Anda di halaman 1dari 19

FOKUS GROUP VI HARFAH MASADY NIA TANIA AHMAD ARIF RAHMAN ROHMIYATI NELI SUHARTI YANURI SETYADI

Definisi

Umum : Cara penanggulangan penyakit yang dilakukan sebagai pendukung kepada Pengobatan Medis Konvensional atau sebagai Pengobatan Pilihan lain diluar Pengobatan Medis yang Konvensional.
WHO : pengobatan non-konvensional yang bukan berasal dari negara yang bersangkutan. Jadi untuk Indonesia, jamu misalnya, bukan termasuk pengobatan komplementer tetapi merupakan pengobatan tradisional

Gue sembuh Berkat terapi komplementer lho,,

tubuh kita mempunyai kemampuan untuk menyembuhkan dirinya sendiri

Sistem Kekebalan dan Pertahanan Tubuh

Terapi Komplementer

akupuntur chiropractic pijat refleksi yoga tanaman obat/ herbal

homeopati, naturopati terapi polaritas atau reiki teknik-teknik relaksasi hipnoterapi, meditasi, visualisasi.

Obat- obat yang digunakan :

Bersifat natural/ : mengambil bahan dari alam, seperti jamu-jamuan, rempah yang sudah dikenal (jahe, kunyit, temu lawak dan sebagainya), sampai bahan yang dirahasiakan.
Pendekatan lain seperti menggunakan energi tertentu yang mampu mempercepat proses penyembuhan, hingga menggunakan doa tertentu yang diyakini secara spiritual memiliki kekuatan penyembuhan.

Beberapa jenis terapi komplementer yang dikenal pada saat ini antara lain:
Praktek-praktek penyembukan tradisional seperti ayurweda

dan akupuntur. Terapi fisik seperti chiropractic, pijat, dan yoga. Homeopati atau jamu-jamuan. Pemanfaatan energi seperti terapi polaritas atau reiki Teknik-teknik relaksasi, termasuk meditasi dan visualisasi. Suplemen diet, seperti vitamin dan mineral

Intervensi tubuh dan pikiran (mind and body interventions) : Hipnoterapi, mediasi, penyembuhan spiritual, doa dan yoga Sistem pelayanan pengobatan alternatif : akupuntur, akupresur, naturopati, homeopati, aromaterapi, ayurveda Cara penyembuhan manual : chiropractice, healing touch, tuina, shiatsu, osteopati, pijat urut Pengobatan farmakologi dan biologi : jamu, herbal, gurah Diet dan nutrisi untuk pencegahan dan pengobatan : diet makro nutrient, mikro nutrient Cara lain dalam diagnosa dan pengobatan : terapi ozon, hiperbarik

Di Indonesia hasil pengobatan komplementer tradisional alternatif sudah banyak dilakukan selama lebih dari satu dekade dan dijadikan bahan analisis, kajian,dan penentuan kebijakan lebih lanjut tentang keamanan dan efektivitas pengobatan komplementer tradisional alternatif. Berdasarkan hasil Survey Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) tentang penggunaan pengobatan tradisional termasuk di dalamnya pengobatan komplementer alternatif yang meningkat dari tahun ke tahun, bahkan hasil penelitian tahun 2010 telah digunakan oleh 40 % dari penduduk Indonesia.

Peraturan Menteri Kesehatan mendefiniskani pengobatan komplementer adalah pengobatan non konvensional yang ditujukan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat meliputi upaya promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif yang diperoleh melalui pendidikan terstruktur dengan kualitas, keamanan dan efektifitas yang tinggi berlandaskan ilmu pengetahuan biomedik.

RS Kanker Dharmais Jakarta RSUP Persahabatan Jakarta RSUD Dr. Soetomo Surabaya RSUP Prof. Dr. Kandau Menado RSUP Sanglah Denpasar RSUP Dr. Wahidin Sudiro Husodo Makassar RS TNI AL Mintoharjo Jakarta

RSUD Dr. Pringadi Medan RSUD Saiful Anwar Malang RS Orthopedi Prof. Dr. R. Soeharso Solo RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta RSUP Dr. Suraji Tirtonegoro Klaten.

Akupunktur medik yang dilakukan oleh dokter umum berdasarkan kompetensinya. Metode yang berasal dari Cina ini diperkirakan sangat bermanfaat dalam mengatasi berbagai kondisi kesehatan tertentu dan juga sebagai analgesi (pereda nyeri). Cara kerjanya adalah dengan mengaktivasi berbagai molekul signal yang berperan sebagai komunikasi antar sel. Salah satu pelepasan molekul tersebut adalah pelepasan endorphin yang banyak berperan pada sistem tubuh.
Terapi hiperbarik, yaitu suatu metode terapi dimana pasien dimasukkan ke dalam sebuah ruangan yang memiliki tekanan udara 2 3 kali lebih besar daripada tekanan udara atmosfer normal (1 atmosfer), lalu diberi pernapasan oksigen murni (100%). Selama terapi, pasien boleh membaca, minum, atau makan untuk menghindari trauma pada telinga akibat tingginya tekanan udara. Terapi herbal medik, yaitu terapi dengan menggunakan obat bahan alam, baik berupa herbal terstandar dalam kegiatan pelayanan penelitian maupun berupa fitofarmaka. Herbal terstandar yaitu herbal yang telah melalui uji preklinik pada cell line atau hewan coba, baik terhadap keamanan maupun efektivitasnya.

Selama lebih dari satu decade perkembangan terapi komplementer di Indonesia, kendala yang biasa ditemui antara lain:

Terapi komplementer belum menjadi program prioritas dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan. Belum memadainya regulasi yang mendukung pelayanan kesehatan komplementer Masih lemahnya pembinaan dan pengawasan Terbatasnya kemampuan tenaga kesehatan dalam melakukan bimbingan Masih terbatasnya pengembangan program Pelayanan Kesehatan Komplementer di Pusat dan Daerah Terbatasnya anggaran yang tersedia untuk Pelayanan Kesehatan Komplementer Fungsi SP3T dalam penapisan Pelayanan Kesehatan Komplementer belum berjalan sesuai harapan

Undang-Undang RI No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan

Pasal 1 butir 16 Pelayanan kesehatan tradisional adalah pengobatan dan atau perawatan dengan cara dan obat yang mengacu pada pengalaman dan keterampilan turun temurun secara empiris yang dapat dipertanggung jawabkan dan diterapkan sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat Pasal 48 Pelayanan kesehatan tradisional Bab III Pasal 59 s/d 61 tentang Pelayanan Kesehatan Tradisonal

Peraturan Menteri Kesehatan RI, No. : 1076/Menkes/SK/2003 tentang pengobatan tradisional.

Peraturan Menteri Kesehatan RI, No. : 1109/Menkes/Per/IX/2007 tentang penyelenggaraan pengobatan komplementer-alternatif di fasilitas pelayanan kesehatan.
Keputusan Menteri Kesehatan RI, No. 120/Menkes/SK/II/2008 tentang standar pelayanan hiperbarik. Keputusan Direktur Jenderal Bina Pelayanan Medik, No. HK.03.05/I/199/2010 tentang pedoman kriteria penetepan metode pengobatan komplementer alternatif yang dapat diintegrasikan di fasilitas pelayanan kesehatan

Penyusunan sistem pelayanan pengobatan non konvensional untuk menata seluruh stakeholders yang terkait dalam penyelenggaraan pengobatan komplementer tradisionalalternatif Penyusunan formularian vadenicum pengobatan herbal yang dapat digunakan sebagai pedoman bagi dokter/dokter gigi menuliskan resep (Physicians Desk Reference) sebagai penyempurnaan daftar obat herbal asli Indonesia jamu / tanaman obat yang telah dikeluarkan oleh Badan POM dan Direktorat Jenderal Bina Pelayanan Farmasi

Penyusunan Pedoman / Panduan dan Standar Pelayanan Komplementer Tradisional Alternatif antara lain : hipnoterapi, naturopi
Mengembangkan RS dalam pelayanan pengobatan dan penelitian pelayanan komplementer tradisional alternatif jamu dan herbal / tanaman asli Indonesia bekerja sama dengan : Lintas Program Terkait : Badan Litbangkes, Direktorat Jenderal Pelayanan Farmasi, Badan PPSDM - Lintas Sektor Terkait : Balai POM, LIPI, Kemenristek, Universitas Menetapkan Kelompok Kerja Komplementer Tradisional Alternatif dengan Surat Keputusan Menteri Kesehatan

Perawat merupakan profesi kesehatan yang merawat pasien dengan melakukan pendekatan secara holistik (bio, psiko, sosio, kultural, spiritual). Dan terapi komplementer ini juga dianggap sebagai terapi dengan pendekatan holistik karena berusaha menyembuhkan pasien dengan memandang dari berbagai sudut dan beraneka aspek kehidupan pasien.
Terapi komplementer sekarang ini telah banyak dikembangkan dan dapat hidup berdampingan dengan pengobatan modern/ konvensional, sebagai contoh adalah Rumah Sakit Umum Dr Soetomo Surabaya, Jawa Timur, yang membuka Poliklinik Obat Tradisional Indonesia. Menurut Djarot Sudiro, herbalog di poliklinik itu,yang telah dirintis sejak 1999, berbagai metode pengobatan komplementer ditawarkan di poliklinik tersebut, dari terapi herbal, pijat aromatherapy, hingga akupunktur.

Pemerintah telah mengeluarkan standarisasi, dan untuk masa yang datang akan ada system yang lebih mapan dalam mengatur, dan mengawasi secara lebih gamblang dan baku yang memuat perlindungan hukum bagi masyarakat, termasuk tentang standarisasi tenaga pelaksana dan pendidikan yang harus ditempuh sebagai syarat dalam menyelenggarakan terapi komplementer.

Oleh karena itu, perawat sebagai salah satu tenaga kesehatan di Indonesia harus segera melakukan jemput bola agar dapat berperan dalam penyelenggaraan terapi ini. Terutama pada institusi pendidikan keperawatan harus jeli dalam menangkap peluang yang terdapat dalam isu etik terapi komplementer ini dengan mengakomodir dalam pembelajaran (setelah melalui standarisasi kurikulum pendidikan keperawatan terpadu) serta sebagai bahan kajian diskusi ilmiah dan penelitian berkelanjutan dengan didukung pula upaya- upaya strategis oleh organisasi profesi.

Terapi komplementer ini sangat perlu untuk menjadi bahan kajian dunia keperawatan, terutama di bidang keperawatan komunitas. Idealnya dapat masuk dalam kurikulum pembelajaran. Namun para pengajar tentunya tidak serta merta mengajarkan semua jenis terapi komplementer tanpa didasari kajian ilmiah yang jelas dan hasil-hasil penelitian yang terpercaya. Sehingga diperlukan pengaturan sistem kurikulum yang terprogram dari seluruh instansi keperawatan agar tidak terjadi perbedaan pemahaman dalam pengajaran terapi komplenter tersebut.

Diskusi- diskusi tentang terapi komplementer ini harus terus dikembangkan di dunia keperawatan yang melibatkan unsur ahli terapi komplementer dari segi praktik, akademisi/ dosen secara teori, pengambil kebijakan, organisasi profesi, dan unsur- unsur terkait lainnya. Selain itu, untuk menunjang terapi ini diperlukan juga penelitian berkelanjutan, sehingga perawat selain menggali keilmuan klinik diharapkan juga dibekali dengan ilmu riset/ penelitian. Kita semua berharap bahwa ilmu keperawatan akan terus berkembang dan diikuti pula oleh peluang- peluang yang dapat dibidik di dalamnya.