Anda di halaman 1dari 46

Presentasi kasus

Keratokonjungtivitis filamentosa Disusun oleh: Andre Azhar Jeni Batami RH

IDENTITAS PASIEN Nama Umur Jenis kelamin Agama Tempat / tgl lahir Suku / Bangsa Pendidikan Pekerjaan Alamat Tgl pemeriksaan : Ny. Amih : 47 tahun : Perempuan : Islam :: Jawa : Tamat SD : Tidak bekerja :: 22 July 2011

anamnesa
Keluhan Utama : mata sebelah kanan terasa menganjal sejak 1 minggu yang lalu Keluhan Tambahan : mata sulit dibuka dan sangat silau

Riwayat Penyakit Sekarang :

Pasien datang ke poli klinik mata dengan keluhan mata sebelah kanan terasa mengganjal yang sudah dirasakan pasien sejak 7 hari yang lalu, Keluhan ini dirasakan awalnya ketika pasien bangun pagi. Pasien juga mengeluhkan nyeri dan bengkak pada kelopak mata, mata sulit dibuka karena pasien merasa seperti ada luka di mata bagian atas. Pasien juga mengeluh mata seperti berpasir, sangat silau dan terkadang bertambah nyeri apabila terkena cahaya matahari. Mata pasien juga berair banyak, air mata cair, tidak lengket dan tidak banyak belekan dipagi hari. mata pasien juga merah dan penglihatan pasien terasa seperti berbayang.

Pasien juga menyatakan matanya sering bergerak gerak atau berkedut sendiri. Pasien menyangkal pernah mengalami mata kering atau mulut kering yang cukup lama sebelumnya. Pasien juga tidak pernah mengeluh adanya perbesaran dileher. Pasien juga menyangkal pernah kemasukan benda asing pada mata dan juga tidak pernah menggunakan kontak lensa. Pasien sering mengucek kucek mata. Pasien pernah mengalami sakit yang sama sekitar 7 tahun yang lalu, namun kelainan sembuh sendiri. Pasien menyatakan memiliki riwayat darah tinggi yang tidak terkontrol sampai sekarang. Pasien menyangkal memiliki penyakit kencing manis

Riwayat Penyakit Dahulu : Pasien tidak pernah menderita sakit seperti ini sebelumnya Riwayat Penyakit Keluarga: Tidak ada keluarga pasien yang menderita penyakit seperti ini. Riwayat Alergi : pasien tidak ada alergi

PEMERIKSAAN FISIK
Status Generalis Keadaan Umum Kesadaran Tanda vital Tekanan Darah Nadi Suhu Frekwensi Pernapasan Berat Badan Kepala Leher : Tampak Sakit Ringan : Compos mentis

: 170/120 mmHg : 80 x/menit :: 20 x/menit : 62 kg : normochepal : tidak ada perbesaran kelenjar getah bening

status oftalmologis

Resume
Anamnesa mata sebelah kanan terasa mengganjal epifora Blefarospasme fotofobia Injeksi konjuctiva dan injeksi siliar hyperemia konjungtiva mata seperti berpasir belekan dipagi hari penglihatan berbayang Sering mengucek mata Pasien pernah mengalami sakit yang sama sekitar 7 tahun yang lalu, namun kelainan sembuh sendiri. memiliki riwayat darah tinggi yang tidak terkontrol sampai sekarang

Pemeriksaan Fisik
Visus Pupil : OD = 20/50 , PS OS = 20/20 , PS : OD = bulat, isokor reflex cahaya langsung dan tidak langsung (+) OS = bulat, isokor reflex cahaya langsung dan tidak langsung (+) : OD = Oedem (+), Hiperemis (+), injeksi siliar (+) : OD= gambaran seperti benang benang halus (filamen) (+) keabu abuan : OD = normal/palpasi OS = normal/palpasi

Konjungtiva Kornea TIO

DIAGNOSIS KERJA
Keratokunjunctivitis filamentosa OD

DIAGNOSIS BANDING
keratokonjungtivitis sika Keratokonjungtivitis sindroma sjogren

Pemeriksaan Penunjang
Slit lamp

PENATALAKSANAAN
Larutan hipertonik NaCl 5% 2 x sehari pagi dan sore Air mata buatan Hyaloph OD 1 tetes per 3 jam Ciprofloxacin 500 mg 2 x sehari Vitamin C tab 2x 500 mg Scrap filament dengan cotton bud Bebat mata

PROGNOSIS Ad vitam : dubia ad bonam Ad function : dubia ad bonam

Analisa kasus
Anamnesis Berdasarkan anamnesis didapatkan mata kanan pasien terasa seperti ada yang mengganjal yang dirasakan sejak 7 hari yang lalu. Pasien merasa dimata kanan nya seperti ada pasir, dan air mata lebih banyak dari biasanya. Selain itu pasien juga mengeluh mata kanan merah, nyeri dan bengkak pada kelopak mata. hal ini dapat menunjukkan bahwa adanya proses inflamasi yang terjadi pada mata kanan pasien.

Dari anamnesis pasien juga menyebutkan bahwa pandangan pasien kabur. Hal tersebut terjadi setelah pasien mengalami keluhankeluhan diatas. Dari sini terlihat adanya penurunan visus yang terjadi pada mata kanan pasien yang dapat diakibatkan oleh proses inflamasi pada kornea.

Pemeriksaan Fisik
Visus OD 20/50 , OS 20/20 Hal ini menunjukkan adanya penurunan tajam penglihatan pada mata kanan yang dapat disebabkan oleh proses inflamasi tersebut pada konjungtiva tarsal OD terdapat edema, hipersemis. Sedangkan pada konjungtiva bulbi OD juga terdapat hiperemis dan injeksi siliar. Hal ini makin memperkuat adanya proses inflamasi yang terjadi pada mata kanan.

Pada kornea terdapat defek epitel kornea yang berbentuk benangbenang atau filament menunjukkan adanya keratistis. Karena berbentuk seperti benang atau filament maka digolongkan kedalam keratitis filamentosa.

Penatalaksanaan
Larutan hipertonik NaCl 5%

Air mata buatan memperbaiki hygiene mata, menyegarkan mata dan mengurangi gejala Hyaloph (sodium hyaluronate) digunakan sebagai dekongestan, anastesik dan anti- inflamasi pada mata dan dapat membantu menghilangkan lesi pada epitel

Ciprofloxacin 500 mg 2 x sehari antibiotik spektrum luas Vitamin C tab 2x 500 mg antioksidant dan membantu mempercepat epitelisasi Pengangkatan filamen Tujuan bebat mata:
menghindari infeksi sekunder menghindari cahaya mempercepat epitelisasi

Tinjauan Pustaka
Anatomi kornea

Kornea adalah selaput bening mata, bagian selaput mata yang tembus cahaya, menempati pertengahan dari rongga bola mata anterior yang terletak diantara sclera. Kornea ini merupakan lapisan avaskuler dan menjadi salah satu media refraksi

Lapisan-lapisan kornea terdiri dari : Endotel membrane Bowman Stroma Membrane Descement Endotel

KERATITIS
Keratitis adalah infeksi pada kornea yang biasanya diklasifikasikan menurut lapisan kornea yang terkena; yaitu keratitis superfisialis apabila mengenai lapisan epitel atau Bowman dan keratitis profunda atau keratitis interstisialis (atau disebut juga keratitis parenkimatosa) yang mengenai lapisan stroma).

Keratitis dibagi berdasarkan :


a. Letak : 1. Keratitis superfisialis - epitel, sub-epitel 2. Keratitis stroma / profunda b. Bentuk infiltrat (lesi) - Keratitis pungtata - Keratitis numularis - Keratitis dendritika - Keratitis geografika - Keratitis diskiformis - Keratitis fliktenularis - Keratitis filamentosa - Keratitis fasikularis

KERATITIS FILAMENTOSA
Keratitis filamentosa keratitis yg disertai adanya filament mukoid dan deskuamasi sel epitel pd permukaan kornea. Filamen terdiri atas sel sisa mukoid, dengan dasar bentuk segitiga yang menarik epitel.

Etiologi :
Penyebabnya tidak diketahui. Keratitis filamentosa dapat disebabkan oleh: Keratitis herpetic, trauma superficial dari kornea dan kelainan kelenjar lakrimal Mata kering (sindrom dry eye), reflek Sinar ultraviolet ( sinar matahari, sinar lampu, sinar dari las listrik) Iritasi akibat pemakaian lensa kontak jangka panjang. Iritasi atau alergi terhadap obat tetes mata

Patofisiologi

KERATITIS FILAMENTOSA
Keratitis ini dapat disertai penyakit lain seperti sarkoidosis,trakoma, keratokonjungtivitis,pemfigoid okular, pemakian lensa kontak, edema otak, DM, trauma dasar otak. 1

KERATITIS FILAMENTOSA

Gejala klinis :
Mata merah Sakit atau nyeri pada mata Rasa kelilipan Silau Blefarospasme Epifora Defek pada epitel

Pemeriksaan :
Slit lamp : untuk melihat adanya defek kornea berupa filament Uji flouresein : untuk melihat adanya defek epitel kornea

Penatalaksanaan :
Terapi:
sesuai kausa Siklopegik jika terdapat iriditis bebat mata

Larutan hipertonik NaCl 5% Air mata hipertonik Mengangkat filamen

PROGNOSA
Dapat sembuh dengan baik jika ditangani dengan baik dan tepat dan jika tidak diobati dengan baik dapat menimbulkan ulkus yang akan menjadi sikatriks dan dapat mengakibatkan hilang penglihatan selamanya.

SINDROMA SJOGREN
penyakit autoimun sistemik yang terutama mengenai kelenjer eksokrin dan biasanya memberikan gejala kekeringan persisten pada mulut dan mata akibat gangguan fungsional kelenjer saliva dan lakrimalis. Sinonim antara lain Mickuliczs Disease, Gougerots Syndrome, Sicca Syndrome dan autoimmune exocrinopathy

Klasifikasi
Sindrom Sjogren Primer bila tidak berkaitan dengan penyakit autoimun sistemik Sindrom Sjogren Sekunder bila berkaitan dengan penyakit autoimun sistemik lain : Artritis rematoid, Lupus
Eritematosus sistemik, Skleroderma,Sirosis bilier primer,Miositis, Vaskulitis, Tiroiditis, Hepatitis kronik aktif

Gejala klinis
3 gejala utama yaitu: Xerostomia dan xerotrakea merupakan gambaran eksokrinopati pada mulut eksokrinopati pada mata berupa mata kering atau keratokonjungtivitis sicca akibat mata kering. KCS terjadi akibat penurunan produksi kelenjer air mata dalam jangka panjang dan perubahan kualitas air mata. Gejala klinis: rasa seperti ada benda asing dimata, rasa panas seperti terbakar dan sakit dimata, tidak ada air mata, mata merah fotofobia.

Manifestasi ektraglandular dapat mengenai paru-paru, ginjal, pembuluh darah (Raynauds phenomena merupakan gangguan vaskuler yang sering ditemukan, biasanya tanpa disertai teleektasis ataupun) otot( Poliartritis non erosif merupakan bentuk arthritis yang khas pada Sindrom Sjogren)

DIAGNOSIS
Biopsi kelenjer saliva minor merupakan gold standar untuk diagnosis Sindrom Sjogren American European membuat suatu konsensus untuk menegakkan diagnosis Sindrom Sjogren, kriteria ini mempunyai sensitivitas spesifisitas sebesar 95 %. Adapun kriteria tersebut : Gejala mulut kering Gejala mata kering Tanda mata kering dibuktikan dengan tes schimer atau tes Rose bengal

Tes fungsi kelenjer saliva, abnormal flow rate dengan skintigrafi /sialogram Biopsi kelenjer ludah minor Autoantibodi (SS-A, SS-B) SS bila memenuhi 4 kriteria, satu diantaranya terbukti pada biopsi kelenjer eksokrin minor atau positif antibodi

PEMERIKSAAN:
Slit lamp Pemeriksaan Rose Bengal atau Lissamin green. Pemeriksaan jumlah produksi air mata dilakukan dengan Schimer test. Sialometri Sialografi Skintigafi Biopsi

PENATALAKSANAAN
pengelolaan disfungsi sekresi kelenjer air mata dan saliva, pencegahan dan pengelolaan sekuele pengelolaan manifestasi ektraglandular.

PROGNOSIS
Prognosis pada pasien Sindrom Sjogren tidak banyak yang meneliti, walaupun Sindrom Sjogren bukan merupakan penyakit yang ganas namun perkembangannya dapat terjadi vaskulitis dan limfoma dan kedua hal tersebut dapat menyebabkan kematian pada pasien Sindrom Sjogren

Daftar Pustaka
Vaughan, D.G. Asbury,T. Riodan-Eva,P. Dalam : Oftalmologi Umum, ed. Suyono Joko, edisi 14, Jakarta, Widya Medika, 2000, halaman : 129-131 Iyas, Prof. Dr, H. Sidarta.SpM. Ilmu Penyakit Mata. Edisi ketiga, cetakan ketiga. FK UI, Jakarta. 2006. Halaman : 154 Nana, WSD. Ilmu Penyakit Mata. Cetakan ke-6. Perpustakaan Nasional. KDT. 1993. Halaman : 83-85 http://pinter-sains.blogspot.com/2010/10/mata-bag-2.html diambil tanggal 30/07/2011 pukul 14.00 Webmaster. Keratitis Pungtata Superfisialis. Diunduh darihttp://medicastore.com/penyakit/869/Keratitis_Pungtata_Superfisialis.h tml, pada anggal : 1 agustus 2011 Ilyas S. Dasar Teknik Pemeriksaan Dalam Ilmu Penyakit Mata. Edisi 2. Jakarta :Balai Penerbit Buku Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2003. 45-7, 73-4, 180-5, 223-4. Yuliasih. Sindrom sjogren. Buku ajar Ilmu Penyakit Dalam.jilid II edisi IV. Pusat Penerbitan IPD FKUI.2006:1193-1196. Price EJ. Venables PJ. Dry eyes and mouth syndrome, a subgroup of patient presenting with sicca symptoms. Rheumatol. 2002:41;416-425.