Anda di halaman 1dari 15

KELOMPOK II

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. VENNY YUNI LIEM NOVITA CITRANINGRUM ENDAH PANJAITAN WAREN MAGAL MARIA FLORIANA BOLY YAEL ZANAMBANI MARIA THERESIA MANEK MARTINA BAREK OLA

HYPOKALEMIA
A. DEFINISI
Hipokalemia (kadar kalium yang rendah dalam darah) adalah suatu keadaan dimana konsentrasi kalium dalam darah kurang dari 3,5-3,8 mEq/L darah. Selain itu hypokalemia dapat mengakibatkan penurunan
kadar K+ dalam ECF disertai dengan K+ serum menurun sebanyak 0,5 mEq/L.

B. ETIOLOGI
Ginjal yang normal dapat menahan kalium dengan baik. Jika konsentrasi kalium darah terlalu rendah, biasanya disebabkan oleh ginjal yang tidak berfungsi secara normal atau terlalu banyak kalium yang hilang melalui saluran pencernaan (karena diare, muntah, penggunaan obat pencahar dalam waktu yang lama atau polip usus besar). Hipokalemia jarang disebabkan oleh asupan yang kurang karena kalium banyak ditemukan dalam makanan sehari-hari. Kalium bisa hilang lewat air kemih karena beberapa alasan. Yang paling sering adalah akibat penggunaan obat diuretik tertentu yang menyebabkan ginjal membuang natrium, air dan kalium dalam jumlah yang berlebihan. Pada sindroma Cushing, kelenjar adrenal menghasilkan sejumlah besar hormon kostikosteroid termasuk aldosteron. Aldosteron adalah hormon yang menyebabkan ginjal mengeluarkan kalium dalam jumlah besar.

Ginjal juga mengeluarkan kalium dalam jumlah yang banyak pada orang-orang yang mengkonsumsi sejumlah besar kayu manis atau mengunyah tembakau tertentu. Obat-obatan tertentu seperti insulin dan obat-obatan asma (albuterol, terbutalin dan teofilin), meningkatkan perpindahan kalium ke dalam sel dan mengakibatkan hipokalemia. Tetapi pemakaian obat-obatan ini jarang menjadi penyebab tunggal terjadinya hipokalemia. Hypokalemia pada keadaan muntah terutanma terjadi akibat meningkatnya ekskresi dalam ginjal. Didalam kolon, hypokalemia dapat menyebabkan adenoma vilosa kolon ( tomur kolon ) yang dapat mengakibatkan kehilangan cairan melalui diare.

Contoh dari penyakit ini adalah orang tua yang hanya makan roti panggang dan teh memilki asupan kalium yang sedikit, juga pada orang yang suka minum alkohol yang jarang makan dan tidak makan dengan baik, maka asupan kalium sedikit juga.

C. GEJALA KLINIS
Hipokalemia ringan biasanya tidak menyebabkan gejala sama sekali. Hipokalemia yang lebih berat (kurang dari 3 mEq/L darah) bisa menyebabkan : CNS dan NEUROMUSKULAR = kelemahan otot, kejang otot, lelah (tidak enak badan), refleks tendon dalam meningkat, dan bahkan kelumpuhan. PERNAFASAN = otot-otot pernafasan lemah dan nafas dangkal SALURAN CERNA = menurunnya motilitas usus besar (anoreksia, mual, muntah, muntah)

KARDIOVASKULAR = disritma pada jantung (irama pada jantung tidak normal), hal ini terjadi terutama pada penderita penyakit jantung. GINJAL = terjadi poliuria

D. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
Pada kasus hypokalemia dapat dilakukan pemeriksaan laboratorium untuk mengetahui kadar kalium yang kurang <3,5 mEq/L dan juga pH bila >7,45, maka orang tersebut dapat terindikasi hypokalemia (hypokalemia sering disertai alkalosis metabolik). Pemeriksaan awal dan ulangan kadar serum perlu dilakukan u Selain itu, untuk dapat mengetahui hypokalemia dapat dilakukan pemeriksaan EKG (karna pada hypokalemia terjadi disritma pada jantung).

Atau dapat disimpulkan bahwa pemeriksaan diagnostik meliputi: Kalium serum : penurunan, kurang dari 3,5 mEq/L. Klorida serum : sering turun, kurang dari 98 mEq/L. Glukosa serum : agak tinggi. Bikarbonat plasma : meningkat, lebih besar dari 29 mEq/L. Osmolalitas urine : menurun. GDA : pH dan bikarbonat meningkat (Alkalosit metabolik).

E. PENATALAKSANAAN MEDIS
Adapun penatalaksanaan penyakit hipokalemia yang paling baik adalah pencegahan. Berikut adalah contoh-contoh penatalaksanaannya : a. Pemberian kalium sebanyak 40-80 mEq/L. b. Diet yang mengandung cukup kalium pada orang dewasa ratarata 50-100 mEq/hari (contoh makanan yang tinggi kalium termasuk kismis, pisang, aprikot, jeruk, advokat, kacangkacangan, dan kentang).

c. Pemberian kalium dapat melalui oral maupun bolus intravena dalam botol infus. d. Pada situasi kritis, larutan yang lebih pekat (seperti 20 mEq/L) dapat diberikan melalui jalur sentral bahkan pada hipokalemia yang sangat berat, dianjurkan bahwa pemberian kalium tidak lebih dari 20-40 mEq/jam ( diencerkan secukupnya) : pada situasi semacam ini pasien harus dipantua melalui elektrokardigram (EKG) dan diobservasi dengan ketat terhadap tanda-tanda lain seperti perubahan pada kekuatan otot.

F. PENGKAJIAN DATA KEPERAWATAN


Pengkajian data didapatkan dengan cara anamnesa keluhan utama, keadaan umum, DS (data subyektif), DO (data obyektif), pemeriksaan fisik, dll.

Maka data yang dapat ditemukan: Identitas klien meliputi : nama, umur, jenis kelamin, tempat tinggal, dll. Data riwayat kesehatan Riwayat kesehatan sekarang Kemungkinan klien akan mengalami BAB lebih dari 4 kali pada bayi dan lebih 3 kali pada anak dengan konsistensi encer dapat bercampur lender darah atau lender saja yang disertai muntah, penurunan BB, suhu badan meningkat (tergantung berat ringannya diare), terlihat lesu dan lemah. Tanda dan Gejala : keletihan, kelemahan otot, kram kaki, otot lembek atau kendur, mual, muntah, ileus, parestesia, peningkatan efek digitalis, penurunan konsentrasi urine (poliuria)

Pengkajian fisik : penurunan bising usus karena kelemahan otot polos, nadi lemah dan takteratur, penurunan refleks, dan penurunan tonus otot

G. PEMERIKSAAN
Pemeriksaan tinja, untuk mengetahui kadar kalium di dalamnya Pemeriksaan elektrolit terutama Na, K+, Cl, P serum pada diare yang disertai kejang Pemeriksaan duodenum incubation untuk mengetahui kuman secara kuantitatif dan kualitatif terutama pada diare kronik Pemeriksaan fisik : mulut, mata, TTV, kulit, kesadaran

H. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Kurangnya volume cairan yang berhubungan dengan seringnya BAB / diare Perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan yang berhubungan dengan out put yang berlebihan Penurunan curah jantung yang berhubungan dengan faktor listrik (resiko disritmia) sekunder akibat hipokalemia Tujuan dan Kriteria Hasil : Hipokalemia dapat teratasi setelah dilakukan tindakan perawatan dengan kriteria: Kebutuhan cairan terpenuhi EKG menujunjukkan konfigurasi normal, dan tak adanya disritmia ventrikel, kadar kalium serum dalam batas normal (3,5-5,0 mEq/L)

I. INTERVENSI dan RASIONAL


Jelaskan pada klien tindakan keperawatan yang akan dilakukan Rasionalnya : dengan menjelaskan pada klien tindakan yang akan dilakukan maka klien akan kooperatif dan mau menerima tindakan keperawatan yang diberikan. Memonitor intake dan output cairan yang dikeluarkan sehubungan dengan diare Rasional : dengan memonitor status intake dan output cairan yang keluar, itu akan membantu kita untuk melakukan tindakan selanjutnya yang akan dilakukan. Pantau kadar kalium serum dengan cermat Rasionalnya : dengan memantua kadar kalium serum, kita dapat mengetahui kadar kalium yang ada di dalam tubuh pasien tersebut, terjadi peningkatan atau penurunan.

Pantau terhadap adanya nadi takteratur atau lemah (berhubungan dengan adanya disritmitas jantung) Rasional : dengan memantau kondisi nadi klien setiap 2 jam sekali, kita dapat mengetahui adanya nadi tak teratur / lemah sehubungan dengan disritmitas pada jantung akibat adanya hipokalemia Berikan segelas air penuh atau sari buah Rasional : dengan memberikan segelas air penuh atau sari buah, dapat meminimalkan defisit volume cairan akibat diare yang diakibatkan oleh hypokalemia Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian suplemen kalium IV sesuai program, Rasional : dengan berkolaborasi dengan dokter akan pemberian suplemen kalium, itu akan membantu mempercepat proses pemulihan klien (meminimalkan penuruan kalium)

Evaluasi kondisi klien Rasional: dengan mengevaluasi kondisi klien kita dapat mengetahui apakah tindakan yang sudah dilakukan/diberikan memberikan dampak positif atau negatif pada kondisi klien.

Observasi kondisi dan respon klien Rasional : dengan mengobservasi kondisi dan respon klien kita dapat mngetahui perkembangan kondisi klien tentang penyakitnya dan kita dapat menentukan tindakan perawatan apa yang selanjutnya akan dilakukan