Anda di halaman 1dari 50

Anatomi M A T A

Melalui mata, manusia menerima 80 %

atau lebih informasi dari luar.


Mata merupakan bagian indera yang fungsinya agar hanya terbatas pada melalui menerima dan menyiapkan rangsang dapat diteruskan perantara serabut2 nervus optikus ke pusat penglihatan yang terletak di dalam otak. Mata merupakan organ penglihat (apparatus

visual)

yang

bersifat peka cahaya (foto sensitif).

Palpebra (kelopak mata) : jaringan yg dpt bergerak ke atas dan ke bawah yg berfungsi utk melindungi bola mata

Secara garis besar, Mata terdiri :

Conjungtiva : suatu membran mukus yg tipis dan transparan, mengandung banyak kelenjar lymphe, pd beberapa tempat mengandung folikel dan kelenjar krause dan wolfring (kelnjar utk membasahi saccus conjuntiva dan cornea).
Conjungtiva Palpebralis : conjuntiva yg melapisi bag. Posterior palpebra Conjungtiva bulbi : conjungtiva yg melapisi bag. Anterior sclera. Cornea : jaringan transparan dan avaskular berfungsi sbg protektif dan sbg media refraksi.

Sclera : jaringan ikat dg serat yg kuat, berwarna putih buram (tdk tembus cahaya). Dilapisi conjungtiva. Fungsinya utk melindungi bola mata dr gangguan. Episclera (jar. Tipis, elastis, kaya pembuluh darah) Stroma (jar. Penyokong) Lamina fusca (perbatasan sclera dg khoroid) Uvea ,terdiri dr : Iris (uvea anterior) : pengontrol ukuran pupil utk mengatur sinar yg masuk. Disebut badan pelangi krn berwarna Badan silier : membentuk ligamentum yg berfungsi mengikat lensa mata. Kontraksi dan relaksasinya mengatur cembung pipihnya lensa. Khoroid (uvea posterior) : lapisan berwarna coklat kehitaman, kaya pembuluh darah, fungsi memberikan nutrisi dan oksigen pd retina. Retina : lapisan yg kaya akan saraf. Bagian mata yg paling peka terhadap sinar. Pada seluruh bag. Retina b.d badan sel saraf yg serabutnya membentuk urat saraf optik yg memanjang sampai ke otak. Sel batang (pd keadaan gelap) Sel kerucut (pd keadaan terang)

Kornea (latin cornum = seperti tanduk) adalah selaput bening mata, bagian selaput mata yang tembus cahaya. Kornea ini disisipkan ke sklera di limbus, lengkung melingkar pada persambungan ini disebut sulkus skelaris. Kornea dewasa rata-rata mempunyai tebal 0,54 mm di tengah, sekitar 0,65 di tepi, dan diameternya sekitar 11,5 mm dari anterior ke posterior. Kornea mempunyai lima lapisan yang berbeda-beda: lapisan epitel (yang bersambung dengan epitel konjungtiva bulbaris), lapisan Bowman, stroma, membran Descement, dan lapisan endotel. Batas antara sclera dan kornea disebut limbus kornea. Kornea merupakan lensa cembung dengan kekuatan refraksi sebesar + 43 dioptri. Kalau kornea edema karena suatu sebab, maka kornea juga bertindak sebagai prisma yang dapat menguraikan sinar sehingga penderita akan melihat halo.

Kornea dipersarafi oleh banyak saraf sensorik terutama berasal dari saraf siliar longus, saraf nasosiliar, saraf ke V. Saraf siliar longus berjalan supra koroid, masuk ke dalam stroma kornea, menembus membran Bowman melepaskan selubung Schwannya. Sumber nutrisi kornea adalah pembuluh-pembuluh darah limbus, humour aquous, dan air mata. Fungsi kornea adalah: Merefraksikan cahaya dan bersama dengan lensa memfokuskan cahaya ke retina Melindungi struktur mata internal

1. LAPISAN EPITEL

Tebalnya 50 m , terdiri atas 5 lapis sel epitel tidak bertanduk yang saling tumpang tindih; satu lapis sel basal, sel polygonal dan sel gepeng. Pada sel basal sering terlihat mitosis sel, dan sel muda ini terdorong kedepan menjadi lapis sel sayap dan semakin maju kedepan menjadi sel gepeng, Sel basal berikatan erat dengan sel basal disampingnya dan sel polygonal didepannya melalui desmosom dan macula okluden; ikatan ini menghambat pengaliran air, elektrolit dan glukosa yang merupakan barrier. Sel basal menghasilkan membrane basal yang melekat erat kepadanya. Bila terjadi gangguan akan menghasilkan erosi rekuren. Epitel berasal dari ectoderm permukaan.

2. MEMBRANA BOWMAN
Terletak dibawah membrana basal epitel kornea yang merupakan kolagen yang tersusun tidak teratur seperti stroma dan berasal dari bagian depan stroma. Lapis ini tidak mempunyai daya regenerasi. Kerusakan akan berakhir dengan terbentuknya jaringan parut.

3. JARINGAN STROMA
Terdiri atas lamel yang merupakan susunan kolagen yang sejajar satu dengan yang lainnya. Pada permukaan terlihat anyaman yang teratur, sedang dibagian perifer serat kolagen ini bercabang; terbentuknya kembali serat kolagen memakan waktu lama yang kadangkadang sampai 15 bulan. Keratosit merupakan sel stroma kornea yang merupakan fibroblast terletak diantara serat kolagen stroma. Diduga keratosit membentuk bahan dasar dan serat kolagen dalam perkembangan embrio atau sesudah trauma.

4. MEMBRAN DESCEMENT

5. ENDOTEL

Merupakan Berasal dari membrana aselular mesotelium, berlapis dan merupakan batas satu, bentuk belakang stroma heksagonal, besar 20kornea. 40 m. Bersifat sangat elastis Endotel melekat pada dan berkembang terus membran descement seumur hidup, melalui hemidosom dan mempunyai tebal 40 zonula okluden. m.

(Barbara C. Long, 1996) Keratitis adalah inflamasi pada kornea oleh bakteri, virus, herpes simplek, alergi, kekurangan vit. A . (Brunner dan Suddarth, 2001) Keratitis adalah peradangan pada kornea, keratitis disebabkan oleh mikrobial dan pemajanan. Keratitis Mikrobial adalah infeksi pada kornea yang disebabkan oleh berbagai organisme bakteri, virus, jamur/parasit. serta abrasi yang sangat bisa menjadi pintu masuk bakteri. Keratitis Pemajanan adalah infeksi pada kornea yang terjadi akibat kornea tidak dilembabkan secara memadai. Kekeringan mata dapat terjadi dan kemudian diikuti ulserasi dan infeksi sekunder.

ETIOLOGI
Bakteri Virus Jamur parasit Alergi

FAKTOR RESIKO
Lesi yang mengenai permukaan epitel dari kornea. Penggunaan dari kontak lensa Penurunan kualitas dan atau kuantitas dari air mata Gangguan fungsi imun seperti pada penyakit AIDS Penggunaan kortikosteroid Avitaminosis A Pajanan sinar UV

atau

Inflamasi bola mata yang jelas Terasa benda asing di mata Cairan mukopurulen dengan kelopak mata saling melekat saat bangun Ulserasi epitel Hipopion (terkumpulnya nanah dalam kamera anterior) Dapat terjadi perforasi kornea Ekstrusi iris dan endoftalmitis Fotofobia Mata berair Kehilangan penglihatan bila tidak terkontrol

- Klasifikasi berdasarkan lapisan - Klasifikasi berdasarkan etiologi

Keratitis yang terkumpul di daerah bowman, dengan infiltrat berbentuk bercak-bercak halus. Keratitis pungtata superfisial memberikan gambaran seperti infiltrat halus bertitiktitik pada permukaan kornea. Sedangkan keratitis pungtata subepitel adalah keratitis yang terkumpul di daerah membran bowman.

Merupakan infiltrat yang tertimbun pada tepi kornea sejajar dengan limbus. Penyakit infeksi lokal konjunctiva dapat menyebabkan keratitis kataral atau keratitis marginal ini. Keratitis kataral marginal biasanya terdapat pada pasien setengah umur dengan adanya blefarokonjungtivitis.

Keratitis Interstisial adalah kondisi serius dimana masuknya pembuluh darah ke dalam kornea dan dapat menyebabkan hilangnya transparansi kornea. KI dapat berlanjut menjadi kebutaan. Sifilis adalah penyebab paling sering dari KI. Sehingga disebutkan bahwa KI adalah sinonim dari penyakit sifilis.

Keratitis Pungtata

Keratitis Marginal

Keratitis Interstitial

KERATI TIS BAKTER IAL

BERDASARKAN ETIOLOGI KERATITIS VIRAL


KERATITI S JAMUR
Keratitis dendritik herpetik Keratitis dendritik yang disebabkan virus herpes simpleks akan memberi gambaran spesifik berupa infiltrat pada kornea dengan bentuk seperti ranting pohon yang bercabang cabang dengan memberikan uji fluoresin positif nyata pada tempat percabangan. Keratitits herpes zooster Merupakan manifestasi klinis dari infeksi virus herpes zooster pada cabang saraf trigeminus, termasuk puncak hidung dan demikian pula kornea atau konjungtiva. Keratitis pungtata epitelial Keratitits dengan infiltrat halus pada kornea, selain disebabkan oleh virus keratitits pungtata juga disebabakan oleh obat seperti neomicin dan gentamisin. Keratitits disiformis Merupakan keratitis dengan bentuk seperti cakram didalam stroma permukaan kornea, keratitis ini disebabkan oleh infeksi atau sesudah infeksi virus herpes simpleks

KERATITI S ALERGI

Keratitis akibat dari infeksi stafilokokkus ,berbentuk seperti keratitis pungtata, terutama dibagian bawah kornea

Insiden keratitis jamur telah meningkat selama 30 tahun terakhir.. Aspergillus adalah spesies yang paling sering menyebabkan keratitis jamur.

Keratitis dengan pembentukan pita pembuluh darah yang menjalar dari limbus ke arah kornea. Biasanya berupa tukak kornea akibat flikten yang menjalar ke daerah sentral di sertai fasikulus pembuluh darah.

Kebutaan parsial atau komplit Kornea perforasi dapat berlanjut menjadi endoptalmitis dan panopthalmitis Prolaps iris Sikatrik kornea Katarak Glaukoma sekunder

Mata yang kaya akan pembuluh darah dapat dipandang sebagai pertahanan imunologik yang alamiah. Pada proses radang, mula-mula pembuluh darah mengalami dilatasi, kemudian terjadi kebocoran serum dan elemen darah yang meningkat dan masuk ke dalam ruang ekstraseluler. Elemen-elemen darah makrofag, leukosit polimorf nuklear, limfosit, protein C-reaktif imunoglobulin pada permukaan jaringan yang utuh membentuk garis pertahanan yang pertama. Karena tidak mengandung vaskularisasi, mekanisme kornea dimodifikasi oleh pengenalan antigen yang lemah. Keadaan ini dapat berubah, kalau di kornea terjadi vaskularisasi. Rangsangan untuk vaskularisasi rupa-rupanya timbul

oleh adanya jaringan nekrosis, mungkin dipengaruhi adanya toksin, protease atau mikroorganisme. Secara normal kornea yang avaskuler tidak mempunyai pembuluh limfe. Bila terjadi vaskularisasi terjadi juga pertumbuhan pembuluh limfe dilapisi sel. Reaksi imunologik di kornea dan konjungtiva kadang-kadang disertai dengan kegiatan imunologik dalam nodus limfe yang masuk Limbus, kornea perifer dan sklera letaknya berdekatan dapat ikut terkait dalam sindrom iskhemik kornea perifer, suatu kelainan yang jarang terjadi, tetapi merupakan kelainan yang serius.

Patofisiologi keadaan ini tidak jelas, barangkali hubungan kornea dengan sklera di limbus dapat bertindak sebagai nodulus limfe aksesorii yang ikut terkait dalam menimbulkan penyakit imunologik. Antigen cenderung ditahan oleh komponen polisakarida di membrana basalis. Dengan demikian antigen dilepas dari kornea yang avaskuler, dan dalam waktu lama akan menghasilkan akumulasi sel-sel yang memiliki kompetensi imunologik di limbus. Sel-sel ini bergerak ke arah sumber antigen di kornea dan dapat menimbulkan reaksi imun di tepi kornea. Sindrom iskhemik dapat dimulai oleh berbagai stimuli. Bahwa pada proses imunologik secara histologik terdapat sel plasma, terutama di konjungtiva yang berdekatan dengan ulkus. Penemuan sel plasma merupakan petunjuk adanya proses imunologik. Pada keratitis herpetika yang khronik dan disertai dengan neo-vaskularisasi akan timbul limfosit yang sensitif terhadap jaringan kornea.

Bakteri,virus ,fungi,parasi t

Pengaktifan komplemen

permeabilitas vaskular+faktor kemotaktic neutrofil

Limbus konjungtiva meradang menghasilakn kolagenase

Nautrofil msk ke kornea melepaskan enzim proteolitik&kolagenolitik, metabolit 02 dan zat pro inflamasi(PAF, leukotrins,prostalglandin)

Degradasi Stroma Kornea & disolusi

Tn. K 60th di rawat di RS dengan mata sakit, gatal, silau, visus menurun, mata merah dan bengkak, hiperemi konjunctiva, merasa kelilipan, sensibilitas kornea yang hipestesia, fotofobia, lakrimasi, blefarospasme. Pada kelopak terlihat vesikel dan infiltrat, filamen pada kornea. Di duga penyebabnya adalah kelainan pada bulu mata (trikiasis) dan sistem air mata(insufisiensi air mata, sumbatan saluran lakrimal), faktor eksternal, yaitu : erosio kornea, karena trauma, penggunaan lensa kontak, luka bakar pada daerah muka, kelainan-kelainan kornea. Kelainan-kelainan kornea yang disebabkan oleh : odema kornea kronik, exposure keratitis, defisiensi vitamin A.

PENGKAJIAN
I. Tanggal MRS : 27 Maret 2012 Tanggal Pengkajian : 27 Maret 2012 Jam Pengkajian : Jam 12.00 Data Demografi a) Identitas Klien Nama : Tn. K Umur : 60th Jenis Kelamin : Laki-laki Agama : Islam Pekerjaan : Wiraswasta Status perkawinan : Kawin Pendidikan : SMA Alamat : Paiton, Probolinggo b) Identitas Penanggung jawab Nama : Ny. R Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga Pendidikan : SMP Alamat : Paiton, Probolinggo Hubungan dengan klien : Istri Jam Masuk : 11.30 No. RM : 006175

II. Riwayat Kesehatan a. Keluhan Utama : Mata terasa kelilipan b. Riwayat Penyakit Sekarang : Pasien datang dengan keluhan utama mata kiri terasa ngeres sejak kurang lebih 1 bulan yang lalu. Pasien mengaku mata kiri kemasukan serbuk pecahan genting sehingga menyebabkan mata menjadi merah. Setelah itu pasien memeriksakan diri ke puskesmas dan diberikan obat, tetapi setelah beberapa minggu pasien merasakan keluhan tidak berkurang dan mata kiri terasa semakin mengganjal. Klien tidak merasakan mual dan muntah, nrocos (+), gatal pada mata kiri (+), blobokan (-), silau (+), sakit (+), bengkak (+). Keluhan bertambah berat apabila pasien terlalu lama membuka mata dan berkurang apabila pasien menutup mata atau mengedipkan mata. Karena dirasa keluhan tidak kunjung sembuh pasien datang ke poli mata RSNU.

c. Riwayat Penyakit Dahulu : Klien mengatakan tidak ada riwayat penyakit serupa sebelumya, tidak ada riwayat trauma daerah mata , tidak ada riwayat memakai kacamata, tetapi klien memiliki riwayat alergi terhadap debu dan serbuk bunga.
d. Riwayat Penyakit Keluarga : Dalam keluarga tidak ada riwayat penyakit seperti yang dialami klien, tidak ada riwayat DM ataupun hipertensi.

III. Observasi dan Pemeriksaan Fisik Keadaan Umum : baik Kesadaran : Composmentis TTV : S : 38C N : 84x/menit TD : 120/80 mmHg

RR : 20x/menit
Masalah Keperawatan : Gg. Keseimbangan suhu tubuh (Hiperthermi)

- Body System

B1 (Breathing) Keluhan : nyeri (-), sesak (-) Batuk : produktif (-), nonproduktif (-) Bentuk dada : normal Pola nafas : 20x/menit Irama nafas : teratur Suara nafas : vesikuler Alat bantu napas : tidak Masalah Keperawatan : tidak ada

Akral : hangat JVP : normal Masalah Keparawatan : tidak ada

B2 (Blood) Keluhan nyeri dada : tidak ada Irama jantung : reguler S1/S2 tunggal : ya Suara jantung : normal CRT : 2 detik

B3 (Brain) GCS : composmentis (E=4 V=5 M=6) Keluhan pusing : ya Pupil : isokor Sclera/Konjunctiva : normal Gangguan pandangan : ya Gangguan pendengaran : tidak Gangguan penciuman : tidak Isitrahat/Tidur : 7 Jam/Hari Gangguan tidur : tidak Masalah Keperawatan : - Resiko Cidera - Gg. Persepsi sensori (visual)

BAB : 2x/hari B4 (Bladder) Frekuensi : 2x/hari Kebersihan : bersih Porsi makan : habis Produksi urine : 1500 ml/hari Kandung kemih : nyeri tekan (-),Masalah Keperawatan : Tidak ada Membesar (-) B6 (Bone+Integumen) Intake cairan oral : 1500cc/hari Pergerakan sendi : bebas Alat bantu kateter : tidak Kekuatan otot : 5-5, 5-5 Masalah Keperawatan : tidak ada Kelainan ekstremitas : tidak B5 (Bowel) Kelainan tulang belakang : tidak Mulut : bersih Fraktur : tidak Mukosa : lembab Traksi / spalk /gips : tidak Tenggorokan : tidak ada Kulit : warna sawo matang pembesaran tonsil, tidak ada Turgor : baik kesulitan menelan Masalah Keperawatan : Tidak ada Abdomen : nyeri tekan (-) Peristaltik : 29 x/menit

IV.

Uji fluoresein OD (tidak dilakukan), OS (dilakukan hasil +) Uji sensibilitas kornea OD (normal), OS (hipestesia) Uji plasido OD (reguler), OS (irreguler) Pemeriksaan Fisik Mata Visus : OD 6/6, OS 6/3 Palpebra : OD tidak ada kelainan, OS edema (+) spasme (+) Blefarospasme : OD (-), OS (+) Fotofobia : OD (-), OS (+) K. Palpebra hiperemis : OD (-), OS (+) K. Bulbi hiperemis : OD (-), OS (+) K. Palpebra sekret : OD (-), OS (-) K. Bulbi sekret : OD (-), OS (-) Injeksi konjunctiva : OD (-), OS (+) Injeksi siliar : OD (-), OS (+) Sklera warna : OD (putih), OS (putih kemerahan) Ukuran kornea : OD (12 mm), OS (12 mm) Infiltrat kornea : OD (-), OS (+) Nyeri : OD (-), OS (skala 6)

Pemeriksaan Penunjang

DATA

ETIOLOGI
Alergen
Pengaktifan Ig E Reaksi alergen dan antibodi Pengeluaran histamin, eosinofil Inflamasi kornea Edema kornea Lesi kornea Kemampuan mentransmisi dan merefraksi cahaya kurang Tajam penglihatan berkurang Gg. Persepsi sensori (visual)

PROBLEM

Ds : Kx mengatakan matanya terasa kelilipan dan mengganjal, silau, sering nrocos dan pandangan menjadi tidak jelas. Do: Uji fluoresein : OS (dilakukan hasil +) Uji sensibilitas kornea : OS (hipestesia) Uji plasido : OS (irreguler) Pemeriksaan Fisik Mata Visus : OS 6/3 Palpebra : OS edema (+) spasme (+) Fotofobia : OS (+) Lakrimasi : OS (+)

Gg. Persepsi sensori (visual)

DATA

ETIOLOGI

PROBLEM

Ds : Kx mengatakan matanya terasa sakit, gatal, terlihat merah dan bengkak.


Do: Kx tampak meringis Pemeriksaan fisik mata Blefarospasme : OS (+) K. Palpebra hiperemis : OS (+) K. Bulbi hiperemis : OS (+) Injeksi konjunctiva : OS (+) Injeksi siliar : OS (+) Sklera warna : OS (putih kemerahan) Infiltrat kornea : OS (+) Palpebra : OS edema (+) spasme (+) Nyeri : OS (skala 6)

Alergen
Pengaktifan Ig E Reaksi alergen dan antibodi Pengeluaran histamin, eosinofil Inflamasi kornea Edema kornea Lesi kornea Nyeri Gg. Rasa nyaman nyeri

Gg. Rasa nyeri

nyaman

DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Gg. Persepsi sensori b.d kerusakan kornea 2. Gg. Rasa nyaman nyeri b.d edema kornea

SATUAN ACARA PENYULUHAN Pokok Bahasan : Keratitis Sub Pokok Bahasan : Perawatan Keratitis Waktu : Pkl 07.30 08.20 Hari/Tanggal : Rabu, 28 Maret 2012 Tempat : Aula RSNU Tuban Sasaran : Klien dan keluarga di RSNU Tuban Penyuluh : Mahasiswa STIKES NU Tuban semester 4 ----------------------------------------------------------------------------------------------A. Tujuan Instruksional 1. Tujuan Instruksional Umum
Setelah mendapat penyuluhan tentang keratitis selama 30 menit, diharapkan peserta mengerti tentang perawatan pada pasien keratitis.

2.

Tujuan Instruksional Khusus


Setelah mendapatkan penyuluhan, diharapkan peserta mampu : Menjelaskan tentang pengertian keratitis Menjelaskan tentang penyebab keratitis Menyebutkan tanda dan gejala keratitis Menyebutkan pencegahan keratitis Menjelaskan pengobatan keratitis

B. Metode belajar
Ceramah Tanya jawab Brain storming

C. Alat dan Media


Laptop dan LCD Leaflet Flipchart

D. Kegiatan Penyuluhan
No Kegiatan Respon Peserta Waktu

1.

Pembukaan -Perkenalan/salam -Penyampaian Tujuan

-Membalas salam -Memperhatikan

5 Menit

2.

a) Penyampaian materi, tentang: Pengertian, - Memperhatikan 30 menit penyebab, tanda gejala, pencegahan, dan penjelasan dan cara pengobatan keratitis. demonstrasi dengan b) Pemberian kesempatan pada peserta cermat penyuluhan untuk bertanya. - Menanyakan hal yang c) Menjawab pertanyaan peserta belum jelas penyuluhan yang berkaitan dengan - Memperhatikan materi. jawaban penyuluh Penutup -Tanya jawab (evaluasi) -Menyimpulkan hasil materi -Mengakhiri kegiatan -Mengucapkan salam -Membagikan leaflet Menjawab salam 10 Menit

3.

E. Pengorganisasian dan Job Description


Pembimbing : 1. 2. Moderator : Job Description : - Membuka dan menutup kegiatan - Membuat susunan acara dengan jelas Penyaji : Job Description : - Menyampaikan materi penyuluhan

Observer : Job Description : -Mengobservasi jalannya kegiatan Fasilitator : 1. 2. 3. Job Description : -Membantu menyiapkan perlengkapan penyuluhan -Memotivasi audience untuk bertanya -Menjawab pertanyaan audience

F. Kriteria Evaluasi
Evaluasi struktur Klien dan keluarga di RSNU Tuban Penyelenggaraan penyuluhan di aula RSNU Tuban. Pengorganisasian penyelenggaraan penyuluhan dilakukan oleh Mahasiswa STIKES NU semester 4. Kontrak waktu dilakukan 1 hari sebelum Penyuluhan dan 15 menit sebelum pelaksanaan Penyuluhan. Evaluasi proses Peserta antusias terhadap materi penyuluhan. Peserta mengikuti penyuluhan sampai selesai. Peserta mengajukan pertanyaan dan menjawab pertanyaan secara benar. Peserta berpartisipasi aktif dalam kegiatan sharing. Evaluasi hasil Peserta mampu menjelaskan tentang pengertian keratitis Peserta mampu menjelaskan tentang penyebab keratitis Peserta mampu menyebutkan tanda dan gejala keratitis Peserta mampu menyebutkan pencegahan keratitis Peserta mampu menjelaskan pengobatan keratitis

Pengertian Keratitits adalah peradangan pada kornea, membran transparan yang menyelimuti bagian berwarna dari mata (iris) dan pupil. Keratitis dapat terjadi pada anak-anak maupun dewasa. .

Tanda dan gejala

Keluar air mata yang berlebihan Nyeri Penurunan tajam penglihatan Mata merah Sensitif terhadap cahaya

Penyebab Penyebab keratitis bermacam-macam. Bakteri, virus dan jamur dapat menyebabkan keratitis. Penyebab paling sering adalah virus herpes simplex, tipe 1. Selain itu penyebab lain adalah, kekeringan pada mata, pajanan terhadap cahaya yang sangat terang, benda asing yang masuk ke mata, reaksi alergi atau mata yang terlalu sensitif terhadap kosmetik mata, debu, polusi atau bahan iritatif lain, kekurangan vitamin A dan penggunaan lensa kontak yang kurang baik.

PENCEGAHAn
Pemakai lensa kontak harus menggunakan cairan desinfektan pembersih yang steril untuk membersihkan lensa kontak. Air keran tidak steril dan tidak boleh digunakan untuk membersihkan lensa kontak. Jangan terlalu sering memakai lensa kontak. Lepas lensa kontak bila mata menjadi merah atau iritasi. Ganti lensa kontak bila sudah waktunya untuk diganti. Cuci tempat lensa kontak dengan air panas, dan ganti tempat lensa kontak tiap 3 bulan karena organisme dapat terbentuk di tempat kontak lensa itu. Makan makanan bergizi Pakai kacamata pelindung ketika bekerja atau bermain di tempat yang potensial berbahaya bagi mata dapat mengurangi resiko terjadinya keratitis. Kacamata dengan lapisan anti ultraviolet dapat membantu menahan kerusakan mata dari sinar ultraviolet.

PeNGOBATAN
Antibiotik, anti jamur dan anti virus dapat digunakan tergantung organisme penyebab. Antibiotik spektrum luas dapat digunakan secepatnya, tapi bila hasil laboratorium sudah menentukan organisme penyebab, pengobatan dapat diganti. Terkadang, diperlukan lebih dari satu macam pengobatan. Terapi bedah laser terkadang dilakukan untuk menghancurkan sel yang tidak sehat, dan infeksi berat membutuhkan transplantasi kornea. Obat tetes mata atau salep mata antibiotik, anti jamur dan antivirus biasanya diberikan untuk menyembuhkan keratitis, tapi obat-obat ini hanya boleh diberikan dengan resep dokter.

Keratitis Bakterial
Antibiotik Gram (-): Tobramisin 14 mg/ml Gram (+) : Cefazolin 50 mg/ml Kortikosteroid : stlh antimikroba mengontrol proliferasi mikroba atau menunjukkan perbaikan dan penghentian bertahap Prednisolone asetat 1% 1tts awal

Debridem Polyenes termasuk ent natamycin, nistatin, dan Terapi amfoterisin B. bedah Azoles (imidazoles Terapi and triazoles) meliputi obat
ketoconazole, miconazole, fluconazole, itraconazole, econazole, and clotrimazole.

Keratitis Herpes Simpleks

Keratitis Jamur

Keratitis Alergi

Biasanya sembuh sendiri tanpa diobati. Steroid topikal dan sistemik. Kompres dingin Obat vasokonstriktor

Cromolyn

topikal. Koagulasi krio CO2. Pembedahan kecil (eksisi). Antihistamin umumnya tidak efektif Kontraindikasi : soft lens

sodium