Anda di halaman 1dari 29

Kelompok 8B Tutor: dr.

Inggrid

KETUA : Siusan (10-2006-088) AHLI : S1: Cindy Annasthassia (10-2006-141) S2: Zulfadli (10-2006-167) Azril Ishak (10-2006-161) Andrian Wiyanda (10-2006-106) Fani Veronika (10-2006-037) Heriyanto (10-2006-187) Izza Syazwani (10-2006-144) Leonardo (10-2006 Sylvi (10-2006-039)

Dokter A adalah dokter umum, tetapi pasiennya cukup banyak. Seorang pengusaha apotik yang merangkap laboratorium klinik menghubunginya dan mengatakan bahwa ia akan memberi bonus sebagai hasil kerjasama yang baik di antara kedua pihak berupa 20% dari biaya obat dan lab yang dibayar oleh pasiennya yang dikirimkan ke apotik/lab klinik tersebut. Suatu tawaran menarik karena ia sedang berniat untuk membeli mobil baru. A pun mulai berhitung bahwa apabila ia ingin angsuran mobilnya dapat dilunasi dengan uang ekstra ini, maka ia harus mengirim setidaknya 50% pasiennya untuk periksa laboratorium dan sekitar 75% pasiennya harus mengambil obat di apotik tersebut dengan jenis obat yang cukup tinggi harganya.

Dokter

memanfaatkan pasien untuk mendapatkan uang ekstra.

Etika profesi kedokteran

Hubungan dokter dengan farmasi

Dokter memanfaat kan pasien

Hubungan dokter pasien

Hubungan dokter dokter

Pemberian

obat dan pemeriksaan laboratorium harus sesuai dengan indikasi medis.

Bioetika Kedokteran

Sejak permulaan sejarah yang tersirat mengenai umat manusia sudah dikenal hubungan kepercayaan antara dua insan yaitu sang pengobat dan penderita. Dalam zaman modern hubungan ini disebut sebagai hubungan (transaksi) terapeutik antara dokter dan penderita. Yang dilakukan dalam suasana saling percaya (konfidensial) serta senantiasa diliputi oleh segala emosi harapan dan kekhawatiran makhluk insani. Sejak perwujudan sejarah kedokteran, seluruh umat manusia mengakui serta mengetahui adanya beberapa sifat mendasar (fundamental) yang melekat secara mutlak pada diri seorang dokter yang baik dan bijaksana yaitu kemurnian niat, kesungguhan kerja, kerendahan hati serta integritas ilmiah dan sosial yang tidak diragukan. Akhirnya didasarkan tradisi dan disiplin tsb atas suatu etika profesional. Etika tersebut sepanjang masa mengutamakan penderita yang berobat demi keselamatan dan kepentingannya.

Etika Kedokteran sudah sewajarnya dilandaskan atas norma-norma etika yang mengatur hubungan manusia umumnya dan dimiliki azas-azasnya dalam falsafah masyarakat yang diterima dan dikembangkan. Di Indonesia azas-azas itu adalah Pancasila sebagai landasan ideal dan Undang-Undang Dasar 1945 sebagai landasan struktural. Kewajiban Umum menurut Kode Etika Kedokteran Indonesia (KODEKI) antaranya:
Pasal 1 Setiap dokter harus menjunjung tinggi, menghayati dan mengamalkan Sumpah Dokter. Pasal 2 Seorang dokter harus senantiasa melakukan profesinya menurut ukuran yang tertinggi.

Pasal 3 Dalam melakukan pekerjaan kedokterannya seorang dokter tidak boleh dipengaruhi oleh pertimbangan keuntungan pribadi.
Pasal 4 Perbuatan berikut dipandang bertentangan dengan etika : Setiap perbuatan yang bersifat memuji diri sendiri Secara sendiri atau bersamasama menerapkan pengetahuan dan ketrampilan kedokteran dalam segala bentuk tanpa kebebasan profesi. Menerima imbalan selain daripada yang layak sesuai jasanya kecuali dengan keikhlasan sepengetahuan dan atau kehendak penderita

Pada dasarnya profesi memiliki 3 syarat utama, yaitu :


Diperoleh melalui pelatihan yang ekstensif Memiliki komponen intelektual yang bermakna dalam

melakukan tugasnya Memberikan pelayanan yang penting kepada masyarakat

Selain itu juga memiliki 3 syarat umum, yaitu :


Sertifikasi Organisasi profesi Otonomi dalam bekerja

Hubungan dokter-pasien dokter-

Jenis hubungan dokter-pasien sangat dipengaruhi oleh etika profesi kedokteran, sebagai konsekuensi dari kewajiban-kewajiban profesi yang memberikan batasan atau ramburambu hubungan tersebut. Kewajiban-kewajiban tersebut tertuang di dalam prinsip-prinsip moral profesi. Prinsip utamanya:
Autonomy (menghormati hak pasien); Beneficience (berorientasikan kepada kebaikan pasien; Non-maleficience (tidak mencelakakan atau

memperburuk keadaan pasien) dan; Justice (meniadakan diskriminasi)

dan

prinsip turunannya:

veracity (kebenaran=truthful information) fidelity (kesetiaan) privacy confidentiality (menjaga kerahasiaan)

Di dalam sehari-hari kita mengenal 2 jenis profesi, yaitu: (1) Profesi konsultan Terdapat hubungan individual antara professional dengan klien Transaksi fee-for-service Misalnya dokter, psikolog dan pengacara (2) Profesi scholar Klien banyak pada satu waktu Bekerja berdasarkan gaji dan honor Misalnya guru, perawat dan tenaga kesehatan lain di RS dll Kedua-duanya memiliki tanggungjawab yang khas, yaitu tanggungjawab profesi. Akhir-akhir ini memang ada kecenderungan pergeseran dari jenis profesi konsultan ke arah profesi scholar, misalnya tumbuhnya bentuk rumah sakit, klinik, law firm dll. Pada jenis profesi baru ini terjadi modifikasi hubungan hukum antara konsultan dan kliennya. Di rumah sakit terjadilah hubungan segitiga antara pasien-dokterrumahsakit, dan di law firm terjadi hubungan klien- professional- law firm.

Hak pasien: The Rights to health care The Rights to self determination Kewajiban dokter: Kewajiban profesi sebagaimana terdapat di dalam

lafal sumpah dokter, kode etik kedokteran, standar prilaku profesi (SPP) dan standar pelayanan medis (SPM), serta Kewajiban yang lahir oleh karena adanya hubungan dokter-pasien.

Hubungan dokter-teman doktersejawat

Kerjasama

dokter dengan sejawat menurut Konsil Kedokteran Indonesia (KKI):


Merujuk pasien (Pasal 11 KODEKI). Bekerjasama dengan sejawat (Pasal 15 KODEKI). Bekerjasama dalam tim. Memimpin tim. Mengatur dokter pengganti. Mematuhi tugas. Pendelegasian wewenang.

Hubungan dokterdokterapotek/lab apotek/lab

Pengertian apotek menurut Kepmenkes RI No.1332/ Menkes/ SK/ X/ 2002 tentang perubahan Permenkes No. 922/ Menkes/ Per/ X/ 1993/ tentang Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin Apotek Pasal 1 ayat (a) : Apotek adalah suatu tempat tertentu, tempat dilakukan pekerjaan kefarmasian dan penyaluran perbekalan farmasi, perbekalan kesehatan lainnya kepada masyarakat Adapun ketentuan sebuah apotek di antaranya adalah : Harus siap dengan tempat dan perlengkapan termasuk sediaan farmasi dan perbekalan lainnya milik sendiri atau pihak lain. Pada apotek dapat dilakukan kegiatan pelayanan komoditi lainnya di luar sediaan farmasi. Sarana apotek dapat didirikan pada lokasi yang sama dengan kegiatan pelayanan komoditi lainnya di luar sediaan farmasi

McDonough dan Doucette mengusulkan satu model untuk hubungan kerja kolaboratif antara dokter dan farmasis (Pharmacist - Phycisian Collaborative Working Relationship). Menurut McDonough dan Doucette ada empat tahap tingkat hubungan kerjasama antara farmasi dan dokter, seperti di bawah:

Stage 0: Professional awareness. Stage 1 : Professional recognition. Stage 2: Exploration and trial. Stage 3: Professional relationship expansion. Stage 4: Commitment to the collaborative working relationship.

Yang penting untuk dibahas disini adalah hubungan stage 4.

Kolaborasi akan semakin mungkin terwujud jika dokter telah melihat bahwa dengan adanya kerja sama dengan apoteker risiko praktik pelayanannya menjadi lebih kecil, dan banyak nilai tambah yang diperoleh dari kepuasan pasien. Komitmen akan lebih mungkin tercapai jika usaha dan keinginan bekerja sama dari masing-masing pihak relatif sama. Dokter akan mengandalkan pengetahuan dan keahlian apoteker mengenai obat-obatan, sementara apoteker akan bersandar pada informasi klinis yang diberikan oieh dokter ketika akan membantu menguruskan terapi pasien. Pada tahap ini pertemuan tatap muka untuk mendiskusikan masalah pasien, masalah pelayanan, dan hal-hal lain harus dijadwalkan, dan bisa dikembangkan bersama tenaga kesehatan yang lain. Selain itu, adanya komitmen kerja sama ini perlu diinformasikan kepada tenaga kesehatan yang lain sehingga mereka dapat turut terlibat didalamnya.

Namun, hubungan dagang antara dokter dengan perusahaan obat atau pengusaha obat merupakan hal yang seringkali menjadi perbincangan. Dari hasil pengamatan, niat, kemauan atau gagasan untuk berkolusi bukan hanya datang dari perusahaan farmasi, ada kalanya atas permintaan dokter. Perusahaan farmasi memproduksi obat bermerek (paten) untuk dijual, sedang dokter punya kewenangan menentukan obat. Dengan cara itu perusahaan farmasi berkepentingan obatnya laku terjual. Namun cara-cara pemasaran obat oleh perusahaan farmasi dilakukan dengan system detailing, dimana perusahaan farmasi melalui jaringan distributor melakukan pendekatan tatap muka dengan dokter yang berpraktek di rumah sakit ataupun praktek pribadi.

Terhadap kolusi ini perusahaan farmasi menghitungnya sebagai biaya promosi yang dimasukkan kedalam biaya produksi, sehingga biaya produksi menjadi tinggi dan harga obat menjadi mahal. Mahalnya harga obat sepenuhnya menjadi tanggungan konsumen. Strategi dari pihak farmasi umumnya sudah menyiapkan 20 % dari harga jual obat yang dialokasikan perusahaan farmasi untuk biaya promosi. Hubungan kerjasama ini yang dikenal sebagai kolusi menyebabkan harga obat merek/paten yang selama ini dikonsumsi konsumen Indonesia menjadi sangat mahal melebihi harga obat diluar negeri, dan secara tidak langsung akan merugikan pasien sebagai pihak konsumen. Oleh karena itu secara de facto, dokterlah yang menjadi konsumen obat, maka hukum ekonomi pasar tidak berlaku dalam perdagangan obat.

Dalam UU Praktek Kedokteran nomor 29 tahun 2004, pasal 73, ada disebutkan beberapa sanksi yang bisa ditujukan buat dokter:

Sanksi disiplin bila menyangkut ketidakpuasan pasien atas pelayanan yang diberikan dokter. Yang menangani persoalan itu ialah MKDI (Majelis Kehormatan Disiplin Indonesia). Sanksi yang diberikan oleh MKDI merupakan sanski pendidikan. Bila MKDI menerima pengaduan pasien terkait masalah pelayanan dokter yang tidak memuaskan, MKDI bisa memberi peringatan hingga mencabut surat ijin prakteknya. , ujarnya. Kemudian, dokter itu diwajibkan mengkikuti program pendidikan kembali. Setelah itu, untuk mendapatkan kompetensinya yang pernah dicabut itu, dokter tersebut harus melakukan registrasi lagi. Sanksi etik diberikan ketika terjadi pelanggaran etik. Misalnya, kerjasama perusahaan farmasi dengan dokter yang mempengaruhi kemandirian profesi dokter tsb. Yang menangani persoalan itu ialah MKEK (Majelis Komite Etik Kedokteran). Bentuk sanksi yang diberikan mulai dari peringatan lisan hingga tertulis. Dalam batas pelanggaran tertentu, bisa diberikan sanksi berupa pengumuman nama dokter yang melanggar etika tersebut ke media massa.

Walau kolusi dokter-perusahaan farmasi sulit dibuktikan, pada tahun 2002 Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah mengantisipasinya melalui perangkat Surat Keputusan (SK) Kepala BPOM No. HK.00.05.3.02706 tentang Promosi Obat. Pasal 9 SK ini memuat sejumlah larangan bagi Industri Farmasi dan/atau Pedagang Besar Farmasi. Mereka dilarang:
Melakukan kerja sama dengan apotik dan penulis resep; Kerja sama dalam pengresepan obat dengan apotik dan/atau penulis resep

dalam suatu program khusus untuk meningkatkan penjualan obat tertentu; Memberikan bonus/hadiah berupa uang (tunai, bank draft, pinjaman, voucher, tiket) dan/atau barang kepada penulis resep yang meresepkan obat produksinya dan/atau yang didistribusikan. Sedangkan pengawasan terhadap kegiatan promosi obat oleh perusahaan farmasi dilakukan sepenuhnya BPOM dengan membentuk komisi independen.

Mereka yang melanggar larangan tadi bisa dikenakan sanksi mulai dari peringatan tertulis, penghentian sementara kegiatan, hingga pencabutan izin edar obat bersangkutan.

Kesimpulan

Hubungan

health care provider dengan pasien mestilah selalu berpijak atas standar dan profesionalisme, sesuai kode etika kedokteran dan hukum. Justru, pemberian obat dan pemeriksaan laboratorium harus sesuai dengan indikasi medis.