Anda di halaman 1dari 31

KELOMPOK 3 PELATIHAN KLINIK ILMU PENYAKIT DALAM BRONKOPNEUMONIA

Defenisi
Pneumonia adalah suatu radang paru yang disebabkan oleh bermacam-macam etiologi seperti bakteri, virus, jamur dan benda asing. Pembagian pneumonia berdasarkan anatomi 1.Pneumonia Lobaris 2.Pneumonia Lobularis(bronkopneumonia) 3.Pneumonia Interstitialis

Etiologi
1. 2.

3. 4.

5.

6.

Bakteri Streptococcus pneumonia(pneumococcus), Hemophillus influenza, Streptococcus hemolyticus, Klebsiella pneumonia(Bacillus Friedlander) Virus Respiratory syncitial virus, virus influenza, Adenovirus, Virus sitomegalik Mycoplasma pneumonia. Jamur Histoplasmosis capsulatum, Cryptococcus neoformans, Blastomyces dermatides, Coccidiodes immitis dan Candida albicans Aspirasi Makanan, karosen(bensin, minyak tanah), cairan amnion, benda asing. Faktor lain daya tahan tubuh yang menurun, misalnya akibat malnutrisi energi protein, penyakit kronis, faktor iatrogenik seperti trauma pada paru, aspirasi.

Patogenesis
Pneumonia merupakan penyakit sekunder yang didahului oleh penyakit primer. Penyakit primer biasanya adalah infeksi saluran nafas atas dan dapat juga akibat infeksi virus lain seperti morbili atau penyakit yang menyebabkan daya tahan tubuh lemah. Di negara berkembang penyebab pneumonia utama adalah bakteri (Indonesia berkisar60-70%). Bakteri patogen tersebut masuk ke dalam paru-paru melalui saluran pernafasan secara percikan (droplet). Bila pada saat itu daya tahan tubuh rendah atau patogenitas kumannya cukup tinggi maka akan menimbulkan reaksi peradangan pada alveoli.

1. 2.

3.

4.

Secara patologi proses radang pneumonia dapat dibagi atas 4 stadium, antara lain: Stadium Kongesti Kapiler melebar dan kongesti serta di dalam alveolus terdapat eksudat jernih, bakteri dalam jumlah banyak, beberapa netrofil dan makrofag. Stadium Hepatisasi Merah Lobus dan lobulus yang terkena menjadi padat dan tidak mengandung udara, warana menjadi merah dan pada perabaan seperti hepar. Dalam alveoli terdapat fibrin, leukosit, eksudat dan banyak sekali eritrosit dan kuman. Stadium Hepatisasi Abu-Abu Lobus masih tetap padat dan warna merah menjadi pucat kelabu. Permukaan pleura menjadi suram karena diliputi oleh fibrin. Alveolus terisi fibrin dan leukosit, tempat terjadi fagositosis pneumococcus. Kapiler tidak lagi kongestif. Stadium Resolusi Eksudat berkurang, dalam alveolus makrofag bertambah dan leukosit mengalami nekrosis dan degenerasi lemak. Fibrin direabsorbsi dan menghilang

Gejala
infeksi saluran nafas bagian atas selama beberapa hari Suhu dapat naik sangat mendadak sampai 39-40 C dan mungkin disertai kejang karena demam yang tinggi. sangat gelisah, dyspneu, pernafasan cepat dan dangkal disertai pernafasan cuping hidung dan sianosis sekitar hidung dan mulut. Kadang-kadang disertai muntah dan diare. Batuk setelah beberapa hari, mula-mula kering kemudian menjadi produktif.

Pemeriksaan Fisis
Pada bronkopneumonia, hasil pemeriksaan fisik tergantung luas daerah yang terkena.
inspeksi

thorak dalam keadaan berat dapat terlihat adanya retraksi dinding dada perkusi sering tidak ditemukan kelainan namun dapat juga terdengar redup auskultasi mungkin hanya terdengar ronkhi basah halus nyaring atau sedang. Bila sarang bronkopneumonia menjadi satu (konfluens)
perkusi terdengar redup  auskultasi suara pernafasan terdengar mengeras


Pemeriksaan Penunjang
PEMERIKSAAN LABORATORIUM Gambaran darah menunjukkan leukositosis, terutama bila disebabkan oleh bakteri, dengan laju endap darah yang meningkat.

PEMERIKSAAN RONTGEN THORAK Pemeriksaan ini dapat menunjukkan kelainan sebelum ditemukan secara fisik. Pada bronkopneumonia bercak-bercak infiltrat didapatkan pada satu atau beberapa lobus.

Diagnosa Banding
Bronkhitis Pneumonia Lobaris Tuberculosis paru.

Komplikasi
Dengan penggunaan antibiotik komplikasi hampir tidak pernah dijumpai. Komplikasi yang sering terjadi adalah :
otitis

media akut Dehidrasi Emphiema meningitis purulenta infeksi jamur abses paru

Penatalaksanaan
Cairan IV Anak yang sangat sesak nafasnya memerlukan cairan intravena dan oksigen. Jenis cairan yang digunakan adalah campuran glukosa 5% NaCl 0.9 % perbandingan 3 : 1 ditambah larutan KCL 10 mEq/500 ml Cairan diberikan berdasarkan Water Loss Maintenance (kebutuhan cairan rumatan).

Antibiotik penicillin 50.000 U/kgBB/hari atau ampicillin 100mg/kgBB/hari dibagi 4 dosis ditambah dengan : khloramfenikol 50-75 mg/kgBB/hari. Pengobatan minimal 7-10 hari atau sampai 4-5 hari bebas demam. Dapat juga diberikan cefotaxim 100mg/kgBB/hari atau amikasin 10-15 mg/kgBB/hari 2 kali pemberian.

Daftar pustaka
Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak FKUI. Pneumonia. Dalam: Buku Kuliah Kesehatan Anak, Jilid 3. Jakarta: Bagian IKA FKUI 1985; 1228-35. Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak FK. Unand. Bronkopneumonia. Dalam: Pedoman Diagnosis dan Terapi Ilmu Kesehatan Anak. Padang: bagian IKA FK. Unand, 2000; 134. Garna Hemostasis, Hamzah ES, Nataprawira MD. Pneumonia. Dalam: Pedoman Diagnosis dan Terapi Ilmu Kesehatan Anak, edisi kedua. Bandung: Bagian/SMF Ilmu Kesehatan Anak FK. Unpad/ RSUP Dr. Hasan Sadikin, 2000.

KASUS

IDENTITAS Nama Jenis Kelamin Umur Berat badan Tinggi badan Pendidikan No RM

: : : : : : :

joko Laki-laki 22 tahun 45 kg 160 cm Mahasiswa ---

ANAMNESIS
Keluhan Utama batuk sejak 3 hari yang lalu Riwayat Penyakit Sekarang
@Panas sejak 3 hari, pada malam dan siang hari badan panas, tapi pada pagi hari panas turun, panas timbul perlahan lahan, @pasien juga batuk sejak 3 hari, batuk kadang kering kadang berdahak, dahak agak kental, batuk dirasakan pada malam, siang dan pagi, sesak juga dirasakan sudah 3 hari, demam timbul mendadak,

Riwayat Penyakit Dahulu pasien sudah menderita penyakit seperti ini sejak 2 tahun yang lalu, sering kambuhkambuhan dan pernah di bawa ke puskesmas, riwayat alergi dingin (-), alergi obat (-). Riwayat Penyakit Keluarga
Paman juga menderita penyakit serupa, riwayat alergi (-).

Pemeriksaan Fisik
Vital Sign
Keadaan umum Kesadaran Sianosis Frekunsi nadi Frekuensi nafas Suhu : Berat Badan Tinggi badan Pucat Ikterik : : : : : : : : sakit sedang : composmentis (-) 120 x /menit 35 x /menit 38 0 C 45 kg 160 cm (-) (-)

KEPALA-LEHER
Leher : Kelenjar getah bening tidak membesar Torak Kulit : sianosis (-), ikterus (-), anemis (-), teraba panas Mata : mata tidak cekung, konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik, pupil isokor, diameter 2 mm, reflek cahaya +/+ Telinga : Tidak ada kelainan Hidung : nafas cuping hidung (-). Mulut : sianosis sekitar mulut (-) Faring : tidak hiperemis.

Paru
: INSPEKSI PARU ANTERIOR : 1. KIRI - ATAS : - DADA SIMETRIS DENGAN KANAN ATAS, SELA IGA TIDAK MELEBAR,TIDAK ADA PENONJOLAN. - BAWAH : - DADA ASIMETRIS ATAU LEBIH MENONJOL DIBANDINGKAN KANAN BAWAH. - SELA IGA MELEBAR - RITME PERNAFASAN CEPAT DAN DANGKAL - GERAKAN HEMITORAK BERKURANG (TERTINGGAL) 2. KANAN - ATAS : - DADA SIMETRIS DENGAN KIRI ATAS, SELA IGA TIDAK MELEBAR,TIDAK ADA PENONJOLAN. -BAWAH : - DADA ASIMETRIS DENGAN KIRI BAWAH(KIRI BAWAH LEBIH MENONJOL), KANAN BAWAH TIDAK ADA PENONJOLAN.

PALPASI PARU ANTERIOR

1. KIRI : - ATAS : FREMITUS NORMAL - BAWAH : FREMITUS MENINGKAT (RIC IV-VI ATAU PADA LOBUS BAWAH) 2. KANAN : - ATAS : FREMITUS NORMAL - BAWAH : FREMITUS NORMAL

PERKUSI PARU ANTERIOR -KIRI :

ATAS : SONOR 2. BAWAH : REDUP (RIC IV-VI ATAU PADA LOBUS BAWAH)
1.

- KANAN : 1. ATAS : SONOR 2. BAWAH : SONOR

AUSKULTASI PARU ANTERIOR 1. KIRI : ATAS : VESIKULAR BAWAH : BRONKOVESIKULAR (RIC IV-VI ATAU PADA LOBUS BAWAH) DAN ADA RONCHI BASAH NYARING 2. KANAN : ATAS : VESIKULAR BAWAH : VESIKULAR

INSPEKSI PARU POSTERIOR :


1. KIRI - ATAS : - PUNGGUNG SIMETRIS DENGAN KANAN ATAS

- BAWAH :- PUNGGUNG ASIMETRIS ATAU LEBIH MENONJOL DIBANDINGKAN KANAN BAWAH. - RITME PERNAFASAN CEPAT DAN DANGKAL - GERAKAN BERKURANG (TERTINGGAL). 2. KANAN - ATAS : - PUNGGUNG SIMETRIS DENGAN KIRI ATAS,. -BAWAH : - PUNGGUNG ASIMETRIS DENGAN KIRI BAWAH (KIRI BAWAH LEBIH MENONJOL), KANAN BAWAH TIDAK ADA PENONJOLAN.

PALPASI PARU POSTERIOR

1. KIRI : - ATAS : FREMITUS NORMAL - BAWAH : FREMITUS MENINGKAT (TH IV-X ATAU PADA LOBUS BAWAH) 2. KANAN : - ATAS : FREMITUS NORMAL - BAWAH : FREMITUS NORMAL

PERKUSI PARU POSTERIOR 1. KIRI : - ATAS :-SONOR - BAWAH :-REDUP (TH IV-X ATAU PADA LOBUS BAWAH 2. KANAN : - ATAS : SONOR - BAWAH : SONOR

AUSKULTASI PARU POSTERIOR 1. KIRI : ATAS : VESIKULAR BAWAH : BRONKOVESIKULAR (TH IV-X ATAU PADA LOBUS BAWAH) DAN ADA RONCHI BASAH NYARING 2. KANAN : ATAS : VESIKULAR BAWAH : VESIKULAR

Jantung : Inspeksi : iktus tidak terlihat Palpasi : iktus teraba 1 jari lateral LMCS RIC V Perkusi : batas jantung kiri 1 jari lateral LMCS RIC V Auskultasi : bunyi jantung murni, irama reguler, bising (-). Abdomen : Inspeksi : datar Palpasi : hepar dan lien tidak teraba, turgor baik Perkusi : timpani Auskultasi : bising usus (+) normal

Punggung : tak ada kelainan Ekstremitas : ekstremitas hangat, sianosis (-) Reflek fisiologis +/+, reflek patologis -/-

DIAGNOSIS KERJA :
Bronkopneumonia

SINISTRA

TERAPI
Oksigen

2 L/mnt IVFD 2A 8 tts/mnt Amoxicilin 3x 200 mg IV