Anda di halaman 1dari 41

Skenario 6 Blok Spesial Sense I

SGD 10

Skenario
Seorang wanita berusia 40 tahun yang tinggal di desa terpencil, dibawa keluarganya untuk berobat di kota. Keadaan kesehatannya cukup memprihatinkan. Tubuhnya kurus dan agak bongkok, dan ia sering batuk-batuk. Akhirakhir ini penderitaannya bertambah karena mata kanannya menjadi kabur, selalu merah dan berair. Juga terasa sakit.

Pada pemeriksaan OD dijumpai: - AVOD 4/60 tak dapat dikoreksi - Ada injeksi silier - Dipermukaan belakang cornea ada keratic precipitates yang besar-besar seperti lemak domba (mutton-fat deposits) - Di camera oculi anterior bagian bawah ada hypopion - Pupil miosis, setelah ditetes midriatikum tampak banyak synechia posterior Ada surat keterangan dari dokter spesialis paru yang dikunjungi sehari sebelumnya, yang menyatakan pasien menderita Koch pulmonum aktif. Pertanyaan : Penyakit apakah yang diderita pasien? (Iridocyclitis Tuberculosa)

Terminologi
Keratic precipitates adanya eksudat pada endotel kornea Synechia posterior penempelan iris pada lensa Hypopion eksudat pada bagian inferior COA Koch pulmonum tuberculosis paru Injeksi silier pelebaran pembuluh darah dari perikornea ke perifer

Identifikasi Masalah
1. Apa hubungan koch pulmonal dengan keluhan yang diderita OS? 2. Bagaimana bisa terjadi keratic precipitates, hypopion, dan synechia pada OS?

Analisa Masalah
1. Apa hubungan koch pulmonal dengan keluhan yang diderita OS? Penyebaran dari koch pulmonal melalui hematogen menuju iris, karena iris banyak mengandung pembuluh darah

Bagaimana bisa terjadi keratic precipitates, hypopion, dan synechia pada OS? Dikarenakan adanya radang dan terjadi reaksi imun yang terjadi pada kornea untuk melawan bakteri dari koch pulmonal, yang mengakibatkan rusaknya pembuluh darah, sehingga mengakibatkan pembuluh darah bersifat permeabel dan cairan keluar dari pembuluh darah eksudat (Eksudat tersebut berupa selsel radang inflamasi iris dan corpus siliaris) Keratic precipitates

Eksudat dari endotel kornea turun ke bawah memenuhi COA bagian bawah karena suhu kornea < suhu iris berat jenis eksudat >>> pada kornea hypopion Synechia posterior : eksudat turun ke pupil menyebabkan oklusio pada pupil, dikarenakan terjadi oklisio pada pupil sehingga terjadi perlengkatan iris pada lensa yang disebabkan eksudat

Pohon Topik
Wanita 40 thn Anamnesis Pemeriksaan fisik AVOD 4/60 tak dapat koreksi injeksi silier (+), keratic precipitates (+) COA bawah ada hypopion Pupil miosis Banyak synechia posterior

OD kabur, merah, berair, sakit Koch Pulmonum (+)

Pemeriksaan Penunjang Diagnosa : Iridocyclitis Tuberculosa Penatalaksaan

Tujuan Pembelajaran
Mahasiswa mampu mengetahui, memahami dan menjelaskan : - Anatomi dan histologi uvea anterior - Defenisi, etiologi, prevalensi, patogenesis, gejala klinis, pemeriksaan penunjang, diagnosa, penatalaksanaan, prognosis dari penyakit Iridocyclitis tuberculosa

Belajar Mandiri

Iris Uvea anterior Uvea Badan cilliaris

Koroid

Uvea posterior

Iris membagi antara COA dengan COP.

Iris mempunyai kemampuan mengatur sinar ke dalam bola mata secara otomatis.

Iris
Berhubungan dengan korpus siliaris da anyaman trabekula Paling tipis sehingga mudah ruptur. Iris membagi dua bilik mata:COA dan COP yang terdapat cairan aquosus humor yang di hasilkan corpus siliaris. Warna iris bermacam-macam tertangantung pigmen. Perdarahannya: arteris ciliaris posterius longus

M. Spinchter pupilae Berjalan sirkular selebar + 1 mm pada ujung bebas iris Miosis oleh saraf parasimpatis (N.III)

M. Dilatators pupilae Berjalan radier dari M. spinchter papillae sampai akar iris Midriasi oleh saraf simpatis

Corpus ciliaris
Berbentuk segitiga Terbagi menjadi dua zona: -zona anterior: pars plicata berukuran 2mm, pinggiran bergerigi -zona posterior:pars plana berukuran 4mm, pinggiran datar. Penghasil cairan mata aquosus humor. Adanya m.ciliaris untuk akomodasi. Terdapat serat-serat zonula zinii penggantung lensa.

Choroid
Lokasi antara sclera dan retina (mulai dari Ora serrata sampai N.II) Merupakan lapisan gelap kecoklatan Mengandung banyak pigmen dan pembuluh darah (berada pada bagian vaskulosa) Penampang dari luar ke dalam: -Supra arachnoid space (berjalan a. dan n. ciliaris longus -Lapisan pembuluh darah besar -Lapisan pembuluh darah sedang -Lapisan pembuluh darah kecil (choriocapiler) -Lamina vitrea (membrane bruch) Member nutrisi kepada retina (1/3 bagian luar), korpus vitreum, dan lensa.

Radang iris
Corpus ciliaris

Iridis
Cyclitis

Radang iris

Corpus ciliaris

iridocyclitis

IRIDOSIKLITIS ( UVEA ANTERIOR )


RADANG PADA IRIS DAN CORPUS CILIARIS
BENTUK: 1. AKUT : serangan akut berlangsumg tidak lebih dari 6 minggu 2. KRONIK : berlangsung lebih dari 6 minggu, dapat tanpa gejala

Klasifikasi berdasarkan patologi

Uveitis non granulomatosa

Uveitis granulomatosa

TIPE UVEITIS ANTERIOR : 1.EKSOGEN : masuknya mikroba luar 2.ENDOGEN : berhubungan dengan mikroba dalam tubuh

Gejala Klinis
FOTOFOBIA MATA MERAH PENGLIHATAN KABUR SAKIT DIMATA SAKIT KEPALA LAKRIMASI

PEMERIKSAAN FISIK
INJEKSI SILIAR EDEMA KORNEA KERATIK PRESIPITAT PD ENDOTEL KORNEA KRIPTI EDEMA PUPIL KECIL SINEKIA POSTERIOR VISUS MENURUN PEM SLIT LAMP, terdapat sel akueous dan flare. Jika inflamasi berat, timbul hipopion. MIOSIS PUPIL : karena edema iris

PEMERIKSAAN FISIK
PINGGIR PUPIL IREGULER ( sinekia posterior ) PUPIL TERISI JARINGAN PUTIH ( occlusio pupillae) PEMBULUH DARAH IRIS BERDILATASI TIO DAPAT MENINGKAT EDEMA MAKULAR

Pemeriksaan Penunhang oftalmologi


Visus noramal atau Tekanan intraokular (TIO) pada mata yang meradang lebih rendah daripada mata yang sehat. Hal ini secara sekunder disebabkan oleh penurunan produksi cairan akuos akibat radang pada korpus siliaris. Akan tetapi TIO juga dapat meningkat akibat perubahan aliran keluar (outflow) cairan akuos Konjungtiva : terlihat injeksi silier

Kornea : KP (+), edema stroma kornea Camera Oculi Anterior (COA) : sel-sel flare dan/atau hipopion Hipopion Iris sinekia posterior Lensa dan korpus vitreus anterior lentikular presipitat kapsul lensa anterior

Gambaran hipopion pada uveitis anterior

Keratic Presipitates pada Uveitis Anterior

Gambaran Sinekia Posterior

Diagnosa banding
Konjungtivitis - penglihatan tidak kabur -respon pupil normal -ada kotoran mata -umumnya tidak ada rasa sakit -fotofobia - injeksi conjungtival

Keratitis atau keratokonjungtivitis. -penglihatan dapat kabur - ada rasa sakit -fotofobia. -ex:keratitis herpes simpleks dan herpes zoster uveitis anterior.

Glaukoma akut -mata merah injeksi conjungtival -pupil melebar -sering di sertai mual dan muntah -rasa sakit yang hebat -tidak ditemukan sinekia posterior -korneanya keruh -Visus buruk -TIO tinggi

Penatalaksaan
TUJUAN TERAPI : 1. Menghilangkan nyeri dan inflamasi pada mata 2. Mencegah kerusakan struktur okular, terutama makula dan saraf optk yd dapat menyebabkan kehilangan penglihatan permanen

Uveitis anterior non-granulomatosa


Analgetik sistemik Kacamata gelap Pupil harus tetap dilebarkan untuk mencegah sinekia posterior atropine Tetes steroid lokal Steroid sistemik Sikoplegik spesifik

Uveitis anterior granulomatosa


Terapi diberikan sesuai dengan penyebab spesifiknya Atropin 2%

Komplikasi
Sinekia anterior perifer. Uveitis anterior dapat menimbulkan sinekia anterior perifer yang menghalangi humor akuos keluar di sudut iridokornea (sudut kamera anterior) sehingga dapat menimbulkan glaukoma Sinekia posterior dapat menimbulkan glaukoma dengan berkumpulnya akuos humor di belakang iris, sehingga menonjolkan iris ke depan

Gangguan metabolisme lensa dapat menimbulkan katarak Edema kistoid makular dan degenerasi makula dapat timbul pada uveitis

Prognosis
Kebanyakan kasus uveitis anterior berespon baik jika dapat didiagnosis secara awal dan diberi pengobatan. uveitis anterior mungkin berulang, terutama jika ada penyebab sistemiknya. Karena baik para klinisi dan pasien harus lebih waspada terhadap tanda dan mengobati dengan segera. Prognosis visual pada iritis kebanyak akan pulih dengan baik, tanpa adanya katarak, glaucoma atau posterior uveitis.

DAFTAR PUSTAKA
Bruce james,Chris chew, Anthony bron.: Lecture notes oftalmologi, edisi 9.Erlangga Prof.dr.Sidarta Ilyas SpM, DKK, ; ilmu penyakit mata untuk dokter umum dan mahasiswa kedokteran, edisi ke-2, 2002, CV SAGUNG SETO