Anda di halaman 1dari 13

LIMBAH PETERNAKAN BABI

BY :

MADE

FEBRIANY IRWIN HERMIANA FLORENTINA FRANSISKUS ANGGRENY HERMAN FERDERIKA

LATAR BELAKANG
Pada saat ini ternak babi merupakan jenis ternak paling penting bagi para peternak kecil di NTT khususnya Kabupaten Kupang. Secara tradisional ternak babi memainkan peran yang penting didalam berbagai kegiatan keagamaan dan sosial di masyarakat Kabupaten Kupang dan merupakan sumber protein utama bagi konsumsi domestic

Memahami dinamika perubahan pasar dan menentukan cara agar para peternak kecil dapat memperoleh keuntungan dari perubahanperubahan tersebut merupakan suatu hal yang penting bagi pengembangan industri peternakan babi komersial di NTT, salah satunya dengan pemanfaatan limbah ternak babi. Limbah ternak atau peternakan adalah semua yang berasal dari ternak atau peternakan, yang belum dimanfaatkan dengan baik, berupa bahan padat ataupun cair.

Industri peternakan babi tidak tersebar secara merata di wilayah NTT . rumah-rumah makan di Kupang lebih menyukai pasokan daging babi import sementara di Flores memelihara babi lokal yang umunya diperdagangkan di Sumba. Sebesar 45 % populasi ternak babi berpusat di empat buah kabupaten di NTT

PEMBAHASAN
Populasi ternak babi 263.781 143.249 123.905 102.574 22.028 1.385.961

Tabel sebaran populasi ternak babi dibeberapa tempat di propinsi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) Manggarai Flores Timur Kupang Kota Kupang Total populasi di seluruh Kabupaten Sumber : BPS Statistik Peternakan 2006

Tabel produksi limbah harian perekor ternak babi sesuai umur kronologisnya Golongan umur ternak babi Produksi Limbah (1/ekor/hari) 20-90 kg (umur 8-22 minggu) 5-10 kg (umur 3-6 minggu) 10-25 kg (umur 6-9 minggu) 25-35 kg (umur 9-12 minggu) 36-60 kg (umur 12-16 minggu) 60-80 kg (umur 16-20 minngu) 80-90 kg (20-22 minggu) Induk beserta anak : Anak disapih umur 3 minggu Anak disapih umur 6 minggu 15,6 19,5 5,1 1,1 2,3 3,4 5,1 7,4 9,1

Limbah babi dapat dianggap sebagai bahan padat (kurang dari 85 % air), semi padat atau cairan, tergantung dari konsistensinya dan kadar airnya. Limbah ternak babi terutama terdiri dari bahan organik. Segera setelah feses dikeluarkan akan terjadi perombakan oleh mikroorganisme. Bahan-bahan organik dipecah menjadi bahan atau senyawa yang lebih sederhana dan terbentuklah pelbagai gas. Proses aerob biasanya relative kurang berbau, sedang proses anaerob menghasilkan pelbagai gas berbau menyengat dan berpotensi membahayakan bagi ternak, seperti karbon dioksida (CO2), metan(CH4), ammonia (NH3) dan hydrogen sulfide (H2S). bila melebihi batas tertentu gas tersebut dapat membahayakan bagi ternak maupun manusia.

Tabel sifat gas beracun dan pengaruh fisiologinya


Gas Berat Jenis Bau Minimal agar bisa dideteksi (ppm) Konsentrasi maksimal agar dapat dideteksi (ppm) Konsentrasi (ppm) Pengaruh fisiologi

NH3

0,6

Keras, pedas

5,3

100

4 400 700 1700 3000 5000

Iritan Memerihkan dada Batuk dan berdahak Sesak napas Dapat fatal Menyesakkan napas Selamat Napas meningkat Mengantuk, pusing Sesak napas berat Dapat fatal Beracun

CO2

1,5

Tidak ada

5500

20000 30000 40000 60000 300000

Gas

Berat Jenis

Bau

Minimal agar bisa dideteksi (ppm)

Konsentrasi maksimal agar dapat dideteksi (ppm)

Konsentrasi (ppm)

Pengaruh fisiologi

H2S

1,5

Bau telur busuk, bau muntah

0,7

20

100 200 500 1000

Selamat Hidung dan mata perih Pusing, sakit kepala Muntah, gelisah, insomnia Tak sadar, mati Menyesakkan napas

CH4

0,5

Tidak ada

500.000 Sakit kepala, tak meracuni

Khusus di kabupaten Kupang, produksi rata rata limbah ternak babi dapat mencapai 523.127,4 Kg / hari (102.574 x 5,1) yang masih cukup banyak mengandung nutrien seperti N, P, dan K yang biasanya secara alami akan diuraikan / digunakan oleh mikroba dengan hasil akhir seperti amoniak dan gas metan yang dapat menimbulkan polusi bagi lingkungan sekitar sehingga dapat merugikan ternak dan peternak itu sendiri. Pemanfaatan yang sudah lazim seperti pupuk kandang, pupuk kompos dan bokashi. Terbaru : biogas

Dalam era global saat ini yang mana mengalami krisis energi bahan bakar, maka sudah mulai gencarnya pelatihan dan penggunaan instalasi biogas (bahan bakar asal limbah ternak) bagi peternak peternak khususnya di daerah NTT yang siap dijadikan sebagai gudang ternak dari pemerintah. Biogas merupakan renewable energy yang dapat dijadikan bahan bakar alternatif untuk menggantikan bahan bakar yang berasal dari fosil seperti minyak tanah dan gas alam. Biogas dapat dijadikan bahan bakar karena mengandung gas metan (CH4) dalam persentase yang cukup tinggi.

Sebagai pembangkit tenaga listrik, energi yang dihasilkan oleh biogas setara dengan 60 100 watt lampu selama 6 jam penerangan. Kesetaraan biogas dibandingkan dengan bahan bakar lain dapat dilihat pada table berikut :
Nilai kesetaraan biogas dan energi yang dihasilkan Aplikasi 1 m3 biogas 1m3 Biogas setara dengan Elpiji 0,46 kg Minyak tanah 0,62 liter Minyak solar 0,52 liter Kayu bakar 3,50 kg

Pemanfaatan limbah ternak babi menjadi biogas mendukung konsep zero waste shg sistem peternakan yang berkelanjutan dan ramah lingkungan dapat dicapai. keuntungan penggunaan biogas Mengurangi pencemaran lingkungan terhadap air dan tanah, pencemaran udara (bau). Sebagai bahan bakar biogas yang digunakan sebagai energi alternatif untuk keperluan tangga. Mengurangi biaya pengeluaran peternak untuk kebutuhan energi bagi kegiatan rumah tangga kemungkinan dimanfaatkannya biogas di lokasi yang masih belum memiliki akses listrik. (Clean Development Mechanism).

A TEAM