Anda di halaman 1dari 26

Hatta Syamsuddin, Lc

Kajian IKADI Sragen 16 Januari 2011 Masjid Agung Kauman Kabupaten Sragen

1.

Pengertian, Hukum dan Keutamaan Hiutang Piutang


Adab adab dalam Hutang Piutang Beberapa Ketentuan Fiqh dalam Hutang Piutang

2. 3.

* Yang dimaksud disini adalah hutang piutang yang bernilai sosial bukan ekonomi (jual beli)

qard sebagai harta yang diberikan oleh pemberi pinjaman kepada penerima dengan syarat penerima pinjaman harus mengembalikan besarnya nilai pinjaman pada saat mampu mengembalikannya. (Sayyid Sabiq :Fiqh Sunnah )

Bertolong-tolonglah kamu dalam kebaikan dan dalam melaksanakan takwa, dan jangan kamu bertolong-tolongan dalam dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, Allah sangat keras hukumannya

Hai orang-orang yang beriman, jika kamu bertransaksi atas dasar utang dalam waktu yang telah ditentukan, tulislah. Hendaklah seorang penulis diantaramu menulis dengan benar, dan janganlah dia enggan menulisnya sebagaimana yang telah diajarkan Allah.

" ." . Barang siapa yang membebaskan atas diri seorang muslim, satu penderitaan dari penderitaan2 di dunia, maka Allah akan mengangkatnya dari kesulitan pada hari kiamat. Barang siapa memudahan kesusahan yg ada pada seseorang, maka Allah akan memudahkan urusannya di dunia dan akhirat. (HR Muslim)

": .

: .

Dari Ibnu Masud, Sesungguhnya Nabi SAW telah bersabda, Seorang muslim yang mempiutangi seorang muslim dua kali, seolah-olah ia telah bersedekah kepadanya satu kali (HR. Ibnu Majah).

: : : . ,

Saya melihat pada waktu di-isra-kan, pada pintu surga tertulis Pahala shadaqah sepuluh kali lipat dan pahala pemberian utang delapan belas kali lipat lalu saya bertanya pada Jibril Wahai Jibril, mengapa pahala pemberian utang lebih besar? Ia menjawab Karena peminta-minta sesuatu meminta dari orang yang punya, sedangkan seseorang yang meminjam tidak akan meminjam kecuali ia dalam keadaan sangat membutuhkan. (HR Ibnu Majah)

` `

Doa Rasulullah SAW : Ya Tuhanku! Aku berlindung diri kepadaMu dari berbuat dosa dan hutang. Kemudian ia ditanya: Mengapa Engkau banyak minta perlindungan dari hutang ya Rasulullah? Ia menjawab: Karena seseorang kalau berhutang, apabila berbicara berdusta dan apabila berjanji menyalahi." (Riwayat Bukhari)

.
`

Suatu ketika Rasulullah SAW didatangkan jenazah orang yg berhutang, maka beliau bertanya apakah ia meninggalkan harta untuk melunasi hutangnya. Jika diberitakan bahwa ia meninggalkan harta untuk melunbasi hutangnya, Rasulullah mensholatinya, jika tidak maka Rasulullah mengatakan kepada kaum muslimin : sholatilah sahabatmu (HR Muslim)

` `

Tidak untuk keperluan Maksiat Tidak ada perjanjian kelebihan dalam pengembalian saat akad terjadi Tidak ada syarat lain kecuali waktu pelunasan jika diperlukan Menuliskan pernyataan bagi yang berhutang dan hendaklah orang yang berutang itu mengimlakan (apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi sedikit pun daripada utangnya. (QS 2:282)

` ` `

." barang siapa mengambil pinjaman harta orang lain dengan maksud untuk mengembalikannya maka Allah akan menunaikan untuknya, barang siapa yang meminjam dengan niatan tidak mengembalikannya, maka Allah akan memusnahkan harta tersebut (HR Bukhori)

": .
`

. ` Penundaan pembayaran hutang oleh orangorang yang mampu adalah suatu kezhaliman. Dan jika salah seorang diantara kalian diikutkan kepada orang yang mampu, maka hendaklah dia mengikutinya (HR Abu Daud)

: : " :
`

Dari Abu Hurairah, ia berkata, Rosululloh telah berhutang hewan, kemudian beliau bayar dengan hewan yang lebih tua umurnya daripada hewan yang yang beliau hutang itu, dan Rasululloh bersabda, Orang yang paling baik diantara kamu ialah orang yang dapat membayar hutangnya dengan yang lebih baik. (HR. Ahmad & Tirmidzi).

": . .

Dan jika (orang berutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui (QS al Baqoroh 280)

. :

":

Aisyah berkata kpd : ya Rasulullah, para tetangga meminjam roti dan tepung, lalu mereka mengembalikan kadang lebih kadang kurang ? Rasulullah SAW bersabda : tidak mengapa, karena itu termasuk kebutuhan manusia sehari-hari, tidak dimaksudkan tambahan atau kelebihan

` ` ` `

Khususnya dari yang berhutang Kemampuan menulis yang baik Kejujuran dalam menuliskan Telaten dalam menuliskan
`

dan janganlah kamu jemu menulis utang itu, baik kecil maupun besar sampai batas waktu membayarnya. Yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah dan lebih dapat menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguanmu,,

1.

2.

Jika termasuk Piutang yang lancar / bisa dikembalikan setiap saat : jika memenuhi nishob ditunaikan zakat pertahunnya, ada yang mengatakan saat benar2 sudah ditangan, baru dibayarkan dan dihitung juga tahun-tahun yang terlewati Jika piutang macet, ada yang mengatakan tidak wajib dizakati, ada yang mengatakan dizakati sekali saja pada tahun pertama

Salah satu syarat harta zakat adalah : ` al-fadhlu ''anil alhajah al-ashliyah (lebih dari kebutuhan pokok) ` Salamatu minad-dain ( terbebas dari tanggungan hutang ) Sehingga tidak perlu berzakat, kecuali jenis hutang jangka panjang / bukan jatuh tempo bisa dimasukkan dalam faktor pengurang harta wajib zakat.

` ` `

Secara umum ibadah wajib dijalankan jika telah memenuhi syaratnya, misalnya haji dengan istitoahnya (kemampuan), sehingga tidak wajib bagi yang belum mampu. Bagaimana dengan dana talangan haji ? Bagaimana dengan qurban, aqiqoh dan walimahan misalnya ? Sebagian ulama menganjurkan untuk berqurban meskipun harus hutang. Di antaranya adalah Imam Abu Hatim sebagaimana dinukil oleh Ibn Katsir dari Sufyan At Tsauri (Tafsir Ibn Katsir, surat Al Hajj:36).

Ketiga madzhab selain madzhab hanafi berpendapat bahwa hanya membolehkan hawalah muqayyadah dan menyariatkan pada hawalah muqayyadah agar utang muhal (yang berhutang) kepada muhil (yang memberi hutang) dan utang muhal alaih (yang dibebankan hutang) kepada muhil harus sama, baik sifat maupun jumlahnya. ` Praktek modern ada pada sistem transfer bank

Ada yang mengatakan tidak boleh, karena itu kondisi terpaksa dan putus asa Imam SyafiI membolehkan dengan syarat harus sudah diterima terlebih dahulu Sebagian lainnya membolehkan secara langsung, dianggap zakat untuk ghorim (Hasan al basri, atho, ibnu Hazm)

Hatta Syamsuddin 081329078646 sirohcenter@gmail.com www.indonesiaoptimis.com