Anda di halaman 1dari 70

Rongga hidung Rongga hidung dilapisi dengan membran mukosa yang sangat banyak mengandung vaskular yang disebut

mukosa hidung. Lendir disekresi secara terus menerus oleh sel sel goblet yang melapisi permukaan mukosa hidung dan bergerak ke belakang ke nasofaring oleh gerakan silia. Hidung berfungsi sebagai penyaring kotoran, melembabkan serta menghangatkan udara yang dihirup ke dalam paru paru.

Faring Adalah struktur yang menghubungkan hidung dengan rongga mulut ke laring. Faring dibagi menjadi tiga region; nasofaring, orofaring, dan laringofaring. Fungsi utamanya adalah untuk menyediakan saluran pada traktus respiratorium dan digestif. Laring Adalah struktur epitel kartilago yang menghubungkan faring dan trakhea. Fungsi utamanya adalah untuk memungkinkan terjadinya lokalisasi. Laring juga melindungi jalan nafas bawah dari obstruksi benda asing dan memudahkan batuk.

Trakhea Disokong oleh cincin tulang rawan yang berbentuk seperti sepatu kuda yang panjangnya kurang lebih 5 inci, tempat dimana trakea bercabang menjadi bronkus utama kiri dan kanan dikenal sebagai karina. Karina memiliki banyak saraf dan dapat menyebabkan bronkospasme dan batuk yang kuat jika dirangsang. Bronkus Broncus terdiri atas 2 bagian yaitu broncus kanan dan kiri. Broncus kanan lebih pendek dan lebar, merupakan kelanjutan dari trakhea yang arahnya hampir vertikal. Bronchus kiri lebih panjang dan lebih sempit, merupakan kelanjutan dari trakhea dengan sudut yang lebih tajam. Cabang utama bronchus kanan dan kiri bercabang menjadi bronchus lobaris kemudian bronchus segmentalis. Bronkus dan bronkiolus dilapisi oleh sel sel yang permukaannya dilapisi oleh rambut pendek yang disebut silia, yang berfungsi untuk mengeluarkan lendir dan benda asing menjauhi paru menuju laring. Bronkiolus membentuk percabangan menjadi bronkiolus terminalis yang tidak mempunyai kelenjar lendir dan silia. Bronkiolus terminalis kemudian menjadi bronkiolus respiratori yang menjadi saluran transisional antara jalan udara konduksi dan jalan udara pertukaran gas.

Alveoli Paru terbentuk oleh sekitar 300 juta alveoli. Terdapat tiga jenis sel sel alveolar. Sel alveolar tipe I adalah sel epitel yang membentuk dinding alveolar. Sel alveolar tipe II adalah sel sel yang aktif secara metabolik, mensekresi surfactan, suatu fosfolipid yang melapisi permukaan dalam dan mencegah alveolar agar tidak kolaps. Sel alveolar tipe III adalah makrofag yang merupakan sel sel fagositosis yang besar yang memakan benda asing dan bekerja sebagai mekanisme pertahanan penting.

a. Bronkus b. Jantung c. Kantung udara

Paru adalah organ tubuh yang berperan dalam sistem pernapasan yaitu proses pengambilan O2 dari udara bebas saat menarik napas dan pengeluaran CO2 ke udara bebas pada saat membuang napas. Karena fungsinya itu dapat dipahami bahwa paru paling terbuka dengan polusi udara termasuk asap rokok. Berbagai kelainan dapat menganggu sistem pernapasan, antara lain udara berpolusi sehingga kadar O2 sedikit, gangguan di saluran napas/paru, jantung atau gangguan pada darah. Secara umum gangguan pada pada saluran napas dapat berupa sumbatan pada jalan napas (obstruksi) atau gangguan yang menyebabkan paru tidak dapat kembang secara sempurna (restriktif). Tumor yang besar di paru dapat menyebabkan sebagian paru dan/saluran napas kolaps, sedangkan tumor yang terdapat dalam saluran napas dapat menyebabkan sumbatan pada saluran napas. Tumor yang menekan dinding dada dapat menyebabkan kerusakan/destruksi tulang dinding dada dan menimbulkan nyeri. Cairan di rongga pleura yang sering ditemukan pada kanker paru juga menganggu fungsi paru.

Pernafasan mencakup 2 proses, yaitu :


Pernafasan luar yaitu proses penyerapan oksigen dan pengeluaran carbondioksida secara keseluruhan. Pernafasan dalam yaitu proses pertukaran gas antara sel jaringan dengan cairan sekitarnya (penggunaan oksigen dalam sel).

Proses fisiologi pernafasan dalam menjalankan fungsinya mencakup 3 proses yaitu :


Ventilasi yaitu proses keluar masuknya udara dari atmosfir ke alveoli paru. Difusi yaitu proses perpindahan/pertukaran gas dari alveoli ke dalam kapiler paru. Transpor yaitu proses perpindahan oksigen dari paru-paru ke seluruh jaringan tubuh.

(Price, Patofisiologi, 1995) Tumor paru merupakan keganasan pada jaringan paru. (Underwood, Patologi, 2000) Kanker paru merupakan abnormalitas dari selsel yang mengalami proliferasi dalam paru. WHO Kanker paru adalah pertumbuhan sel kanker yang tidak terkendali dalam jaringan paru yang dapat disebabkan oleh sejumlah karsinogen lingkungan, terutama asap rokok.

Merokok Kanker paru berisiko 10 kali lebih tinggi dialami perokok berat dibandingkan dengan bukan perokok. Polusi udara Ada berbagai karsinogen telah diidentifikasi, termasuk didalamnya adalah sulfur, emisi kendaraan bermotor, dan polutan dari pengolahan dan pabrik. Bukti-bukti menunjukkan bahwa insiden kanker paru lebih besar di daerah perkotaan sebagai akibat penumpukan polutan dan emisi kendaraan bermotor. Polusi lingkungan kerja Pada keadaan tertentu karsinoma bronkogen tampaknya merupakan suatu penyakit akibat polusi di lingkungan kerja. Rendahnya asupan vitamin A Beberapa penelitian menunjukkan bahwa

perokok yang dietnya rendah vitamin A memperbesar resiko terjadinya kanker paru. Hipotesis ini didapatkan dari beberapa penelitian yang menyimpulkan bahwa vitamin A dapat menurunkan resiko peningkatan jumlah sel-sel kanker. Hal ini berkaitan dengan fungsi utama vitamin A yang turut berperan dalam pengaturan diferensiasi sel.

Genetik Teori Onkogenesis Terjadinya kanker paru didasari oleh tampilnya gen suppresor tumor dalam genom (onkogen). Adanya inisiator mengubah gen supresor tumor dengan cara menghilangkan (delesi/del) atau penyisipan (insersi/ins) sebagian susunan pasangan basanya, tampilnya gen erbB1 dan atau neu/erbB2 berperan dalam anti apoptosis (mekanisme sel untuk mati secara alamiahprogrammed cell death). Perubahan tampilan gen ini menyebabkan sel sasaran dalam hal ini sel paru berubah menjadi sel kanker dengan sifat pertumbuhan yang autonom.

Gejala utama kanker paru, adalah: o Sesak nafas o Nyeri dada o Batuk produktif o Batuk darah o Lemah o Gejala yang lain tergantung penyebaran kanker pada bagian tubuh lainnya.

Secara garis besar, jenis sel kanker dibagi atas 2 kelompok: Kanker paru jenis karsinoma bukan sel kecil (KBKBSK= NSCLC) yaitu sekitar 85% dari kanker paru-paru. Ada beberapa jenis NSCLC diantaranya: Karsinoma sel skuamosa Adenokarsinoma Karsinoma sel besar Kanker paru jenis karsinoma sel kecil (KPKSK = SCLC), sekitar 15 % dari kanker paru.

Karsinoma sel skuamosa Sebanyak 30% dari Ca paru Berkaitan dengan asap rokok dan pajanan dengan toksin-toksin lingkungan dan komposisi polusi udara. Biasanya terletak pada hillus Tumbuh relatif lambat dan memiliki prognosis paling baik, yaitu kemungkinan hidup 5 tahun jika di diagnosa sebelum metastasis

Adenokarsinoma Memperlihatkan susunan seluler mirip bronkus Mengandung mukus Biasa terjadi di bagian perifer bronkus, termasuk alveoli dan bronkiolus terminal Sel kanker berukuran kecil dan bermetastasis dini dan prognosis 5 tahun buruk kecuali dilakukan pembuangan lobus yang terserang pada saat penyakit masih stadium awal

Karsinoma sel besar Cepat bermetastasis Terjadi di bagian perifer dan meluas ke pusat paru Prognosis buruk Karsinoma sel kecil (Karsinoma sel oat) Biasanya terjadi disekitar percabangan utama bronkhi dan timbul pada sel-sel kulchitsky yang merupakan komponen normal epitel bronkus Memiliki waktu pembelahan tercepat dan prognosis paling buruk

Tumor primer (T) T0 Tx Tidak ada tumor

Kelenjar limfe regional (N) N0 Tidak ada metastasis ke M0 kelenjar limfe regional Kelenjar limfe tidak bisa Mx diperiksa

Metastasis (M) Metastasis diketahui Tidak jauh ada tidak bisa

Kanker yang tidak Nx terlihat pada radiologis atau bronkoskopi

metastasis

T1

Diameter < 5 cm

N1

Ada metastasis ke M1 kelenjar limfe regional

Ada metastasis jauh

T1a T1b

Tumor diatas superficialis

fascia

Tumor invasi/terletak dibawah fascia superficialis

T2
T2a

Diameter > 5 cm
Tumor diatas superficialis fascia

T2b

Tumor invasi/terletak dibawah fascia superficialis

Stadium
IA T1a-T1b

Tumor
N0

N
M0

IB IIA
IIB IIC III IV

T2a T2b
T1a-T1b T2a T2b Any T Any T

N0 N0
N0 N0 N0 N1 N0

M0 M0
M0 M0 M0 M0 M1

Dari etiologi yang menyerang percabangan segmen/sub bronkus menyebabkan cilia hilang dan deskuamasi sehingga terjadi pengendapan karsinogen. Dengan adanya pengendapan karsinogen maka menyebabkan metaplasia,hyperplasia dan displasia. Bila lesi perifer yang disebabkan oleh metaplasia, hyperplasia dan displasia menembus ruang pleura, biasa timbul efusi pleura, dan bisa diikuti invasi langsung pada kosta dan korpus vertebra. Lesi yang letaknya sentral berasal dari salah satu cabang bronkus yang terbesar. Lesi ini menyebabkan obstruksi dan ulserasi bronkus dengan diikuti supurasi di bagian distal. Gejala gejala yang timbul dapat berupa batuk, hemoptysis, dispneu, demam, dan dingin.Wheezing unilateral dapat terdengar pada auskultasi. Pada stadium lanjut, penurunan berat badan biasanya menunjukkan adanya metastase, khususnya pada hati. Kanker paru dapat bermetastase ke struktur struktur terdekat seperti kelenjar limfe, dinding esofagus, pericardium, otak, tulang rangka.

Ny. S berusia 45 tahun, mengalami batuk darah disertai nyeri dada dan sesak napas. Dokter memutuskan untuk melakukan endoskopi dan pemeriksaan sitologi. Dari hasil pemeriksaan tersebut didapatkan sel kanker yang telah menyebar ke seluruh lapang paru. Pada akhir tindakan, dokter memutuskan bahwa Ny. S harus segera dilakukan tindakan kemoterapi yang di delegasikan kepada perawat yang telah ahli. Dalam memasukkan obat-obat kemoterapi, perawat harus menggunakan standar precaution untuk perlindungan dari radiasi obat kemoterapi.

I.

Identitas Nama Jenis kelamin Umur Status perkawinan Pendidikan Suku/Bangsa Alamat Pekerjaan Sumber informasi

: Ny. S : Perempuan : 45 tahun : Menikah : SMP : Indonesia : Jl. Pramuka No. 08 Tuban : Ibu rumah tangga : Klien dan Keluarga

II. Keluhan Utama : Batuk darah

III. Riwayat Keperawatan Riwayat Penyakit Sekarang : P : Pajanan asap rokok dan faktor genetik Q : Rasa nyeri mulai timbul 9 bulan yang lalu, nyerinya semakin ditusuk-tusuk terasa 3 bulan yang lalu disertai batuk-batuk berdahak. Sesak 2 minggu yang lalu kemudian batuk berdahak disertai darah sejak 1 minggu yang lalu R : Batuk berdarah dirasa semakin berat 1 hari SMRS S : Pola aktifitas sehari-hari klien terganggu karena nyeri yang datang mendadak mengakibatkan klien harus banyak beristirahat terutama setelah adanya batuk darah T : Sesak dan nyeri semakin meningkat di sertai batuk-batuk terutama saat klien tidur terlentang

Riwayat Penyakit Dahulu : Klien pernah mengalami demam, flu, dan batuk batuk ringan. Bila demam, flu atau batuk-batuk biasa beli obat di apotik. 2 tahun lalu klien mengalami batuk berdahak dan nyeri dada. Kemudian klien pergi ke RS dan dokter mengatakan klien menderita bronkitis akut. Setelah obat jalan selama 2 bulan, klien di nyatakan sembuh. Riwayat Penyakit Keluarga : Klien mengatakan bahwa dulu ketika klien masih kecil ayah klien pernah menjalani operasi karena tumor paru kanan. Anggota keluarga klien tidak ada yang mengalami sakit batukbatuk selama satu tahun terakhir. Suami klien adalah seorang perokok yang sehari menghabiskan 15 batang rokok.

IV. Observasi dan Pemeriksaan Fisik Keadaan Umum : Wajah tampak pucat Malaise BB menurun TTV : S : 380C N : 110x/menit TD : 150/90 mmHg RR : 24 x/menit

Body System B1 (Breathing) Inspeksi : Pernafasan cepat, klien sesak nafas, menggunakan otot bantu nafas. Ada cyanosis pada bibir dan dasar kuku, warna kulit agak pucat. Palpasi : Taktil fremitus menurun. Perkusi : Hyperresonan pada area paru. Auskultasi : Ditemukan bunyi stridor lokal dan wheezing.

B2 (Blood) Inspeksi : Adanya obstruksi vena kava. Adanya clubbing finger. Palpasi : Teraba ictus cordis pada ics 5 mid sternal kiri. Capillary Refill Time lebih dari 3 detik. Ada palpitasi. Peningkatan denyut jantung. Perkusi : Pekak pada area jantung. Auskultasi : Ada gesekan perikardial.

B3 (Brain) Kesadaran menurun, wajah simetris. Bentuk mata simetris, pupil ukuran 2 mm isokor, reflek pupil dan reflek kornea normal. Persepsi sensori - Tidak ada gangguan pendengaran - Fungsi penciuman normal - Fungsi pengecapan normal, dapat membedakan rasa manis, asin, pahit - Fungsi penglihatan baik - Tidak ada gangguan fungsi perabaan, bisa membedakan panas dan dingin

B4 (Bladder) : Peningkatan frekuensi/jumlah urine. B5 (Bowel)

Klien mual, nyeri lambung dan menyebabkan klien tidak nafsu makan. Peristaltik meningkat menyebabkan klien sering BAB, diare yang hilang timbul, adanya gangguan menelan akibat invasi sel kanker ke kerongkongan. Abdomen simetris bilateral, datar dan warna sama dengan kulit sekitarnya, adanya nyeri tekan.

B6 (bone) Karena pengguanaan otot bantu nafas yang lama klien terlihat kelelahan, didapatkan intoleransi aktifitas dan gangguan pemenuhan ADL. Kulit : Warna kulit sawo matang, pucat, tidak ada bekas perlukaan, peradangan maupun edema.

V. PEMERIKSAAN PENUNJANG Pemeriksaan Radiologi Nodula soliter terbatas yang disebut coin lesion pada radiogram dada sangat penting dan mungkin merupakan petunjuk awal untuk mendeteksi adanya karsinoma bronkogenik meski dapat juga ditemukan pada banyak keadaan lainnya. Penggunaan CT scan mungkin dapat memberikan bantuan lebih lanjut dalam membedakan lesi-lesi yang dicurigai. Bronkoskopi Adalah teknik yang paling baik dalam mendiagnosis karsinoma sel skuamosa yang biasanya terletak di daerah sentral paru. Pelaksanaan bronkoskopi yang paling sering adalah menggunakan bronkoskopi serat optik. Tindakan memungkinkan visualisasi (besarnya karsinoma bronkogenik dapat diketahui).

Pemeriksaan Sitologi Pemeriksaan sitologi sputum dan pemeriksaan cairan pleura juga memainkan peranan penting dalam menegakkan diagnosis kanker paru. Pemeriksaan fungsi paru dan GDA Dapat dilakukan untuk mengkaji kapasitas untuk memenuhi kebutuhan ventilasi. Biopsy Jarum Pengambilan sampel jaringan/cairan dengan cara di sedot lewat jarum. Biasanya cara ini dilakukan dengan bius lokal (hanya area sekitar jarum) dan bisa dilakukan langsung atau dibantu dengan radiologi seperti CT scan sebagai panduan bagi dokter untuk membuat jarum mencapai massa/lokasi yang diinginkan. Biopsy Jarum dengan bantuan Endoskopi Prinsipnya sama yaitu pengambilan sampel jaringan dengan aspirasi jarum, hanya saja metode ini menggunakan endoskopi sebagai panduannya. Cara ini baik untuk tumor dalam saluran tubuh seperti saluran pencernaan, pernapasan dan kandungan.

FOTO THORAKS DAN BRONKOSKOPI

BIOPSY JARUM

BIOPSY JARUM DENGAN ENDOSKOPI

ANALISA DATA Data Ds : -Klien mengeluh batuk darah disertai nyeri dada dan sesak napas Do : -TTV : S : 380C N : 110x/menit TD : 150/90 mmHg RR : 24 x/menit -Dari hasil pemeriksaan endoskopi dan sitologi didapatkan sel kanker yang telah menyebar ke seluruh lapang paru Etiologi Faktor predisposisi inhalasi zat karsinogen dari asap rokok Perubahan epitel termasuk metaplasia, hiperplasia dan displasia sel-sel ganas Kanker paru Massa tumor dalam bronkus Bronkospasme Masalah Kerusakan pertukaran gas

Penurunan ekspansi paru


Kerja napas meningkat Dyspnea Kerusakan pertukaran gas

Kerusakan pertukaran gas b.d spasme bronkus.

Diagnosa Kerusaka n pertukara n gas b.d spasme bronkus

Tujuan dan Kriteria Hasil Tujuan : -Pertukaran gas kembali efektif dalam waktu 1x24 jam

Intervensi

Rasionalisasi -Takipnea dan dispnea menyertai obstruksi paru. Area yang tak terventilasi dapat diidentifikasikan dengan tak adanya bunyi napas. -Menunjukkan hipoksemia sistemis. -Meningkatkan ekspansi dada maksimal sehingga membuat mudah bernapas dan meningkatkan kenyamanan klien. -Hipoksemia sistemik dapat ditunjukkan pertama kali oleh gelisah disertai penurunan kesadaran. -Hipoksemia menurunkan kemampuan untuk berpartisipasi dalam aktivitas tanpa dispnea berat, takikardi, dan disritmia. Memaksimalkan sediaan oksigen untuk pertukaran gas.

-Catat frekuensi dan kedalaman pernapasan, penggunaan otot bantu dan napas melalui mulut. Auskultasi paru untuk penurunan bunyi napas dan adanya bunyi tambahan krekels. Kriteria hasil : -Observasi perfusi daerah akral dan -TTV dalam batas sianosis (daun telinga, bibir, lidah, normal dan membran lidah). -Menunjukkan -Tinggikan kepala/tempat tidur ventilasi yang sesuai dengan kebutuhan. adekuat -Kaji tingkat kesadaran. -Oksigenasi -Kaji toleransi aktivitas. adekuat -Kolaborasi: -Perbaikan Berikan oksigen dengan metode distress yang tepat pernapasan

Dx
Kerusakan pertukaran gas b.d spasme bronkus

Implementasi
-Mencatat frekuensi dan kedalaman pernapasan, penggunaan otot bantu dan napas melalui mulut. Mengauskultasi paru untuk penurunan bunyi napas dan adanya bunyi tambahan krekels. -Mengobservasi perfusi daerah akral dan sianosis (daun telinga, bibir, lidah, dan membran lidah). -Meninggikan kepala/tempat tidur sesuai dengan kebutuhan. -Mengkaji tingkat kesadaran. -Mengkaji toleransi aktivitas. -Memberikan oksigen dengan metode yang tepat

DIAGNOSA

SOAP

Kerusakan pertukaran gas S : b.d spasme bronkus -Klien mengatakan masih batuk disertai nyeri.
-Klien mengatakan tidak bisa tidur semalaman karena sesak. O: -Klien tampak meringis dan gelisah -Klien terlihat memegang dada saat batuk -Frekuensi pernafasan 22x/menit A : Masalah belum teratasi P : Lanjutksan intervensi

SATUAN ACARA PENYULUHAN Pokok Bahasan : Kemoterapi Sub Pokok Bahasan : Pengobatan dengan Kemoterapi Waktu : Pkl 07.30 08.20 Hari/Tanggal : Rabu, 26 Oktober 2011 Tempat : RT 05 RW 07 Kelurahan Kayu Putih, Tuban Sasaran : Warga Kelurahan Kayu Putih, Tuban Penyuluh : Mahasiswa STIKES NU Tuban semester 3 ----------------------------------------------------------------------------------------------A. Tujuan Instruksional 1. Tujuan Instruksional Umum
Setelah mendapat penyuluhan tentang kemoterapi, warga mampu menjelaskan tentang pengobatan dengan kemoterapi.

2.

Tujuan Instruksional Khusus


Setelah mendapatkan penyuluhan, diharapkan warga mampu : Menjelaskan tentang definisi kemoterapi Menyebutkan tujuan kemoterapi Menyebutkan efek samping kemoterapi Menyebutkan obat-obat untuk kemoterapi Menyebutkan cara pemberian obat pada kemoterapi

B. Metode belajar
Ceramah Tanya jawab Brain storming

C. Alat dan Media


Laptop dan LCD Leaflet Flipchart

D. Kegiatan Penyuluhan
No Kegiatan Respon Peserta Waktu 1. Pembukaan -Perkenalan/salam - Penyampaian Tujuan a) Penyampaian Materi, tentang: Definisi, tujuan, efek samping, jenis obat, dan cara pemberian obat pada kemoterapi. b) Pemberian kesempatan pada peserta penyuluhan untuk bertanya. c) Menjawab pertanyaan peserta penyuluhan yang berkaitan dengan materi. Penutup -Tanya jawab (evaluasi) -Menyimpulkan hasil materi -Mengakhiri kegiatan -Mengucapkan salam -Membagikan leaflet -Membalas salam - Memperhatikan 5 Menit

2.

-Memperhatikan 25 menit penjelasan dan demonstrasi dengan cermat -Menanyakan hal yang belum jelas -Memperhatikan jawaban penyuluhan Menjawab salam 10 Menit

3.

E. Pengorganisasian dan Job Description


Pembimbing : 1. 2. Moderator : Job Description : - Membuka dan menutup kegiatan - Membuat susunan acara dengan jelas Penyaji : Job Description : - Menyampaikan materi penyuluhan

Observer : Job Description : Mengobservasi jalannya kegiatan Fasilitator : 1. 2. 3. Job Description : -Membantu menyiapkan perlengkapan penyuluhan -Memotivasi audience untuk bertanya -Menjawab pertanyaan audience

F. Kriteria Evaluasi
Evaluasi struktur Warga Kelurahan Kayu Putih Penyelenggaraan penyuluhan di Kelurahan Kayu Putih. Pengorganisasian penyelenggaraan penyuluhan dilakukan oleh Mahasiswa STIKES NU semester 3. Kontrak waktu dilakukan 1 hari sebelum Penyuluhan dan 15 menit sebelum pelaksanaan Penyuluhan. Evaluasi proses Peserta antusias terhadap materi penyuluhan. Peserta mengikuti penyuluhan sampai selesai. Peserta mengajukan pertanyaan dan menjawab pertanyaan secara benar. Peserta berpartisipasi aktif dalam kegiatan sharing. Evaluasi hasil Peserta mampu menyebutkan definisi kemoterapi. Peserta mampu menyebutkan tujuan kemoterapi. Peserta mampu menyebutkan efek samping kemoterapi. Peserta mampu menyebutkan jenis-jenis obat untuk kemoterapi. Peserta mampu menyebutkan cara pemberian obat untuk kemoterapi.

Definisi Kemoterapi merupakan cara pengobatan kanker dengan jalan memberikan zat/obat yang mempunyai khasiat membunuh sel kanker. Tujuan Menurunkan ukuran kanker sebelum operasi Merusak semua sel-sel kanker yang tertinggal setelah operasi Mengobati beberapa macam kanker darah Menekan jumlah kematian penderita kanker tahap dini Menunda kematian atau memperpanjang usia hidup pasien untuk sementara waktu Meringankan gejala Mengontrol pertumbuhan sel- sel kanker

Efek samping Mual Muntah Kerusakan pada ginjal Mengiritasi rongga mulut Rambut rontok Menurunkan hasrat seksual Sariawan Diare

Jenis-jenis Obat Antimetabolit Alkaloid tanaman vinca Asparaginase dan dacarbazine Prokarbazin
Cara Pemberian Obat PO : Per Oral SC : Sub Cutan IM : Intra Muscular IV : Intra Vena IT : Intra Thecal IP : Intra Peritoneal/Pleural

Penatalaksanaan Tujuan pengobatan kanker dapat berupa : Kuratif Memperpanjang masa bebas penyakit dan meningkatkan angka harapan hidup klien. Paliatif Mengurangi dampak kanker, meningkatkan kualitas hidup. Rawat rumah (Hospice care) pada kasus terminal Mengurangi dampak fisis maupun psikologis kanker baik pada pasien maupun keluarga. Supotif Menunjang pengobatan kuratif, paliatif dan terminal seperti pemberian nutrisi, tranfusi darah dan komponen darah, obat anti nyeri dan anti infeksi. (Ilmu Penyakit Dalam, 2001 dan Doenges, rencana Asuhan Keperawatan, 2000)

Pembedahan Tujuan pada pembedahan kanker paru sama seperti penyakit paru lain, untuk mengangkat semua jaringan yang sakit sementara mempertahankan sebanyak mungkin fungsi paru paru yang tidak terkena kanker. Hanya dilakukan untuk KPKBSK staging I atau II. Pneumonektomi (Pengangkatan paru) Pengangkatan seluruh paru bila dengan lobektomi tidak semua lesi bisa diangkat Lobektomi (pengangkatan lobus paru) Pengangkatan satu lobus dilakukan pada Ca perifer yang terlokalisir pada lobus Resesi segmental Merupakan pengangkatan satu atau lebih segmen paru, dilakukan bila lesi kecil Resesi baji Merupakan pengangkatan dari permukaan paru paru berbentuk baji (potongan es) Dekortikasi Merupakan pengangkatan bahan bahan fibrin dari pleura viscelaris

Radiasi Pada beberapa kasus, radioterapi dilakukan sebagai pengobatan kuratif dan bisa juga sebagai terapi paliatif pada tumor dengan komplikasi, seperti mengurangi efek obstruksi/penekanan terhadap pembuluh darah/ bronkus. Radioterapi diberikan pada staging III dan IV KPKBSK, dapat diberikan tunggal untuk mengatasi masalah di paru (terapi lokal) atau gabungan dengan kemoterapi. Kemoterapi Kemoterapi digunakan untuk mengganggu pola pertumbuhan tumor, untuk menangani pasien dengan tumor paru sel kecil atau dengan metastasi luas serta untuk melengkapi bedah atau terapi radiasi.

Targeted Therapy Pada banyak kondisi pasien tidak dapat memenuhi syarat untuk dilakukan pembedahan, radioterapi atau kemoterapi maka dapat ditawarkan pemberian obat golongan baru dengan mekanisme kerja yang telah teruji dikenal dengan istilah targeted therapy. Obat golongan ini diberikan 1x perhari dengan cara diminum. Sampai saat ini anjuran penggunaan targeted therapy untuk kanker paru adalah sebaiknya setelah kemoterapi diberikan kecuali pada kasus kasus pilihan terapi utama tidak dapat dilakukan.

Pencegahan primer (health promotion dan spesific protection) Pencegahan primer dilakukan pada masa individu belum menderita sakit. Efek yang diharapkan dari pencegahan primer adalah mengurangi insidensi penyakit kanker paru-paru. Adapun kiat-kiat yang dilakukan untuk pencegahan primer pada kanker paru-paru diantaranya adalah : Promosi kesehatan mengenai kanker paru Menghentikan kebiasaan merokok yang sudah berlangsung dan mencegah bukan perokok menjadi perokok Menghindari pajanan dari bahan-bahan lain yang bersifat karsinogenik Mengkonsumsi makanan yang bergizi yang banyak mengandung antioksidan untuk mencegah timbulnya kanker.

Pencegahan sekunder (early diagnosis, prompt treatment dan disability limitation) Pencegahan sekunder dilakukan pada masa individu sudah mulai sakit. Hasil yang diharapkan dari pencegahan sekunder adalah penurunan prevalensi kanker paru. Adapun kiat-kiat yang dilakukan untuk pencegahan sekunder pada kanker paru-paru diantaranya adalah: Mengadakan deteksi dini, misal : Foto thoraks, sputum sitologi dan CTscan thorak Kemoterapi pencegahan (chemoprevention) Kanker paru dini secara praktis adalah kanker paru dengan ukuran 1-2 cm, masih termasuk stadium satu dan pada kasus tersebut pembedahan masih dapat dilaksanakan

Pencegahan tersier (Rehabilitation) Pada proses ini diusahakan agar sakit yang di derita tidak menjadi hambatan sehingga individu yang menderita dapat berfungsi optimal secara fisik,mental, dan sosial. Usaha-usaha yang dilakukan pada tahap tersier (rehabilitation) adalah sebagai berikut : Pada masa penyembuhan dan pengobatan si penderita diberi kekutan rohani sesuai dengan kepercayaan si penderita Dukungan keluarga atau seseorang yang disayangi terhadap penderita Sering mengajak penderita berkomunikasi atau berbagi cerita ketika penderita sudah boleh diajak bicara Kunjungan sanak saudara atas kepedulian pada si penderita

Penentuan diagnosis kanker paru tidak lagi menjadi kendala tetapi sebagian besar penderita didiagnosis setelah berada dalam stage penyakit yang sudah tidak dapat dioperasi lagi (stage III dan IV) dan terapi pilihan untuk mereka adalah kemoterapi atau kemoradioterapi. Optimalisasi hasil terapi sering terkendala akibat munculnya toksisiti hematologi seperti anemia, leukopenia, trombositopenia dan dapat menyebabkan penundaan pemberian atau harus dihentikan.

Sel hematopoietik sangat sensitif terhadap kemoterapi. Sel progenitor yang memproduksi granulosit, eritrosit, dan trombosit pada sirkulasi darah tepi dihancurkan. Sel yang belum matang pada sumsum tulang dan sel yang baru matang akan di hancurkan dalam waktu 7-14 hari setelah kemoterapi.

Sebagian besar obat kemoterapi menyebabkan peningkatan mielosupresi. Zat dalam kemoterapi melawan siklus sel dan menghancurkan sel stem sumsum tulang Anemia merupakan hal yang sering terjadi pada penderita kanker terutama yang menerima regimen kemoterapi. Patofisiologi anemia pada penyakit kronik belum sepenuhnya dimengerti. Gangguan sistem hematopoietik akibat kemoterapi menjadi penyebab kurang optimalnya hasil kemoterapi karena dapat menyebabkan tertundanya waktu, penurunan dosis atau penghentian pemberian siklus berikutnya.