonesia),
 Dr. H. Hamzah Haz dan H. Agum Gumelar, M.Sc. (dicalonkan oleh
Partai Persatuan Pembangunan).
Hasil Pemilu Presiden Putaran Pertama 2004
Hasil Pemilu presiden putaran pertama telah selesai dihitung dan telah
diumumkan oleh KPU pada tanggal 26 Juli 2004. Berikut ini adalah hasil
perhitungannya:

No. Nama Capres&Cawapres Jumlah Suara Persentase


1 H. Wiranto, SH.- 26.286.788 22,15%
Ir. H. Salahuddin Wahid
2 Hj. Megawati Soekarnoputri - 31.569.104 26,61%
KH. Ahmad Hasyim Muzadi
3 Prof. Dr. HM. Amien Rais - 17.392.931 14,66%
Dr. Ir. H. Siswono Yudohusodo
4 H. Susilo Bambang Yudhoyono - 39.838.184 33,57%
Drs. H. Muhammad Jusuf Kalla
5 Dr. H. Hamzah Haz – 3.569.861 3,01%
H. Agum Gumelar, M.Sc.
JUMLAH SUARA SAH 119.656.868 100,00%
Pemilu Presiden Putaran Kedua 2004
 Sesuai hasil Pemilu presiden putaran pertama di atas,
yaitu belum ada pasangan calon yang memperoleh
suara lebih dari 50 persen, maka diadakanlah Pemilu
presiden putaran kedua 2004.
 Pasangan-pasangan calon yang mengikuti Pemilu
presiden putaran kedua 2004 ini adalah dua pasangan
calon dengan yang memperoleh suara terbanyak pada
pada Pemilu presiden putaran pertama 2004 yang
lalu.
 Pemilu ini rencananya akan diadakan pada tanggal 20
September 2004.
Hasil Pemilu Presiden Putaran Kedua 2004
Hasil Pemilu presiden putaran kedua telah selesai dihitung dan telah
diumumkan oleh KPU pada tanggal 4 Oktober 2004 melalui
Keputusan KPU nomor 98/SK/KPU/2004. Berikut ini adalah hasil
perhitungannya:

No. Nama Capres &Cawapres Jumlah Persen

2. Hj. Megawati Soekarnoputri 44.990.704 39,38%


KH. Ahmad Hasyim Muzadi

4. H. Susilo Bambang Yudhoyono 69.266.350 60,62%


Drs. H. Muhammad Jusuf Kalla

JUMLAH SUARA SAH 114.257.054 100,00%


 Sesuai dengan hasil pemilu presiden putaran kedua di atas,
maka pasangan calon pemenang Pemilu, yaitu Susilo
Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla, akan menjadi Presiden
dan Wakil Presiden RI.
 Pelantikannya sendiri telah diadakan pada tanggal 20 Oktober
2004 oleh MPR, dalam acara pelantikan yang - untuk pertama
kalinya - dihadiri pemimpin-pemimpin negara sahabat, yaitu:
PM Australia John Howard, PM Singapura Lee Hsien Loong,
PM Malaysia Abdullah Ahmad Badawi, PM Timor Timur
Mari Alkatiri, dan Sultan Brunei Hassanal Bolkiah serta 5
utusan-utusan negara lainnya.
 Dalam sebuah langkah yang kontroversial, presiden
sebelumnya, Megawati Soekarnoputri menolak menghadiri
acara pelantikan tersebut.
 Pada malam hari yang sama, sekitar pukul 23.50 WIB,
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengumumkan anggota
kabinet yang baru, yaitu Kabinet Indonesia Bersatu.
Pemerintahan
Susilo Bambang Yudhoyono
 Pada 2004, pemilu satu hari terbesar di dunia diadakan dan
Susilo Bambang Yudhoyono tampil sebagai presiden baru
Indonesia.
 Pemerintah baru ini pada awal masa kerjanya telah menerima
berbagai cobaan dan tantangan besar, seperti gempa bumi
besar di Aceh dan Nias pada Desember 2004 yang meluluh
lantakkan sebagian dari Aceh serta gempa bumi lain pada awal
2005 yang mengguncang Sumatra.
 Pada 17 Juli 2005, sebuah kesepakatan bersejarah berhasil
dicapai antara pemerintah Indonesia dengan Gerakan Aceh
Merdeka yang bertujuan mengakhiri konflik berkepanjangan
selama 30 tahun di wilayah Aceh.
Gerakan Aceh Merdeka
 Gerakan Aceh Merdeka, atau GAM adalah sebuah organisasi (yang dianggap
separatis) yang memiliki tujuan supaya daerah Aceh atau yang sekarang secara
resmi disebut Nanggroe Aceh Darussalam lepas dari Negara Kesatuan Republik
Indonesia. Konflik antara kedua pihak yang diakibatkan perbedaan keinginan ini
telah berlangsung sejak tahun 1976 dan menyebabkan jatuhnya hampir sekitar
15.000 jiwa. Gerakan ini juga dikenal dengan nama Aceh Sumatra National
Liberation Front (ASNLF).
 GAM dipimpin oleh Hasan di Tiro yang sekarang bermukim di Swedia dan
berkewarganegaraan Swedia.
 Pada 27 Februari 2005, pihak GAM dan pemerintah Indonesia memulai tahap
perundingan di Vantaa, Finlandia. Mantan presiden Finlandia Martti Ahtisaari
berperan sebagai fasilitator.
 Pada 17 Juli 2005, setelah perundingan selama 25 hari, tim perunding Indonesia
berhasil mencapai kesepakatan damai dengan GAM di Vantaa, Helsinki, Finlandia.
Penandatanganan nota kesepakatan damai dilangsungkan pada 15 Agustus 2005.
Proses perdamaian selanjutnya dipantau oleh sebuah tim yang bernama Aceh
Monitoring Mission (AMM) yang beranggotakan lima negara ASEAN dan
beberapa negara yang tergabung dalam Uni Eropa. Di antara poin pentingnya
adalah bahwa pemerintah Indonesia akan turut memfasilitasi pembentukan partai
politik lokal di Aceh dan pemberian amnesti bagi anggota GAM.
 Seluruh senjata GAM yang mencapai 840 pucuk selesai diserahkan kepada AMM
pada 19 Desember 2005. Kemudian pada 27 Desember, GAM melalui juru bicara
militernya, Sofyan Dawood, menyatakan bahwa sayap militer mereka telah
dibubarkan secara formal.
AMM atau Aceh Monitoring Mission
 AMM atau Aceh Monitoring Mission adalah sebuah tim yang dibentuk berdasarkan kesepakatan
antara Pemerintah Republik Indonesia dengan GAM (Gerakan Aceh Merdeka) yang ditandatangani
di Helsinki, Finlandia tanggal 15 Agustus 2005 dan bertugas mulai tanggal 15 September.
 AMM akan bertugas untuk memonitor implementasi dari komitmen yang diambil oleh Pemerintah
Republik Indonesia dengan GAM sehubungan dengan Memorandum of Understanding yang
ditandatangani. AMM adalah misi Uni Eropa yang pertama di Asia dan bentuk kerjasama yang
pertama dengan negara-negara ASEAN. Dengan membentuk AMM, Uni Eropa menekankan
komitmennya untuk proses perdamaian di Aceh yang hancur dalam 30 tahun terakhir akibat konflik
berkepanjangan dan tsunami pada Desember 2004.
 AMM terdiri dari lima negara ASEAN yaitu Brunei Darussalam, Malaysia, Filipina, Singapura dan
Thailand ditambah dengan negara-negara tergabung dalam Uni Eropa antara lain Swiss dan
Norwegia.
 Fungsi AMM antara lain:
 Memonitor demobilisasi GAM dan penghancuran sejata dan amunisinya.
 Memonitor relokasi dari kekuatan militer non-organik dan pasukan polisi non-organik.
 Memonitor reintegrasi anggota aktif GAM.
 Memonitor penegakan situasi hak asasi manusia.
 Memonitor proses penggantian legislatif.
 Menengahi kasus-kasus amnesti yang masih diperdebatkan.
 Menengahi komplain-komplain dan pelanggaran-pelanggaran terhadap MoU.
 Membentuk kerjasama yang baik dengan keduabelah pihak.
 Misi ini bermarkas di Banda Aceh dengan kantor daerah terdistribusi di 11 daerah di Aceh. Diketuai
oleh Pieter Feith, tugas AMM akan berakhir pada 15 Maret 2006. Namun pada tanggal 14 Januari
2006, pemerintah Indonesia kemudian memutuskan untuk memperpanjang masa tugas AMM selama
3 bulan lagi. AMM akhirnya resmi dibubarkan pada 15 Desember 2006 setelah bertugas selama 15
bulan.
Jend. TNI (Purn) Susilo Bambang
Yudhoyono

 Bambang Yudhoyono (lahir 9 September 1949 di Pacitan, Jawa Timur, Indonesia) adalah
pensiunan jenderal militer Indonesia dan Presiden Indonesia ke-6 yang terpilih dalam
pemilihan umum secara langsung oleh rakyat pertama kali. Yudhoyono menang dalam pemilu
presiden September 2004 melalui dua tahapan pemilu presiden Indonesia atas kandidat
Presiden Megawati Sukarnoputri. Ia mulai menjabat pada 20 Oktober 2004 bersama Jusuf
Kalla sebagai Wakil Presiden.
 Yudhoyono yang dipanggil Sus oleh orang tuanya dan populer dengan panggilan SBY lahir di
Pacitan, Jawa Timur pada 9 September 1949). Melalui amandemen UUD 1945 yang
memungkinkan presiden dipilih secara langsung oleh rakyat, ia kemudian terpilih menjadi
Presiden Republik Indonesia pertama pilihan rakyat. Ia menjadi presiden Indonesia keenam
setelah dilantik pada 20 Oktober 2004 bersama Wakil Presiden Jusuf Kalla. Karier militernya
terhenti ketika ia diangkat Presiden Abdurrahman Wahid sebagai Menteri Pertambangan dan
Energi pada tahun 1999 dan tampil sebagai salah seorang pendiri Partai Demokrat. Pangkat
terakhir Susilo Bambang Yudhoyono adalah Jenderal TNI sebelum pensiun pada
25 September 2000.
 Keunggulan suaranya dari Presiden sebelumnya, Megawati Soekarnoputri pada pemilu 2004
membuatnya terpilih sebagai kepala negara Indonesia. Dalam kehidupan pribadinya, Ia
menikah dengan Kristiani Herawati yang merupakan anak perempuan ketiga Jenderal (Purn)
Sarwo Edhi Wibowo (alm), komandan RPKAD (kini Kopassus) yang turut membantu
menumpas Partai Komunis Indonesia (PKI) pada tahun 1965.
Pendidikan:
 Akademi Angkatan Bersenjata RI (Akabri) tahun 1973

 American Language Course, Lackland, Texas AS, 1976

 Airbone and Ranger Course, Fort Benning , AS, 1976

 Infantry Officer Advanced Course, Fort Benning, AS, 1982-1983

 On the job training di 82-nd Airbone Division, Fort Bragg, AS, 1983

 Jungle Warfare School, Panama, 1983

 Kursus Senjata Antitank di Belgia dan Jerman, 1984

 Kursus Komando Batalyon, 1985

 Sekolah Komando Angkatan Darat, 1988-1989

 Command and General Staff College, Fort Leavenwort, Kansas, AS

 Master of Art (MA) dari Management Webster University, Missouri, AS

 Doktor dalam bidang Ekonomi Pertanian dari Institut Pertanian Bogor


(IPB), tahun 2004.
Karier Politik
 Tampil sebagai juru bicara Fraksi ABRI menjelang Sidang Umum MPR 1998 yang
dilaksanakan pada 9 Maret 1998 dan Ketua Fraksi ABRI MPR dalam Sidang Istimewa
MPR 1998. Pada 29 Oktober 1999, ia diangkat sebagai Menteri Pertambangan dan Energi di
pemerintahan pimpinan Presiden Abdurrahman Wahid. Setahun kemudian, tepatnya 26
Oktober 1999, ia dilantik sebagai Menteri Koordinator Politik, Sosial, dan Keamanan (Menko
Polsoskam) sebagai konsekuensi penyusunan kembali kabinet Abdurrahman Wahid.
 Dengan keluarnya Maklumat Presiden pada 28 Mei 2001 pukul 12.00 WIB, Menko
Polsoskam ditugaskan untuk mengambil langkah-langkah khusus mengatasi krisis,
menegakkan ketertiban, keamanan, dan hukum secepat-cepatnya lantaran situasi politik
darurat yang dihadapi pimpinan pemerintahan. Saat itu, Menko Polsoskam sebagai pemegang
mandat menerjemahkan situasi politik darurat tidak sama dengan keadaan darurat sebagaimana
yang ada dalam Undang-undang Nomor 23 tahun 1959.
 Belum genap satu tahun menjabat Menko Polsoskam atau lima hari setelah memegang mandat,
ia didesak mundur pada 1 Juni 2001 oleh pemberi mandat karena ketegangan politik antara
Presiden Abdurrahman Wahid dan DPR. Jabatan pengganti sebagai Menteri Dalam Negeri
atau Menteri Perhubungan yang ditawarkan presiden tidak pernah diterimanya.
 Kabinet Gotong Royong pimpinan Presiden Megawati Soekarnoputri melantiknya sebagai
Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) pada 10 Agustus 2001.
Merasa tidak dipercaya lagi oleh presiden, jabatan Menko Polkam ditinggalkannya pada 11
Maret 2004. Berdirinya Partai Demokrat pada 9 September 2002 menguatkan namanya untuk
mencapai kerier politik puncak. Ketika Partai Demokrat dideklarasikan pada 17 Oktober 2002,
namanya dicalonkan menjadi presiden dalam pemilu presiden 2004.
 Setelah mengundurkan diri dari jabatan Menko Polkam dan sejalan dengan masa kampanye
pemilu legislatif 2004, ia secara resmi berada dalam koridor Partai Demokrat. Keberadaannya
dalam Partai Demokrat menuai sukses dalam pemilu legislatif dengan meraih 7,45 persen
suara. Pada 10 Mei 2004, tiga partai politik yaitu Partai Demokrat, Partai Keadilan dan
Persatuan Indonesia, dan Partai Bulan Bintang secara resmi mencalonkannya sebagai presiden
dan berpasangan dengan kandidat wakil presiden Jusuf Kalla.