Anda di halaman 1dari 24

KONTAP WANITA

Aditya Antony Iis Prihastuti Kuat Prasetyo Kukuh Pambudi Maritha Wahyu R Siti Solikhah

(P17420209001) (P17420209015) (P17420209019) (P17420209020) (P17420209025) (P17420209039)

KONTAP (Kontrasepsi Mantap)


Kontrasepsi mantap (kontap ) adalah suatu tindakan untuk membatasi keturunan dalam jangka waktu yang tidak terbatas dan dilakukan terhadap salah seorang dari pasangan suami isteri atas permintaan yang bersangkutan secara mantap dan sukarela. Kontap dapat diikuti baik oleh wanita maupun pria. Nama lain dari kontap adalah sterilisasi (sterilization) atau kontrasepsi operatif(surgical contraception).

KONTAP PADA WANITA


Tindakan kontap pada wanita disebut kontap wanita atau MOW (Metoda Operasi Wanita ). Kontrasepsi mantap pada wanita atau MOW (Metoda Operasi Wanita) atau tubektomi, yaitu tindakan pengikatan dan pemotongan saluran telur agar sel telur tidak dapat dibuahi oleh sperma. Tubektomi adalah prosedur bedah sukarela untuk menghentikan fertilitas (kesuburan) seorang perempuan secara permanen (Saifuddin, 2003).

CARA TINDAKAN
Tubektomi (MOW) menyebabkan perjalanan sel telur terhambat karena saluran sel telur tertutup. Pada prinsipnya tubektomi dilakukan dengan membuat buntu atau oklusi tuba uterine. Ada 4 cara tindakan untuk mencapai tuba uterina yaitu laparatomi biasa, laparotomi mini, kolpotomi dan laparoskopi : a. Laparatomi Biasa b. Laparatomi Mini c. Kolpotomi Kolpotomi ada dua jenis yaitu: 1. Kolpotomi posterior(culdotomy) 2. Kolpotomi anterior d. Laparoskopi

CARA TINDAKAN
Cara oklusi tuba falopii adalah dengan ligasi tuba falopii. Ligasi atau pengikatan tuba falopii untuik mencegah perjalanan dan pertemuan spermatozoa dan ovum . tekhnik ligasi tuba falopii antara lain:
1. 2. 3. 4. 5. Ligasi biasa Ligasi + penejepitan tuba fallopi Ligasi + pembelahan /pembagian + penanaman Ligasi + reseksi tuba fallopi Ligasi + reseksi penanaman tuba fallopi

KEUNTUNGAN
Secara umum keuntungan kontap wanita dibandingkan dengan kontrasepsi lain adalah : 1. 2. 3. 4. Lebih aman, karena keluhan lebih sedikit dibandingkan dengan cara kontrasepsi lain Lebih praktis, karena hanya memerlukan satu kali tindakan saja Lebih efektif, karena tingkat kegagalannya sangat kecil dan merupakan cara kontrasepsi yang permanen Lebih ekonomis, karena hanya memrlukan biaya untuk satu kali tindakan saja Secara khusus keuntungan kontap wanita adalah : 1. 2. 3. 4. 5. 6. Sangat efektif dan permanen Dapat mencegah kehamilan lebih dari 99% Tidak ada efek samping dalam jangka panjang Tidak mempengaruhi proses menyusui Pembedahan sederhana, dapat dilakukan dengan anestesi local Tidak menggangu hubungan seksual

KERUGIAN
1. Rasa sakit/ketidak nyamanan dalam jangka pendek setelah tindakan 2. Ada kemungkinan mengalami resiko pembedahan 3. Klien dapat menyesal dikemudian hari 4. Risiko komplikasi kecil (meningkat bila digunakan anestesi umum) 5. Rasa sakit atau ketidaknyamanan dalam jangka pendek setelah tindakan 6. Dilakukan oleh dokter yang terlatih 7. Tidak melindungi diri dari Infeksi Menular Seksual (IMS)

SYARAT
1. Sukarela 2. Bahagia 3. Kesehatan

WANITA YANG DAPAT MENJALANI


1. Usia lebih dari 26 tahun 2. Sudah punya anak cukup (2 anak), ank terkecil harus berusia minimal 5 (lima) tahun 3. Yakin telah mempunyai keluarga yag sesuai dengan kehendaknya 4. Pada kehamilannya akan menimbulkan risiko kesehatan yang serius 5. Ibu pascapersalinan 6. Ibu pasca keguguran

WANITA YANG SEBAIKNYA TIDAK MENJALANI


1. Hamil (sudah terdeteksi atau dicurigai) 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Menderita tekanan darh tinggi Kencing manis (diabetes) Penyakit jantung Penyakit paru-paru Perdarahan vaginal yang belum terjelaskan (hingga harus dievaluasi) Infeksi sistemik atau pelvik yang akut (hingga masalah itu disembuhkan atau dikontrol) Ibu yang tidak boleh menjalani pembedahan Kurang pati mengenai keinginannya untuk fertilisasi di masa depan

10. Belum memberikan persetujuan tertulis

WAKTU PELAKSANAAN
1. Setiap waktu selama siklus menstruasi apabila diyakini secara rasional klien tersebut tidak hamil 2. Hari ke-6 hingga ke-13 dari siklus menstruasi 3. Pascapersalinan - Minilap: di dalam waktu 2 hari atau setelah 6 minggu atau 12 minggu - Laparoskopi: tidak tepat unntuk klie-klien pasca persalinan 4. Pasca keguguran Triwulan pertama: dalam wakru 7 hari sepanjang tidak ada bukti infeksi pelvik) minilap atau laparoskopi) - Triwulan kedua: dalam waktu 7 hari sepanjang tidak ada bukti infeksi pelvik (minilap saja)

TEMPAT PELAYANAN

Rumah sakit Jika ada keluhan, pemakai harus ke Rumah Sakit

PERSIAPAN SEBELUM TINDAKAN


Hal-hal yang perlu dilakukan oleh calon peserta kontap wanita adalah: 1. Puasa mulai tengah malam sebelum operasi, atau sekurang-kurangnya 6 jam sebelum operasi. Bagi calon akseptor yang menderita Maag (kelaianan lambung agar makan obat maag sebelum dan sesudah puasa 2. Mandi dan membersihkan daerah kemaluan dengan sabun mandi sampai bersih, dan juga daerah perut bagian bawah 3. Tidak memakai perhiasan, kosmetik, cat kuku, dll 4. Membawa surat persetujuan dari suami yang sudah ditandatangani atau di cap jempol 5. Menjelang operasi harus kencing terlebih dahulu 6. Datang ke rumah sakit tepat pada waktunya, dengan ditemani anggota keluarga; sebaiknya suami.

PERAWATAN SETELAH TINDAKAN


1. Istirahat selama 1-2 hari dan hindarkan kerja berat selama 7 hari 2. Kebersihan harus dijaga terutama daerah luka operasi jangan sampai terkena air selama 1 minggu (sampai benar -benar kering) 3. Makanlah obat yang diberikan dokter secara teratur sesuai petunjuk 4. Senggama boleh dilakukan setelah 1 minggu, yaitu setelah luka operasi kering. Tetapi bila tubektomi dilaksanakan setelahmelahirkan atau kegugurang, senggama baru boleh dilakukan setelah 40 hari

ASUHAN KEPERAWATAN

PENGKAJIAN
A. Identifikasi pasien dan penanggung jawab B. Keluhan utama Penderita datang pada tanggal..jam.ingin menjadi akseptor KB kontap ( tubektomi ) C. Riwayat KB Riwayat KB sebelumnya yang digunakan D. Riwayat penyakit dahulu Penyakit keturunan, menular dan berat E. Riwayat keluarga Penyakit keturunan, menular, dan berat F. Riwayat haid Menarche, lama haid, siklus, banyaknya, dismenorhea, keputihan G. Riwayat perkawinan Umur waktu perkawinan, berapa kali, berapa lama

H. Riwayat psikososial Ketidaktahuan ibu tentang kontrasepsi ( tubektomi ) I. Kebiasaan sehari hari Nutrisi, eliminasi, PH, istirahat, tidur, spiritual J. Pemeriksaan fisik 1.) System kardiovaskular : untuk mengetahui tanda tanda vital, ada tidaknya distensi vena jugularis, edema, dan kelainan bunyi jantung 2.) System hematologi : untuk mengetahui ada tidaknya peningkatan leukosit yang merupakan tanda adanya infeksi dan perdarahan, mimisan, splenomegali. 3.) System urogenital : ada tidaknya ketegangan kandung kemih dan keluhan sakit pinggang . 4.) System musculoskeletal : untuk mengetahui ada tidaknya kesulitan dalam pergerakan, sakit pada tulang sendi, dan terdapat fraktur atau tidak. K. Pemeriksaan penunjang 1.) Pemeriksaan darah rutin : untuk mengetahui adanya peningkatan leukosit yang merupakan tanda adanya infeksi 2.)Pemeriksaan foto abdomen : untuk mengetahui adanya komplikasi pasca bedah.

DIAGNOSA KEPERAWATAN
A. Nyeri akut berhubungan dengan luka insisi pada abdomen bawah post operasi tubektomi B. Intoleransi Aktivitas berhubungan dengan pembatasan gerak sekunder terhadap nyeri C. Resiko Tinggi infeksi berhubungan dengan prosedur invasive tubektomi

A. Nyeri akut b.d luka insisi pada abdomen bawah post operasi tubektomi.
Tujuan : nyeri berkurang atau hilang Kriteria hasil : tampak rilek dan dapat tidur dengan tepat Intervensi : 1. Kaji skala nyeri, lokasi, karakteristik, dan laporkan perubahan nyeri. R : untuk mengetahui tingkat nyeri pasien. 2. Pertahankan istirahat dengan posisi semifowler. R : berguna dalam pengawasan dan keefisien obat, kemajuan penyembuhan, perubahan, dan karakteristik nyeri. 3. Berikan aktivitas hiburan. R : meningkatkan relaksasi. 4. Kolaborasi tim dokter dalam pemberian analgetik. R : menghilangkan nyeri.

B. Intoleransi aktivitas b.d perilaku pembatasan gerak sekunder terhadap nyeri.


Tujuan : toleransi aktivitas Kriteria hasil : 1. klien dapat bergerak tanpa pembataan 2. Tidak berhati-hati dalam bergerak Intervensi : 1. Catat respon emosi terhadap mobilitas. R : untuk mendeteksi secara dini gejala awal terjadinya infeksi. 2. Berikan aktivitas sesuai dengan keadaan klien. R : menghindari resiko cidera. 3. Berikan klien untuk latihan gerak pasif dan aktif. R : memperbaiki mekanika tubuh. 4. Bantu klien dalam melakukan aktivitas yang memberatkan. R : menghindari hal yang dapat memperparah keadaan.

C. Resiko tinggi infeksi b.d prosedur invasive tubektomi.


Tujuan : infeksi tidak terjadi Kriteria hasil : tidak terdapat tanda-tanda infeksi dan peradangan Intervensi : 1. Ukur tanda vital. R: untuk mendeteksi secara dini gejala awal terjadinya infeksi 2. Observasi tanda-tanda infeksi. R : deteksi dini terhadap infeksi akan mudah. 3. Lakukan perawatan luka dengan menggunakan prinsip septik dan aseptik. R : menurunkan terjadinya resiko infeksi dan poenyebaran infeksi. 4. Observasi luka insisi. R : memberikan deteksi dini terhadap infeksi dan perkembangan luka.

LAPARASKOPI TUBEKTOMI

Gambar Teknik Pomeroy

Gambar Filshi Clips