Anda di halaman 1dari 37

ASKEP ANAK DGN HYDROCHEPALUS

Pendahuluan

Definisi


Kelebihan cairan cerebrospinalis di dalam kepala. Biasanya di dalam sistem ventrikel atau gangguan hidrodinamik cairan liguor sehingga menimbulkan peningkatan volume intravertikel (Setyanegara, 1998) Keadaan patologik otak yang mengakibatkan bertambahnya cairan cerebrospinalis di dalam kepala (CSS) dengan atau pernah dengan tekanan intrakranial yang meninggi sehingga terdapat ruangan tempat mengalirnya CSS (Ngastiyah, 1997) Suatu keadaan patologik otak yang mengakibatkan bertambahnya cairan cerebrospinalis sehingga terdapat pelebaran ruangan tempat mengalirnya cairan cerebrospinal

Klasifikasi Ngatiyah (1997)




Konginetal : Hidrocefalus sudah diderita sejak bayi dilahirkan Di dapat : Bayi/anak mengalaminya pada saat sudah besar dengan penyebabnya adalah penyakit-penyakit tertentu misalnya trauma kepala yang menyerang otak dan pengobatannya tidak tuntas.

Klasifikasi Ngastiyah (1997)




Hidrocefalus obstruksi ---> Tekanan CSS yang tinggi disebabkan oleh obstruksi pada salah satu tempat antara pembentukan oleh plexus koroidalis dan keluranya dari ventrikel IV melalui foramen lusckha dan magendie. Hidrocefalus komunikans--->Bila tekanan CSS yang meninggi tanpa penyumbatan sistem ventrikel.

Etiologi


Kelainan bawaan
Stenosis Aquaductus sylvii (60-90%) Spina bifida dan cranium bifida tertariknya medula spinalis dengan medula oblongata dan cerebelum, letaknya lebih rendah dan menutupi foramen magnum sehingga terjadi penyumbatan sebagian/total. Sindrom Dandy-Walker Merupakan atresia congenital foramen luscha dan mengendie Anomali pembuluh darah obstruksi aquaduktus

  

Infeksi Perdarahan Neoplasma

Patofisiologi..
Faktor etiologi Tdk seimbang produksi & pengeluaran Ventrikel melebar, menekan jar. Otak <2thn, tengkorak blm menutup Pembesaran kpl bayi Menekan jar otak disekitar terutama pusat saraf vital

Tanda & Gejala


   

 

   

TIK yang meninggi: muntah, nyeri kepala, edema pupil Pada bayi biasanya disertai pembesaran tengkorak Kepala bayi terlihat lebih besar bila dibandingkan dengan tubuh Ubun-ubun besar melebar atau tidak menutup pada waktunya teraba tegang dan mengkilat dengan perebaran vena di kulit kepala Sutura tengkorak belum menutup dan teraba melebar Terdapat sunset sign pada bayi (pada mata yang kelihatan hitam-hitamnya, kelopak mata tertarik ke atas) Bola mata terdorong ke bawah Sklera mata tampak di atas iris Pergerakan mata yang tidak teratur dan nistagmus Kerusakan saraf yang memberi gejala kelainan neurologis berupa gangguan kesadaran motorik atau kejang-kejang, kadang-kadang gangguan pusat vital

KOMPLIKASI
  

  

Peningkatan TIK Kerusakan otak Infeksi: septisemia,meningitis, ventrikulitis, abses otak Emboli otak Obstruksi vena kava superior Fisik dan intelegent kurang dari normal, gangguan penglihatan Kematian

Pemeriksaan diagnostik


Rontgen foto kepala mengetahui tipe dan jenis HCp Lingkaran kepala LK > satu atau lebih garis garis kisi pada chart (jarak antara dua garis kisi 1 cm) dalam kurun waktu 2 4 minggu. Pada anak yang besar lingkaran kepala dapat normal.

Lanjt
 

Ventrikulografi Ultrasonografi Dilakukan melalui fontanella anterior yang masih terbuka. Dengan USG diharapkan dapat menunjukkan sistem ventrikel melebar. CT Scan kepala adanya pelebaran dari ventrikel lateralis dan ventrikel III. MRI (Magnetic Resonance Imaging) Untuk mengetahui kondisi patologis otak dan medula spinalis dengan mengggunakan teknnik scanning dengan kekuatan magnet untuk membuat bayangan struktur tubuh.

Penatalaksanaan
 

live saving and live sustaining diagnosis dini yang dilanjutkan dengan tindakan bedah secepatnya. Keterlambatan akan menyebabakan kecacatan dan kematian sehingga prinsip pengobatan hydrocephalus harus dipenuhi, yakni :

Mengurangi produksi cairan serebrospinal dengan merusak pleksus koroidalis dengan tindakan reseksi atau prmbedahan atau dengan obat azetasolamid (diamox) yang menghambat pembentukan cairan serebrospinal. Memperbaiki hubungan antara tempat produksi cairan serebro spinal dengan tempat absorpsi yaitu menghubungkan ventrikel dan subarachnoid. Pengeluaran cairan serebrospinal ke dalam organ eksternal,

Lanj..


Tindakan bedah pemasangan selang pintasan atau drainase dilakukan setelah diagnosis lengkap dan pasien telah dibius total. Pengobatan modern atau canggih dilakukan dengan bahan shunt atau pintasan jenis silicon yang awet, lentur, dan tidak mudah putus. Pemberian obat obatan misalnya : Deksametason sebagai pengobatan antiedema serebral, dosis sesuai dengan berat ringannya trauma. Pengobatan antiedema, larutan hipertonitis, yaitu manitol 20% atau glukosa 40% atau gliserol 10%. Antibiotika yang mengandung barier darah otak (penisilin) atau untuk infeksi anaerob diberikan metridinasol. Makanan atau cairan, jika muntah dapat diberikan cairan infus dekstrose 5%, 2 3 hari kemudian diberikan makanan lunak.

Dampak hospitalisasi


Reaksi Hospitalisasi Bersifat individual dan sangat tergantung pada usia perkembangan anak,pengalaman sebelumnya terhadap sakit,sistem pendukung yang tersedia dan kemampuan koping yang dimilikinya,pada umumnya,reaksi anak terhadap sakit adalah kecemasan karena perpisahan, kehilangan, perlukaan tubuh,dan rasa nyeri. a. Reaksi anak pada hospitalisasi : 1. Masa bayi(0-1 th) Dampak perpisahan Pembentukan rasa PD dan kasih sayang. Usia anak > 6 bln terjadi stanger anxiety /cemas a. Menangis keras b. Pergerakan tubuh yang banyak c. Ekspresi wajah yang tak menyenangkan

Lanjt


Masa todler (2-3 th) Sumber utama adalah cemas akibat perpisahan .Disini respon perilaku anak dengan tahapnya. a. Tahap protes menangis, menjerit, menolak perhatian orang lain b. Putus asa menangis berkurang, anak tak aktif, kurang menunjukkan minat bermain, sedih, apatis c. Pengingkaran/ denial d. Mulai menerima perpisahan e. Membina hubungan secara dangkal f. Anak mulai menyukai lingkungannya

Masa prasekolah ( 3 - 6 tahun )




Menolak makan - Sering bertanya - Menangis perlahan - Tidak kooperatif terhadap petugas kesehatan Perawatan di rumah sakit : a. Kehilangan kontrol b. Pembatasan aktivitas Sering kali dipersepsikan anak sekolah sebagai hukuman. Sehingga ada perasaan malu, takut sehingga menimbulkan reaksi agresif, marah, berontak,tidak mau bekerja sama dengan perawat.

Masa sekolah 6 - 12 tahun




Perawatan di rumah sakit memaksakan meninggalkan lingkungan yang dicintai , keluarga, kelompok sosial sehingga menimbulkan kecemasan. Kehilangan kontrol berdampak pada perubahan peran dlm klg, kehilangan klp sosial, perasaan takut mati, kelemahan fisik. Reaksi nyeri bisa digambarkan dgn verbal dan non verbal

Masa remaja (12 sampai 18 tahun )




Anak remaja begitu percaya dan terpengaruh kelompok sebayanya saat merasa cemas karena perpisahan tersebut. Pembatasan aktifitas kehilangan kontrol Reaksi yang muncul : a. Menolak perawatan / tindakan yang dilakukan b. Tidak kooperatif dengan petugas Perasaan sakit akibat perlukaan menimbulkan respon : a. bertanya-tanya b. menarik diri c. menolak kehadiran orang lain

Reaksi orang tua terhadap hospitalisasi




Perasaan yang muncul dalam hospitalisasi: Takut dan cemas, perasaan sedih dan frustasi kehilangan anak yang dicintainya Prosedur yang menyakitkan Informasi buruk tentang diagnosa medis Perawatan yang tidak direncanakan Pengalaman perawatan sebelumnya Perasaan sedih: Kondisi terminal perilaku isolasi /tidak mau didekati orang lain. Perasaan frustasi : Kondisi yang tidak mengalami perubahan Perilaku tidak kooperatif, putus asa, menolak tindakan. Reaksi saudara kandung terhadap perawatan anak di RS: Marah, cemburu, benci, rasa bersalah

 ASUHAN

KEPERAWATAN

Pengkajian


B1 (breath) Perubahan pada sistem pernafasan berhubungan dengan inaktivitas. Inspeksi umum. Apakah di dapatkan klien batuk, peningkatan produksi sputum, sesak nafas, penggunaan otot bantu nafas, dan peningkatan frekuensi pernafasan. Terdapat retraksi klavikula/ dada, pengembangan paru tidak simetris. Ekspansi dada : dinilai penuh atau tidak penuh dan kesimetrisannya. Pada observasi ekspansi dada juga perlu dinilai : retraksi dari otot otot interkostal, substernal, pernafasan abdomen, dan respirasi paradoks (retraksi abdomen saat inspirasi). Pola nafas ini dapat terjadi jika otot otot interkostal tidak mampu menggerakkan dinding dada. Palpasi. Taktil premitus biasanya seimbang kanan dan kiri. Perkusi. Resonan pada seluruh lapangan paru. Auskultasi. Bunyi nafas tambahan, seperti nafas berbunyi, stridor,ronchi pada klien dengan peningkatan produksi sekret dan kemampuan batuk yang menurun yang sering didapatkan pada klien

B2 (blood)
    

Frekuensi nadi cepat dan lemah berhubungan dengan homeostatis tubuh dalam upaya menyeimbangkan kebutuhan oksigen perifer. Nadi bradichardi merupakan tanda dari perubahan perfusi jaringan otak. Kulit kelihatan pucat menunjukkan adanya penurunan kadar hemoglobin dalam darah. Hipotensi menunjukkan adanya perubahan perfusi jaringan dan tanda tanda awal dari suatu syok. Pada beberapa keadaan lain akibat dari trauma kepala akan merangsang pelepasan antidiurtik hormon yang berdampak pada kompensasi tubuh untuk melakukan retensi atau pengeluaran garam dan air oleh tubulus. Mekanisme ini akan merangsang menigkatnya konsentrasi elektrolit sehingga menimbulkan resiko gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit pada sistem kardivaskuler.

B3 (brain)
 

 

 

Kepala terlihat lebih besar jika dibandingkan dengan tubuh. Ubun ubun besar melebar atau tidak menutup pada waktunya, teraba tegang atau menonjol. Dahi tampak melebar dengan kulit kepala yang menipis, tegang, dan mengkilat dengan pelebaran vena kulit kepala. Sutura tengkorak belum menutup dan teraba melebar. Bola mata terdorong ke bawah oleh tekanan dan penipisan tulang supraorbita. Sklera tampak di atas iris sehingga iris seakan akan matahari yang akan terbenam atau sunset sign. Pengkajian tingkat kesadaran. Pengkajian fungsi serebral. Status mental. Fungsi intelektual:dibandingkan dengan perkembangan anak normal sesuai tingkat usianya.

Pengkajian saraf kranial




Pengkajian saraf kranial I XII.


Saraf I. Pada beberapa keadaan hydrocephalus yang menekan anatomis dan fisiologis saraf ini klien akan mengalami kelainan pada fungsi penciuman/ anosmia unilateral atau bilateral. Saraf II. Pada anak yang agak besar mun gkin terdapat edema pupil saraf otak II pada pemeriksaan funduskopi. Saraf III, IV, VI. Tanda dini herniasi tentorium adalah midriasis yang tidak bereaksi pada penyinaran. Paralisis otot otot okular akan menyusul pada tahap berikutnya. Perubahan gerakan bola mata, penurunan luas lapangan pandang. Konvergensi sedangkan alis mata dan bulu mata ke atas, tidak bisa melihat ke atas. Strabismus, nystagmus, atropi optik sering didapatkan pada anak dengan hydrocephalus. Saraf V. Pada abeberapa keadaan hydrocephalus menyebabakan paralisis saraf trigeminus, didapatkan penurunan kemampuan koordinasi gerakan mengunyah dan menetek. Saraf VII. Persepsi pengecapan mengalami perubahan. Saraf VIII. Biasanya tidak didapatkan adanya perubahan fungsi pendengaran. Saraf IX, X. Kemampuan menelan kurang baik, kesulitan membuka mulut. Saraf XI. Mobilitas klien kurang baik karena besarnya kepala menghambat mobilitas leher klien. Saraf XII. Indera pengecapan mengalami perubahan.

B4 (bladder)


Kaji keadaan urine meliputi warna, jumlah, dan karakteristik urine, termasuk berat jenis urine. Pada hydrocephalus tahap lanjut klien mungkin mengalami inkontinensia urine karena konfusi, ketidakmampuan mengkomunikasikan kebutuhan, dan kemampuan untuk menggunakan sistem perkemihan karena kerusakan kontrol motorik dan postural. Katerisasi perlu

B5 (bowel)


Kesulitan menelan, nafsu makan menurun, serta mual dan muntah pada fase akut. Mual sampai muntah akibat peningkatan produksi asam lambung sehingga menimbulkan masalah pemenuhan nutrisi. Pola defekasi biasanya terjadi konstipasi akibat penurunan peristaltik usus. Adanya inkontinensia alvi yang berlanjut menunjukkan kerusakan neurologis luas. Pemeriksaan rongga mulut dengan melakukan penilaian ada tidaknya lesi pada mulut atau perubahan pada lidah dapat menujukkan adanya dehidrasi.

B6 (bone)


Disfungsi motorik paling umum adalah kelemahan fisik umum, pada bayi disebabkan pembesaran kepala sehingga mengganggu mobilitas fisik secara umum. Kaji warna kulit, suhu, kelembapan, dan turgor kulit. Adanya perubahan warna kulit: warna kebiruan menunjukkan adanya sianosis (ujung kuku, ekstremitas, telinga, hidung, bibir dan membran mukosa). Integritas kulit untuk menilai adanya lesi dan dekubitus. Adanya kesulitan untuk beraktivitas karena kelemahan, kehilangan sensori atau paralisi/hemiplegi, mudah lelah menyebabkan masalah pada pola aktivitas dan istirahat.

Perbedaan
Bayi normal


Hidrochepalus


Mengangkat kepala setinggi 45 Menggerakkan kepala dari kiri/kanan ke tengah

Melihat dan menatap wajah anda.

    

Mengoceh spontan atau bereaksi dengan mengoceh. Suka tertawa keras Bereaksi terkejut terhadap suara keras Membalas tersenyum ketika diajak bicara/tersenyum. Mengenal ibu dengan penglihatan, penciuman, pendengaran, kontak

sulit mengangkat dan menahan kepalanya ke atas bahkan kesulitan menggerakkan kepala tidak dapat menatap ke atas, memiliki penglihatan ganda, alis mata dan bulu mata ke atas sehingga sclera telihat seolah olah di atas Iris Tidak mampu menatap dengan pandangan yang jelas,tidak dapat menatap ke atas Tidak ada tanda-tanda untuk bicara Diam,muram Tidak ada respon terhadap stimulus apapun Tidak menunjukkan reaksi Kurang bisa mengenali orang terdekat.

   

Diagnosa


Gangguan perfusi jaringan serebral b/d peningkatan tekanan intrakranial. Gangguan kebututhan nutrisi dan cairan berhubungan dengan tidak adekuatnya intake makanan Resiko tinggi cedera berhubungan dengan penigkatan tekanan intrakranial. Kurang pengetahuan orang tua berhubungan dengan penyakit yang di derita oleh anaknya Gangguan pertumbuhan dan perkembangan b.d penyakit yg d derita anak Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan pemasangan drain/shunt

Dx 1
Intervensi  Amati adanya bukti bukti peningkatan TIK (perubahan kesadaran, muntah, nyeri kepala, peningkatan tekanan darah, kejang, bradichardii, nafas lambat dan tidak teratur), lapor dengan segera bila ada  Observasi TTV (TD, nadi, pernafasan dan suhu)  Pantau drainase cairab serebrospinal pasca bedahdenganccara monitor ukuran tonjolan ubun ubun, ukur lingkar kepala / hari  Letakkan kepala dalam posisi yang ditinggikan 150 300  Cegah terjadinya mengedan saat defekasi dan pernafasan yang memaksa (batuk terus menerus)  Ciptakan lingkungan yang tenang. Berikan istirahat secara periodik antara aktivitas perawatan, dan batasi lamanya tiap prosedur.  Penatalaksanaan pemberian terapi luminal sesuai program medik (luminal 3 x 1)

Rasiona


penting dalam mencegah bahaya ataupun komplikasi yang dapat mengancam jiwa.

 

Perubahan TTV klien pasca bedah dapat memberikan gambaran komplikasi, prognosis penyakit yang jelek. Drainase cairan serebrospinal yang berlebihan dapat dicurigai terjadinya kerusakan otak yang progresif serta membantu dalam mengambil tindakan lanjutan. Menurunkan tekanan arteri dan meningkatkan drainase dan sirkulasi/ perfusi serebral. Manuver valsava dapat meningkatkan TIK dan memperbesar resiko terjadinya perdarahan. Aktivitas/ stimulasi yang kontinue dapat meningkatakan TIK. Terapi luminal mengandung zat penenang yang dapat membantu menurunkan aktivitas kejang

Gangguan kebutuhan nutrisi dan cairan berhubungan dengan tidak adekuatnya intake makanan
Intervensi :  Kali jenis makanan yang disukai anak dan makanna yang tidak merangsang muntah R/: agar mudah memilih dan menyajikan makanan  Berikan makanan sedikit tapi sering R/ untuk menjaga kestabilan berat badan agar tidak turun drastis dan juga tidak mual  Menyajikan makanan selagi hangat R/ dengan menyajikan makanan selagi hangat menambah nafsu makan pasien  Bantu dan dampingi klien saat makan R/: untuk memberi dukungan dan dorongan pada klien.  Kolaborasi untuk memberikan cairan IV line R/ pemberian cairan melalui intravena untuk menambah nutrisi dan cairan karena pasien mual dan muntah

Resiko tinggi cedera berhubungan dengan penigkatan tekanan intrakranial.


Intervensi :  Observasi dengan cermat adanya tanda tanda penigkatan TIK (perubahan kesadaran, muntah, nyeri kepala, peningkatan tekanan darah, kejang, bradichardii, nafas lambat dan tidak teratur) R/ : untuk mencegah keterlambatan tindakan.  Lakukan pengkajian neurologis dasar pada pra operasi. R/ : sebagai pedoman untuk pengkajian pasca operasi dan evaluasi fungsi pirau.  Hindari pemasangan infus intravena di vena kulit kepala bila pembedahan akan dilakukan. R/ : karena prosedur akan mempengaruhi sisi IV.  Posisikan anak sesuai ketentuan ( tempatkan pada sisi yang tidak di operasi). R/ : untuk mencegah tekanan pada katup pirau.  Tinggikan kepala tempat tidur jika diinstruksikan. R/ : untuk meningkatkan aliran gravitasi melalui pirau.  Hindari sedasi R/ : karena tingkat kesadaran adalah indikator penting dalam peningkatan tekanan intrakranial.  Ajari keluarga tentang tanda tanda penigkatan TIK dan kapan harus memberei tahu praktisi keperawatan. R/ : mencegah keterlambatan tindakan.

Kurang pengetahuan orang tua berhubungan dengan penyakit yang di derita oleh anaknya


Tujuan : Meningkatkan pengetahuan orang tua mengenai penyakit yang diderita anaknya Kriteria Hasil : Kecemasan orang tua pada kondisi kesehatan anaknya dapat berkurang Orang tua mengungkapkan pemahaman tentang penyakit, pengobatan dan perubahan pola hidup yang dibutuhkan

Intervensi


Rasional


Beri kesempatan orang tua untuk mengekspresikan kesedihannya Beri kesempatan orang tua untuk bertanya mengenai kondisi anaknya

Jelaskan tentang kondisi penderita, prosedur, terapi dan prognosanya. Ulangi penjelasan tersebut bila perlu dengan contoh bila keluarga belum mengerti

Keluarga dapat mengemukakan perasaannya sehinnga perasaan orang tua dapat lebih lega Pengetahuan orang tua bertambah mengenai penyakit yang di derita oleh anaknya sehinnga kecemasan orang tua dapat berkurang Pengetahuan kelurga bertambah dan dapat mempersiapkan keluarga dalam merawat klien post operasi Keluarga dapat menerima seluruh informasi agar tidak menimbulkan salah persepsi

Gangguan pertumbuhan dan perkembangan b.d penyakit yg d derita anak


Tujuan : Klien tidak mengalami gangguan pertumbuhan dan perkembangan Kriteria Hasil : Pertumbuhan dan perkembangan klien tidak mengalami keterlambatan dan sesuai dengan tahapan usia Intervensi & Rasional  Memberikan diet nutrisi untuk pertumbuhan R/ Mempertahankan berat badan agar tetap stabil  Memberikan stimulasi atau rangsangan untuk perkembangan kepada anak R/ Agar perkembangan klien tetap optimal


Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan pemasangan drain/shunt


Tujuan: Tidak terdapat tanda-tanda infeksi ( 3 x 24 jam ) Kriteria Hasil: TD dalam batas normal Tidak terdapat perdarahan Tidak terdapat kemerahan Intervensi & Rasional  Pantau tanda-tanda infeksi( letargi, nafsu makan menurun, ketidakstabilan, perubahan warna kulit ) R/ Mengetahui penyebab terjadinya infeksi  Lakukan rawat luka R/ Mencegah timbulnya ifeksi  Pantau asupan nutrisi R/ Asupan nutrisi dapat membantu menyembuhkan luka  Kolaborasi dalam pemberian antibiotik R/ Antibiotik dapat mencegah timbulnya infeksi