Anda di halaman 1dari 68

ANATOMI SISTEM URINARIA

DISUSUN OLEH : KELOMPOK 2

Sistem urinary adalah sistem organ yang memproduksi, menyimpan, dan mengalirkan urin. Pada manusia, sistem ini terdiri dari dua ginjal, dua ureter, kandung kemih, dua otot sphincter, dan uretra.

Urinary System Anatomy


2 kidneys
Nephron Blood vessels Formation of urine Glomerular filtration (*dependent on BP & perfusion) Tubular reabsorption Tubular secretion

2 ureters Urinary bladder Urethra

Anatomy: The Urinary System

Figure 19-1a

Anatomy: The Urinary System

Figure 19-1b

A. Ginjal
a. Letak dan tampilan: - Terletak pada dinding posterior abdomen, terutama di daerah lumbal, di sebelah kanan dan kiri tulang belakang, dibungkus lapisan lemak yang tebal, di belakang peritoneum

- Kedudukan :setinggi V.Th 12 sampai L.3, ginjal kanan lebih rendah dari kiri - Ukuran : panjang 6-7,5 cm, tebal 1,5-2,5 cm, berat 140 gram. - Bentuk : seperti biji kacang, sisi dalam cekung (hilum) merupakan tempat masuk dan keluar pembuluh-pembuluh ginjal.

b. Struktur Ginjal : - Ginjal terbungkus oleh kapsula renalis yang terdiri dari jaringan fibrous berwarna ungu tua, lapisan luar disebut korteks, dan lapisan dalam disebut medula. - Bagian medula tersusun atas 15-16 massa berbentuk kerucut disebut piramida renalis. Puncak-puncaknya (papila renalis) langsung mengarah ke hilum dan berakhir di kalises. Kalises ini yang menghubungkan dengan pelvis renalis.

Kidney Anatomy

renal pyramids

renal pelvis ureter

renal cortex renal capsule renal medulla

- Struktur terkecil dari ginjal disebut nefron yang terdiri dari : glomerulus/ badan Malpighi, kapsula Bowman, tubulus proksimal, lengkung Henle, tubulus distal dan tubulus kolektivus (penampung).

Anatomy: The Urinary System

Animation: Urinary System: Anatomy Review


Figure 19-1j

- Selain nefron, struktur ginjal juga berisi pembuluh-pembuluh darah. Arteri renalis yang merupakan cabang dari aorta abdominalis mengalirkan darah masuk ke ginjal. Arteri tsb bercabang-cabang menjadi arteriol afferen dan membentuk simpul.Inilah yang disebut glomerulus. Sebuah pembuluh efferen meninggalkan glomerulus dan bercabang-cabang membentuk jaringan kapiler di sekeliling tubulus ginjal.

Anatomy: The Urinary System

Figure 19-1g h

Anatomy: The Urinary System

Figure 19-1d e

Anatomy: The Urinary System

Figure 19-1f

- Kapiler-kapiler ini kemudian bergabung lagi membentuk vena renalis, yang membawa darah dari ginjal ke vena kava inferior.

c. Fungsi ginjal : 1. Memegang peranan penting dalam pengeluaran zatzat toksik. 2. Mengeluarkan sisa-sisa metabolisme hasil akhir dari protein ureum,kreatin dan amoniak. 3. Mengatur keseimbangan cairan dan konsentrasi garam dalam darah. 4. Mempertahankan keseimbangan asam basa darah. 5. Pengaturan konsentrasi ion-ion penting. 6. Menghasilkan hormon Eritopoetin untuk produksi sel darah merah. 7. Mengatur tekanan darah

B. Ureter
- Merupakan saluran fibromuskular yang mengalirkan urin dari ginjal ke kandung kemih. Sebagian terletak dalam rongga abdomen dan sebagian terletak dalam rongga pelvis. - Terdiri dari 2 saluran pipa, masing-masing bersambung dari ginjal ke kandung kemih (vesika urinaria). - Tebal setebal tangkai bulu angsa, panjang 35-40 cm.

- Lapisan dinding ureter terdiri dari : a. Dinding luar jaringan ikat (jaringan fibrosa) b. Lapisan tengah lapisan otot polos c. Lapisan sebelah dalam lapisan mukosa - Bermula dari hilum kemudian berjalan ke bawah melalui rongga abdomen ke dalam rongga pelvis dengan arah oblique, dan bermuara di posterior kandung kencing.

- Dinding kandung kencing terdiri dari lapisan : a. Lapisan sebelah luar (peritoneum) b. Lapisan otot (tunika muskularis) c. Tunika submukosa d. Lapisan bagian dalam (lapisan mukosa) - Ada 3 saluran yang berhubungan dengan kandung kencing, yaitu 2 ureter yang bermuara ke dalam kandung kencing dan 1 uretra yang keluar dari kandung kencing.

C. Kandung Kencing
- Terletak di belakang simfisis pubis, di dalam rongga panggul. - Bentuknya seperti buah pir (kendi). - Bagian terbawah disebut basis, bagian atas (fundus) naik kalau kandung kencing mengembang karena urin,puncaknya (apeks) mengarah ke depan bawah dan berada di belakang simfisis pubis.

- Daerah segitiga antara 2 lubang ureter dan 1 lubang uretra ini disebut trigonum vesika urinaria.

- Pada wanita, kandung kencing terletak di antara simfisis pubis, uterus dan vagina. Dari uterus kandung kencing dipisahkan oleh lipatan peritoneum, membentuk suatu ruang yang disebut cavum Douglas.

Proses miksi - Distensi kandung kemih (s 250 cc) p reflek kontraksi dinding kandung kemih p relaksasi spinkter internus p relaksasi spinkter eksternus p pengosongan kandung kemih - Kontraksi kandung kemih dan relaksasai spinkter dihantarakan melalui serabut saraf simpatis - Persarafan vesika urinaria diatur torakolumbal & kranial dari sistem saraf otonom

D. Uretra
- Merupakan saluran membranosa sempit yang berpangkal pada kandung kencing yang berfungsi menyalurkan urin keluar tubuh. - Lubang tempat keluar urin disebut meatus uretra, terdiri atas serabut otot yang melingkar membentuk sfingter uretra.

- Uretra pada pria : yBerjalan berkelok-kelok melalui tengah-tengah prostate kemudian menembus lapisan fibrosa ke bagian penis. y Digunakan sebagai tempat pengaliran urin dan sistem reproduksi.

Uretra pada pria terdiri dari : a. Uretra prostatika b. Uretra membranosa c. Uretra kavernosa Lapisan uretra pria terdiri dari : a. Lapisan mukosa (lapisan paling dalam) b. Lapisan submukosa Panjang : 17-22,5 cm

- Uretra pada wanita : y Terletak di belakang simfisis pubis, berjalan miring sedikit kearah atas. y Hanya berfungsi sebagai tempat menyalurkan urin. y Lapisan uretra wanita terdiri dari : a. Tunika muskularis (lapisan sebelah luar) b. Lapisan spongeosa c. Lapisan mukosa (lapisan sebelah dalam) y Panjang : 2,5 3,5 cm

PEMBENTUKAN DAN EKSKRESI URIN


A. Urin j Sifat fisik urin : - Jumlah ekskresi dalam 24 jam 1.500 cc tergantung dari pemasukan (intake) dan faktor lainnya. - Warna : Bening kuning muda, tergantung dari kepekatan, diet, obat-obatan dan sebagainya, dan bila dibiarkan akan menjadi keruh. - Bau : amoniak - Berat jenis : 1,015-1,020. - Reaksi : asam

jKomposisi urin : a. Air, kira-kira 95-96% b. Benda padat (4%) : organik (ureum, asam urat, kreatin), anorganik(natrium, kalium, klorida, sulfat, magnesium, dan fosfor) c. Pigmen (bilirubin, urobilin) d. Toksin e. Hormon

URINE FORMATION
OVERVIEW BLOOD PLASMA FOUR STEPS URINE

GLOMERULAR FILTRATION TUBULAR REABSORPTION TUBULAR SECRETION WATER CONSERVATION

a. Proses filtrasi Terjadi di glomerulus. Permukaan afferent lebih besar dari permukaan efferent penyerapan darah. b. Proses reabsorpsi Terjadi secara pasif (obligator reabsorpsi) pada tubulus atas penyerapan kembali sebagian besar glukosa, sodium, klorida, fosfat, dan beberapa ion bikarbonat. Terjadi secara aktif (reabsorpsi fakultatif) pada tubulus bawah penyerapan kembali sodium dan ion bikarbonat. Sisanya dialirkan pada papilla renalis. c. Proses sekresi Sisa penyerapan pada tubulus pelvis ginjal ke luar.

Kidney Function
Filtration, reabsorption, secretion, and excretion
Peritubular capillaries Efferent arteriole Glomerulus F R Bowman s capsule Proximal tubule R S R Loop of Henle To renal vein E E = Excretion: lumen to external environment To bladder and external environment R S R Distal tubule S

Afferent arteriole

KEY F R S = Filtration: blood to lumen = Reabsorption: lumen to blood = Secretion: blood to lumen

Collecting duct

Figure 19-2

Kidney Function
Peritubular capillaries Efferent arteriole Glomerulus F Distal tubule

Afferent arteriole Bowman s capsule Proximal tubule

KEY F = Filtration: blood to lumen

Loop of Henle Collecting duct To renal vein

Figure 19-2 (1 of 4)

Kidney Function
Peritubular capillaries Efferent arteriole Glomerulus F R Bowman s capsule Proximal tubule R R Loop of Henle To renal vein R R Distal tubule

Afferent arteriole

KEY F R = Filtration: blood to lumen = Reabsorption: lumen to blood

Collecting duct

Figure 19-2 (2 of 4)

Kidney Function
Peritubular capillaries Efferent arteriole Glomerulus F R Bowman s capsule Proximal tubule R S R Loop of Henle To renal vein R S R Distal tubule S

Afferent arteriole

KEY F R S = Filtration: blood to lumen = Reabsorption: lumen to blood = Secretion: blood to lumen

Collecting duct

Figure 19-2 (3 of 4)

Kidney Function
Peritubular capillaries Efferent arteriole Glomerulus F R Bowman s capsule Proximal tubule R S R Loop of Henle To renal vein E E = Excretion: lumen to external environment To bladder and external environment R S R Distal tubule S

Afferent arteriole

KEY F R S = Filtration: blood to lumen = Reabsorption: lumen to blood = Secretion: blood to lumen

Collecting duct

Figure 19-2 (4 of 4)

Kidney Function

Kidney Function
The urinary excretion of substance depends on its filtration, reabsorption, and secretion

Figure 19-3

The Renal Corpuscle

Figure 19-4a

The Renal Corpuscle

Figure 19-4d

The Renal Corpuscle

Figure 19-4c

Filtration Fraction

Figure 19-5

Forces that Influence Filtration


Hydrostatic pressure (blood pressure) Colloid osmotic pressure Fluid pressure created by fluid in Bowman s capsule

Filtration
Filtration pressure in the renal corpuscle depends on hydrostatic pressure, colloid osmotic pressure, and fluid pressure

Figure 19-6

Filtration
Autoregulation of glomerular filtration rate takes place over a wide range of blood pressure

Figure 19-7

Filtration
Resistance changes in renal arterioles after GFR and renal blood flow

Figure 19-8a

Filtration

Figure 19-8b

Filtration

Figure 19-8c

GFR Regulation
Myogenic response
Similar to autoregulation in other systemic arterioles

Tubuloglomerular feedback Hormones and autonomic neurons


By changing resistance in arterioles By altering the filtration coefficient

Juxtaglomerular Apparatus

Figure 19-9

Tubuloglomerular Feedback
Distal tubule Efferent arteriole Macula densa 4 5 Afferent arteriole Granular cells 3 Flow past macula densa increases. 3 2 4 Paracrine diffuses from macula densa to afferent arteriole. 5 Afferent arteriole constricts. 1 Bowman s capsule Glomerulus Proximal tubule 1 GFR increases. 2 Flow through tubule increases.

Resistance in afferent arteriole increases. Collecting duct Loop of Henle Hydrostatic pressure in glomerulus decreases. GFR decreases.

PLAY Animation: Urinary System: Glomerular Filtration


Figure 19-10

Tubuloglomerular Feedback
Distal tubule Efferent arteriole Macula densa 1 Afferent arteriole Bowman s capsule Glomerulus Proximal tubule 1 GFR increases.

Granular cells

Collecting duct Loop of Henle

Figure 19-10, step 1

Tubuloglomerular Feedback
Distal tubule Efferent arteriole Macula densa 1 Afferent arteriole Bowman s capsule Glomerulus Proximal tubule 1 GFR increases. 2 Flow through tubule increases.

Granular cells

Collecting duct Loop of Henle

Figure 19-10, steps 1 2

Tubuloglomerular Feedback
Distal tubule Efferent arteriole Macula densa 1 Afferent arteriole 3 Flow past macula densa increases. 3 2 Bowman s capsule Glomerulus Proximal tubule 1 GFR increases. 2 Flow through tubule increases.

Granular cells

Collecting duct Loop of Henle

Figure 19-10, steps 1 3

Tubuloglomerular Feedback
Distal tubule Efferent arteriole Macula densa 4 Afferent arteriole 1 3 Flow past macula densa increases. 3 2 4 Paracrine diffuses from macula densa to afferent arteriole. Bowman s capsule Glomerulus Proximal tubule 1 GFR increases. 2 Flow through tubule increases.

Granular cells

Collecting duct Loop of Henle

Figure 19-10, steps 1 4

Tubuloglomerular Feedback
Distal tubule Efferent arteriole Macula densa 4 5 Afferent arteriole Granular cells 3 Flow past macula densa increases. 3 2 4 Paracrine diffuses from macula densa to afferent arteriole. 5 Afferent arteriole constricts. 1 Bowman s capsule Glomerulus Proximal tubule 1 GFR increases. 2 Flow through tubule increases.

Collecting duct Loop of Henle

Figure 19-10, steps 1 5 (1 of 4)

Tubuloglomerular Feedback
Distal tubule Efferent arteriole Macula densa 4 5 Afferent arteriole Granular cells 3 Flow past macula densa increases. 3 2 4 Paracrine diffuses from macula densa to afferent arteriole. 5 Afferent arteriole constricts. 1 Bowman s capsule Glomerulus Proximal tubule 1 GFR increases. 2 Flow through tubule increases.

Resistance in afferent arteriole increases. Collecting duct Loop of Henle

Figure 19-10, steps 1 5 (2 of 4)

Tubuloglomerular Feedback
Distal tubule Efferent arteriole Macula densa 4 5 Afferent arteriole Granular cells 3 Flow past macula densa increases. 3 2 4 Paracrine diffuses from macula densa to afferent arteriole. 5 Afferent arteriole constricts. 1 Bowman s capsule Glomerulus Proximal tubule 1 GFR increases. 2 Flow through tubule increases.

Resistance in afferent arteriole increases. Collecting duct Loop of Henle Hydrostatic pressure in glomerulus decreases.

Figure 19-10, steps 1 5 (3 of 4)

Tubuloglomerular Feedback
Distal tubule Efferent arteriole Macula densa 4 5 Afferent arteriole Granular cells 3 Flow past macula densa increases. 3 2 4 Paracrine diffuses from macula densa to afferent arteriole. 5 Afferent arteriole constricts. 1 Bowman s capsule Glomerulus Proximal tubule 1 GFR increases. 2 Flow through tubule increases.

Resistance in afferent arteriole increases. Collecting duct Loop of Henle Hydrostatic pressure in glomerulus decreases. GFR decreases.

Figure 19-10, steps 1 5 (4 of 4)

C. Tahap Pembuangan Urin (Mikturisi) Urin(170-230 cc) distensi kandung kencing refleks kontraksi dinding kandung kencing, relaksasi sfingter internus, dan relaksasi sfingter eksternus pengosongan kandung kencing (miksi).