Anda di halaman 1dari 22

ASPERGILOSIS

Kelompok 7
Adhiyasa Darojatun (0906531121) Asvinastuti Rikasih (0906531216) Dian Coryokto Damanik (0906531254) Dian Mitasari (0906531260) Exaudi Ebennezer P (0906531323) Irma Rosita (0906531506) Rimson Muara Jaya (0906531802)

Gambaran Umum
Aspergilosis adalah penyakit jamur yang disebabkan oleh berbagai spesies Aspergillus, biasanya oleh Aspergillus fumigatus dan dapat mengenai kuku, kulit dan alat dalam paru-paru dan otak. Secara garis besar klasifikasinya, Aspergillus sp. tergolong ke dalam filum Ascomycota. Spesies parasit ini bermacam-macam, yang telah dikenali ialah : y Aspergillus fumigatus y Aspergillus flavus y Aspergillus niger y Aspergillus sclerotiorum y Aspergillus clavatus

Sejarah
Aspergilosis pertama kali dilaporkan oleh Virchow dalam tahun 1856. Sejak itu, banyak kasus dilaporkan dari banyak negara, termasuk Indonesia. Pada berbagai diagnosis Aspergillosis dilapangan komposisinya hampir bisa diprediksikan A.fumigatus adalah yang terbanyak (60-70%) diikuti A.flavus dan A.niger. Meskipun kadang-kadang dijumpai pula species lain seperti A.nidulans, A.versicolor dan A.terreus. Keberadaannya sering dijumpai di tanah, material organik (bahan-bahan yang kaya unsur karbon sampah, kompos, sekam), berbagai biji-bijian seperti jagung, kacang-kacangan ataupun beras.

Taksonomi
Aspergilosis adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh jamur yang termasuk ke dalam kelompok Trichocomaceae. Taksonominya adalah sebagai berikut: Super kingdom Kingdom Sub kingdom Filum Subfilum Kelas Subkelas Ordo Famili Genus Spesies : Eukaryota : Fungi : Dikarya : Ascomycota : Pezizomycotina : Eurotiomycetes : Eurotiomycetidae : Eurotiales : Trichocomaceae : Aspergillus : Aspergillus fumigatus

Nama Penyakit
1. Aspergillosis Ada jenis aspergillosis. Salah satunya allergic bronchopulmonary aspergillosis (ABPA), dimana jamur menyebabkan gejala alergi pada sistem pernapasan tapi tidak menginvasi dan menghancurkan jaringan. Kedua adalah aspergillosis invasif, penyakit yang mempengaruhi sistem kekebalan tubuh manusia. Pada kondisi ini jamur menginvasi ke seluruh tubuh dan merusak jaringan tubuh. 2. Aspergilloma Ini adalah gangguan paru paru yang paling umum disebabkan oleh A.fumigatus. Aspergilloma merupakan bola jamur yang berisi mycelia dari A.fumigatus, yang menyebabkan infeksi sel, fibrin, otot dan jaringan, biasanya menyebabkan lubang pada paru paru.

Ketiga Chronis Necrotizing Pneumonia Aspergillosis (cnpa) merupakan proses subakut yang biasanya terdapat pada pasien imunosupresi, terutama berkaitan dengan penyakit paru sebelumnya, alkoholisme atau terapi kortikosteroid kronik. Sering kejadian ini terlewat karena sulit dikenali hingga akhirnya terbentuk infiltrat paru dengan kavitas.

Di mukosa hidung

Di septum hidung

Mycelia di dalam paru-paru

Distribusi Geografik

Kejadian penyakit ini tersebar diseluruh dunia tetapi kasusnya lebih sering didiagnosis di negaranegara tropis terutama pada saat cuaca panas dan lembab. Perkembangan spora jamur sangat didukung dengan kondisi lingkungan, pada situasi dimana faktor-faktor lingkup disekitarnya banyak dijumpai material yang mendukung maka spora tsb. akan dengan mudah mengkontaminasi. Baik terbawa oleh angin kemudian terhirup oleh anak ayam ataupun mengkonsumsi pakan yang telah tercemar

fumigatus dapat tumbuh pada suhu di

Morfologi
Gambaran mikroskopik dari Aspergillus fumigatus memiliki tangkai tangkai panjang (conidiophores) yang mendukung kepalan ya yang besar (vesicle). Di kepala ini terdapat spora yang membangkitkan sel hasil dari rantai panjang spora. A. fumigatus ini mampu tumbuh pada suhu 37C (sama dengan temperatur tubuh). Pada rumput kering Aspergillus

atas 50oC.

Perkembangbiakkan
Aspergillus fumigatus termasuk ascomycota yang reproduksi aseksual dan seksualnya telah dapat dibedakan dengan jelas. Reproduksi aseksual dilakukan dengan membentuk tunas (budding) atau kuncup yang disebut blastospora. Tunas yang telah masak akan terlepas dari sel induknya dan tumbuh menjadi individu baru. Reproduksi seksual pada Ascomycota terjadi dengan cara membentuk Askospora. Askospara adalah spora seksual yang terbentuk di dalam askus. Askus terdapat di dalam tubuh buah yang disebut askokarp. Proses terbentuknya askospora adalah sebagai berikut : pada ascomycota ada 2 jenis hifa (+) dan hifa (-). Hifa (+) membentuk gametangia jantan ( anteridium ) dan hifa (-) membentuk gametangia betina ( askogonium ). Kedua jenis gametangia itu bertemu dan terjadi plasmogami (penyatuan sitoplasma ) tanpa disertai penyatuan inti. Jadi, dari peristiwa tersebut terbentuk sel dengan dua inti.

Askogonium yang telah memiliki 2 inti tersebut akan menghasilkan hifa-hifa askogonium yang dikariotika ( berinti dua). Hifa dikariotika itu bercabang-cabang membentuk sel khusus yang akan menjadi askus. Di dalam askus akan terjadi peleburan dua inti, terbentuklah sel diploid (2n). Selanjutnya, inti askus membelah dua kali. Pembelahan pertama terjadi secara mitosis shingga akhirnya terbentuk delapan askosprora di dalam askus tersebut.

Patologi Dalam stadium ABPA


(I) Stadium akut. Stadium akut, ciri khasnya ditandai dengan adanya semua tanda-tanda utama, gejala-gejala klasik dan temuan-temuan laboratoris pada saat diagnosis. (II) Stadium remisi. Stadium remisi dengan ciri khas lesi-lesi radiologik yang menjadi bersih, penurunan IgE serum total, terkendalinya gejala-gejala gangguan pernafasan dan penghentian kortikos-teroid selama lebih dari 6 bulan tidak menimbulkan rekurensi. Remisi yang lama dan menetap dapat terjadi setelah pengobatan stadium akut dengan kortikosteroid, sedangkan korti-kosteroid oral untuk pemeliharaan tidak dibutuhkan.

(III) Stadium eksaserbasi. Stadium eksaserbasi terjadi bila penderita-penderita menunjukkan semua karakteristik stadium akut atau bila IgE serum total penderita mengalami kenaikan dua kali lipat yang berhubungan dengan gambaran infiltrat radiologik yang baru, sedangkan penyebab infiltrat yang lain telah dikesampingkan (bakteri,'virus dan sebagainya). (IV) Stadium asma dependen-kortikosteroid. Stadium ini timbul bila penderita membutuhkan kortikosteroid oral terus-menerus untuk mengendalikan asma atau mencegah eksaserbasi rekuren ABPA atau keduanya. Dosis kortikosteroid oral yang diperlukan untuk mengendalikan asma tersebut biasanya tidak cukup untuk mencegah eksaserbasi ABPA. Pada keadaan ini, ABPA sukar dibedakan dengan eksaserbasi asma, ABPA yang berkembang atau keduanya. (V) Stadium fibrotik. Stadium fibrotik timbul bila nampak perubahan-perubahan fibrotik yang meluas pada pemeriksaan radiologis toraks dan adanya penyakit pan.' obstruktif yang menetap yang diketahui dengan uji faal paru. Baik lesi paru maupun kelainan faal paru tidak dapat lagi berubah secara sempurna dengan pemberian prednison dosis tinggi. Pada beberapa penderita nampak adanya komponen obstruktif yang reversibel dan penderita ini sering memerlukan pemberian kortikosteroid dosis tinggi.

Gejala Klinis
Selaput Lendir. Infeksi pada sinus maksilaris dan sinus frontalis terjadi karena jamur tersebut hidup di rongga hidung dan tumbuh masuk ke dalam sinus. Pada gambar Roentgen terlihat gumpalan dalam sinus yang merupakan suatu aspergilloma. Gejala yang ditimbulkan menyerupai sinusitis oleh sebab lain.

Alat dalam lain Dari paru, aspergillus dapat menyebar ke alat dalam lain melalui darah. Hal ini sering terjadi pada penderita leukimia, keganasan lain, transplantasi organ (karena penggunaan obat imunosupresif) dan pada defisiensi imun (AIDS). Alat dalam yang sering terkena adalah otak, jantung, dan ginjal. Diagnosis sulit karena bahan klinis sulit didapat tanpa menimbulkan kelainan lain. Pemeriksaan serologi dapat memperkuat diagnosis kemungkinan.

Paru. Aspergillus dapat bersifat sebagai alergen atau patogen. Sebagai alergen, Aspergillus menimbulkan reaksi alergi setempat dan menimbulkan gejala asma. Sebagai patogen dapat bersifta infeksi primer atau sekunder. Penyakit ini terjadi karena terdapat faktor predisposisi. Kelainan dapat bersifat setempat dan menimbulkan abses atau sebagai aspergilloma yang menempati rongga sebagai akibat tuberkulosis (kaverna) atau pembesaran rongga bronkus (bronkiektasis). Pada gambaran Roentgen Aspergilloma ini tanpak sebagai bola dirongga dan disebut fungus ball. Bila terjadi pertumbuhan jamur kedalam dinding rongga, dapat merusak dinding rongga dan pembuluh darah sehingga menimbulkan pendarahan dan memberi gejala batuk darah. Dalam paru spora jamur juga dapat menimbulkan reaksi alergi dan menimbulkan gejala asma. Bila jamur tumbuh masuk ke dalam jaringan paru, dibentuk zat anti. Keadaan ini dikenal sebagai allergic bronchopulmonary aspergilosis (ABPA).

Diagnosis
Bahan klinis yang diperlukan ialah kerokan kulit dan kuku, bahan dari daerah dengan kelainan, sputum, bilasan bronkus, darah dan lain-lain. Pada pemerikasaan langsung dengan KOH ditemukan spora dan hifa dan pada biakan akan tumbuh jamur penyebab. Untuk menekan pertumbuhan kuman ditambahkan antibiotik pada medium agar Sabouraud dekstrosa. Untuk memperkuat diagnosis dilakuna pemeriksaan serologi.

Dari berbagai pemeriksaan diperoleh hasil sebagai berikut : Jumlah eosinofil meningkat Kadar antibodi IgE meningkat (kadar IgE total dan IgE khusus untuk aspergillus) Tes kulit antigen aspergillus Antibodi aspergillus positif Rontgen dada menunjukkan adanya infiltrasi dan bayangan yang mengerupai jari tangan CAT scan dada menunjukkan adanya bronkiektasis sentral atau sumbatan lendir Pewarnaan dan biakan dahak untuk jamur Bronkoskopi disertai pembiakan dan biopsi transbronkial Biopsi paru (jarang dilakukan).

Pengobatan

Pengobatan yang disebabkan oleh jamur Aspergillus fumigatus adalah dengan menghilangkan jamur dan sporanya yang terdapat dalam tubuh. Penderita ABPA diobati sesuai proses penyakitnya, karena ABPA terjadi akibat proses hipersensitivitas, maka respon alergi harus dikurangi. Meskipun ABPA terjadi karena pemakaian kortikosteroid terus-menerus, namun pengobatannya juga menggunakan kortikosteroid, namun dengan oral, bukan lagi inhalasi. ABPA yang kronik memerlukan antijamur seperti itraconazole yang dapat mempercepat hilangnya infiltrat. ABPA yang berbarengan dengan sinusitis alergik fungal memerlukan tindakan operasi jika terdapat polip obstruktif. Kadang-kadang dapat juga dibilas dengan amfoterisin untuk mempercepat peyembuhan. Amfoterisin B Obat ini bisa bertindak sebagai fungistatik maupun fungisidal dengan mengikat sterol (misalnya ergosterol) dalam membran sel yang berujung pada kematian sel. Nama dagang Fungizone

Vorikonazol Vorikonazol, digunakan untuk pengobatan primer invasive aspergillosis dan pengobatan penyelamatan dari infeksi spesies Fusarium atau Scedosporium apiospermum. Nama Dagang Vfend Itrakonazol Itrakonazol, antifungi sintetik triazol, memiliki aktivitas yang lebih besar melawan Aspergillus dibandingkan dengan flukonazol atau ketokonazol. Nama dagang Sporanox, Forcanox, Fungitrazol, Furolnok, Itzol, Nufatrac, Sporacid, Unitrac Flukonazol Farmakologi Flukonazol merupakan inhibitor cytochrome P-450 sterol C-14 alpha-demethylation jamur yang sangat selektif. Selanjutnya kehilangan sterol normal berkorelasi dengan 14 alpha-methyl sterols pada jamur dan mungkin bertanggung jawab atas aktivitas fungistatik flukonazol.Secara in vitro flukonazol memperlihatkan aktivitas fungistatik terhadap Cryptococcus neoformans dan Candida spp. Nama Dagang Diflucan

Cara Pencegahan
1. Udara ruangan yang disaring dengan High Efficiency Particulate Air (HEPA) dapat menurunkan infeksi aspergillosis invasive pada penderita yang dirawat di RS terutama penderita dengan netropenia. 2. Orang-orang dengan faktor predisposisi (asma, fibrosis kistik, dll), sebaiknya menghindari lingkungan dimana jamur aspergillus ditemukan.

Prognosis
Prognosis dikaitkan dengan derajat i eversibilitas bron-kiektasis atau fibrosis paru. Bila penyakit diketahui secara dini, yakni sebelum adanya perubahan yang ireversibel maka prognosisnya baik dan biasanya hanya membutuhkan prednison dosis kecil. Sedangkan penderita-penderita dengan penyakit paru fibrotik harus lebih berhati-hati karena penyakit berkembang menjadi penyakit paru progresif dan penderita meninggal karena penyakit paru stadium akhir meskipun mendapat pengobatan.

y Kasus Aspergilosis
y
Kasus I y Seorang lelaki berusia 60 tahun, telah didiagnosis selama satu bulan mengidap gejala demam yang dikaitkan dengan batuk dan meludah, dan juga sesak napas selama 5 hari sebelumnya. Gejala tersebut dikenal asma. Pada masa 9 tahun yang lalu, ia menghirup kombinasi salmeterol, dan salbutamol fluticasone, serta meminum obat Ayurvedik. Selanjutnya, ia didiagnosa telah mengidap alergi bronkopulmonalis aspergilosis (ABPA) berdasarkan tes kulit positif, adanya bronkiektasis sentral dan peningkatan kadar IgE serum spesifik. Dia megalami perlakuan dengan steroid oral selama 6 bulan, yang tapered off dalam melihat gejala perbaikan. Demam kambuh setelah satu tahun, tetapi kemudian ia memburuk. Terdapat cairan bronkhoalveolar lavage yang merupakan awal dari pertumbuhan Aspergillus fumigatus. Chest X-ray, CECT dan bilateral HRCT menunjukkan zona atas dan zona tengah konsolidasi dan efusi pleura bilateral, kedua lobus bawah menunjukkan bronkiektasis, perkembangan lesi terlihat. Kondisi pasien semakin memburuk selama tinggal di rumah sakit dan dia menyerah pada sakitnya tersebut. y Diagnosis: ABPA dengan aspergilosis invasif terdeteksi pada postmortem. Aspergillus dalam cairan pernapasan yang tidak membantu dalam seting ini. Antigen Aspergillus mungkin juga menjadi positif pada cairan UUPA, tetapi jika positif dalam darah, akan sugestif (kemungkinan diagnosa) dari IA.
y

Kasus II
Pasien BM. Pria ini berusia 62 tahun adalah penderita asma dimulai dari dia masih seorang anak. Asma kambuh dengan episode pertama dari alergi bronkopulmonalis aspergilosis pada tahun 1972, awalnya dokter salah mendiagnosis bahwa gejala itu sebagai pneumonia. Dia juga menderita infeksi jamur kuku jari kakinya dan kulit. Ia menjalani terapi eksaserbasi empat sampai lima kali setahun.Pada tahun 2000, ia mulai meminum itraconazole. Hal ini menyebabkan peningkatan yang cukup besar pada awalnya, tetapi kemudian dia menghentikan terapi setelah beberapa bulan. Terapi terus-menerus dilakukan sampai pada Desember 2003 menyebabkan peningkatan berkelanjutan dengan sangat sedikit eksaserbasi. Diagnosis: Episode berulang infiltrat (diagnosis pneumonia), asma, eosinophilia, IgE total yang tinggi, peningkatan IgE spesifik Aspergillus, Aspergillus precipitins tinggi, dan bronkiektasis sentral berarti bahwa orang ini memenuhi semua kriteria yang diakui ABPA.

Kesimpulan
Aspergilosis adalah penyakit jamur yang disebabkan oleh berbagai spesies Aspergillus, biasanya oleh Aspergillus fumigatus dan dapat mengenai kuku, kulit dan alat dalam paru-paru dan otak. Spesies Aspergillus merupakan jamur yang umum ditemukan di materi organik. Aspergillus fumigatus adalah jamur yang ditemukan dimana mana pada tanaman yang membusuk. Jamur ini dapat berkelompok kemudian memasuki jaringan kornea yang mengalami trauma atau luka bakar, luka lain, atau telinga luar (oktitis eksterna). Gejala atau efek patologi yang ditimbulkan oleh jamur Aspergillus fumigatus ini tergantung pada beratnya infeksi yang dapat dilihat dari stadium pada patologinya, yaitu stadium akut, stadium remisi, stadium eksaserbasi, stadium asma dependenkortikosteroid , dan stadium fibrotik. Diagnosis dapat dilakukan dengan reaksi serologi. Untuk pengobatan penyakit ini dapat menggunakan Amfoterisin B, Vorikonazol, Flukonazol, Terkonazol, Itrakonazol, dan pengobatan dengan operasi.

THANK YOU ...