Anda di halaman 1dari 36

FRAKTUR SUPRACONDILER HUMERI

Disusun oleh ATIK ANGGRAINI (06700051)

LAPORAN KASUS
Identitas pasien No register : 105207 Nama pasien : An. Mutia mufti Umur : 6 tahun Jenis kelamin : perempuan Alamat : bandungrejo plumpang tuban

Anamnesa
Keluhan utama : nyeri pada lengan atas kiri Riwayat penyakit sekarang : pasien datang akibat jatuh sendiri saat bermain pada tanggal 7 oktober 2011. posisi jatuh tangan menahan beban tubuh. Waktu kejadian sadar, mengingat kejadian dan dapat menceritakan kronologisnya keluhan lengan atas kiri sakit saat digerakkan, terdapat tanda tanda patah tulang tertutup pada lengan kiri. tidak pusing. tidak mual dan tidak muntah, Riwayat penyakit dahulu :

Pemeriksaan fisik
Status generalis : Kesadaran : Compos mentis GCS : E4V5M6 Nadi : 128 x/menit Suhu axilla : 370C RR : 24 x/menit BB : 17 kG

Kepala/leher : inspeksi : anemis (-), icterus(-), cyanosis (-), dyspneu (-) Palpasi : pembesaran kelenjar getah bening dan thyroid (-) Thoraks inspeksi : simetris, retraksi (-), jejas (-) Palpasi : nyaeri tekan (-) Perkusi : sonor Auskultasi : rhonkhi -/-, wheezing -/-, jejas (-)

Abdomen : Inspeksi : Perut datar, jejas (-) Auskultasi : Bising usus (+) normal Perkusi : Tympani, Nyeri ketuk (-) Palpasi : defanse muscular (-), nyeri tekan epigastrium (-)

Status Lokalis : regio humerus sinistra


L : bengkak pada lengan atas kiri (+), Pucat (-) F : Akral distal hangat (+), Pulsasi (+), Rabaan (+), Nyeri tekan (+), sensibilitas baik M : Fleksi jari-jari (+), dorso fleksi pergelangan tangan (+) tapi sedikit nyeri, palmar fleksi (+) sedikit nyeri, fleksi dan ekstensi siku (-) Karena sangat nyeri, tahanan otot (-)

Pemeriksaan Penunjang
Foto rontgen elbow sinistra AP / lateral Tampak adanya patah tulang supracondiler humerus sinistra

Pemerikasaan Laboratorium
Darah Rutin Hb : 12,3g/dL (13,5 18 g/dL) LED : - mm/jam (0-10 mm/jam) PCV : 36,2 ( L 40-54% P 37-47%) Eritrosit : 4.360.000 ( L 4-6jt/cmm P 3,85,8jt/cmm) Leukosit : 12.300 (4.00011.000) Trombosit : 350.000 (150.000-500.000) Hitung jenis : Basofil : 0 (0-1 %) Eosinofil : 0 (1-3%) Batang : 0 (2-6%) Segmen : 34 (50-70%) Limfosit :62 (20-40%) Monosit :4 (2-8%) Faal hemostasis Masa perdarahan :1 (17 menit) Masa pembekuan :10 (9-15 menit) Glukosa darah sewaktu : 96 mg/dL (70-200 mg/dL)

Diagnosis : Close Fraktur Supra Condiler humerus sinistra Planning : Observasi keadaan umum Pasang splint Analgesic Direncanakan reposisi dengan general anestesi

DEFINISI
Fraktur adalah hilangnya kontinuitas tulang, tulang rawan sendi, tulang rawan epifisis, baik bersifat total maupun yang parsial. Fraktur suprakondiler humerus: fraktur sepertiga distal humerus tepat proksimal troklea dan capitulum humeri. Garis fraktur berjalan melalui apeks coronoid dan fossa olecranon, biasanya fraktur transversal. Merupakan fraktur yang sering terjadi pada anak-anak.

Etiologi

Peristiwa trauma tunggal Tekanan yang berulang ulang Kelemahan abnormal pada tulang (fraktur patologik)

KLASIFIKASI FRAKTUR SUPRAKONDILER HUMERI


Tipe

Ekstensi (sering terjadi 99 % kasus) Pergeseran fragmen distal dapat bergerak kearah :
1. Posterior 2. Lateral atau medial 3. Rotasi

Tipe fleksi (jarang terjadi 1-2% kasus) Tipe I Terdapat fraktur tanpa adanya pergeseran dan hanya berupa retak yang berupa garis. Tipe II Tidak adanya pergeseran fragmen, hanya terjadi perubahan sudut antara humerus dan kondilus lateralis. Tipe III Terdapat pergeseran fragmen tetapi korteks posterior masih utuh serta masih ada kontak antara kedua fragmen. Tipe IV Pergeseran kedua fragmen dan tidak ada kontak sama sekali.

PATOFISIOLOGI FRAKTUR SUPRAKONDILER HUMERI


TIPE

EKSTENSI Akibat trauma langsung pada humerus distal melalui benturan pada siku, lengan bawah dalam posisi supinasi dengan siku hiperekstensi dengan tangan yang terfiksasi, olekranon terdorong ke depan sehingga terjadi fraktur.

TIPE

FLEKSI

Anak jatuh pada telapak tangan dengan tangan dan lengan bawah dalam posisi pronasi dan siku dalam posisi sedikit fleksi.

Tipe fleksi

Gejala/tanda- tanda klinisnya adalah: Sakit (pain) Denyut nadi a. Radialis yang berkurang (pulsellessness) Pucat (pallor) Rassa semutan (paresthesia, baal) Kelumpuhan (paralisis)

PEMERIKSAAN KLINIS FRAKTUR SUPRAKONDILER HUMERI

Pada tipe ekstensi sendi siku dalam posisi ekstensi daerah siku tampak bengkak kadang bengkak hebat sekali akibat perdarahan yang luas. Bila pembengkakan tidak hebat dapat teraba tonjolan fragmen di bawah subkutis. Pada tipe fleksi posisi siku fleksi (semifleksi), dengan siku yang bengkak dengan sudut jinjing yang berubah.

Pada pemeriksaan klinis sangat penting diperiksa ada tidaknya gangguan sirkulasi perifer dan lesi pada saraf tepi

PEMERIKSAAN PENUNJANG

Pemeriksaan penunjang dengan radiologi proyeksi AP/LAT, jelas dapat dilihat tipe ekstensi atau fleksi.

PENATALAKSANAAN
1. Penatalaksanaan secara Umum Fraktur biasanya menyertai trauma. Untuk itu sangat penting untuk melakukan pemeriksaan terhadap jalan napas (airway), proses pernafasan (breathing) dan sirkulasi (circulation), apakah terjadi syok atau tidak. Bila sudah dinyatakan tidak ada masalah lagi, baru lakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik secara terperinci. Waktu tejadinya kecelakaan penting ditanyakan untuk mengetahui berapa lama sampai di RS, mengingat golden period 1-6 jam. Bila lebih dari 6 jam, komplikasi infeksi semakin besar. Lakukan anamnesis dan pemeriksaan fisis secara cepat, singkat dan lengkap. Kemudian lakukan foto radiologis. Pemasangan bidai dilakukan untuk mengurangi rasa sakit dan mencegah terjadinya kerusakan yang lebih berat pada jaringan lunak selain memudahkan proses pembuatan foto.

II.Penatalaksanaan Kedaruratan Segera setelah cedera, pasien berada dalam keadaan bingung, tidak menyadari adanya fraktur,penting untuk meng-imobilisasi bagian tubuh segara sebelum pasien dipindahkan. Bila pasien yang mengalami cedera harus dipindahkan dari kendaraan sebelum dapat dilakukan pembidaian, ekstremitas harus disangga diatas dan dibawah tempat patah untuk mencegah gerakan rotasi maupun angulasi. Gerakan fragmen patahan tulang dapat menyebabkan nyeri, kerusakan jaringan lunak dan perdarahan lebih lanjut.

Pada fraktur terbuka, luka ditutup dengan pembalut bersih (steril) untuk mencegah kontaminasi jaringan yang lebih dalam. Jangan sekali-kali melakukan reduksi fraktur, bahkan bila ada fragmen tulang yang keluar melalui luka. Pasanglah bidai

Prinsip Penanganan Fraktur

Reduksi, yaitu : restorasi fragmen fraktur sehingga didapati posisi yang dapat diterima.Reduksi fraktur (setting tulang) berarti mengembalikan fragmen tulang pada kesejajarannya dan posisi anatomis normal Metode untuk reduksi adalah dengan reduksi tertutup, traksi, dan reduksi terbuka.

Imobilisasi Setelah fraktur direduksi, fragmen tulang harus diimobilisasi, atau dipertahankan dalam posisi dan kesejajaran yang benar sampai terjadi penyatuan

Pada fraktur tipe ekstensi, posisi fleksi pada siku harus dihindari karena menyebabkan kerusakan labih lanjut dari system neurovaskular. Anggota gerak dibuat immobilisasi degan bidai pada posisi yang mengalami deformitas, dengan posisi siku ekstensi dan lengan bawah pronasi. Sirkulasi harus selalu dicek sebelum dan selama melakukan tindakan reposisi. Penanganan fraktur suprakondilar tergantung tipe dari fraktur tersebut.

Pada fraktur suprakondilar tipe ekstensi : Tipe I Tanpa pergeseran, immobilisasi dengan posisi siku fleksi tidak lebih dari 90O. Bila terdapat pergeseran penanganannya dengan menggunakan back slap long arm dengan posisi siku fleksi.

Tipe II : Bila fraktur disertai angulasi dengan aligment yang masih bagus, lebih adekuat untuk dilakukan tindakan minimal reposisi. Reposisi dilakukan dengan siku dalam keadaan pronasi dan fleksi tidak lebih dari 120O, Bila disertai rotasi dipilih percutaneus pinning. Percutaneus pinning yang digunakan yaitu fiksasi dengan kwire, dilakukan setelah kedudukan anatomis kedua fragmen tercapai menghasilkan immobilisasi yang cukup bagus.

Tipe III : reposisi percutaneus pinning dengan fiksasi k- wire reposisi terbuka Reposisi terbuka atau operasi pada fraktur suprakondilar tipe ekstensi dilakukan pada reposisi tertutup yang gagal, fraktur terbuka atau gangguan neurovaskuler.

Rehabilitasi Sasarannya meningkatkan kembali fungsi dan kekuatan normal pada bagian yang sakit. Untuk mempertahankan dan memperbaiki fungsi dengan mempertahankan reduksi dan imobilisasi adalah peninggian untuk meminimalkan bengkak, memantau status neurovaskuler, mengontrol ansietas dan nyeri, latihan isometrik dan pengaturan otot, partisipasi dalam aktifitas hidup sehari-hari, dan melakukan aktifitas kembali secara bertahap dapat memperbaiki kemandirian fungsi. Pengembalian bertahap pada aktivitas

KOMPLIKASI FRAKTUR

Pada fraktur suprakondilar tipe ekstensi komplikasi yang paling sering terjadi cedera pembuluh darah dan saraf. Cedera pada arteri brakhialis, dimana hal ini akan menyebabkan terjadinya volkmans iskemik. Kelainan ini akan menyebabkan nekrosis dari otot dan saraf tanpa disertai ganggren perifer. Gejala dari volkmans iskemi adanya pain, pallor, hilangnya pulsus, parestesi dan paralysis. Cedera saraf yang paling sering terjadi adalah cedera pada nervus radialis, nervus median dan nervus ulna. Myositis osifikans, jarang terjadi dan biasanya terjadi karena manipulasi yang berlebihan atau terjadi pada reposisi terbuka yang terlambat dilakukan. Malunion dapat merupakan komplikasi dari fraktur ini, biasanya terjadi kubitus varus, disebabkan reposisi yang tidak adekuat.

Sedangkan

pada fraktur suprakondilar

tipe fleksi Cedera nervus ulna merupakan komplikasi yang sering terjadi. Malunion dapat juga terjadi pada fraktur ini yaitu terjadi kubitus varus.

INDIKASI OPERASI

Displaced fracture Fraktur disertai cedera vaskular Fraktur terbuka Pada penderita dewasa kebanyakan patah di daerah suprakondiler sering kali menghasilkan fragmen distal yang komunitif dengan garis patahnya berbentuk T atau Y. Untuk menanggulangi hal ini lebih baik dilakukan tindakan operasi yaitu reposisi terbuka dan fiksasi fragmen fraktur dengan fiksasi yang rigid.

FOLLOW-UP
Evaluasi union sekitar 3-4 minggu untuk anak usia 4 tahun dan sekitar 4-5 minggu untuk anak-anak usia 8 tahun dengan pemeriksaan klinis dan radiologi. Dengan meletakan jari di atas tendon biceps kemudian dilakukan fleksi dan ekstensi elbow. Adanya spasme m. biceps menunjukkan elbow belum siap mobilisasi. Setelah melepas splints, dilakukan latihan aktif dalam sling selama beberapa bulan sampai range of motion tercapai sesuai dengan yang diharapkan.