Anda di halaman 1dari 47

L o g o

(C) Dr.-Ing. Andreas Wibowo (C) Dr.-Ing. Andreas Wibowo (C) Dr.-Ing. Andreas Wibowo (C) Dr.-Ing. Andreas Wibowo
Analytic Hierarchy Process
Oleh:
Dr.-Ing. Andreas Wibowo, VDI
Program Pascasarjana Teknik Sipil
Universitas Katolik Parahyangan
Jalan Ciumbuleuit 94 Bandung
Seri Teknik Pengambilan Keputusan
L o g o
(C) Dr.-Ing. Andreas Wibowo (C) Dr.-Ing. Andreas Wibowo
Pendahuluan
v
v Persoalan sehari-hari: kita diharuskan menentukan pilihan antara
dua atau lebih alternatif dengan beberapa pertimbangan yang
harus dilakukan
v
v Tidak jarang keputusan adalah sesuatu yang dilematis
v
v Bagaimana keputusan diambil?
v
v Karena solusi yang ideal sering kali tidak tercapai, perlu, trade-off
untuk mendapatkan keputusan yang paling optimal dengan
segala kendala yang ada
v
v Contoh: harga vs kualitas (ideal: harga minimal, kualitas maksimal)
v
v
L o g o
(C) Dr.-Ing. Andreas Wibowo (C) Dr.-Ing. Andreas Wibowo
Pendahuluan

v
Persoalan pengambilan keputusan dalam manajemen
dan rekayasa konstruksi:

Pengadaan kontraktor atau konsultan atau subkontraktor


Penentuan metoda konstruksi
Pemilihan sistem konstruksi
Pemilihan material konstruksi
Pemilihan peralatan konstruksi
Penyusunan daftar prioritas
Dst.
L o g o
(C) Dr.-Ing. Andreas Wibowo (C) Dr.-Ing. Andreas Wibowo
Pendahuluan
v
v
Persoalan keputusan (decision problem) biasa
diselesaikan secara intuitif berdasarkan pengalaman,
pendidikan, dst.
v
vUntuk persoalan yang sederhana, intuisi bisa dijadikan
dasar pengambilan keputusan yang efektif
v
vUntuk persoalan yang lebih kompleks yang melibatkan
banyak alternatif dan kriteria, intuisi semata terkadang
tidak memadai; perlu pendekatan lain yang lebih
komprehensif tetapi tetap praktis dan sistematis
L o g o
(C) Dr.-Ing. Andreas Wibowo (C) Dr.-Ing. Andreas Wibowo
Analytic Hierarchy Process
v
v Analytic Hierarchy Process (AHP) merupakan salah satu teknik
pengambilan keputusan yang paling populer
v
v Dikembangkan oleh Thomas L. Saaty tahun 1980, dan telah banyak
diaplikasikan pada banyak bidang mulai dari politik, kedokteran,
finansial, manufaktur, sampai rekayasa
v
v Sesuai namanya, AHP menstrukturkan permasalahan secara
hierarkis dan menyelesaikan persoalan menggunakan metoda
eigenvector
v
v Tahapan: definisikan tujuan utama, definisikan sub tujuan, tetapkan
kriteria (atau atribut), tentukan peringkat alternatif, dan pilih
alternatif
L o g o
(C) Dr.-Ing. Andreas Wibowo (C) Dr.-Ing. Andreas Wibowo
Analytic Hierarchy Process
L o g o
(C) Dr.-Ing. Andreas Wibowo (C) Dr.-Ing. Andreas Wibowo
Rasio Kepentingan Relatif
v
v Informasi yang dibutuhkan: rasio tingkat kepentingan relatif antara
dua atribut (alternatif) secara berpasangan, biasa disebut
pairwise comparison
v
v Bila wi adalah bobot atribut (alternatif) i dan wj adalah bobot atribut
(alternatif) j maka:
v
v
v
v
v Skala yang digunakan dalam AHP: skala ordinal 1-9
v
v

j
i
ij
w
w
a
jk
ik
ij
a
a
a
0 >
ij
a
L o g o
(C) Dr.-Ing. Andreas Wibowo (C) Dr.-Ing. Andreas Wibowo
Rasio Kepentingan Relatif
Intensity of Importance Definition
1 Equal Importance
3 Moderate Importance
5 Strong Importance
7 Very Strong Importance
9 Extreme Importance
2, 4, 6, 8
For compromises between the above
Reciprocals of above
In comparing elements i and j
- if i is 3 compared to j
- then j is 1/3 compared to i
Rationals
Force consistency
Measured values available

L o g o
(C) Dr.-Ing. Andreas Wibowo (C) Dr.-Ing. Andreas Wibowo
Matriks Resiprokal
1
1
1
1
]
1

1
1
1
1
]
1

nn n n
n
n
n n n n
n
n
a a a
a a a
a a a
w w w w w w
w w w w w w
w w w w w w
A

2 1
2 22 21
1 12 11
2 1
2 2 2 1 2
1 2 1 1 1
1
i
i
ii
w
w
a
ji
ij
a
a
1

Karena , maka matriks A sering disebut matriks resiprokal


Bila ada n atribut, maka ada (n
2
n) rasio untuk setiap matriksnya
L o g o
(C) Dr.-Ing. Andreas Wibowo (C) Dr.-Ing. Andreas Wibowo
Eigen Vector
v Bila matriks A dikalikan dengan vektor bobot
v
v
v
v
v
v
v

Atau bisa dituliskan sebagai:

untuk kasus konsistensi 100%, terjadi

sistem persamaan linear dengan solusi trivial, masalah: solusi


nontrivial


( )
T
n
w w w w
2 1

w w A n
w
w
w
n
w
w
w
w w w w w w
w w w w w w
w w w w w w
n n n n n n
n
n

1
1
1
1
]
1

1
1
1
1
]
1

1
1
1
1
]
1

2
1
2
1
2 1
2 2 2 1 2
1 2 1 1 1
( ) 0 w nI A
L o g o
(C) Dr.-Ing. Andreas Wibowo (C) Dr.-Ing. Andreas Wibowo
Eigen Vector
v Karena tidak dijamin 100% konsisten, maka bila A adalah
estimasi Adan adalah bobot yang diperoleh
v
v
v
v
v Dengan
maks
= eigenvalue maksimum; bila konsisten maka
maks

n
v
v Bila
maks
diketahui, maka sistem persamaan linear dapat dihitung
dan eigenvector bobot dapat ditentukan
w w A
max

j i
w w
w

L o g o
(C) Dr.-Ing. Andreas Wibowo (C) Dr.-Ing. Andreas Wibowo
Contoh Perhitungan
ALTERNATIF
L o g o
(C) Dr.-Ing. Andreas Wibowo (C) Dr.-Ing. Andreas Wibowo
Metoda Aproksimasi 1
v
v Normalisasikan matriks A: jumlahlah kolom dan bagi setiap elemen
dalam kolom tersebut dengan jumlah kolom
v
v Rata-ratakan elemen dari baris dari matriks yang sudah
dinormalisasikan
v
v Metoda ini bisa digunakan untuk matriks-matriks ukuran kecil
(sampai 4) tetapi untuk matriks besar sangat mungkin terjadi
kesalahan aproksimasi yang dapat berakibat berubahnya
peringkat
L o g o
(C) Dr.-Ing. Andreas Wibowo (C) Dr.-Ing. Andreas Wibowo
Metoda Aproksimasi 1
Waktu Kualitas Biaya
Waktu
Kualitas
Biaya
L o g o
(C) Dr.-Ing. Andreas Wibowo (C) Dr.-Ing. Andreas Wibowo
Metoda Aproksimasi 1
Waktu
Kualitas
Biaya
Dalam kasus ini, kriteria (atribut) kualitas menempati peringkat
tertinggi (0,6434) diikuti waktu (0,2828) dan biaya (0,0738)
Dengan kata lain, kualitas adalah 64,34/28,28 kali lebih penting
dibandingkan waktu dan waktu 0,2828/0,0738 kali lebih penting dari biaya
L o g o
(C) Dr.-Ing. Andreas Wibowo (C) Dr.-Ing. Andreas Wibowo
Aproksimasi 2
v
v 1. Kuadratkan matrik A
v
v 2. Jumlahkan elemen baris dan normalisasikan
v
v 3. Kuadratkan kembali hasilnya
v
v 4. Jumlahkan elemen baris dan normalisasikan
v
v 5. Hitung perbedaan jumlah elemen baris dengan langkah
sebelumnya, bila memenuhi toleransi, stop; bila tidak, kembali ke
langkah 3.
L o g o
(C) Dr.-Ing. Andreas Wibowo (C) Dr.-Ing. Andreas Wibowo
Aproksimasi 2
1
1
1
]
1

1
1
1
]
1

1
1
1
]
1

3 3524 , 0 8286 , 0
29 3 4 , 7
3333 , 12 3810 , 1 3
1 1429 , 0 2 , 0
7 1 3
5 3333 , 0 1
1 1429 , 0 2 , 0
7 1 3
5 3333 , 0 1
1810 , 4 3 3524 , 0 8286 , 0
4000 , 39 29 3 4 , 7
7143 , 16 3333 , 12 3810 , 1 3
3 3524 , 0 8286 , 0
29 3 4 , 7
3333 , 12 3810 , 1 3
+ +
+ +
+ +

1
1
1
]
1

0693 , 0
6535 , 0
2772 , 0
2952 , 60
1810 , 4
4000 , 39
7143 , 16

Iterasi 1
L o g o
(C) Dr.-Ing. Andreas Wibowo (C) Dr.-Ing. Andreas Wibowo
Aproksimasi 2
0720 , 0
6490 , 0
2790 , 0
2756 , 40
1333 , 363
1175 , 156
4381 , 29 2585 , 3 5790 , 7
2667 , 265 4381 , 29 4286 , 68
0746 , 114 6317 , 12 4381 , 29
3 3524 , 0 8286 , 0
29 3 4 , 7
3333 , 12 3810 , 1 3
3 3524 , 0 8286 , 0
29 3 4 , 7
3333 , 12 3810 , 1 3

1
1
1
]
1

1
1
1
]
1

1
1
1
]
1

Jumlahkan elemen baris


Normalisasikan
Iterasi 2
L o g o
(C) Dr.-Ing. Andreas Wibowo (C) Dr.-Ing. Andreas Wibowo
Aproksimasi 2
0026 , 0 0693 , 0 0720 , 0
0045 , 0 6536 , 0 6490 , 0
0018 , 0 2772 , 0 2790 , 0




OK? Bila tidak lanjutkan iterasi 3
0719 , 0
6491 , 0
2790 , 0
1312 , 3552
6349 , 32056
1503 , 13776
3461 , 2595 5849 , 287 2002 , 669
0064 , 23422 3461 , 2595 2823 , 6039
4705 , 10065 3336 , 1115 3461 , 2595
4381 , 29 2585 , 3 5790 , 7
2667 , 265 4381 , 29 4286 , 68
0746 , 114 6317 , 12 4381 , 29
4381 , 29 2585 , 3 5790 , 7
2667 , 265 4381 , 29 4286 , 68
0746 , 114 6317 , 12 4381 , 29

1
1
1
]
1

1
1
1
]
1

1
1
1
]
1

Bandingkan dengan metoda 1


Ok?
L o g o
(C) Dr.-Ing. Andreas Wibowo (C) Dr.-Ing. Andreas Wibowo
Aproksimasi 2
L o g o
(C) Dr.-Ing. Andreas Wibowo (C) Dr.-Ing. Andreas Wibowo
Perhitungan Eksak
v Perhitungan untuk
menghitung
eigenvector
dapat dilakukan
secara manual
(time
consuming!)
atau dibantu
dengan piranti
lunak seperti
Mathcad atau
Mathlab (untuk
mathcad
program default
hanya mampu
untuk
menghitung
sampai matriks
9x9)
L o g o
(C) Dr.-Ing. Andreas Wibowo (C) Dr.-Ing. Andreas Wibowo
Bobot Atribut
0,2790 0,6491 0,0719
L o g o
(C) Dr.-Ing. Andreas Wibowo (C) Dr.-Ing. Andreas Wibowo
Penilaian Alternatif
A B C D
A
B
C
D
WAKTU PENGERJAAN
L o g o
(C) Dr.-Ing. Andreas Wibowo (C) Dr.-Ing. Andreas Wibowo
Penilaian Alternatif
A B C D
A
B
C
D
KUALITAS PEKERJAAN
Dengan cara yang sama dicari bobot relatif masing-masing sistem
L o g o
(C) Dr.-Ing. Andreas Wibowo (C) Dr.-Ing. Andreas Wibowo
Penilaian Alternatif
A B C D
A
B
C
D
KUALITAS PEKERJAAN
Dengan cara yang sama dicari bobot relatif masing-masing sistem
L o g o
(C) Dr.-Ing. Andreas Wibowo (C) Dr.-Ing. Andreas Wibowo
Penilaian Alternatif
A B C D
A
B
C
D
BIAYA KONSTRUKSI
Dengan cara yang sama dicari bobot relatif masing-masing sistem
1
1
1
1
]
1

1 3 1 5 1 9 1
3 1 3 1 4 1
5 3 1 2 1
9 4 2 1
L o g o
(C) Dr.-Ing. Andreas Wibowo (C) Dr.-Ing. Andreas Wibowo
Penilaian Alternatif
Waktu Kualitas Biaya
A
B
C
D
0530 , 0
1275 , 0
2988 , 0
5206 , 0
L o g o
(C) Dr.-Ing. Andreas Wibowo (C) Dr.-Ing. Andreas Wibowo
Penilaian Alternatif
0,2790 0,6491 0,0719
0,1160
0,2470
0,0600
0,5770
0,3790
0,2900
0,0740
0,2570
0,5206
0,2988
0,1275
0,0530
L o g o
(C) Dr.-Ing. Andreas Wibowo (C) Dr.-Ing. Andreas Wibowo
Penilaian Alternatif
1
1
1
1
]
1

1
1
1
]
1

1
1
1
1
]
1

3316 , 0
0739 , 0
2786 , 0
3158 , 0
0719 , 0
6491 , 0
2790 , 0
0530 , 0 2570 , 0 5770 , 0
1275 , 0 0740 , 0 0600 , 0
2988 , 0 2900 , 0 2470 , 0
5206 , 0 3790 , 0 1160 , 0
Berdasarkan AHP, sistem D yang paling optimal, diikuti oleh sistem A,
sistem B, dan terakhir sistem C!
L o g o
(C) Dr.-Ing. Andreas Wibowo (C) Dr.-Ing. Andreas Wibowo
Konsistensi
v Konsistensi: bila A B, dan B C, maka seharusnya A C
v
v Konsisten 100% secara teoretis terjadi bilamana:
v
v
v
v Namun dalam kenyataannya sulit dicapai krn berhubungan dengan
human judgement!
v
v Berdasarkan AHP, konsistensi dihitung menggunakan rasio
konsistensi (consistency ratio)
v
v Secara umum, konsisten terjadi bila
max
n
v
v
v
v
jk ij ik
a a a
L o g o
(C) Dr.-Ing. Andreas Wibowo (C) Dr.-Ing. Andreas Wibowo
Consistency Ratio
v
v Rumusan CR:
v
v
v
v
v
v
v
v
v Rumusan ini digunakan untuk setiap matriks resiprokal. Pertanyaan:
bagaimana dengan rasio konsistensi secara agregat?

10 . 0 ,
1
max

RI
CI
CR
n
n
CI
N 1 2 3 4 5 6 7 8
RI 0 0 0,52 0,89 1,11 1,25 1,35 1,40
N 9 10 11 12 13 14 15
RI 1,45 1,49 1,51 1,54 1,56 1,57 1,58
Random Consistency Index (RI)
OK
L o g o
(C) Dr.-Ing. Andreas Wibowo (C) Dr.-Ing. Andreas Wibowo
Consistency Ratio

i
i i
i
i i
H
RI w
CI w
CR
CR hierarchy adalah rasio antara
rata-rata tertimbang CI dan rata-rata
tertimbang RI
( ) ( ) ( )
% 10 % 2207 , 6 52 , 0 0323 , 0
0323 , 0
1 3
3 065 , 3
065 , 3 0719 , 0 13 6491 , 0
21
31
2790 , 0
5
21
max
<

+ +
RC
CI

Matriks Resiprokal Atribut:


L o g o
(C) Dr.-Ing. Andreas Wibowo (C) Dr.-Ing. Andreas Wibowo
Consistency Ratio
( ) ( ) ( ) ( )
% 10 % 330 , 16
89 , 0
145 , 0
145 , 0
1 4
4 436 , 4
436 , 4 577 , 0 6167 , 1 06 , 0 000 , 14 247 , 0 500 , 5 116 , 0 250 , 11
max
>

+ + +
CR
CI

( ) ( ) ( ) ( )
% 10 % 079 , 7
89 , 0
063 , 0
063 , 0
1 4
4 189 , 4
189 , 4 257 , 0 250 , 4 074 , 0 000 , 13 290 , 0 833 , 3 379 , 0 700 , 2
max
<

+ + +
CR
CI

L o g o
(C) Dr.-Ing. Andreas Wibowo (C) Dr.-Ing. Andreas Wibowo
Consistency Ratio
( ) ( ) ( ) ( )
% 10 % 543 , 1
89 , 0
0137 , 0
0137 , 0
1 4
4 0412 , 4
0412 , 4 053 , 0 000 , 18 1275 , 0 333 , 8 2988 , 0 533 , 3 5206 , 0 861 , 1
max
<

+ + +
CR
CI

( ) ( ) ( ) ( ) ( ) ( ) ( ) ( )
( ) ( ) ( ) ( ) ( ) ( ) ( ) ( )
% 10 % 067 , 8
89 , 0 0719 , 0 89 , 0 6491 , 0 89 , 0 2790 , 0 52 , 0 1
0137 , 0 0719 , 0 063 , 0 6491 , 0 145 , 0 2790 , 0 0323 , 0 1
<
+ + +
+ + +

H
H
CR
CR
L o g o
(C) Dr.-Ing. Andreas Wibowo (C) Dr.-Ing. Andreas Wibowo
Expert Choice
L o g o
(C) Dr.-Ing. Andreas Wibowo (C) Dr.-Ing. Andreas Wibowo
Expert Choice
L o g o
(C) Dr.-Ing. Andreas Wibowo (C) Dr.-Ing. Andreas Wibowo
Expert Choice
L o g o
(C) Dr.-Ing. Andreas Wibowo (C) Dr.-Ing. Andreas Wibowo
Expert Choice
L o g o
(C) Dr.-Ing. Andreas Wibowo (C) Dr.-Ing. Andreas Wibowo
Contoh Aplikasi
L o g o
(C) Dr.-Ing. Andreas Wibowo (C) Dr.-Ing. Andreas Wibowo
Contoh Aplikasi
L o g o
(C) Dr.-Ing. Andreas Wibowo (C) Dr.-Ing. Andreas Wibowo
Contoh Aplikasi
L o g o
(C) Dr.-Ing. Andreas Wibowo (C) Dr.-Ing. Andreas Wibowo
Contoh Aplikasi
L o g o
(C) Dr.-Ing. Andreas Wibowo (C) Dr.-Ing. Andreas Wibowo
Contoh Aplikasi
L o g o
(C) Dr.-Ing. Andreas Wibowo (C) Dr.-Ing. Andreas Wibowo
Advanced Topics
v Rank preservation and reversal
v
v Distributive vs ideal modes of AHP
v
v

m
j
n
i
ij
j
ij i
w
x
w w
1
1

,
_


m
j
n
i
ij ij
i
m
j
n
i
ij j ij
ij
i
j ij i
w w
w x w
w x w w
1
1
1 1
max
max
Distributive
Ideal
L o g o
(C) Dr.-Ing. Andreas Wibowo (C) Dr.-Ing. Andreas Wibowo
Advanced Topics
L o g o
(C) Dr.-Ing. Andreas Wibowo (C) Dr.-Ing. Andreas Wibowo
Tugas
v Soal 1: Harga Perkiraan Sendiri

Opsi A: HPS diumumkan tetapi tidak bisa digunakan


untuk menggugurkan penawaran yang terlalu
rendah

Opsi B: HPS tidak diumumkan tetapi bisa digunakan


untuk menggugurkan penawaran yang terlalu
rendah

v
Soal 2: Standar Nasional Indonesia

Opsi A: SNI tentang Analisa Biaya Konstruksi


dijadikan sebagai satu-satunya instrumentasi
pemeriksaan untuk investigasi proyek

Opsi B: SNI tentang Analisa Biaya Konstruksi tidak


dijadikan sebagai satu-satunya instrumentasi
pemeriksaan untuk investigas proyek
L o g o
(C) Dr.-Ing. Andreas Wibowo (C) Dr.-Ing. Andreas Wibowo
Software AHP
v
http://www.superdecisions.com/ (free)
v
http://www.expertchoice.com
(copyrighted)