Anda di halaman 1dari 10

Oleh : Litna Nurjannah Ginting (090304070)

Pendahuluan
Air merupakan barang ultra essential bagi kelangsungan hidup manusia. Air merupakan sumber daya yang klasifikasinya dapat digolongkan baik ke dalam sumber daya dapat diperbarukan maupun tidak diperbarukan, tergantung pada sumber dan pemanfaatannya. Contoh air sebagai sumber daya yang tidak terbarukan adalah groundwater (air bawah tanah). Dan surface water (air permukaan) merupakan contoh air sebagai sumber daya terbarukan.

Model Ekonomi Sumber Daya Air Tanah (Groundwater)


Neher (1990) deplesiasi sumber daya air bawah tanah ini menyebabkan dampak ekonomi dalam 3 hal : 1. Sumber daya air bisa menjadi langka (extinct) melalui pemanfaatan yang berlebihan (overuse) yang mengakibatkan biaya ekonomi yang sangat mahal. 2. Air bawah tanah diibaratkan uang di Bank yang dapat menjadi cadangan pada saat curah hujan menurun akibat musim kemarau. Jika cadangan habis maka akan menimbulkan biaya ekonomi yang sangat mahal 3. Ketersediaan air dalam tanah (water table) habis, biaya ekstraksi akan meningkat x = stok sumber daya air G = laju pengisian y = laju ekstraksi = B(y) c(x) Persamaan diatas menunjukkan bahwa harga sumber daya () sama dengna selisih antara manfaat marjinal dan biaya marjinal untuk memanfaatkannya

B(y) C(y)

C(x)

y
Gbr 1. Manfaat dan biaya terhadap ekstraksi

x
Gbr 2. Fungsi biaya terhadap stok sumber daya air

Alokasi Sumber Daya Air


Masalah yang sering dialami dalam pengelolaan sumber daya air adalah masalah ekstraksi optimal, alokasi dan distribusi air. Alokasi air merupakan masalah ekonomi untuk menentukan bagaimana suplai air yang tersedia harus dialokasikan kepada pengguna atau calon pengguna. Pengguna air terbagi dua kelompok : 1. Kelompok komsumtif, yakni mereka yang memanfaatkan suplai air untuk konsumsi. Contoh : Rumah tangga, industri, pertanian 2. Kelompok non konsumtif, yaitu kelompok yang memanfaatkan air hanya sebagai media seperti pertumbuan ikan, sumber energi listrik, dan rekreasi.

Alokasi sumber daya air harus memenuhi kriteria efisiensi, equity dan sustainability (berkelanjutan).

Mekanisme Alokasi Sumber Daya Air


1. Queuing System (sistem antrian) - Riparian Water Right (dikembangkan di inggris) Dalam sistem ini, seorang pemilik lahan yang berada di daerah yang berada dekat sungai atau danau (riparian) memiliki hak yang sama dengan pemilik lahan riparian lainnya untuk memanfaatkan air. Hak kepemilikan tidak hilang jika pemilik air tidak memanfaatkannya. Sistem ini memberlakukan prinsip antrian karena yang berada di hulu sungai memiliki hak terlebih dahulu atas air dibandingkan yang di hilir. Kelemahan sistem ini adalah inefisiensi pemanfaatan air. - Prior AppropriationWater Right Hak atas kepemilikan air diperoleh melalui kepemilikan turun menurun. Hak kepemilikan dapat hilang jika pemilik tidak menggunakan sumber daya air untuk kepentingan bermanfaat. Masalah yang sering timbul pada sistem ini adalah masalah kepemilikan.

2. Water Pricing Salah satu model alokasi sumber daya air yang didasarkan pada water pricing adalah Marginal Cost Pricing (MCP). Secara teoritis, mekanisme MCP ini dianggap paling efisien dan dapat menghindari terjadinya underpriced (penilaian di bawah harga) dan penggunaan yang berlebihan (overuse). Kelemahan mekanisme MCP ini adalah menyangkut aspek kesetaraan (equity). Hartwick dan Olewiler (1998), melihat bahwa mekanisme water pricing berdasarkan step tarrif atau increasing block rates (IBR) dapat dijadikan alternatif MCP. Sistem IBR selain memungkinkan penggunaan air yang efisien juga dapat beradaptasi dengan situasi pada saat permintaan air memuncak.

3. Alokasi Publik Air merupakan barang publik sehingga diperlukan investasi pemerintah dalam pengalokasiannya. Contoh alokasi publik adalah irigasi. Keunggulan: Alokasi publik dapat menjawab aspek equity karena pemerintah dapat mengalokasikan air ke daerah yang tidak mencukupi sehingga masyarakat miskin dapat mengakses air. Kelemahan : Namun alokasi sering ke daerah yang kebutuhan tinggi tapi kemampuan membayar rendah. Sehingga subsidi menimbulkan inefisiensi terhadap pemanfaatan sumber daya air karena adanya faktor hidden cost. Selain itu sulit mencapai pemanfaatan air yang efisien karena partisipasi masyarakat rendah.

4. Alokasi Berdasarkan Penggunaan (User-based) Karakteristik sistem alokasi ini adalah pentingnya peran kelembagaan. Kelebihan : fleksibilitas untuk beradaptasi terhadap pola perubahan yang terjadi pada kebutuhan lokal, lebih berkelanjutan, dan lebih dapat diterima secara politis. Kelemahan : kurangnya kapasitas kelembagaan lokal dalam menangani kebutuhan intersektoral, seperti antara kebutuhan rumah tangga dan industri.

5. Alokasi Berbasis Pasar (Water Market) Water market adalah pertukaran hak atas pemanfaatan air (water use right). Kelebihan : Memungkinkan terjadinya pengukuhan atas pengolahan air. - Memberikan fleksibilitas bagi pengguna untuk bereaksi terhadap perubahan permintaan dan penawaran. - Penggunaan air dalam sistem pasar ini lebih diberdayakan
Kelemahan : sulit untuk penegakan aturan menyangkut pengambilan air, rawan terhadap dampak negatif lingkungan.