Anda di halaman 1dari 34

Tutorial 2 (11-03-2012) MANAJEMEN KEUANGAN (Modul 3)

UT KOREA 2012
Tutor : Widita Rarasati Email: widita.rarasati@gmail.com Ustream: http://www.ustream.tv/channel/manajemen-keuangan-widita
widita rarasati 2012

TUJUAN

KEGIATAN BELAJAR 1: Pengelolaan Kas dan Persediaan

Motif Memiliki Kas

John Maynard Keynes menyatakan bahwa ada tiga motif untuk memiliki kas, yaitu:
Motif transaksi perusahaan menyediakan kas untuk membayar sebagai transaksi bisnisnya. Baik transaksi yang regular maupun tidak regular. Motif berjaga-jaga dimaksudkan untuk mempertahankan saldo kas guna memenuhi permintaan kas yang sifatnya tidak terduga. Motif spekulasi memiliki keuntungan dari investasi kas dalam bentuk likuid

Model-model Manajemen Kas


1. Baumol (1952) kebutuhan kas dalam suatu perusahaan mirip dengan pemakaian persediaan Mengasumsikan kas per-harinya Konstant

Ilustrasi Majemen Kas Baumol

2. Model Miller & Orr Keadaan pemasukan dan penggunaan kas bersifat acak, perusahaan perlu menetapkan batas atas dan bawah mengasumsikan penggunaan kas tidak Konstant

Ilustrasi Manjemen Kas Miller & Orr

Sistem Pengumpulan dan Pembayaran Kas

Float terjadi pada saat saldo kas kita berbeda jumlahnya dengan yang dicatat oleh bank. Float dapat berlaku positif, dapat pula negative. Karena system pengumpulan kas mempunyai tujuan untuk mempercepat perusahaan bisa memanfaatkan kas. Salah satu caranya dengan menggunakan concentration banking. Apabila perusahaan bisa menggunakan draff, perusahaan bisa menunda pengeluaran kas, karena draff tersebut perlu dikonfirmasi oleh perusahaan mengeluarkan sebelum bank membayar kepada mereka yang menyerahkan draff tersebut.

Portofolio Investasi

Kelebihan kas yang bersifat sementara, juga perlu dikonfirmasikan semaksimal mungkin. Untuk melakukan investasi jangka pendek kelebihan kas tersebut, perusahaan dapat membentuk portofolio investasi, untuk menyesuaikan dengan pola arus kas yang diinginkan.

Pengelolaan Persediaan
Sistem Pengawasan Persediaan

Jumlah persediaan dikatkan dengan variable tertentu. Cara ini merupakan sangat sederhana. Msalnya perusahaan menetapkan bahwa persediaan barang jadi rata-rata akan besar satu bulan penjualan. Economic Order Quality berasumsi:

bahan sampai diperusahaan adalah selama satu bulan (disebut sebagai lead time), maka perusahaan harus memesan pada saat bahan baku mencapai D/12. Tingakat persediaan ini disebut sebagai titik persamaan kembali (reorder point). Untuk berjaga-jaga terhadap ketidakpastian, baik dalam hal penggunaan maupun dengan hal lead time, perusahaan mungkin menetapkan perlunya persediaan keamanan (safety stocks). Cara lain adalah dengan menentukan beberapa probalitas kehabisan bahan yang bisa diterima oleh perusahaan. Semakin kecil probalitas semakin besar safety stocks ditentukan. Masalah yang perlu diperhatikan dalam penetapan model tersebut adalah pada asumsi-asumsi yang mendasarinya. Sebagai minsal model tersebut menggunakan asumsi harga bahan baku konstan.

Kaitan Pengelolaan Persediaan dengan Manajemen Keuangan

Apabila perusahaan pengelolaan persediaan dikaitkan pada factor tertentu (minsal produksi atau penjualan), sangat boleh jadi bahwa jumlah persediaan akan proporsional dengan faktor tersebut. Masalah menjadi lain kalau ditetapkan model EOQ. Perhatikan bahwa persamaan EOQ tidak menunjukkan sifat hubungan yang linier. Masalah akan makin kompleks kalau dimasukkan adanya factor safety stocks.

Kegiatan Belajar 2: Pengelolaan Piutang

Pengelolaan Piutang

Piutang tercipta pada saat perusahaan melakukan penjualan secara kredit. Penjualan kredit dilakukan dalam upaya meningkatkan penjualan. Dengan penjualan yang semakin meningkat diharapkan laba juga semakin meningkat. Memiliki piutang menimbulkan berbagai biaya bagi perusahaan. Untuk itu perusahaan perlu melakukan analisis ekonomi tentang piutang. Tujuan analisis ekonomi tentang piutang untuk menilai apakah manfaat memiliki piutang lebih besar ataukah lebih kecil dari biayanya. Analisis tersebut merupakan salah satu bagian dari pengelolaan piutang (manajemen piutang). Untuk mengendalikan piutang, perusahaan perlu menetapkan kebijaksanaan kredit, yang berfungsi sebagai standar. Apabila pelaksanaan penjualan kredit dan pengumpulan piutang tidak sesaui dengan standar, maka perusahaan melakukan perbaikan

Analisis Ekonomi Piutang


Setiap analisis ekonomi menyangkut perbandingan antara manfaat dan pengorbanan. Sejauh manfaat diharapkan lebih besar dari pengorbanan, suatu keputusan dibenarkan secara ekonomi.

16

Manajemen Keuangan

Analisis Ekonomi Piutang (Lanjutan)


Penjualan Kredit tanpa Diskon

Analisis Penjualan secara Kredit

Penjualan Kredit dengan Diskon

Kemungkinan Piutang tidak Terkumpul

Analisis Ekonomi Piutang (Lanjutan) Penjualan Kredit tanpa Diskon


Contoh 1: Suatu perusahaan semula melakukan penjualan secara tunai. Penjualan yang tercapai setiap tahun rata-rata sebesar Rp 800 juta. Perusahaan kemudian merencanakan akan menawarkan syarat penjualan n/60. Diperkirakan dengan syarat penjualan tersebut perusahaan akan bisa meningkatkan penjualan sampai dengan Rp 1.050 juta. Profit margin yang diperoleh 15%. Apakah perusahaan perlu beralih ke penjualan kredit. Diketahui pula bahwa biaya dana sebesar 16%.

18

Manajemen Keuangan

1. Manfaat : Tambahan laba karena tambahan penjualan. (Rp 1.050 juta Rp 800 juta) x 15% 2. Pengorbanan: Perputaran piutang 360/60 = 6 kali/tahun Rata-rata piutang Rp 1.050 juta/6= Rp 175 juta Dana yang diperlukan untuk membiayai piutang : 0,85 x Rp 175 juta = Rp 148,75 juta. Biaya dana yang harus ditanggung 16% x Rp 148,75 Tambahan manfaat

= Rp 37,50

= Rp 23,80 = Rp 13,70

Hasil : Manfaat > Pengorbanan kebijakan yang menguntungkan


19 Manajemen Keuangan

Analisis Ekonomi Piutang (Lanjutan) Penjualan Kredit dengan Diskon


Contoh 2: Dengan menggunakan data pada contoh 1, dimisalkan perusahaan menawarkan syarat penjualan 2/20; n/60. Ini berarti bahwa kalau pembeli melunasi pembeliannya pada hari ke 20 atau sebelumnya mereka akan memperoleh diskon 2%. Tetapi kalau lebih dari hari ke 20 harus membayar dengan harga penuh. Diperkirakan 50% akan memanfaatkan diskon dan sisanya membayar pada hari ke 60. Apakah perusahaan sebaiknya mengintrodusir diskon atau menjual kredit tanpa diskon ?
20 Manajemen Keuangan

1. Manfaat : Rata-rata periode pembayaran piutang: 0,5(20) + 0,5(60)= 40 hari Perputaran piutang 360/40 = 9 kali Rata-rata piutang Rp 1.050 juta/9 = Rp 116,67 juta Dana untuk membiayai piutang: 0,85 x Rp 116,67 = Rp 99,17 juta Penurunan biaya dana: (Rp 148,75 juta Rp 99,17 juta) x 16% 2. Pengorbanan : Diskon yang diberikan: 2% x 50% x Rp 1.050 juta Manfaat bersih Hasil: Manfaat < Pengorbanan tidak menguntungkan
21

= Rp 7,93

= Rp 10,50 =(Rp 2,57)

Manajemen Keuangan

Analisis Ekonomi Piutang (Lanjutan) Penjualan Kredit tanpa Diskon dengan Kemungkinan Piutang tidak Tertagih
Contoh 3: Berdasarkan data pada contoh 1, dimisalkan dari penjualan dengan syarat n/60, diperkirakan 1% tidak dibayar. Apakah perusahaan sebaiknya menjual secara kredit ataukah tetap tunai ?

22

Manajemen Keuangan

1. Manfaat : Tambahan keuntungan karena tambahan penjualan: (Rp 1.050 juta Rp 800 juta) x 15% 2. Pengorbanan : Perputaran piutang 360 hari/60 hari = 6 x Rata-rata piutang Rp 1.050 jt/6 = Rp 175 Dana untuk membiayai piutang: 0,85 x Rp 175 juta = Rp 148,75 Biaya dana piutang 0,16 x Rp 148,75 = Rp 23,80 Rugi karena piutang tidak dibayar : 1% x Rp 1.050 jt = Rp 10,50 Total tambahan Tambahan manfaat bersih Hasil: Manfaat > Pengorbanan Menguntungkan
23

= Rp 37,50

= Rp 34,30 = Rp 3,20

Manajemen Keuangan

Analisis terhadap Calon Pembeli.

Permohonan pembelian kredit dikabulkan bila expected profit >0 Expected profit: Probabilitas akan membayar probabilitas tidak membayar Contoh 4: Seorang pembeli akan membeli secara kredit dengan harga Rp 100 juta. Harga Pokok barang Rp 80 juta, dan diperkirakan probabilitas pembeli tersebut akan melunasi pembeliannya adalah 0,95. Apakah permohonan tersebut sebaiknya dikabulkan ?

24

Manajemen Keuangan

Expected profit: = 0,95 (Rp 100 jt 80 jt) 0,05 ( Rp 80 jt) = 19 4 = 15 Karena expected profit > 0 maka permohonan tersebut dikabulkan.

Cara menentukan Probabilitas pembeli 0 = p (100jt 80jt) (1 p)(80jt) = 20p 80 + 80p p = 0,80 atau 80%
Apabila p 80%, maka permohonan tersebut sebaiknya dikabulkan.
25 Manajemen Keuangan

KEGIATAN BELAJAR 3: Sumber dana Jangka Pendek dan Pengelolaan Modal Kerja

Pendanaan Spontan

Contoh pendanaan spontan yang paling banyak digunakan oleh perushaan adalah hutang dagang. Kalau perusahaan selalu membeli barang dagangan secara kredit dengan jangka waktu 3 bulan, pembelian dalam satu tahun senilai Rp. 3.000,- juta, maka rata-rata hutang dagang yang dimiliki perusahaan akan sebesar. Rata-rata hutang dagang =
pembelian perputaran hu tan g

Rata-rata hutang dagang = Rp. 3.000 juta/4


= Rp. 750 juta

Apabila pembelian yang dilakukan meningkat, minsalnya menjadi Rp. 3.300 juta, maka rata-tara hutang dagang juga akan meningkat menjadi, Rata-rata hutang dagang = Rp. 3.300 juta/4 = Rp. 825 juta

Contoh tersebiut menunjukan bahwa meningkatkan pembelin sebesar 10%. Katena itulah dalam metode peramalan keuangan sering digunakan metode persentase penjualan, dan diaplikasikan untuk rekening hutang dagang. Secara umum terdapat tiga tipe hutang dagang, yaitu open accaount, notes payable dan trade acceptance Penjualan secara kredit mungkin memberikan persyaratan tertentu, seperti minsalnya 2/10 net 30. ini berarti pembeli bisa memperoleh discount kalau membayar pada hari ke-10 (selewat itu tidak memperoleh discount), dan paling lambat membayar pada hari ke30.

Untuk persyaratan 2/10 net 30 sebenarnya penjualan menawarkan tingkat bunga yang cukup menarik. Kalau pembeli tidak memanfaatkan discount tersebut, maka sebenarnya mereka kehilangan kesempatan untuk memperoleh harga 2% lebih murah karena tidak bersedia membayar 20 hari lebih cepat (selisih antara hari ke-30 dan ke-10). Dengan demikian maka tingkat bunga efektif yang ditawarkan penjual adalah,
2 360 x 36,7% 10 20

Umumnya karena tujuan pembelian discount adalah untuk mempercepat pembayaran, maka discount yang ditawarkan harus cukup menarik untuk dimanfaatkan. Selain hutang dagang, pendapatan spontan juga berasal dari rekening-rekening yang oleh akuntansi diklarifikasikan sebagai rekening accruals.

Pendanaan Tidak Spontan

Sumber dana ini menunjukan bahwa perusahaan harus melakukan perjanjian formal untuk memperolehnya. Sumber yang utama adalah kredit modal dan kerja dan commercial paper. Kredit modal kerja. Kredit modal kerja diberikan dengan pagu tertentu (missal Rp 200 juta). Perusahaan tidak mengambil seluruh pagu kredit tersebut, tetapi bisa mengambil sesuai dengan keprluannya. Sebelum bank memberikan kredit, bank akan melakukan analisis kredit, yang pada dasarnya adalah untuk mengetahui itikad dan kemampuan debitur (perusahaan) dalam membayar kredit yang mereka terima. Dalam dunia perbankan dikenal dengan istilah 5 Cs of credit, yaitu character (watak dan kejujuran pimpinan perushaan), capital (kemampuan manajemen), capital (modal perusahaan), collateral (agunan kredit), dan conditions (kondisi bisnis),

Struktur Pendanaan Jangka Panjang (1)

Pendekatan hedging strategi pendanaan ini membiayai setiap aktiva dengan dana jangka waktunya kurang lebih sama dengan waktu perputaran aktiva tersebut menjadi kas Kesulitan Strategi hedging memperkirakan jangka waktu schedule arus kas bersih dan schedule pembayaran hutang.

Struktur Pendanaan Jangka Panjang (2)

Pendanaan Konservatif aktiva lancar bukan permanen, didanai dengan pendanaan jangka panjang (yaitu dengan utang jangka panjang, modal sendiri, dan pendanaan spontan). pendekatan ini memberikan margin of safety yang cukup besar.

Struktur Pendanaan Jangka Panjang (3)

Pendanaan Agresif pendanaan perusahaan ebih berani menanggu resiko. Trade off yang diharapkan aalah memperoleh profitabilitas yang lebih tinggi. Mendanai sebagaian kebutuhan jangka panjang dengan pendanaan jangka pendek.

Modal Kerja

Modal Kerja (J. Fred Weston dan Thomas E. Copeland ) selisih antara aktiva lancar dengan hutang lancar. Dengan demikian modal kerja merupakan investasi dalam kas, suratsurat berharga, piutang dan persediaan dikurangi hutang lancar yang digunakan untuk melindungi aktiva lancar Tujuan Manajemen Modal Kerja Mengelola aktiva lancar dan hutang lancar agar terjamin jumlah net working capital yang layak diterima (acceptable) yang menjamin tingkat likuiditas badan usaha Pentingnya pengelolaan Modal kerja Manajer keuangan sebagian besar waktunya untuk operasi internal seharihari perusahaan Aktiva lancar merupakan bagian yang cukup besar dari total aktiva Pengelolaan modal kerja khususnya penting bagi perusahaan kecil Pertumbuhan penjualan mempunyai hubungan yang erat dan langsung dengan investasi dalam bentuk aktiva lancar