Anda di halaman 1dari 17

ATRESIA ANI

DISUSUN OLEH : ETIKA VIRA (P17420209011) KUKUH PAMBUDI (P17420209020) PRISKA ANGGIRI (P17420209032)

PENGERTIAN
Atresia Ani adalah kelainan kongenital yang dikenal sebagai anus imperforate meliputi anus, rectum atau keduanya (Betz. Ed 3 tahun 2002). Atresia ani adalah tidak lengkapnya perkembangan embrionik pada distal anus atau tertutupnya anus secara abnormal (Suriadi,2001). Atresia ani memiliki nama lain yaitu anus imperforata. Jika atresia terjadi maka hampir selalu memerlukan tindakan operasi untuk membuat saluran seperti keadaan normalnya Jadi, atresia ani merupakan kelainan congenital tidak adanya lubang atau saluran anus.

ETIOLOGI
Atresia dapat disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain: 1. Putusnya saluran pencernaan dari atas dengan daerah dubur sehingga bayi lahir tanpa lubang dubur. 2. Kegagalan pertumbuhan saat bayi dalam kandungan berusia 12 minggu/3 bulan. 3. Adanya gangguan atau berhentinya perkembangan embriologik didaerah usus, rektum bagian distal serta traktus urogenitalis, yang terjadi antara minggu keempat sampai keenam usia kehamilan.

PATHOFISIOLOGI
Terjadinya anus imperforata karena kelainan congenital dimana saat proses perkembangan embrionik tidak lengkap pada proses perkembangan anus dan rectum. Dalam perkembangan selanjutnya ujung ekor dari belakang berkembang jadi kloaka yang juga akan berkembang jadi genitor urinary dan struktur anoretal. Atresia ani ini terjadi karena tidak sempurnanya migrasi dan perkembangan kolon antara 7-10 minggu selama perkembangan janin. Kegagalan tersebut terjadi karena abnormalitas pada daerah uterus dan vagina, atau juga pada proses obstruksi. Anus imperforate ini terjadi karena tidak adanya pembukaan usus besar yang keluar anus sehingga menyebabkan feses tidak dapat dikeluarkan. Manifestasi klinis diakibatkan adanya obstruksi dan adanya 'fistula. Obstuksi ini mengakibatkan distensi abdomen, sekuestrasi cairan, muntah dengan segala akibatnya Apabila urin mengalir melalui fistel menuju rektum, maka urin akan diabsorbsi sehingga terjadi asidosis hiperchloremia, sebaliknya feses mengalir kearah traktus urinarius menyebabkan infeksi berulang. Pada keadaan ini biasanya akan terbentuk fistula antara rectum dengan organ sekitarnya. Pada wanita 90% dengan fistula ke vagina (rektovagina) atau perineum (rektovestibuler). Pada lakilaki biasanya letak tinggi, umumnya fistula menuju ke vesika urinaria atau ke prostate (rektovesika) pada letak rendah fistula menuju ke urethra (rektourethralis).

PATHWAY

MANIFESTASI KLINIS
Menurut Betz. Ed 7. 2002 gambaran klinis dari atresia ani, yaitu : 1. Mekonium tidak keluar dalam 24 jam pertama setelah kelahiran. 2. Tidak dapat dilakukan pengukuran suhu rectal pada bayi. 3. Mekonium keluar melalui sebuah fistula atau anus yang salah letaknya. 4. Distensi bertahap dan adanya tanda-tanda obstruksi usus (bila tidak ada fistula). 5. Bayi muntah-muntah pada umur 24-48 jam. 6. Pada pemeriksaan rectal touch terdapat adanya membran anal. 7. Perut kembung.

KLASIFIKASI
Menurut Ladd dan Gross (1966) anus imperforata dalam 4 golongan, yaitu: 1. Stenosis rektum yang lebih rendah atau pada anus. 2. Membran anus yang menetap. 3. Anus imperforata dan ujung rektum yang buntu terletak pada bermacam-macam jarak dari peritoneum. 4. Lubing anus yang terpisah dengan ujung.

KOMPLIKASI
Menurut Ngastiyah, 1997 : 248, komplikasi yang dapat terjadi pada penderita atresia ani antara lain :
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7.

8. 9. 10.

Asidosis hiperkioremia. Infeksi saluran kemih yang bisa berkepanjangan. Kerusakan uretra (akibat prosedur bedah). Komplikasi jangka panjang. Eversi mukosa anal. Stenosis (akibat kontriksi jaringan perut dianastomosis).a Masalah atau kelambatan yang berhubungan dengan toilet training. Inkontinensia (akibat stenosis awal atau impaksi). Prolaps mukosa anorektal. Fistula kambuan (karena ketegangan diare pembedahan dan infeksi).

PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. 2. 3. 4. 5.

Pemeriksaan rectal Pemeriksaan radiologis Pemeriksaan urin Pemeriksaan sinyal X lateral infeksi Ultrasond terhadapp abdomen

PENATALAKSANAAN
1. 2.

Eksisi membran anal Fistula, yaitu dengan melakukan kolostomi sementara dan setelah umur 3 bulan dilakukan koreksi sekaligus.

ASUHAN KEPERAWATAN
1. a. b. c.

PENGKAJIAN Identitas klien Identitas Penanggungjawab Riwayat keperawatan 1) 2) 3) Keluhan utama dan keluhan tambahan Riwayat keperawatan/kesehatan sekarang Riwayat kesehatan masa lalu

d.

Riwayat psikologis Koping keluarga dalam menghadapi masalah Riwayat tumbuh kembang 1) BB lahir abnormal 2) Kemampuan motorik halus, motorik kasar, kognitif dan tumbuh kembang pernah mengalami trauma saat sakit 3) 4) Sakit kehamilan mengalami infeksi intrapartal Sakit kehamilan tidak keluar mekonium Riwayat sosial Hubungan sosial Pemeriksaan fisik

e.

f.

g.

DIAGNOSA KEPERAWATAN
Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada kasus dengan atresia ani, atara lain : 1. Gangguan rasa nyaman, nyeri berhubungan dengan proses penyakit 2. Resiko nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual, muntah, anoreksia 3. Nyeri berhubungan dengan trauma jaringan post operasi (Kolostomi) 4. Resiko tinggi kerusakan integritas kulit berhubungan dengan perubahan pola defekasi, pengeluaran tidak terkontrol

INTERVENSI

1. GANGGUAN RASA NYAMAN, NYERI BERHUBUNGAN


DENGAN PROSES PENYAKIT
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam pasien merasa nyaman dengan kriteria hasil : Nyeri berkurang Pasien merasa tenang Intervensi : Kaji tingkat nyeri yang dirasakan pasien Rasional : Mengetahui berat nyeri yang dialami pasien. Ajarkan teknik relaksasi distraksi Rasional : Membantu mengurangi rasa nyeri. Berikan posisi yang nyaman pada pasien Rasional : Posisi yang nyaman dapat mengurangi rasa nyeri klien. Jelaskan penyebab nyeri dan awasi perubahan kejadian Rasional : Pasien memiliki pemahaman tentang nyeri yang dialami Kolaborasi pemberian obat analgesik sesuai indikasi Rasional : Analgesik merupakan terapi obat untuk mengurangi nyeri.

2. RESIKO NUTRISI KURANG DARI KEBUTUHAN BERHUBUNGAN DENGAN MUAL, MUNTAH, ANOREKSIA
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam tidak terjadi kekurangan nutrisi dengan kriteria hasil : Pasien tidak mengalami penurunan berat badan Turgor pasien baik Pasien tidak mual, muntah Nafsu makan bertambah Intervensi : Kaji status nutrisi pasien Rasional : Mengetahui status nutrisi pasien. Timbang berat badan pasien Rasional : Mengetahui asupan nutrisi pasien Catat frekuensi mual, muntah pasien Rasional : Memvalidasi mual dan muntah Catat intake nutrisi pasien Rasional : mengetahui intake nutrisi pasien secara valid Beri motivasi pasien untuk meningkatkan asupan nutrisi Rasional : Untuk mencukupi kebutuhan nutrisi Kolaborasi dengan ahli gizi dalam pengaturan menu Rasional : Dapat menentukan gizi makanan yang tepat bagi pasien

3. NYERI BERHUBUNGAN DENGAN TRAUMA JARINGAN POST OPERASI (KOLOSTOMI)


Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam pertama nyeri berkurang dengan kriteria hasil : Nyeri berkurang Pasien merasa tenang Tidak ada perubahan tanda vital Intervensi : Kaji tingkat nyeri yang dirasakan pasien Rasional : Mengetahui berat nyeri yang dirasakan pasien. Berikan penjelasan pada keluarga pasien tentang nyeri yang terjadi. Rasional : Keluarga pasien memahami penyebab nyeri. Berikan tindakan kenyamanan, yakinkan pada pasien bahwa perubahan posisi tidak menciderai stoma Rasional : Mengurangi resiko yang mencederai stoma pada kolostomi. Ajarkan teknik relaksasi, distraksi Rasional : Membantu mengurangi rasa nyeri. Bantu melakukan latihan rentang gerak Rasional : Agar pasien tidak kaku. Awasi adanya kekakuan otot abdominal Rasional : Kolaborasi pemberian analgetik Rasional : Analgetik merupakan terapi obat untuk mengurangi nyeri.

4. RESIKO TINGGI KERUSAKAN INTEGRITAS KULIT BERHUBUNGAN DENGAN PERUBAHAN POLA DEFEKASI, PENGELUARAN TIDAK
TERKONTROL
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3 x 24 jam pertama tidak terjadi kerusakan integritas kulit dengan kriteria hasil :

Mempertahankan integritas kulit Tidak terdapat tanda-tanda kerusakan integritas kulit Mengindentifisikasi faktor resiko individu

Intervensi :

Lihat stoma/area kulit peristomal pada setiap penggantian kantong Rasional : Untuk engetahui kondisi kulit pasien apakah ada kerusakan kulit atau tidak. Ukur stoma secara periodik misalnya tiap perubahan kantong Rasional : Menentukan ukuran pada stoma. Berikan perlindungan kulit yang efektif dan bersihkan kantong kolostomy. Rasional : Dapat memberikan kenyamanan bagi klien. Kosongkan irigasi dan kebersihan dengan rutin Rasional : Menjaga hygiene dan kenyamanan pasien. Awasi adanya rasa gatal disekitar stoma Rasional : Adanya gatal pada stoma dapat disebabkan oleh alergi karena ketidakcocokan kantong. Kolaborasi dengan ahli terapi Rasional : Menentukan program terapi yang tepat bagi pasien