Anda di halaman 1dari 24

Tonsilitis dan Faringitis

Oleh :Natalina Manalu (0710028)

ANATOMI TONSIL

Tonsil terdiri dari jaringan limfoid yang dilapisi oleh epitel respiratori. Cincin Waldeyer merupakan jaringan limfoid yang membentuk lingkaran di faring yang terdiri dari tonsil palatina, tonsil faringeal (adenoid), tonsil lingual, dan tonsil tubal (Ruiz JW, 2009).

Tonsil Palatina
Tonsil palatina adalah suatu massa jaringan limfoid yang terletak di dalam fosa tonsil pada kedua sudut orofaring, dan dibatasi oleh pilar anterior (otot palatoglosus) dan pilar posterior (otot palatofaringeus).

Dibatasi oleh: Lateral muskulus konstriktor faring superior Anterior muskulus palatoglosus Posterior muskulus palatofaringeus Superior palatum mole Inferior tonsil lingual (Wanri A, 2007)

Tiap tonsilla ditutupi membran mukosa dan permukaan medialnya yang bebas menonjol kedalam faring. Permukaannya tampak berlubang-lubang kecil yang berjalan ke dalam Cryptae Tonsillares yang berjumlah 6-20 kripta. Pada bagian atas permukaan medial tonsilla terdapat sebuah celah intratonsil dalam. Permukaan lateral tonsilla ditutupi selapis jaringan fibrosa yang disebut Capsula tonsilla palatina, terletak berdekatan dengan tonsilla lingualis.

Perdarahan tonsil

Aliran limfa dari daerah tonsil akan mengalir ke rangkaian getah bening servikal profunda atau disebut juga deep jugular node. Aliran getah bening selanjutnya menuju ke kelenjar toraks dan pada akhirnya ke duktus torasikus. Innervasi tonsil bagian atas mendapat persarafan dari serabut saraf V melalui ganglion sphenopalatina dan bagian bawah tonsil berasal dari saraf glossofaringeus (N. IX).

Sistem Limfatik kepala dan leher

Secara sistematik proses imunologis di tonsil terbagi menjadi 3 kejadianyaitu respon imun tahap I, respon imun tahap II, dan migrasi limfosit. Pada respon imun tahap I terjadi ketika antigen memasuki orofaring mengenai epitel kripte yang merupakan kompartemen tonsil pertama sebagai barier imunologis. Sel M tidak hanya berperan mentranspor antigen melalui barier epitel tapi juga membentuk komparten mikro intraepitel spesifik yang membawa bersamaan dalam konsentrasi tinggi material asing, limfosit dan APC seperti makrofag dan sel dendritik. Respon imun tonsila palatina tahap kedua terjadi setelah antigen melalui epitel kripte dan mencapai daerah ekstrafolikular atau folikel limfoid. Adapun respon imun berikutnya berupa migrasi limfosit. Perjalanan limfosit dari penelitian didapat bahwa migrasi limfosit berlangsung terus menerus dari darah ke tonsil melalui HEV( high endothelial venules) dan kembali ke sirkulasi melalui limfe.

Tonsil Faringeal (Adenoid)


Adenoid merupakan masa limfoid yang berlobus dan terdiri dari jaringan limfoid yang sama dengan yang terdapat pada tonsil. Lobus atau segmen tersebut tersusun teratur seperti suatu segmen terpisah dari sebuah ceruk dengan celah atau kantong diantaranya. Adenoid tidak mempunyai kriptus. Adenoid terletak di dinding belakang nasofaring. Jaringan adenoid di nasofaring terutama ditemukan pada dinding atas dan posterior, walaupun dapat meluas ke fosa Rosenmuller dan orifisium tuba eustachius. Ukuran adenoid bervariasi pada masingmasing anak. Pada umumnya adenoid akan mencapai ukuran maksimal antara usia 3-7 tahun kemudian akan mengalami regresi (Hermani B, 2004).

Tonsil Lingual
Tonsil lingual terletak di dasar lidah dan dibagi menjadi dua oleh ligamentum glosoepiglotika. Di garis tengah, di sebelah anterior massa ini terdapat foramen sekum pada apeks, yaitu sudut yang terbentuk oleh papilla sirkumvalata (Kartosoediro S, 2007).

Tonsilitis
Tonsilitis adalah peradangan pada tonsil palatine yang merupakan bagian dari cincin waldeyer. Penyebaran infeksi melalui udara, tangan dan ciuman. Dapat teradi pada semua umur terutama pada anak.

I.Tonsilitis akut
1.Tonsilitis viral Gejala menyerupai common cold yang disertai nyeri tenggorok.Penyebab paling sering adalah virus Epstein Barr, Haemofilus influenza adalah penyebab tonsillitis akut supuratif. Terapi Istirahat, minum cukup, analgetika dan antivirus jika gejala berat 2.Tonsilitis bakterialis Radang akut tonsil dapat disebabkan kuman grup A Streptokokus B hemolitikus yang dikenal strep throat, pneumokokus Streptokokkus viridians dan Streptokokus piogens. Infiltrasi bakteri pada lapisan epitel jaringan tonsil akan menimbulkan reaksi radang sehingga keluar detritus. Detritus adalah kumpulan leukosit, bakteri yang mati, dan epitel yang terlepas. Secara klinis detritus ini mengisi kriptus tonsil dan tampak bercak kuning Bentuk tonsillitis akut dengan detritus yang jelas disebut tonsillitis folikularis. Bercak-bercak menjadi satu makan disebut tonsillitis lakunaris, dan bila membentuk membrane semu disebut pseudomembran yang menutupi tonsil. Gejala dan tanda Masa inkubasi 2-4 hari, gejala dan tanda yang sering ditemukan adalah nyeri tenggorok dan nyeri tenggorok dan nyeri waktu menelan, demam dengan suhu yang tinggi asa lesu, rasa nyeri di sendi-sendi, tidak nafsu makan dan rasa nyeri di telinga. Pada pemeriksaaan tampak tonsil membengkak, hiperemis dan terdapat detritus berbentuk folikel, lakunar, dan membrane semu. Kelenjar submandibula membengkak dan nyeri tekan.

Terapi Antibiotika spectrum lebar penisilin, eritromisin. Antipiretik dan obat kumur yang mengandung disenfektan

Komplikasi OMA, sinusitis, abses peritonsiler, abses parafaring bronchitis, glomerulonefritis akut, miokarditis, artristis serta septicemia. Akibat hipertrofi tonsil akan menyebabkan pasien bernapas melalui mulut, tidur mendengkur, OSAS

II Tonsilitis membranosa
Yang termasuk adalah tonsillitis difteri, tonsillitis septic, Angina Plaut Vincent, Penyakit kelainan darah seperti leukemia akut, anemia pernisiosa, neutropenia maligna serta infeksi mononucleosis, proses spesifik tuberculosis, infeksi jamur moniliasis, blastomilosis, morbili, pertusis dan skarlatina.

III Tonsilitis kronik


Faktor predisposisi ialah rangsangan yang menahun dari rokok, beberapa jenis makanan, hygiene mulut yang buruk, pengaruh cuaca, kelelahan fisik dan pengobatan tonsillitis akut yang tidak adekuat. Akibat radang, epitel terkikis dan diganti jaringan parut yang mengalami pengerutan dan kripta melebar, dan diisi detritus. Pada anak disertai pembesaran kelenjar limfe submandibula Gejala dan tanda Tampak permukaan tidak rata, kriptus melebar dan diisi detritus. Rasa mengganjal di tenggorok dan napas berbau

Faringitis
Definisi Faringitis adalah suatu peradangan pada tenggorokan (faring) yang biasanya disebabkan oleh infeksi akut. Biasanya disebabkan oleh bakteri streptokokus grup A. Namun bakteri lain seperti n. gonorrhoeae, c.diphtheria, h. influenza juga dapat menyebabkan faringitis. Apabila disebabkan oleh infeksi virus biasanya oleh rhinovirus, adenovirus, parainfluenza virus dan coxsackie virus.

Gejala dan tanda


Yang sering muncul pada faringitis adalah: Nyeri tenggorokan dan nyeri menelan Tonsil (amandel) yang membesar Selaput lendir yang melapisi faring mengalami peradangan berat atau ringan dan tertutup oleh selaput yang berwarna keputihan atau mengeluarkan pus Demam Pembesaran kelenjar getah bening di leher Peningkatan jumlah sel darah putih. Gejala tersebut bisa ditemukan pada infeksi karena virus maupun bakteri, tetapi lebih merupakan gejala khas untuk infeksi karena bakteri.

Faringitis Akut
Faringitis Viral Gejala dan Tanda : Demam disertai rinorea, mual, nyeri tenggorok, sulit menelan. Faring dan tonsil hiperemis. Virus influenza, coxzachievirus dan cytomegalovirus tidak menimbulkan eksudat. Coxzachievirus dapat menimbulkan lesi vasikular diorofaring dan lesi kulit berupa maculopapular rash. Adenovirus jugamenimbulkan gejala konjungtivitis terutama pada anak selain faringitis. EpsteinBarr Virus (EBV) menyebabkan faringitis disertai eksudat yang banyak, pembesaran kelenjar limfe, terutama retroservikal dan hepatosplenomegali.Faringitis yang disebabkan HIV-1 menimbulkan keluhan nyeri tenggorok,nyeri menelan, mual dan demam, faring tampak hiperemis, terdapat eksudat,limfadenopati akut di leher, dan pasien tampak lemah. Terapi Istirahat dan minum yang cukup, kumur dengan air hangat, analgetika jika perlu dan tablet isap. Dapat diberi juga antivirus metisoprinol.

Faringitis Bakterial
Infeksi grup A Streptococcus hemolitikus penyebab faringitis akut padadewasa (15%) dan anak (30%). Gejala dan Tanda :Nyeri kepala hebat, muntah kadang demam tinggi, jarang disertai batuk.Tonsil tampak membesar, faring dan tonsil hiperemis terdapat eksudat. Kemudiantimbul petechiae pada palatum dan dasar faring. Kelenjar limfe leher anterior membesar, kenyal, dan nyeri pada penekanan. TerapiAntibiotik penicillin, amoksisilin, atau eritromisin. Kortikosteroid dexamethason, analgetika, dan kumur dengan air hangat atau antiseptic

Terdapat dua bentuk faringitis kronis yaitu :


Faringitis kronis hiperplastik Faringitis kronis atrofi

Faringitis kronik hiperplastik :


Faktor predisposisi : - Rinitis kronis dan sinusitis - Inflasi kronik yang dialami perokok dan peminum alcohol - Inhalasi uap yang merangsang - Infeksi - Daerah berdebu - Kebiasaan bernafas melalui mulut Manifestasi klinis : - Rasa gatal, kering dan berlendir yang sukar dikeluarkan dari tenggorokan - Batuk serta perasaan mengganjal di tenggorokan

Pemeriksaan fisik : - Penebalan mukosa di dinding posterior faring - Hipertrofi kelenjar limfe di bawah mukosa - Mukosa dinding faring posterior tidak rata (granuler) - Lateral band menebal Penatalaksanaan : - Dicari dan diobati penyakit kronis di hidung dan sinus paranasal - Local dapat dilakukan kaustik dengan zat kimia (nitras argenti, albothyl) atau dengan listrik (elektrokauter) - Sebagai simptomatik diberikan obat kumur atau isap, obat batuk (antitusif atau ekspektoran)

Faringitis kronis atrofi (faringitis sika) :


Adalah faringitis yang timbul akibat rangsangan dan infeksi pada laring karena terjadi rhinitis atrofi, sehingga udara pernafasan tidak diatur suhu dan kelembabannya. Manifestasi klinis : - Tenggorokan terasa kering dan tebal - Mulut berbau Pemeriksaan fisik : Pada mukosa faring terdapat lendir yang melekat, dan bila lendir itu diangkat akan tampak mukosa dibawahnya kering. Penatalaksanaan : Terapi sama dengan rhinitis atrofi, ditambah obat kumur, obat simtomatik dan menjaga hygiene mulut.