Anda di halaman 1dari 50

DEFINISI

DIABETES INSIPIDUS adalah: Suatu penyakit yang disebabkan oleh penurunan produksi, sekresi, dan fungsi dari Anti Diuretic Hormone (ADH) serta kelainan ginjal yang tidak berespon terhadap kerja ADH fisiologis, yang ditandai dengan rasa haus yang berlebihan (polidipsi) dan pengeluaran sejumlah besar air kemih yang sangat encer (poliuri).

MACAM-MACAM DI
Diabetes Insipidus Sentralis (DIS), disebabkan oleh kegagalan pelepasan hormon antidiuretik yang secara fisiologi dapat merupakan kegagalan sintesis atau penyimpanan. Diabetes Insipidus Nefrogenik (DIN), ialah diabetes insipidus yang tidak responsif terhadap ADH eksogen (kadar ADH normal tetapi ginjal tidak memberikan respon yang normal terhadap hormon ini).

ETIOLOGI
Hipotalamus mengalami kelainan fungsi dan berkurangnya produksi ADH baik total maupun parsial. Kelenjar hipofisis posterior mengalami penurunan atau gagal melepaskan hormon antidiuretik ke dalam aliran darah. Kerusakan hipotalamus atau kelenjar hipofisa akibat pembedahan, trauma kepala, cedera otak (terutama patah tulang di dasar tengkorak), tumor otak, operasi ablasi, atau penyinaran pada kelenjar hipofisis.

ETIOLOGI
Ketidakmampuan ginjal berespon terhadap kadar ADH dalam darah akibat berkurangnya reseptor atau second messenger (diabetes insipidus nefrogenik). Hal ini disebabkan oleh faktor genetik dan penyakit ginjal. Pengaruh obat yang dapat mempengaruhi sintesis dan sekresi ADH seperti phenitoin, alkohol, lithium carbonat. Gangguan aliran darah (Aneurisma atau penyumbatan arteri yang menuju ke otak). Idiopatik : dalam hal ini tidak ditemukan kelainan walaupun terdapat gejala. Gejala sering mulai pada masa bayi, tetapi tidak hilang selama hidup, tanpa mengganggu kesehatan dan mempengaruhi umur penderita.

Gejala lain
Penurunan berat badan Nocturia Kelelahan Hipotensi Gizi kurang baik Gangguan emosional Enuresis Kulit kering Anoreksia Gangguan pertumbuhan

Manifestasi klinis penderita diabetes insipidus ialah sebagai berikut: (Abdoerachman,dkk, 1974, hal : 290)
Gejala utama: poliuria (banyak kencing) dan polidipsi (banyak minum). Jumlah cairan yang diminum maupun produksi urin per 24 jam sangat banyak. Produksi urin sangat encer dengan jumlah sekitar 4-30 liter/hari, dengan berat jenis urin biasanya sangat rendah, berkisar antara 1001 1005 atau 50 200 mOsmol/kg berat badan. Sebagai kompensasi hilangnya cairan melalui air kemih, penderita bisa minum sejumlah besar cairan (3,8-38 L/hari). Jika kompensasi ini tidak terpenuhi, maka dengan segera akan terjadi dehidrasi yang menyebabkan tekanan darah rendah dan syok. Pada bayi yang diberikan minum seperti biasa akan tampak kegelisahan yang tidak berhenti, sampai timbul dehidrasi, panas tinggi, dan terkadang sampai syok.

PATOFISIOLOGI

KOMPLIKASI
Dehidrasi berat dapat terjadi apabila jumah air yang diminum tidak adekuat. Ketidakseimbangan elektrolit, yaitu hipenatremia dan hipokalemia. Keadaan ini dapat menyebabkan denyut jantung menjadi tidak teratur dan dapat terjadi gagal jantung kongestif.

Intoksikasi air

PENATALAKSAAN MEDIS
Selain terapi hormone pengganti dapat juga dipakai terapi adjuvant yang secara fisiologis mengatur keseimbangan air dengan cara : Mengurangi jumlah air ke tubuus distal dan collecting duct. Memacu pelepasan ADH endogen. Meningkatkan efek ADH endogen yang masih ada pada tubulus ginjal.

PENCEGAHAN DIABETES INSIPIDUS


Olahraga teratur Tidur yang cukup dan hindari stress Kurangi makanan manis Pola makan sehat (utamakan sayur) dan minum air yang cukup. Kurangi makanan mengandung garam-garaman Hindari obesitas. Hindari minum-minuman keras seperti alcohol. Hindari terrjadinya cidera kepala berat yang dapat menyebabkan trauma kepala.

ASUHAN KEPERAWATAN

PENGKAJIAN TEORI Keadaan Umum


Meliputi kondisi seperti tingkat ketegangan/kelelahan, tingkat kesadaran kualitatif atau GCS dan respon verbal klien. Tanda-tanda Vital Meliputi pemeriksaan:
Tekanan darah: s Pulse rate Respiratory rate Suhu

Riwayat penyakit sebelumnya Ditanyakan apa sebelumnya klien pernah ada riwayat trauma kepala, pembedahan kepala, pemakaian obat phenotoin, lithium karbamat, infeksi kranial, riwayat keluarga menderita kerusakan tubulus ginjal atau penyakit yang sama.

PENGKAJIAN TEORI

PENGKAJIAN
persepsi kesehatan-penatalaksanaan kesehatan
 mengkaji pengetahuan klien mengenai penyakitnya.  Kaji upaya klien untuk mengatasi penyakitnya.

pola nutrisi metabolic


 nafsu makan klien menurun.  Penurunan berat badan 20% dari berat badan ideal.

pola eliminasi
 kaji frekuensi eliminasi urine klien  karakteristik urine klien  klien mengalami poliuria (sering kencing)  klien mengeluh sering kencing pada malam hari (nokturia).

pola aktivitas dan latihan

 kaji rasa nyeri/nafas pendek saat aktivitas/latihan  kaji keterbatasan aktivitas sehari-hari (keluhan lemah, letih sulit bergerak)  kaji penurunan kekuatan otot pola tidur dan istirahat  kaji pola tidur klien. Klien dengan diabetes insipidus mengalami kencing terus menerus saat malam hari sehingga mengganggu pola tidur/istirahat klien. pola kognitif/perceptual  kaji fungsi penglihatan, pendengaran, penciuman, daya ingatan masa lalu dan ketanggapan dalam menjawab pertanyaan. pola persepsi diri/konsep diri  kaji/tanyakan perasaan klien tentang dirinya saat sedang mengalami sakit.  Kaji dampak sakit terhadap klien  Kaji keinginan klien untuk berubah (mis : melakukan diet sehat dan latihan).

SISTEM
Pernafasan B1 (Breath) Inspeksi : frekuensi nafas normal (20/menit), Bentuk dada simetris, penggunaan otot bantu napas tidak tampak. Perkusi : sonor/redup. Palpasi : gerakan thorak simetris Auskultasi : suara napas resonan, tidak ada bunyi yang menunjukkan gangguan. Kardiovaskuler B2 ( Blood) Inspeksi : (-) peningkatan JVP,(-) tanda cyanosis Perkusi : Perkusi untuk menentukan letak jantung (jantung pada batas kanan di intercosta 6, atas intercosta 2, kiri intercosta 8, bawah intercosta 4/5) untuk mengetahui terjadinya kardiomegali. Palpasi : tidak ada nyeri tekan pada letak anatomi jantung. Auskultasi : Irama jantung regular, tidak ada bunyi jantung tambahan, TD : 90/60 mmHg,Nadi : Bradikardi

Persyarafan B3 ( Brain) Pasien tidak mengalami Pusing, orientasi baik, tidak ada perubahan pupil, kesadaran kompos metis dengan skala GCS = 15, reflek motorik penilaian 6,reflek pada mata pada penilaian 4,reflek Verbal pada penilaian 5. Perkemihan B4 (Bladder) Adanya penurunan pembentukan hormon ADH jadi intensitas untuk berkemih semakin banyak untuk tiap harinya.Output yang berlebih (frekuensi BAK 6x/hari) apalagi pada malam hari (nokturia). Pencernaan B5 (Bowel) Pada penurunan pembentukan hormon ADH ini juga menyababkan Klien menjadi dehidrasi jadi sistem pencernaan juga terganggu. Pada Px diare terjadinya peningkatan bising usus dan peristaltik usus yang menyebabkan terganggunya absorbsi makanan akibatnya gangguan metabolisme usus, sehingga menimbulkan gejala seperti rasa kram perut, mual, muntah.

PEMERIKSAAN FISIK
Inspeksi
Klien tampak banyak minum, banyak buang air kecil, kulit kering dan pucat, bayi sering menangis, tampak kurus karena penurunan berat badan yang cepat, muntah, kegagalan pertumbuhan, membran mukosa dan kulit kering.

Palpasi Turgor kulit tidak elastis, membrane mukosa dan kulit kering, takikardia, takipnea.

Auskultasi
Tekanan darah turun (hipotensi).

Hickey-Hare atau Carter-Robbins test Fluid deprivation Uji Nikotin Uji vasopresin

PEMERIKSAAN PENUNJANG

DIAGNOSA KEPERAWATAN
Kekurangan volume cairan berhubungan keluaran cairan aktif haluaran urine yang berlebihan sekunder akibat diabetes insipidus (ketidakadekuatan hormone diuretic) ditandai dengan haluaran urin berlebih (4-30 liter/hari), klien sering berkemih, haus, kulit/membrane mukosa kering, penurunan berat badan. Gangguan eliminasi urine berhubungan dengan penurunan permeabilitas tubulus ginjal, ditandai dengan poliuri dan nokturia. Defisiensi pengetahuan berhubungan dengan kurangnya paparan informasi ditandai dengan pengungkapan masalah. Gangguan pola tidur berhubungan dengan sering terbangun akibat poliuri, nokturia, dan polidipsi, ditandai dengan klien sering terbangun waktu malam akibat ingin berkemih dan ingin minum.

INTERVENSI DX 1
TUJUAN :
Setelah diberikan askep selama x 24 jam, diharapkan kekurangan volume cairan teratasi,

KH : TTV dalam batas normal Intake dan output dalam 24 jam seimbang Kulit/membran mukosa klien lembab BB klien tetap/tidak terjadi penurunan berat badan

INTERVENSI :
Kaji dan Pantau TTV dan catat adanya jika ada perubahan R/ : Adanya perubahan TTV menggambarkan status dehidrasi klien. Berikan cairan sesuai kebutuhan. R/ : Memenuhi kebutuhan cairan dalam tubuh. . Catat intake dan output cairan. R/ :mengetahui masukan dan keluaran urin untuk mengganti cairan jika kekurangan

Monitor dan Timbang berat badan setiap hari. R/: Mengetahui berapa cairan yang hilang dalam tubuh Monitor status hidrasi (suhu tubuh, kelembaban membran mukosa, warna kulit). R/: Mengetahui tingkat dehidrasi.

INTERVENSI DX 2
TUJUAN :
Setelah diberikan askep selama x 24 jam, diharapkan gangguan eliminasi urin teratasi, dengan KH : Klien dan keluarga mengetahui definisi diabetes insipidus. Klien dan keluarga mengetahui tanda dan gejala awal diabetes insipidus.

INTERVENSI
monitor dan kaji karakteristik urine meliputi frekuensi, konsistensi, bau, volume dan warna. R/: Mengetahui sejauh mana perkembangan fungsi ginjal dan untuk mengetahui normal atau tidaknya urine klien. Batasi pemberian cairan sesuai kebutuhan. R/:Mengurangi pengeluaran cairan berupa urine terutama saat malam hari. Catat waktu terakhir klien eliminasi urin. R/: Mengidentifikasikan fungsi kandung kemih, fungsi ginjal, dan keseimbangan cairan I

instruksikan klien/keluarga untuk mencatat output urine klien. R/:mengetahui cairan yang keluar dan menentukan cairan pengganti Kolaborasi pemberian ADH R/: menurunkan frekuensi BAK

INTERVENSI Dx 3
Tujuan :
x 24 jam, diharapkan Setelah diberikan askep selama pengetahuan klien bertambah

kriteria hasil:
Klien dan keluarga mengetahui definisi diabetes insipidus. Klien dan keluarga mengetahui factor penyebab diabetes insipidus. Klien dan keluarga mengetahui tanda dan gejala awal diabetes insipidus. Klien dan keluarga mengetahui terapi pengobatan yang diberikan pada klien dengan penyakit diabetes insipidus.

1. 2.

3.

4.

5.

kaji pengetahuan awal klien mengenai penyakitnya. R/: Mengetahui sejauh mana pengetahuan klien tentang penyakitnya. Jelaskan patofisologi penyakitnya dan bagaimana itu bisa berpengaruh terhadap bentuk dan fungsi tubuh. R/: Klien mengetahui penyebab perubahan fisiologis pada tubuhnya. Deskripsikan tanda dan gejala penyakit yang diderita klien. R/: Klien dan keluarga dapat mengetahui tanda dan gejala penyakitnya sehingga dapat mengetahui jikalau salah satu keluarga klien mengalami salah satu gejala dari penyakit tersebut. Diskusikan terapi pengobatan yang diberikan kepada klien. R/:Klien dan kelurga mengetahui terapi yang dijalani untuk penyembuhan penyakit tersebut Diskusikan perubahan gaya hidup yang dilakukan untuk mencegah terjadinya komplikasi dan atau mengontrol proses penyakit tersebut. R/: Mencegah terjadinya komplikasi dari penyakit tersebut.

Dx 4
TUJUAN: Setelah diberikan askep selama terkontrol, x 24 jam, diharapkan pola tidur klien

kriteria hasil: TTV klien dalam batas normal klien tidak sering terbangun di malam hari akibat ingin berkemih dan ingin minum. klien tidak mengalami kesulitan untuk tertidur/tetap tidur.

Kaji dan Pantau TTV dan catat adanya jika ada perubahan R/: Terganggunya pola tidur klien dapat mangakibatkan meningkatnya risiko hipotensi atau TTV dalam batas yang tidak normal. Jika berkemih malam mengganggu, batasi asupan cairan waktu malam dan berkemih sebelum tidur. R/: Meningkatkan kenyamanan tidur pasien dan mencegah terbangun di malam hari akibat ingin berkemih. Anjurkan keluarga klien untuk memberi klien rutinitas relaksasi untuk persiapan tidur. R/: Dapat membantu klien untuk cepat tertidur dan membuat tidur lebih nyenyak sehingga meminimalkan risiko terbangun di malam hari.

IMPLEMENTASI
Pelaksanaan merupakan pengelolaan dan perwujudan dari rencana tindakan, meliputi beberapa bagian, yaitu validasi rencana keperawatan, memberikan asuhan keperawatan dan pengumpulan data (Lismidar 1990) Pelaksanaan dilakukan sesuai dengan rencana tindakan yang telah disusun dengan melihat situasi dan kondisi Px

EVALUASI
Evaluasi adalah perbandingan yang sistematis dari rencana tindakan dari masalah kesehatan Px dengan tujuan yang telah ditetapkan, dilakukan dengan cara berkesinambungan dengan melibatkan Px dan tim kesehatan lainnya (Efendi 1995)

ASUHAN KEPERAWATAN KASUS


DIABETES INSIPIDUS

PENGKAJIAN
Riwayat penyakit sekarang Tn D datang dengan keluhan badan polidipsi sebanyak 6 liter/hari. Poliuri sangat encer yaitu 7 liter dengan berat jenis 1.001 dan nocturia. BB pasien mengalami penurunan 5 kg dlm1 mggu. Px lemas, bibir pecah2, mukosa kering. Riwayat penyakit dahulu --------

PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan Umum
Pasien lemas, bibir pecah-pecah dan mukosa kering
BB / TB : 70 Kg / 158 cm

Pemeriksaan Fisik
TTV :TD: 100/70mmHg

PEMERIKSAAN PENUNJANG
GDS : 230 mg/dl Kolesterol: 289 mg/dl KGD Puasa: 160 mg/dl

ANALISA DATA
DATA DS : Pasien mengatakan polidipsi 6l/hr, poliuri encer dan nocturia DO: dari hasil pemeriksaan fisik didapatkan: TTV: TD: 100/70mmHg GDS : 230 mg/dl Kolesterol: 289 mg/dl KGD Puasa: 160 mg/dl MASALAH KEPERAWATAN ETIOLOGI

Defisit Volume Cairan

Kelainan Fungsi Hipotalamus

Penurunan pembentukan ADH

Air kemih tidak terkontrol

Diuresis osmotik

lanjutttttttt
Data Mk Etiologi

poliuri

ANALISA DATA
DATA DS : Pasien mengatakan BB turun dalam satu minggu terakhir DO: dari hasil pemeriksaan fisik didapatkan: TTV: TD: 100/70mmHg BB: 70kg TB: 158 cm GDS : 230 mg/dl Kolesterol: 289 mg/dl KGD Puasa: 160 mg/dl MASALAH KEPERAWATAN ETIOLOGI

Pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan

Kelainan fungsi hipotalamus Penurunan ADH Diuresis osmotik Output berlebih

DIAGNOSA KASUS
1. Kekurangan volume cairan berhubungan keluaran cairan aktif haluaran urine yang berlebihan sekunder akibat diabetes insipidus (ketidakadekuatan hormone ) 2. Pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan output berlebih

INTERVENSI DX 1
TUJUAN :
Setelah diberikan askep selama x 24 jam, diharapkan kekurangan volume cairan teratasi,

KH : TTV dalam batas normal Intake dan output dalam 24 jam seimbang Kulit/membran mukosa klien lembab BB klien tetap/tidak terjadi penurunan berat badan

INTERVENSI :
Kaji dan Pantau TTV dan catat adanya jika ada perubahan R/ : Adanya perubahan TTV menggambarkan status dehidrasi klien. Berikan cairan sesuai kebutuhan. R/ : Memenuhi kebutuhan cairan dalam tubuh. . Catat intake dan output cairan. R/ :mengetahui masukan dan keluaran urin untuk mengganti cairan jika kekurangan Monitor dan Timbang berat badan setiap hari. R/: Mengetahui berapa cairan yang hilang dalam tubuh Monitor status hidrasi (suhu tubuh, kelembaban membran mukosa, warna kulit). R/: Mengetahui tingkat dehidrasi.

INTERVENSI Dx 2
TUJUAN :
Setelah diberikan askep selama 2x 24 jam, diharapkan pemenuhan nutrisi terpenuhi

KH : peningkatan BB intake dan output seimbang Turgor kulit normal

Timbang berat badan tiap hari R/: memberikan informasi tentang kebutuhan diit/keefektifan terapi b) Anjurkan istirahat sebelum makan R/: menenangkan peristaltic dan meningkatkan energi untuk makan c) Sediakan makanan dalam ventilasi yang baik, lingkungan menyenangkan, dengan situasi tidak terburu-buru, temani R/: lingkungan yang menyenangkan menurunkan stress dan lebih kondusif untuk makan d) Dorong pasien untuk menyatakan perasaan masalah mulai makan diit R/: keragu-raguan untuk makan mungkin diakibatkan oleh takut akanan akan menyebabkan eksaserbasi gejala e) Kolaborasi dengan ahli gizi R/: membantu mengkaji kebutuhan nutrisi pasien dalam perubahan pencernaan daan fungsi usus a)

IMPLEMENTASI
Pelaksanaan merupakan pengelolaan dan perwujudan dari rencana tindakan, meliputi beberapa bagian, yaitu validasi rencana keperawatan, memberikan asuhan keperawatan dan pengumpulan data (Lismidar 1990) Pelaksanaan dilakukan sesuai dengan rencana tindakan yang telah disusun dengan melihat situasi dan kondisi Px

EVALUASI
Evaluasi adalah perbandingan yang sistematis dari rencana tindakan dari masalah kesehatan Px dengan tujuan yang telah ditetapkan, dilakukan dengan cara berkesinambungan dengan melibatkan Px dan tim kesehatan lainnya (Efendi 1995)

DAFTAR PUSTAKA
MaryLInn E Doenges (2001), Rencana Asuhan Keperawatan, Jakarta, EGC Carpenito,J,L. (1999). Rencana Asuhan Dan Dokumentasi Keperawatan. Edisi 2 (terjemahan). PT EGC. Jakarta. Djohansjah, M. (1991). Pengelolaan Luka Bakar. Airlangga University Press. Surabaya. www.medicastro.com www.totalkesehatan.com www.wikipedia.com