Anda di halaman 1dari 30

BUDIDAYA IKAN KERAPU

Di Keramba Jaring Apung

PENDAHULUAN

Potensi budidaya laut Indonesia mencapai 8,7 juta ha baru dimanfaatkan sekitar 10% atau 870.000 ha. Produksi budidaya laut pada tahun 2007 sebesar 1.572.700 ton dengan nilai 2,212 triliun rupiah. Ikan kerapu merupakan komoditas unggulan perikanan setelah udang, dalam keadaan hidup mempunyai nilai ekonomis yang tinggi, mempunyai prospek pasar yang baik di luar dan dalam negeri. Beberapa jenis ikan kerapu yang mempunyai nilai jual tinggi di antaranya kerapu bebek Cromileptes altivelis,kerapu sunu Pelctropomus maculatus dan P. leopardus,kerapu macan Epinephelus fuscoguttatus dan kerapu lumpur E.coicoides.

DAFTAR HARGA IKAN HIDUP DI HONGKONG (WWF-1999)

Jenis ikan Pasar (US$) Napoleon 96.7 Kretang* 106.3 Kerapu bebek 91.4 Sunu leopardus 51.8 Sunu maculatus 45.2 Kerapu macan 39.7 Kerapu lumpur 22.7 Karapu batik 30.5 Kerapu merah 78.9 *Epinephelus lanceolatus

Restoran (US$) 174.3 169.7 161.4 106.5 70.4 47.4 48.3 59.0 97.1

BIOLOGI

Klasifikasi Ikan kerapu termasuk famili Serranidae,ordo Percomorphi, Phylum Chordata. Morfologi Bentuk badan kerapu bebek lebih pipih dibanding kerapu lainnya, perbedaannya yang khusus adalah bentuk kepalanya yang cekung. Karapu bebek muda berwarna putih dengan totol hitam di seluruh bagian tubuh. Habitat Ikan kerapu pada umumnya hidup di perairan pantai dengan dasar pasir berkarang yang banyak ditumbuhi padang lamun Penyebaran Daerah penyebaran kerapu bebek dimulai dari Afrika Timur sampai Pasifik Baratdaya, sedangkan di Indonesia banyak terdapat di perairan Simatera, Jawa, Sulawesi dan perairan Ambon. Pertumbuhan Pertumbuhan ikan kerapu bebek sangat lambat Di antara ikan kerapu hanya kerapu lumpur yang pertumbuhannya relatif cepat. Makanan Makanan ikan kerapu terdiri dari ikan, cumi dan udang Ikan kerapu budidaya sudah bisa makan pakan buatan (pellet)

Klasifikasi

Menurut Heemstra dan Randall (1993), Famili Serranidae terdiri dari 5 sub famili yaitu : Serraninae, Anthiinae, Niphoninae, Epinephelinae, dan Grammistinae Famili Serranidae berasal dari : Phylum : Chordata, sub Phylum: Vertebrata, Class : Osteichtyes, sub Class : Actinopterigii, Ordo : Percomorphi, sub Ordo : Percoidea

Morfologi

Morfologi ikan kerapu berbeda dari jenis yang satu dengan lainnya. Contoh : Bentuk badan kerapu bebek lebih pipih dibanding kerapu lainnya, perbedaannya yang khusus adalah bentuk kepalanya yang cekung. Karapu bebek muda berwarna putih dengan totol hitam di seluruh bagian tubuh. Ikan kerapu macan memiliki bentuk badan yang memanjang gepeng membulat, mulut lebar serong ke atas, rahang atas dan bawah dilengkapi dengan gigi-gigi geratan berderet 2 baris dst.

Habitat

Ikan kerapu merupakan ikan dasar umumnya ditemukan di daerah terumbu karang(coral reefs), namun ada juga yang ditemukan di daerah muara (estuary) atau daerah pantai yang berbatu karang (rocky reefs). Ikan kerapu muda (juvenile) banyak ditemukan di perairan pantai di daerah padang lamun (sea grass beds), sedangkan yang lebih dewasa akan menghuni perairan yang lebih dalam di daerah yang berbatu karang

Penyebaran Geografis

Ikan kerapu macan menyebar di wilayah perairan Indo-Pacific, Laut Merah, terutama di daerah kepulauan tropis, di perairan bagian Barat dan tengah Samudra Pasific, Madagascar, India, Thailand, Indonesia, Australia, Jepang, Philippina, New Guinea dan New Caledonia Ikan kerapu bebek menyebar di wilayah perairan Lautan Pasifik bagian Barat mulai dari perairan Selatan Jepang sampai ke Palao, Guam, New Caledonia, perairan Utara Australia, Perairan Samudra Hindia bagian Timur, perairan pantai Pulau Jawa

BUDIDAYA

Lokasi
Lokasi budidaya yang memenuhi persyaratan secara teknis merupakan aset yang tidak ternilai karena akan menjamin kelangsungan usaha budidaya Pemilihan lokasi budidaya sebaiknya memperhatikan kondisi longkungan biologis yang dicirikan dengan adanya ikan kerapu yang hidup di perairan tersebut Lokasi merupakan perairan yang terlidung dari tiupan angin kuat dan hempasan golmbang laut yang besar. Kedalaman perairan yang disarankan antara 7 9 meter, dasar perairan pasir berkarang yang ditumbuhi lamun. Lokasi sebaiknya jauh dari pencemaran limbah baik industri maupun rumah tangga. Lokasi memiliki persyaratan kualitas air yang mencakup lingkungan fisik dan kima. Lingkungan fisik meliputi kecepatan arus 20-30cm per detik, dan kecerahan air laut > 5 meter. Kimia air laut meliputi salinitas 31-34, suhu 27-31C, pH 8-8,2 dan oksigen terlarut > 5 mg/l

Keramba Jaring Apung (KJA) Keramba jaring Apung terdiri atas : 1) Rakit apung untuk menggantungkan jaring, biasanya terdiri dari 4 sampai 6 petak yang berukuran 2,5x2,5m atau 3,5x3,5m. Rakit apung terbuat dari bahan bambu atau kayu. 2) Jaring berbentuk kantong dengan ukuran 1x1x1,5m, 2x2x2,5m, 3x3x3,5m dari bahan polyetheline. Dan untuk menahan kedudukannya, rakit diikat dengan 3) tali dan jangkar. Panjang tali jangkar disesuaikan dengan kedalaman air di lokasi. Rakit apung yang berada dilokasi yang mempunyai kedalaman laut 7m, panjang tali jangkarnya mencapai 21 meter. Sebagai pemberat untuk mengikat tali jangkar dapat dipasang patok bambu, kayu atau drum yang dicor dengan adukan beton. 4) Rumah jaga dan lantai kerja

Benih
Benih
Ikan kerapu yang benihnya sudah bisa diproduksi oleh unit pembenihan seperti kerapu bebek dan kerapu macan mulai didederkan di KJA pada ukuran 10-15 gr sampai ukuran 80-100 gr, kemudian dipindah ke dalam jaring dengan mesh size yang lebih besar sampai mencapai ukuran 200-300 gr dan kemudian dipelihara dalam jaring pembesaran sampai ukuran panen >500 gr. Di Kep. Riau budidaya ikan kerapu sunu benihnya berasal dari hasil tangkapn bubu yang terbuat dari kawat galvanis. Benih yang dipelihara umumnya berukuran 200-300 gr, dan dipanen setelah mencapai ukuran > 500 gr.

Pakan
Pakan yang digunakan dalam kegiatan usaha budidaya kerapu umumnya berupa ikan segar yang terdiri dari jenis ikan tembang, japuh, petek, teri, kurisi, kuniran dan jenis ikan laut launya yang harganya relatif murah. Budidaya ikan kerapu bebek yang benihnya dari hatchery sudah menggunakan pakan buatan atau pellet. Benih kerapu bebek diadaptasikan terhadap pakan buatan mulai umur 15 hari. Namun benih kerapu bebek yang pada phase larvanya diberi pakan zooplankton seperti Brachionus plicatilis, Artemia salina, Copepoda, jamret dan pakan rucah tidak memberikan respon terhadap pakan buatan.

Obat obatan
Obat obatan yang sering digunakan adalah 1) antibiotik seperti Ocytetracicline, Peniciline dan Streptomysine. Clorapheniol dan Nitrofuran dilarang untuk digunakan pada usaha budidaya ikan. 2) Imunostimulan seperti beta glucan digunakan untuk meningkatkan kekebalan dan daya tahan ikan terhadap serangan penyakit. 3) Vaksin penggunaan vaksin di Indonesia baru pada tahap penelitian dan pengembangan. Beberapa jenis parasit ikan laut dapat dirontokan dengan cara merendam ikan yang terkena parasit tersebut dalam air tawar selama 10 15 menit.

OPERASIONAL BUDIDAYA
Padat tebar
Pada lokasi budidaya yang ideal benih kerapu macan atau kerapu lumpur yang berukuran 15-25 gr/ekor dapat ditebar dengan kepadatan 200 ekor/m, dan yang berukuran 50-75 gr/ekor dengan kepadatan 100 ekor/m, sedangkan yang berukuran 100-200 gr/ekor dengan kepadatan 25 ekor/m. Padat iebar benih yang berukuran kecil (15-25 gr) selama 3 bulan masa pemeliharaan, kelangsungan hidupnya hanya 60%, kelangsungan hidup ikan meningkat seiring dengan bertambah besarnya ukuran ikan. Di perairan Cigorondong, benih kerapu macan yang berukuran 10 gr/ekor yang dipelihara selama 3 bulan, kelangsungan hidupnya 60%, sedangkan di perairan Bojonegara hanya benih yang berukuran >100 gr/ekor yang mampu bertahan dipelihara dalam KJA. Pembudidaya ikan di Selat Dompak menggunakan benih yang berukuran 200-250 gr/ekor dalam kegiatan usaha budidayanya.

Pemberian Pakan

Aktivitas makan pada ikan kerapu dimulai pada saat matahari terbit. Oleh karena itu untuk mencapai pertumbuhan maksimal pakan sebaiknya diberikan pagi dan sore hari. Sedangkan untuk benih minimal 3 kali sehari. Tingkat satiasi pada ikan kerapu yang diberi pakan ikan segar menurun seiring dengan bertambahnya ukuran ikan. LogY = 3.68log29.78 dan r = -85 (Danakusumah,1986). Tingkat satiasi benih kerapu berukuran 100 gr adalah 14%, untuk ukuran 1 kg adalah 5% dan pada induk yang bobotnya 5-6 kg hanya 2-3% dari bobot biomasa. Konversi pakan Konversi pakan adalah pakan yang dibutuhkan untuk meningkatkan 1 kg daging ikan. Angka konversi pakan diperoleh dari hasil bagi jumlah pakan yang dimakan ikan dan selisih pertambahan berat antara berat panen dan berat pada awal pemeliharaan Nutrisi pakan Kualitas pakan sangat tergantung pada kelengkapan nutrisi yang terkandung dalam pakan. Pakan berupa ikan segar sebenarnya cukup untuk mendukung pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan budidaya, namun karena diberikan dalam kondisi basah pada umumnya memberikan nilai konversi yang tinggi,sedangkan pellet yang diberikan dalam keadaan kering memberikan tingkat konversi yang rendah. Pakan dalam kegiatan budidaya kebutuhannya mencapai 60% dari biaya produksi. Untuk mendukung pertumbuhan ikan, protein dalam pakan harus cukup. Karbohidrat dan lemak digunakan untuk metabolisme. Selain protein, lemak dan karbohidrat, pakan juga harus mengandung vitamin yang lengkap.

Menghitung Ratio Pakan Harian, FCR dan Mortalitas

DFR = (Jml Makanan)/{(No + Nt)(ABWo+ABWt)/2)xt} x 100% FCR = Berat basah pakan yang dimakan/Pertambahan berat Mortalitas (%) = (No Nt)/No x 100% Keterangan : t = Hari ABWo = Berat rata-rata pada awal pengukuran ABWt = Berat rata-rata pada hari ke t No = Jumlah ikan pada awal pemeliharaan Nt = Jumlah ikan pada hari ke t DFR = Daily Feeding Ratio FCR = Food Conversion Ratio

MONITORNG PERTUMBUHAN

Data berat biomasa ikan diperlukan setiap bulan, selain untuk memonitor pertumbuhan juga untuk menghitung jumlah pakan yang harus diberikan. Ikan ditimbang dalam keadaan hidup. Kematian ikan selama pemeliharaan juga dihitung untuk memperoleh nilai kelulusan hidup atau survival rate (SR). Laju pertumbuhan ikan dipengaruhi oleh jenis pakan, jumlah yang diberikan dan mutu pakan. Laju pertumbuhan kerapu bebek 1 1,3 gram/hari, dan laju pertumbuhan kerapu macan 2,5 3 gram/hari. Kerapu bebek dengan berat awal 35 gr akan mencapai berat 400 500 gr setelah dipelihara selama 14 bulan, sedangkan kerapu macan yang berat awalnya 80 gr akan mencapai ukuran panen setelah dipelihara selama 7 bulan (BBL Lampung, 2001)

Menghitung Pertumbuhan dengan Rumus Yamaguchi 1978


DGR = [(ABWt ABWo)/{(ABWo + ABWt)/2} x t] x 100% Contoh data hasil pengukuran berat ikan kakap merah L.altifrontalis Tgl pengukuran Jml ikan yg diukur Berat rata-rata (gr) 30 Juli 1983 108 199,9 13,4 30 Agustus 20 289,8 15,6 28 September 20 352,3 16,2 27 Oktober 20 480,0 17,3 28 Nopember 20 539,5 18,4 27 Desember 20 634,0 16,3 1 Pebruari 1984 20 787,0 16,0 12 Maret 50 893,5 13,5 Keterangan : DGR = Daily Growth Ratio

Jumlah pakan yang habis 6.797,28 kg

PANEN

Panen total pada umumnya dilakukan pada ikan yang mempunyai ukuran relatif seragam. Jika ukuran ikan bervariasi, maka dilakukan panen pilih terhadap ikan yang sudah mencapai ukuran sesuai dengan permintaan pasar, terutama pada saat harga jual tinggi. Sebelum panen ikan dipuasakan atau tidak diberi makan untuk mencegah muntah selama pengangkutan. Pelaksanaan panen pada umumnya dilakukan pada sore hari atau disesuaikan dengan jadwal keberangkatan pesawat. Hal ini dilakukan mengingat ikan pada saat sampai di tujuan ekspor tetap dalam keadaan hidup. Ukuran panen untuk ikan kerapu berkisar dari 0,5 1,2 kg/ekor, dan yang dimaksud dengan ukuran super pada ikan kerapu adalah yang berukuran 0,6 kg/ekor

PASCA PANEN

Hasil panen berupa ikan kerapu hidup, kemudian dikemas dengan kantong plastik dan dimasukan ke dalam box styrofoam. Tahapan pengemasan sbb: ikan diaklimatisasi secara bertahap dengan menambahkan es balok pada media. Media kemudian disirkulasi agar suhu airnya merata ke seluruh badan air dalam bak penampungan. Target suhu air dalam bak penampungan antara 17 - 20C, dalam kondisi tersebut ikan akan berada pada tingkat resting metabolism. Setelah pingsan, ikan seberat 7 kg dimasukan ke dalam kantong plastik yang telah diisi air yang suhunya 17C sebanyak 3 liter. Kemasan kantong plastik kemudian diisi oksigen dan diikat. Kantong plastik yang berisi ikan kemudian dimasukan kedalam box styrofoam, dan es batu dalam kemasan botol akua dimasukan kedalam box untuk mempertahankan suhu agar tidak naik selama pengangkutan. Berat keseluruhan 1 box styrofoam sekitar 20 kg. Kemasan yang baik akan mampu menahan kelangsungan hidup ikan selama 24 jam. Ikan dalam jumlah besar pada umumnya diangkut dengan kapal laut yang dilengkapi sirkulasi air laut palkanya. Diperlukan keterampilan khusus untuk pekerjaan ini