Anda di halaman 1dari 33

PEMERIKSAAN FISIK

Dr. SUZANNA NDRAHA SpPD

PERLENGKAPAN DOKTER MUDA


 JAS PUTIH, STETOSKOP  LAMPU BATERE SAKU  METERAN  DUA PENGGARIS  JAM TANGAN dg JARUM DETIK  PALU REFLEKS  PINSIL (SEBAIKNYA PINSIL ALIS)  BUKU SAKU

DERAJAT KESADARAN
KOMPOS MENTIS APATI SADAR SEPENUHNYA SEGAN BERHUBUNGAN DENGAN KEHIDUPAN SEKITARNYA

SOMNOLEN SELALU MAU TIDUR, DAPAT BANGUN DENGAN RANGSANG NYERI DELIRIUM SOPOR KOMA KACAU MOTORIK, BERONTAK REAKSI HANYA TIMBUL DENGAN RANGSANG NYERI TIDAK TIMBUL REAKSI DARI RANGSANGAN APAPUN

PEMERIKSAAN NADI ARTERI RADIALIS DIRABA DENGAN 3 JARI, JANGAN GUNAKAN IBU JARI. NILAILAH: FREKUENSI (< 60x/mnt BRADIKARDI, > 100x/mnt

TAKIKARDI)
REGULER, ISI CUKUP PULSUS CELER/TARDUS (TEKANAN NADI BESAR/KECIL) PULSUS DEFISIT (FREK NADI < FREK JANTUNG)

PERNAFASAN
 FREKUENSI: 16-24x/mnt  NORMAL/DANGKAL/DALAM ?  KUSSMAUL: CEPAT, DALAM  IRAMA: NORMAL / CHEYNESTOKES?  IREGULER: APNULAMBAT-CEPAT-LAMBATAPNU  NCH, OTOT PERNAFASAN TAMBAHAN: BILA SESAK

SUHU
SUHU: kenaikan suhu 1C MENAIKKAN NADI 16x/mnt

 TEKANAN DARAH: KANAN-KIRI, BARING-BERDIRI  KLASIFIKASI HIPERTENSI (JNC VII)

JNC VII
NORMAL PREHIPERTENSI STAGE 1 HTN STAGE 2 HTN ISOL SIST HTN

TD
<120/<80 130/90 140-159/90-99 140-159/90>160/>100 > 140 / < 90

TEKANAN VENA JUGULARIS (JVP)


 CARA: POSISI TERLENTANG, KEPALA DITINGGIKAN 30. TITIK DIMANA V JUGULARIS MENJADI KOSONG (batas pengisian v jugularis) PADA WAKTU INSPIRASI DIBERI TANDA.  PENGGARIS I DILETAKKAN HORIZONTAL MELALUI ANGULUS LUDOVICI, PENGGARIS II DILETAKKAN VERTIKAL TERHADAP BIDANG HORIZONTAL TADI. TITIK NOL BERADA 5 cm DIBAWAH A.LUDOVICI. JVP DIUKUR DALAM cmH2O. JVP NORMAL ADALAH 5-2 cmH2O

KEPALA  MATA: KONJUNGTIVA, SKLERA  HIDUNG: LAPANG? SEPTUM? SEKRESI  MULUT: ASIMETRI? GIGI, LIDAH, ARKUS FARING, TONSIL  LEHER: TRAKEA, TIROID (PALPASI, AUSKULTASI), KGB (PALPASI)

THORAKS
INSPEKSI  BENTUK  SIMETRI SAAT ISTIRAHAT DAN BERGERAK  JENIS PERNAPASAN  PEMBULUH DARAH ABNORMAL: VCSS, SPIDER NEVI  PAYUDARA  DADA DEPAN
GARIS  MIDSTERNUM  STERNUM  PARASTERNUM  MIDCLAVICULA  AKSILARIS ANTERIOR DAN POSTERIOR  AKSILARIS MEDIAL

 DADA BELAKANG
 CORPUS VERTEBRA DIHITUNG DARI C7

PARU
INSPEKSI STATIS  KELAINAN BENTUK  KELAINAN KULIT  BENDUNGAN VENA  BENJOLAN/TUMOR  GINEKOMASTIA INSPEKSI DINAMIS  FREKUENSI NAPAS  SIFAT: THORAKOABDOMINAL, THORAKAL, ABDOMINAL  RITME: NORMAL, KUSSMAUL, CHEYNE STOKES

PERKUSI  NORMAL: SONOR  BAGIAN PADAT> UDARA: REDUP  UDARA LENYAP: PEKAK  BAGIAN UDARA> PADAT: HIPERSONOR  UDARA: TIMPANI  LANDASAN PERKUSI : TEPAT DIATAS JARI TENGAH TANGAN KIRI PHALANG I

 KRONIG: supraskapuler, 3-4 jari, perkusi sonor. Hilang jika ada kelainan di puncak paru  BATAS PARU BELAKANG BAWAH grs skapula, setinggi V.Th 10 (paru kiri) dan 1 jari lbh tinggi paru kanan

 GARIS ELLIS DAMOISSEAU: lengkung konveks dengan puncak pada grs aksilaris tengah  SEGITIGA GARLAND : daerah timpani  SEGITIGA GROCCO : daerah redup kontra lateral  DITEMUKAN PADA EFUSI PLEURA MASIF

AUSKULTASI BUNYI NAPAS POKOK  VESIKULER: insp lbh keras, nada lbh tinggi & 3x lbh panjang dr eksp  BRONKIAL: lbh keras, insp sama panjang dg eksp  BRONKOVESIKULER: antara vesikuler dan bronkial  AMFORIK: spt tiupan dlm botol kosong

 Jenis: RONKI BASAH AUSKULTASI HALUS, SEDANG, NAPAS TAMBAHAN KASAR. RONKI BASAH  RONKI KERING: bunyi yg HALUS dapat NYARING tak terputus, lbh jelas pd (infiltrat) atau TIDAK eksp. Bila nada tinggi dan panjang disebut wheezing NYARING (udema paru)  PLEURAL RUB:gesekan  RONKI BASAH: suara berisik yang terputus, pleura yang menebal, umumnya saat inspirasi. pd akhir insp dan awal eksp.

JANTUNG
INSPEKSI  BENTUK DADA  PECTUS EXCAVATUM (melengkung kedalam), PECTUS CARINATUM (mencembung kedepan)  PULSASI: ICTUS CORDIS, 2 cm, sela iga 5 medial midclav kiri.  ICTUS CORDIS bergeser kekiri, kemungkinan pembesaran jantung

PALPASI: dengan telapak tangan  ICTUS CORDIS: kuat angkat, luas, kualitas pulsasi  VENTRICULAR HEAVING: pulsasi menggelombang (MI)  VENTRICULAR LIFT: lebar dgn pukulan2 serentak (MS)

 PERICARDIAL FRICTION RUB: fremitus yang sinkron dg denyut jantung (Pericarditis fibrosa)  THRILL: fibrasi sistolik (stenosis pulmonal -2 ki, stenosis aorta -2 ka, VSD 4 ki), diastolik (stenosis mitral - apeks)

PERKUSI
BATAS JANTUNG KANAN: -Batas paru-hati (bph) : sonor ke redup -Perkusi 2 jari diatas bph ke medial. N: antara mid ssternum sternum kanan BATAS JANTUNG KIRI -Batas paru lambung (bpl):sonor ke timpani. -Perkusi 2 jr diatas bpl ke medial. N: Midclavikula kiri ssela iga V -PINGGANG JANTUNG: Perkusi dari atas ke bawah pd garis parasternum. N: sela iga III kiri

PERKUSI
 BATAS JANTUNG  BATAS PARU HATI: SONOR PEKAK garis MEDIOCLAVIKULER sela iga 6. PERANJAKAN 2 jari  BATAS PARU LAMBUNG: SONOR TIMPANI, garis axilaris anterior sela iga 8

AUSKULTASI LOKALISASI dan ASAL


ICTUS CORDIS: BJ I dari KATUB MITRAL SI 2 TEPI KIRI STERNUM: BJ PULMONAL SI 2 TEPI KANAN STERNUM: BJ AORTA SI 4 DAN 5 TEPI KANAN DAN KIRI STERNUM: BJ TRIKUSPID

AUSKULTASI  MEMBEDAKAN BJ I dan dan BJ II

 MENGIDENTIFIKASI BJ III dan IV

 BJ III terdengan sesudah BJ II  BJ I = BUNYI SISTOLE, SAAT  BJ I, BJ II dan BJ III bersamasama disebut GALLOP TERTUTUPNYA MITRAL DAN RYTHM TRIKUSPID; BERTEPATAN  BJ III disebut DGN PULSASI A CAROTIS PROTODIASTOLIC GALLOP,  BJ II = BUNYI DIASTOLE, terj pd PAYAH JANTUNG SAAT TERTUTUPNYA AORTA  BJ IV terdengar sebelum BJ DAN PULMONAL I, disebut ATRIAL GALLOP, terj pd AV BLOCK, INFARK JTG

AUSKULTASI  IRAMA DAN FREKUENSI  INTENSITAS dan KUALITAS  ARITMIA


 DI APEKS: BJ I > BJ II  BRADIKARDIA (<60)  DI BASAL: BJ II > BJ I  TAKIKARDIA (>100)  HIPERTENSI PULMONAL: P2  SINUS ARITMIA (lbh MENGERAS lambat pd ekspirasi)  HIPERTENSI SISTEMIK: A2  EKSTRA SISTOLE MENGERAS  FIBRILASI ATRIUM  FIXED SPLITTING BJ II: ASD,  BUNYI JANTUNG LAIN : RBBB

MURMUR

 BUNYI JANTUNG LAIN : BISING (MURMUR)  FASE BISING SISTOLIK (antara BJ I BJ II)
 EJECTION  PANSISTOLE

BISING DIASTOLIK (antara BJ II BJ I)


 MID-DIASTOLE  EARLY DIASTOLE  PRE SYSTOLE

KONTINU

AUSKULTASI INTENSITAS
DERAJAT 1 (pelan) DERAJAT 2 DERAJAT 3 DERAJAT 4 DERAJAT 5 DERAJAT 6 (keras)

NADA
RENDAH: KASAR TINGGI:spt TIUPAN SEAGULL MURMUR (nyaring spt musik) LOKALISASI: tempat paling keras terdengar APAKAH BERUBAH MENURUT POSISI / PERNAPASAN

NADA

ABDOMEN  DIBAGI 4 KUADRAN


 KANAN ATAS  KIRI ATAS  KANAN BAWAH  KIRI BAWAH

 TITIK Mc BURNEY
 LATERAL GARIS SIAS - UMBILIKUS

 GARIS SCHUFFNER
 GARIS ANTARA ARKUS KOSTA KIRI MEL UMB - SIAS

INSPEKSI KULIT PEMBESARAN ORGAN / MASSA HERNIS VENA SUPERFISIAL PALPASI : lutut OS ditekuk, hangatkan tangan, tanya nyeri, palpasi plg akhir PALPASI SUPERFISIAL UNTUK MEMERIKSA NYERI, gunakan 1 tangan PALPASI MENDALAM UNTUK MEMERIKSA MASSA, gunakan 2 tangan HEPAR: mulai dari bawah, palpasi saat inspirasi. Bila teraba, laporkan: ukuran (.. jbac, ....jbpx, konsistensi, tepi, permukaan, nyeri tekan)

LIEN: cara sama, bila teraba ukurannya dinyatakan dengan Schuffner I-VIII GINJAL: ballotement dgn hentakan jari tangan kiri pada dinding belakang perut. dengan palpasi bimanual. Pada akhir inspirasi dalam dicoba menangkap ginjal dengan 2 tangan. PEMERIKSAAN GELOMBANG CAIRAN (FLUID WAVE) dilakukan bila terdapat cairan asites dalam jumlah banyak sehingga sulit melakukan pemeriksaan SFIFTING DULLNESS

TANDA MURPHY

TANDA CARNETT

Pasien diminta mengangkat  Nyeri tekan perut kanan kepala sehingga otot rektus atas saat inspirasi berkontraksi.  Tanya pasien ada Carnett positif bila saat tidaknya rasa nyeri mengangkat kepala nyeri bertambah.  Sensitif namun tidak spesifik untuk Carnett positif kolesistitis akut menunjukkan proses di dinding abdomen, bukan dalam rongga abdomen

PERKUSI  DISTENSI : BUNYI TIMPANI  CAIRAN DALAM RONGGA PERUT: PEKAK BERPINDAH, GELOMBANG CAIRAN  PERKUSI HATI: untuk konfirmasi ukuran hati  FENOMENA PAPAN CATUR: timpani-redup berganti-ganti

AUSKULTASI  DUA MACAM BISING USUS


 SUARA SIKLIK PENDEK SETIAP 2 DETIK  SUARA PERISTALTIK PANJANG DAN GEMURUH BEBERAPA KALI PERMENIT

 ILEUS PARALITIK: KEDUA JENIS SUARA TAK TERDENGAR  ILEUS OBSTRUKTIF: SUARA MENINGKAT, NADA LEBIH TINGGI

 PUNGGUNG
 KELAINAN LENGKUNG TULANG BELAKANG  NYERI KETOK SUDUT KOSTOVERTEBRAL

 PEMERIKSAAN ATAS INDIKASI:


 COLOK DUBUR  ALAT KELAMIN

 COLOK DUBUR: tonus sfingter ani, pembesaran prostat, nyeri, massa. Pada sarung tangan: warna feses  ALAT KELAMIN: tumor, luka parut, sekret, nyeri pada perabaan, hidrokel

ANGGOTA GERAK
 ATAS
           OTOT: TONUS, MASSA SENDI GERAKAN KEKUATAN LUKA VARISES OTOT: TONUS, MASSA SENDI GERAKAN KEKUATAN EDEMA

REFLEKS:
 TENDON
 BICEPS  TRICEPS  PATELLA  ACHILES

 BAWAH

 CREMASTER  REFLEKS KULIT  REFLEKS PATOLOGIS

EKSTREMITAS ATAS  OTOT:  Kekuatan  Tonus: adakah tahanan?  Massa: ukur MUAC  SENDI: sebut sendi yang sakit  Inspeksi sendi yang nyeri, laporkan: bengkak, kemerahan, hangat  Palpasi sendi yang nyeri, laporkan: nyeri tekan, nyeri gerak, ROM

FLAPPING TREMOR: Tangan diekstensikan Minta OS menahan dalam posisi ekstensi Negatif: bila dapat menahan ekstensi (normal) atau langsung jatuh terkulai (koma dalam)

EKSTREMITAS BAWAH INSPEKSI: EDEMA, VARISES WARNA, SUHU, RADANG PALPASI: PULSASI A DORSALIS PEDIS, A TIBIALIS POSTERIOR, A POPLITEA SENDI: = ATAS KREPITASI: rasakan krepitasi lutut dengan menaruh telapak tangan di atas lutut dan dilakukan fleksi ekstensi secara pasif