Anda di halaman 1dari 16

Oleh kelompok

Pengertian Tetanus Neonatorum


Penyakit tetanus pada bayi baru lahir dengan tanda klinik yang khas, setelah 2 hari pertama bayi hidup, menangis dan menyusu secara normal, pada hari ketiga atau lebih timbul kekakuan seluruh tubuh yang ditandai dengan kesulitan membuka mulut dan menetek, disusul dengan kejang kejang (WHO, 1989).

Etiologi
y Penyebab tetanus neonatorum adalah clostridium

tetani yang merupakan kuman gram positif, anaerob, bentuk batang dan ramping. Kuman tersebut terdapat ditanah, saluran pencernaan manusia dan hewan. Kuman clostridium tetani membuat spora yang tahan lama dan menghasilkan 2 toksin utama yaitu tetanospasmin dan tetanolysin.

Patofisiologi
y Spora yang masuk dan berada dalam lingkungan

anaerobic berubah menjadi bentuk vegetatif dan berbiak sambil menghasilkan toxin. Dalam jaringan yang anaerobic ini terdapat penurunan potensial oksidasi reduksi jaringan dan turunnya tekanan oxigen jaringan akibat adanya nanah, nekrosis jaringan, garam kalsium yang dapat diionisasi. Secara intra axonal toxin disalurkan ke sel saraf (cel body) yang memakan waktu sesuai dengan panjang axonnya dan aktifitas serabutnya.

y Belum terdapat perubahan elektrik dan fungsi sel saraf

walaupun toksin telah terkumpul dalam sel. Dalam sungsum belakang toksin menjalar dari sel saraf lower motorneuron ke lekuk sinaps dan diteruskan ke ujung presinaps dari spinal inhibitory neurin. Pada daerah inilah toksin menimbulkan gangguan pada inhibitory transmitter dan menimbulkan kekakuan.

Gambaran Umun
y Trismus (lock-jaw, clench teeth)

Adalah mengatupnya rahang dan terkuncinya dua baris gigi akibat kekakuan otot mengunyah (masseter) sehingga penderita sukar membuka mulut. y Risus Sardonicus (Sardonic grin) Terjadi akibat kekakuan otot-otot mimic dahi mengkerut mata agak tertutup sudut mulut keluar dan kebawah manggambarkan wajah penuh ejekan sambil menahan kesakitan atau emosi yang dalam.

y Opisthotonus

Kekakuan otot-otot yang menunjang tubuh : otot punggung, otot leher, trunk muscle dan sebagainya. Kekakuan yang sangat berat menyebabkan tubuh melengkung seperti busur, bertumpu pada tumit dan belakang kepala.

y Otot dinding perut kaku, sehingga dinding perut

seperti papan. Selain otot didnding perut, otot penyangga rongga dada juga kaku, sehingga penderita merasakan keterbatasan untuk bernafas atau batuk. y Bila kekakuan makin berat, akan timbul kejang-kejang umum, mula-mula hanya terjadi setelah penderita menerima rangsangan misalnya dicubit, digerakkan secara kasar, terpapar sinar yang kuat dan sebagainya, lambat laun masa istirahat kejang makin pendek sehingga anak jatuh dalam status convulsivus.

y Pada tetanus yang berat akan terjadi :

Gangguan pernafasan akibat kejang yang terusmenerus atau oleh karena spasme otot larynx yang bila berat menimbulkan dan kematian. Kekakuan otot sphincter dan otot polos lain seringkali menimbulkan retentio alvi atau retention urinae. Patah tulang panjang (tulang paha) dan fraktur kompresi tulang belakang.

Pengkajian
y Identitas y Riwayat Keperawatan : antenatal, intranatal, postnatal. y Pemeriksaan Fisik y Keadaan Umum : Lemah, sulit menelan, kejang y Kepala : Poisi menengadah, kaku kuduk, dahi mengkerut, mata agak tertutup, sudut mulut keluar dan kebawah. y Mulut : Kekakuan mulut, mengatupnya rahang, seperti mulut ikan. y Dada : Simetris, kekakuan otot penyangga rongga dada, otot punggung. y Abdomen : Dinding perut seperti papan. y Kulit : Turgor kurang, pucat, kebiruan. y Ekstremitas : Flexi pada tangan, ekstensi pada tungkai, hipertoni sehingga bayi dapat diangkat bagai sepotong kayu.

Pemeriksaan Fisik
y y

y y y

Respirasi : Frekuensi nafas, penggunaan otot aksesori, bunyi nafas, batuk-pikel. Kardiovaskuler : Frekuensi, kualitas dan irama denyut jantung, pengisian kapiler, sirkulasi, berkeringat, hiperpirexia. Neurologi : Tingkat kesadaran, reflek pupil, kejang karena rangsangan. Gastrointestinal : Bising usus, pola defekasi, distensi Perkemihan : Produksi urine Muskuloskeletal : Tonus otot, pergerakan, kekakuan.

Diagnosa Keperawatan
y Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d.

peningkatan kebutuhan kalori yang tinggi, makan tidak adekuat. y Ketidakefektifan jalan nafas b.d. terkumpulnya liur di dalam rongga mulut (adanya spasme pada otot faring). y Koping keluarga tidak efektif b.d. kurang pengetahuan keluarga tentang diagnosis/prognosis penyakit anak

Intervensi
y Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d. Peningkatan kebutuhan kalori yang tinggi, makan tidak adekuat. y Tujuan : nutrisi dan cairan dapat dipertahankan sesuai dengan berat badan dan pertumbuhan normal. y Kriteria hasil : y Tidak terjadi dehidrasi y Tidak terjadi penurunan BB y Hasil lab. tidak menunjukkan penurunan albumin dan Hb y Tidak menunjukkan tanda-tanda malnutrisi

y 1. Catat intake dan output secara akurat. y 3. Berikan perawatan kebersihan mulut. y 4. Gunakan aliran oksigen untuk menurunkan distress

nafas. y 5. Berikan formula yang mengandung kalori tinggi dan protein tinggi dan y sesuaikan dengan kebutuhan. y 6. Ajarkan dan awasi penggunaan makanan seharihari.

Ketidakefektifan jalan nafas b.d. terkumpulnya liur di dalam rongga mulut (adanya spasme pada otot faring)
y Tujuan : kelancaran lalu lintas udara (pernafasan) terpenuhi secara maksimal. y Kriteria hasil : y Tidak terjadi aspirasi y Bunyi napas terdengar bersih y Rongga mulut bebas dari sumbatan y Intervensi : y 1. Berikan O2 nebulizer y 5. Berikan perawatan kebersihan mulut. y 6. Lakukan penghisapan bila pasien tidak dapat batuk secara efektif dengan melihat waktu.