Anda di halaman 1dari 149

HUKUM PIDANA

HPI 10102 3 SKS

TIM PENGAJAR HUKUM PIDANA


FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS INDONESIA

Depok, 30 Januari 2009

29/03/2012

KULIAH 1
Arti dan Ruang Lingkup Hukum Pidana Sumber-sumber Hukum Pidana Di Indonesia

29/03/2012

SIFAT DAN TEMPAT HUKUM PIDANA


HUKUM PIDANA ADALAH HUKUM SANKSI ISTIMEWA HUKUM PIDANA SEBAGAI HUKUM PUBLIK (privat ke publik) Mengatur hubungan antara individu dengan masyarakatnya sebagai masyarakat
29/03/2012 3

Hukum pidana dijalankan untuk kepentingan masyarakat; Dan hanya dijalankan dalam hal kepentingan masyarakat benar-benar memerlukan (ultimum remedium); Penuntutan tidak diserahkan kepada si korban; Hubungan hukum bukan koordinasi tetapi adalah subordinasi antara pelaku dengan pemerintah
29/03/2012 4

Pengertian Hukum Pidana


Prof. Moeljatno

Hukum Pidana adalah bagian dari keseluruhan hukum yg berlaku di suatu negara, yg mengadakan dasar-dasar dan aturan untuk : 1) menentukan perbuatan-perbuatan mana yg tidak boleh dilakukan, yg dilarang, dg disertai ancaman atau sanksi berupa pidana tertentu bagi barangsiapa melanggar larangan tsb; Criminal Act 2) menentukan kapan dan dalam hal-hal apa kepada mereka yg telah melanggar larangan-larangan itu dapat dikenakan atau dijatuhi pidana sebagaimana yg telah diancamkan ; Criminal Liability/ Criminal Responsibility
29/03/2012 5

1) dan 2) = Substantive Criminal Law / Hukum Pidana Materiil 3) menentukan dengan cara bagaimana pengenaan pidana itu dapat dilaksanakan apabila ada orang yang disangka telah melanggar larangan tsb. Criminal Procedure/ Hukum Acara Pidana 4) menentukan bagaimana cara hukuman sanksi dilaksanakan eksekusi/penintensier
29/03/2012 6

Pengertian Hukum Pidana


Prof. Pompe

Hukum Pidana adalah semua aturanaturan hukum yang menentukan terhadap perbuatan-perbuatan apa yang seharusnya dijatuhi pidana, dan apakah macamnya pidana/sanksi itu

29/03/2012

Pengertian Hukum Pidana


Prof. Simons

Hukum Pidana adalah kesemuanya perintah-perintah dan larangan-larangan yang diadakan oleh negara dan yang diancam dengan suatu nestapa (pidana) barangsiapa yang tidak mentaatinya, kesemuanya aturan-aturan yg menentukan syarat-syarat bagi akibat hukum itu dan kesemuanya aturan-aturan untuk mengadakan (menjatuhi) dan menjalankan pidana tersebut.
29/03/2012 8

Pengertian Hukum Pidana


Prof. Van Hamel

Hukum Pidana adalah semua dasar-dasar dan aturan-aturan yang dianut oleh suatu negara dalam menyelenggarakan ketertiban hukum (rechtsorde) yaitu dengan melarang apa yang bertentangan dengan hukum dan mengenakan suatu nestapa/derita = hukuman /sanksi kepada yang melanggar larangan-larangan tersebut
29/03/2012 9

Ilmu Hukum Pidana & Ilmu-ilmu bantu lainnya


Kriminologi Kriminalistik Ilmu Forensik/kedokteran kehakiman Psikiatri Kehakiman Sosiologi Hukum Psikologi hukum

29/03/2012

10

KUHP dan Sejarahnya


Andi Hamzah - Jaman VOC - Jaman Hindia Belanda - Jaman Jepang - Jaman Kemerdekaan Utrecht -Jaman VOC -Jaman Daendels -Jaman Raffles -Jaman Komisaris Jenderal -Tahun 1848-1918 -KUHP tahun 1915 sekarang
11

29/03/2012

Jaman VOC
Hukum kapal (hukum disiplin) Statuten van Batavia 1650 Hk. Belanda kuno Asas2 Hk. Romawi

Asas konkordansi Psl. 131 Ayat (2) sub a IS Di daerah lainnya berlaku Hukum Adat mis. Pepakem Cirebon
29/03/2012 12

Jaman Daendels
Tahun 1798 VOC dibubarkan Tahun 1810 Peraturan mengenai hukum dan peradilan Zemenstel hukum adat mendapat lebih perhatian. GolongaN Eropa berlaku STATUTA BETAWI BARU Golongan hukum Indonesia berlaku hukum adat Perlakuan hukum adat yang terbatas
29/03/2012 13

Muncul hukuman yang ganas


Plakat 22 April 1808 1. dibakar hidup terikat pada suatu tiang; 2.dimatikan dengan mempergunakan keris; 3.di cap bakar; 4.Dipukul dengan rantai; 5.Dimasukkan dalam penjara; 6.Bekerja paksa
29/03/2012 14

Jaman Raffles
Dalam banyak hal terjadi peringanan hukuman; Perhatian besar terhadap hukum adat Perlakuan hukum adat yang terbatas Hukum adat = hukum Islam

29/03/2012

15

Jaman Hindia Belanda


Dualisme dalam H. Pidana 1. Putusan Raja Belanda 10/2/1866 (S.1866 no.55) -> Orang Eropa 2. Ordonnantie 6 Mei 1872 (S.1872) --> Orang Indonesia & Timur Asing kodifikasi Unifikasi : Wetboek van Strafrecht voor Nederlandsch Indie (kopi dari Ned Straftwetboek) - Putusan Raja Belanda 15/10/1915 Berlaku 1/1/1918 disertai - Putusan Raja Belanda 4/5/1917 (S.1917 no. 497) : mengatur peralihan dari H. Pidana lama --> H. 29/03/2012 16 Pidana baru.

Jaman Jepang
WvSI masih berlaku Osamu Serei (UU) No. 1 Tahun 1942, berlaku 7/3/1942 H. Pidana formil yang mengalami banyak perubahan

29/03/2012

17

Jaman Kemerdekaan
UUD 1945 Ps. II Aturan Peralihan Segala Badan Negara dan Peraturan yang ada masih berlaku selama belum diadakan yang baru menurut UUD ini
29/03/2012 18

Jaman Kemerdekaan
UU No. 1 Tahun 1946 : Penegasan tentang Hukum Pidana yang berlaku di Indonesia Berlaku di Jawa-Madura (26/2/1946) PP No. 8 Tahun 1946 : Berlaku di Sumatera UU No. 73 Tahun 1958 : Undang-undang tentang menyatakan berlakunya UU No. 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana untuk seluruh wilayah RI dan mengubah Kitab Undang-undang Hukum Pidana

29/03/2012

19

SUMBER-SUMBER HUKUM PIDANA DI INDONESIA


KUHP (beserta UU yang merubah & menambahnya) UU Pidana di luar KUHP Ketentuan Pidana dalam Peraturan perundang-undangan non-pidana
29/03/2012 20

KUHP
Buku I : Ketentuan Umum (Pasal 1
Pasal 103)

Pasal 103 Ketentuan-ketentuan


dalam Bab I sampai Bab VIII buku I juga berlaku bagi perbuatan-perbuatan yang oleh ketentuan perundang-undangan lainnya diancam dengan pidana, kecuali jika oleh undang-undang ditentukan lain

Buku II : Kejahatan (Pasal 104 488)


Buku III : Pelanggaran (Pasal 489 569)

29/03/2012

21

SUMBER HUKUM PIDANA MATERIIL DI INDONESIA


MELAWAN HUKUM FORMIL DAN MATERIIL 1. HUKUM PIDANA FORMIL (TERTULIS) PERUNDANG-UNDANG 2. HUKUM PIDANA MATERIIL (TIDAK TERTULIS) HUKUM PIDANA YANG HIDUP DAN BERKEMBANG DI MASYARAKAT (HUKUM PIDANA ISLAM DAN HUKUM PIDANA ADAT)

3/29/2012

22

SUMBER HUKUM HUKUM PIDANA FORMIL (TERTULIS) DI INDONESIA

1. KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP); 2. UNDANG-UNDANG YANG MERUBAH/MENAMBAH KUHP; 3. UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA KHUSUS; 4. ATURAN-ATURAN PIDANA YANG TERDAPAT DI DALAM UNDANG-UNDANG YANG BUKAN UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA
3/29/2012 23

UNDANG-UNDANG YANG MERUBAH/MENAMBAH KUHP


1. UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 1946 TENTANG PEMBERLAKUAN HUKUM PIDANA BAGI INDONESIA; 2. UNDANG-UNDANG NOMOR 20 TAHUN 1946 PENAMBAHAN JENIS PIDANA BARU PIDANA TUTUPAN 3. UNDANG-UNDANG NOMOR 73 TAHUN 1958 MEMBERLAKUKAN UU NOMOR 1 TAHUN 1946 BAGI SELURUH WILAYAH INDONESIA JUGA PENAMBAHAN PASAL 52A, PASAL 142A DAN PASAL 154A;
3/29/2012 24

4. UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 1960, MERUBAH SANKSI PIDANA THD PASAL 188;359 DAN 360 KUHP (DELIK CULPA) MENJADI SETINGGI-TINGGINYA 5 TAHUN; 5. PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG NOMOR 18 TAHUN 1960 TENTANG PENYESUAIAN NILAI MATA UANG KELIPATAN 15 DAN MENGGANTI GULDEN MENJADI RUPIAH; 6. UNDANG-UNDANG NOMOR 2 PNPS TAHUN 1964 TENTANG PELAKSANA HUKUMAN MATI DENGAN CARA DITEMBAK TIDAK LAGI DIGANTUNG;
3/29/2012 25

7. UNDANG-UNDANG NOMOR 7 TAHUN 1974

TENTANG PASAL 542 MENJADI DELIK KEJAHATAN DAN PENAMBAHAN SANKSI PASAL 303 KUHP MENJADI PIDANA PENJARA MAKSIMAL 10 TAHUN; 8. UNDANG-UNDANG NOMOR 4 TAHUN 1976 TENTANG PENAMBAHAN KEJAHATAN DALAM PENERBANGAN; 9. UNDANG-UNDANG NOMOR 27 TAHUN 1999 TENTANG PERUBAHAN KITAB UNDANGUNDANG HUKUM PIDANA YANG BERKAITAN DENGAN KEJAHATAN TERHADAP KEAMANAN NEGARA
3/29/2012 26

UU Pidana di luar KUHP


UU Anti Subversi, UU No. 11/PNPS/1963 (Sudah dihapus) UU Pemberantasan T.P. Korupsi, UU No. 20/2001 jo UU No. 31/1999; UU Tindak Pidana Ekonomi, UU No. 7/drt/1955 Perpu 1/2002 UU 15/2003 Anti Terorisme; UU Money Laundering (TIPPU) UU 15/2002 UU 25/2003;

29/03/2012

27

Contoh UU non pidana yang memuat sanksi pidana


UU Lingkungan UU Pers UU Pendidikan Nasional UU Perbankan UU Pajak UU Partai Politik UU pemilu UU Merek UU Kepabeanan UU Pasar Modal
28

29/03/2012

Hukum Pidana Umum & Khusus


H. Pidana Umum 1. H.Pidana sipil 2. KUHP & UU yg merubah & menambahnya
H. Pidana Khusus 1. H. Pidana militer 2. TPE,TPK,TPS, H.Pid. militer,

3. H. Pidana yg. Berlaku 3. UU non pidana yg. umum (KUHP, Bersanksi pidana TPE,TPK, TPS, dll)
29/03/2012 29

KULIAH 2
Berlakunya Hukum Pidana Menurut Waktu Berlakunya Hukum Pidana Menurut Tempat

29/03/2012

30

Pasal 1 KUHP
(1) Tiada suatu perbuatan dapat dipidana, kecuali berdasarkan kekuatan ketentuan perundang-undangan pidana yang telah ada sebelumnya. (2) Jika ada perubahan dalam perundangundangan sesudah perbuatan dilakukan, maka terhadap terdakwa diterapkan ketentuan yang paling menguntungkan .
29/03/2012 31

ASAS YG TERCAKUP DLM PASAL 1 (1) KUHP


Nullum delictum, nulla poena sine praevia lege poenali : Tiada delik, tiada hukuman tanpa suatu peraturan yg terlebih dahulu menyebut perbuatan yang bersangkutan sebagai suatu delik dan yang memuat suatu hukuman yg dapat dijatuhkan atas delik itu

29/03/2012

32

Asas-asas dalam Pasal 1 ayat (1 ) KUHP


1. Asas Legalitas 2. Asas Larangan berlaku surut 3. Asas Larangan penggunaan Analogi

29/03/2012

33

ASAS LARANGAN BERLAKU SURUT


Undang-undang pidana berjalan ke depan dan tidak ke belakang :

X
29/03/2012

--------- UU Pidana -------------

34

Larangan berlaku surut dalam berbagai ketentuan


Nasional Ps 28i UUD 1945 Ps 18 (2) dan Ps 18 (3) UU No. 39 Tahun 1999

Internasional Ps 15 (1) hukum tidak berlaku surut dan (2) pengecualian dalam kejahatan menurut hukum kebiasaan international ICCPR Ps 22, 23, dan 24 ICC
29/03/2012 35

Pengecualian Larangan Berlaku Surut


Ps 43 UU No. 26 Tahun 2000 Perpu 1/2002 & 2/2002 UU 15/2003 ; UU 16/2003

29/03/2012

36

Ps 28i UUD 1945


hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut adalah hak asasi manusia yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun.

29/03/2012

37

UU No. 39/ 1999 ttg HAM


Ps 18 (2)
Setiap orang tidak boleh dituntut untuk dihukum atau dijatuhi pidana, kecuali berdasarkan suatu peraturan perundangundangan yang sudah ada sebelum tindak pidana itu dilakukan
29/03/2012

Ps 18 (3)
Setiap ada perubahan dalam peraturan perundang-undangan maka berlaku ketentuan yang paling menguntungkan bagi tersangka

38

UU No. 26/ 2000 ttg Pengadilan HAM (bisa berlaku surut ?)


(1) Pelanggaran hak asasi manusia yg. Berat yg. Terjadi sebelum diundangkannya UU ini, diperiksa dan diputus oleh pengadilan HAM ad hoc. (2) Pengadilan HAM ad hoc sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dibentuk atas usul DPR Indonesia berdasarkan peristiwa tertentu dg. Keputusan presiden.
29/03/2012

Penjelasan Ps 43 (2) Dalam hal DPR Indonesia mengusulkan dibentuknya Pengadilan HAM ad hoc, DPR Indonesia mendasarkan pada dugaan telah terjadinya pelanggaran HAM yang berat yg dibatasi pada locus dan tempus delicti tertentu yg terjadi sebelum diundangkannya undang39 undang ini.

UU Anti Terorisme dan Putusan MK


MK membatalkan ketentuan berlaku surut dalam UU Anti Terorisme krn bertentangan dengan UUD 1945
Kenapa UU Pengadilan HAM berlaku surut? Dan Perppu Terorisme dinyatakan berlaku surut? (mengacu pada putusan MK)
29/03/2012 40

PENAFSIRAN & ANALOGI


Penafsiran : Otentik Sistematis Gramatikal Historis Sosiologis Teleologis Ekstensif
29/03/2012

Penafsiran Ekstensif Vs Analogi ?


Putusan HR 23 Mei 1921 (kasus pencurian listrik di Gravenhage) Putusan Rechtbank Leeuwarden, 10 Des 1919 (pencurian sapi) Taverne Vs para sarjana pidana lainnya (Van Hattum, Simons, Zevenbergen, Van Hamel)

41

Pendapat Scholten (dan juga Utrecht)


Pada hakekatnya tidak ada perbedaan antara penafsiran ekstensif dan analogi. Dalam kedua hal itu hakim membuat konstruksi , yaitu membuat (mencari) suatu pengertian hukum yang lebih tinggi. Hakim membuat suatu kaidah yang lebih tinggi dan yang dapat dijadikan dasar beberapa ketentuan yang mempunyai kesamaan.
Mis. Mengambil = mengadakan suatu perbuatan yang bermaksud memindahkan sesuatu benda dari tangan yang satu ke tangan yang lain

29/03/2012

42

Pendapat Scholten (dan Utrecht)


PENAFSIRAN EKSTENSIF Hakim meluaskan lingkungan kaidah yang lebih tinggi sehingga perkara yang bersangkutan termasuk juga di dalamnya
29/03/2012

ANALOGI Hakim membawa perkara yang harus diselesaikan ke dalam lingkungan kaidah yang lebih tinggi

43

Pasal 1 ayat (2) KUHP


-+-----------+---------------+---->
UU Perbuatan Perubahan UU
Perubahan UU ? . Teori : (1) Teori formil (2) Teori materiil terbatas (3) Teori materiil tidak terbatas Paling menguntungkan ? .. Terserah pada praktek & hanya dapat ditentukan untuk masing2 perkara sendiri (in concreto). Hal ini tidak dapat ditentukan sec. Umum (in abstracto) Periksa : Utrecht h.228
29/03/2012 44

Perubahan UU yg dimaksud Pasal 1 (2) KUHP


Teori Formil :Ada perubahan undang-undang kalau redaksi undangundang pidana berubah (simons) ditolak oleh Putusan HR 3 Des 1906 , kasus ps 295 sub 2 KUHP, batas dewasa 23 21 tahun dlm BW Teori Materiil Terbatas : Tiap perubahan sesuai dg suatu perubahan perasaan (keyakinan) hukum pada pembuat undang-undang (jadi tidak boleh diperhatikan perubahan keadaan karena waktu) Teori Materiil tidak Terbatas : tiap perubahan baik dalam perasaan hukum dari pembuat undang-undang maupun dalam keadaan karena waktu boleh diterima sebagai suatu perubahan dalam undang-undang Sesuai HR 5 Des 1921
29/03/2012 45

Perubahan kesadaran/perasaan hukum


Menjadi tidak dapatnya dihukum suatu perbuatan Menjadi dapat dihukumnya suatu perbuatan Diperberat/diperingan pidana atas suatu perbuatan.

(Baca lebih lanjut dalam buku Lamintang Putusan MA, dalam bag. Berlakunya UU Pidana Menurut Waktu)

29/03/2012

46

Tempus delicti penting diketahui dalam hal2 :


Kaitannya dg Ps 1 KUHP Kaitannya dg aturan tentang Daluwarsa Kaitannya dg ketentuan mengenai pelaku tindak pidana anak : Ps 45,46,47 KUHP atau UU Pengadilan Anak

29/03/2012

47

Teori2 Tempus Delicti


1. Teori Perbuatan fisik (de leer van de lichamelijke daad) 2. Teori bekerjanya alat yg digunakan (de leer van het instrumen) 3. Teori Akibat (de leer van het gevolg) 4. Teori waktu yg jamak (de leer van de meervoudige tijd)
29/03/2012 48

Teori2 Locus Delicti


1. Teori Perbuatan fisik (de leer van de lichamelijke daad) 2. Teori bekerjanya alat yg digunakan (de leer van het instrumen) 3. Teori Akibat (de leer van het gevolg) 4. Teori Tempat yg jamak (de leer van de meervoudige tijd)
29/03/2012 49

Locus delicti penting diketahui dalam hal2 :


Hukum pidana mana yang akan diberlakukan - H. Indonesia atau H. negara lain Kompetensi relatif suatu pengadilan - contoh : PN Jakarta Selatan atau PN Bogor

29/03/2012

50

Teori mana yg dipilih ?


Van Hamel, Simons : Bergantung sifat dan corak perkara konkret yang hendak diselesaikan Hazewinkel-Suringa, Zevenbergen, Noyon-Langemejer : Mempergunakan 3 teori sec teleologis
Periksa buku Utrecht hal 239
29/03/2012 51

Surabaya Semarang Cirebon ---- racun --> ----diminum ---> ----- mati A --> B B B

Meervoudige locus delicti Hakim diberi kemerdekaan memilih diantara 3 locus delicti ini Lihat --> Keputusan Hoge Raad 2/1/1923 w.Nr.1108

29/03/2012

52

Asas2 Berlakunya Hukum Pidana (1)


Asas Teritorialitas/ wilayah : Ps 2 --> Ps 3 KUHP --> Ps 95 KUHP , UU No 4/1976 Asas Nasionalitas Pasif/ perlindungan : Ps 4 :1,2 dan 4 --> Ps 8 KUHP , UU No. 4/1976 , Ps 3 UU No. 7/ drt/ 1955 Lihat Ps 16 UU 31/1999 Asas Personalitas/ Nasionalitas Aktif : Ps 5 KUHP --> Ps 7 KUHP --> Ps 92 KUHP Asas Universalitas : Ps 4 :2 , Ps 4 sub 4 , Ps 1 UU 4/ 1976 melakukan kejahatan ttg mata uang, uang kertas negara atau uang kertas Bank
29/03/2012 53

Asas2 berlakunya H. Pidana : Beberapa masalah !


Wilayah Indonesia ? Kapal : a) kapal Indonesia b) kapal perang c) kapal dagang Asas Universalitas : - Kejahatan Terorisme ? - Kejahatan HAM berat ?

29/03/2012

54

UU No.43/2008
Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang selanjutnya disebut dengan Wilayah Negara adalah salah satu unsur negara yang merupakan satu kesatuan wilayah daratan, perairan pedalaman, perairan kepulauan dan laut teritorial beserta dasar laut dan tanah di bawahnya, serta ruang udara di atasnya, termasuk seluruh sumber kekayaan yang terkandung di dalamnya. 29/03/2012 55

Batas Wilayah
Pasal 5 Batas Wilayah Negara di darat, perairan, dasar laut dan tanah di bawahnya serta ruang udara di atasnya ditetapkan atas dasar perjanjian bilateral dan/atau trilateral mengenai batas darat, batas laut, dan batas udara serta berdasarkan peraturan perundang-undangan dan hukum internasional. Pasal 6 (1) Batas Wilayah Negara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5, meliputi: a. di darat berbatas dengan Wilayah Negara: Malaysia, Papua Nugini, dan Timor Leste; b. di laut berbatas dengan Wilayah Negara: Malaysia, Papua Nugini, Singapura, dan Timor Leste; dan c. di udara mengikuti batas kedaulatan negara di darat dan di laut, dan batasnya dengan angkasa luar ditetapkan berdasarkan perkembangan hukum internasional. (2) Batas Wilayah Negara sebagaimana dimaksud pada ayat (1), termasuk titik-titik koordinatnya ditetapkan berdasarkan perjanjian bilateral dan/atau trilateral. (3) Dalam hal Wilayah Negara tidak berbatasan dengan negara lain, Indonesia menetapkan Batas Wilayah Negara secara unilateral berdasarkan peraturan perundang-undangan dan hukum internasional.
56

29/03/2012

Asas2 Berlakunya H. Pidana : Pengecualian (2)


Ps 9 KUHP : Hukum publik internasional membatasi berlakunya Ps 2,3,4,5, 7, dan 8 KUHP Termasuk yg memiliki imunitas h.pidana : Sesuai perjanjian Wina 18/4/1961 Yg memiliki imunitas : 1) Kepala-kepala negara & keluarganya (sec. resmi, bukan incognito/singgah) 2) Duta negara asing & keluarganya --> konsul : tergantung traktat antar negara. 3) Anak buah kapal perang asing : termasuk awak kapal terbang militer 4) Pasukan negara sahabat yg berada di wilayah negara atas persetujuan negara

29/03/2012

57

Menurut perjanjian Wina 18/4/1961, maka keluarga termasuk memiliki imunitas (hak eksteritorial) Untuk ketua organisasi internasional biasanya dilindungi (tergantung traktat antar negara).

29/03/2012

58

KULIAH 3
Istilah Definisi Cara Merumuskan Tindak Pidana Subjek Tindak Pidana Unsur-Unsur Tindak Pidana

29/03/2012

59

Tindak Pidana Istilah


Strafbaar feit Perbuatan pidana Peristiwa pidana Tindak pidana Delict / Delik Criminal act Jinayah
60

29/03/2012

Tindak Pidana
Simons : kelakuan yg diancam dg pidana, yg bersifat
melawan hukum yg berhubungan dg kesalahan & dilakukan oleh orang yg mampu bertanggung jawab

Definisi

Van Hamel : kelakuan manusia yg dirumuskan


dalam UU, melawan hukum, yg patut dipidana & dilakukan dg kesalahan

Vos : suatu kelakuan manusia yg oleh per UU an


diberi pidana; jadi suatu kelakuan manusia yg pada umumnya dilarang & diancam dengan pidana

29/03/2012

61

Aliran Monistis ... Aliran Dualistis ..

29/03/2012

62

Aliran Monistis
Tidak memisahkan antara perbuatan dan pertanggungjawaban Dalam rumusan tindak pidana sekaligus tercakup unsur perbuatan/akibat dan unsur kesalahan/pertanggungjawaban

29/03/2012

63

Aliran Dualistis
Tindakan/perbuatan dari manusia Memisahkan secara tegas antara perbuatan (pidana) dan pertanggungjawaban Dalam rumusan tindak pidana hanya tercantum unsur perbuatan/akibat tanpa unsur kesalahan/pertanggungjawaban
29/03/2012 64

Tindak Pidana Pada dasarnya ada 3 cara merumuskan Tindak Pidana:

Disebutkan unsur-unsurnya & disebut kualifikasinya --> mis, Ps 362 KUHP disebutkan kualifikasinya tanpa disebut unsur-unsurnya --> mis. Ps 297, Ps 351 disebutkan unsur-unsurnya, tidak disebut kualifikasinya --> mis. Ps 106, Ps 167, Ps 209
29/03/2012 65

Subjek Tindak Pidana


Manusia (natuurlijk personen) Korporasi syarat merumuskan : Barangsiapa . b) hukuman : mati, penjara, kurungan, dll (Ps 10 KUHP) c) Hukum Pidana disandarkan pada kesalahan orang
UU TPE UU Pemberantasan T.P. Korupsi UU Pencucian Uang UU Pemberantasan TP Terorisme RUU KUHP adanya kebutuhan untuk memidana korporasi: Badan Hukum Bukan badan hukum Badan Usaha (UU ITE: 11/2008) Badan Publik (UU KIP: No. 14/2008)

29/03/2012

66

Tindak Pidana Unsur-unsur (van Bemmelen)


Di dalam perumusan (bagian) bestanddelen dimuat dalam surat dakwaan semua syarat yg dimuat dalam rumusan delik merupakan bagian-bagian, sebanyak itu pula, yg apabila dipenuhi membuat tingkah laku menjadi tindakan yg melawan hukum 1. Tingkah laku yg dilarang 2. Bagian subyektif : kesalahan, maksud, tujuan, niat, rencana, ketakutan 3. Bagian obyektif : secara melawan hukum, kualitas, kausalitas, bagian2 lain yg menentukan dapat dikenakan pidana (syarat tambahan; keadaan) 4. Bagian yg mempertinggi dapatnya dikenakan pidana
29/03/2012

Di luar perumusan (unsur) : syarat dapat dipidana - elementen 1. Secara melawan hukum 2. Dapat dipersalahkan 3. Dapat dipertanggungjawabkan

67

Unsur-Unsur Tindak Pidana


Unsur2 dalam perumusan
A. Unsur Obyektif
- perbuatan (aktif/pasif) atau akibat - melawan hukum - syarat tambahan - keadaan B. Unsur Subyektif - kesalahan : (a) sengaja (b) kealpaan C. Keadaan syarat penyerta agar seseorang dapat dihukum Psl. 123, 182, 531, 280 KUHP D. Syarat tambahan untuk pemidanaan
29/03/2012

Unsur2 di luar perumusan - secara melawan hukum - dapat dipersalahkan - Dapat dipertanggungjawab kan

68

Contoh unsur2 dalam rumusan tindak pidana


Pasal 362 KUHP
barangsiapa mengambil barang - yg sebagian/ seluruhnya kepunyaan orang lain dengan maksud memiliki secara melawan hukum

Pasal 338 KUHP barangsiapa dengan sengaja menghilangkan nyawa orang lain

29/03/2012

69

Contoh unsur dalam rumusan tindak pidana


Pasal 285
barangsiapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa seorang wanita bersetubuh dengan dia di luar perkawinan

Pasal 359
barangsiapa karena kealpaannya menyebabkan orang lain mati

29/03/2012

70

KULIAH 4
Tentang Penggolongan Tindak Pidana

29/03/2012

71

Tindak Pidana
Pembagian Tindak Pidana (Jenis Delik)

Delik Kejahatan & Delik pelanggaran Delik Materiil & Delik Formil Delik Komisi & Delik Omisi Delik Dolus & Delik Culpa Delik Biasa & Delik Aduan Delik yg Berdiri sendiri & Delik Berlanjut Delik Selesai & Delik yg diteruskan Delik Tunggal & Delik Berangkai Delik Sederhana & Delik Berkualifikasi; Delik Berprivilege Delik Politik & Delik Komun (umum) Delik Propia & Delik Komun (umum)
Pembagian delik menurut kepentingan yg dilindungi : Lihat judul-judul bab pada Buku II dan Buku III KUHP
72

29/03/2012

Jenis Delik
Kejahatan (misdrijf)
dlm. MvT : sebelum ada UU sudah dianggap tidak baik (recht-delicten) Hazewinkel-Suringa : tidak ada perbedaan kualitatif, hanya perbedaan kuantitatif a) Percobaan : dipidana
b) Membantu : dipidana c) Daluwarsa : lebih panjang d) Delik aduan : ada e) Aturan ttg Gabungan berbeda 29/03/2012

Pelanggaran (overtreding)
dlm MvT : baru dianggap tidak baik setelah ada UU (wet delicten) Perbedaan dg kejahatan:
a) Percobaan : tidak dipidana b) Membantu : tidak dipidana c) Daluwarsa : lebih pendek d) Delik aduan : tidak ada e) Aturan ttg Gabungan berbeda
73

KUHP : Buku III

Jenis Delik
D. Materiil : Yang D. Formil : yang dirumuskan akibatnya -dirumuskan bentuk > Ps 338, Ps 187, dll perbuatannya --> Ps 362, D. Komisi : melanggar Ps 263, dll larangan dg perbuatan D. Omisi : melakukan aktif
delik dg perbuatan pasif
a) D. Omisi murni : melanggar perintah dg tidak berbuat, mis. Ps 164, Ps 224 KUHP b) D. Omisi tak murni : melanggar larangan dg tidak berbuat, mis Ps 194 KUHP

D. Dolus : delik dilakukan dg sengaja, mis. Ps 338, Ps 351


29/03/2012

D. Culpa : Delik dilakukan dg kealpaan, mis. Ps 359, Ps 360 74

Delik Biasa (bukan aduan)

Delik Aduan

penuntutannya tidak memerlukan pengaduan, mis. Ps 340, Ps 285 Cukup dengan laporan dari setiap orang yang melihat/ mengetahui tindak pidana tsb., tidak harus dengan pengaduan dari korban atau orang2 tertentu
29/03/2012

penuntutannya memerlukan pengaduan, mis. Ps 310, Ps 284 Harus ada pengaduan dari korban atau orang tertentu

75

Delik Berdiri Sendiri Terdiri atas satu delik yang berdiri sendiri Untuk pemidanaannya tidak perlu menggunakan ketentuan tentang TP; tinggal melihat berapa ancaman pidana dari Pasal yang dilanggar

Delik Berlanjut Terdiri atas dua atau lebih delik, yang karena kaitannya yang erat mengakibatkan dikenakan satu sanksi kepada terdakwa Untuk pemidanaannya menggunakan ketentuan tentang gabungan TP, yaitu Pasal 64 KUHP

29/03/2012

76

Delik Berlanjut
Masih menjadi perdebatan apakah delik berlanjut (voortgezette delict) sama dengan perbuatan berlanjut (voortgezette handeling) Sebagian sarjana (termasuk Utrecht) menyamakan voortgezette delict dengan voortgezette handeling) dan untuk pemidanaannya memakai ketentuan Pasal 64 KUHP, dengan syarat: Perbuatan perbuatan timbul dari 1 kehendak Perbuatannya harus sejenis Tenggang waktu antara 1 perbuatan dengan perbuatan yang lain, tidak terlalu lama

29/03/2012

77

Delik Selesai Satu atau beberapa perbuatan tertentu yang selesai dalam suatu waktu tertentu yang singkat Mis: Pasal 362, Pasal 338

Delik Berlangsung terus satu atau beberapa perbuatan yang melangsungkan suatu keadaan yang dilarang Mis: Pasal 221, Pasal 261, Pasal 333

29/03/2012

78

Delik Tunggal Delik di mana untuk dapat dipidananya si pelaku maka ybs. cukup melakukan perbuatan tersebut sebanyak satu kali Mis: Pasal 362, Pasal 338

Delik Berangkai Delik di mana untuk dapat dipidananya si pelaku maka ybs. harus melakukan perbuatan tersebut beberapa kali (berulang-ulang, berturut-turut) Karena harus dilakukan berulang-ulang: bisa berupa pencaharian atau kebiasaan (sebagai unsur yang menentukan untuk dipidananya pelaku) Mis: Pasal 296, Pasal 481
79

29/03/2012

Delik Pokok/sederhana Delik yang dalam perumusannya mencantumkan unsur2 pokok yang menentukan pemidanaannya Pasal 362, Pasal 351 ayat (1)

Delik Berkualifikasi Delik pokok yang ditambah dengan unsur yang memperberat pemidanaan mis: Pasal 351 ayat (2), Pasal 363, Pasal 365 ayat (4) Delik Berprevilege Delik pokok yang ditambah dengan unsur yang meringan pemidanaan Mis: Pasal 308. Pasal 364 80

29/03/2012

Delik Politik Delik yang mengandung unsur politik Mis: Makar untuk menggulingkan pemerintah (Pasal 107), makar untuk membunuh kepala negara (Pasal 104)

Delik Komuna (bukan delik politik)


Delik yang tidak mengandung unsur politik Mis: pembunuhan orang biasa (Pasal 338), Pencurian mobil (Pasal 362)

29/03/2012

81

Delik Propria Delik yang hanya dapat dilakukan oleh orang2 tertentu (subjeknya adalah orang-orang tertentu) Mis: Pasal 308, Pasal 346, Pasal 449

Delik Komuna Delik yang dapat dilakukan oleh setiap orang Cirinya: Subjeknya adalah barang siapa Mis: Delik Pencurian (Pasal 362), Delik Pembunuhan (Pasal 338)

29/03/2012

82

KULIAH 5
Tentang Ajaran Kausalitas Sifat Melawan Hukum

29/03/2012

83

KAUSALITAS
1. Pengertian ? 2. Kapankah diperlukan ajaran kausalitas ? 3. Ajaran Kausalitas ?

Ilustrasi : B pinjam uang ke rumah A, karena kedatangan B, maka A terlambat ; karena terlambat A mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi; A menubruk C sehingga lukaluka; C dibawa ke RS dan dioperasi oleh dokter D; D meminta E merawat dengan suntikan tertentu; E salah memberikan obat pada C; C mati.
29/03/2012 84

Pengertian Kausalitas
Hal sebab-akibat Hubungan logis antara sebab dan akibat Persoalan filsafat yang penting Setiap peristiwa selalu memiliki penyebab sekaligus menjadi sebab peristiwa lain Sebab dan akibat membentuk rantai yang bermula di suatu masa lalu Yang menjadi fokus perhatian ahli hukum pidana (bukan makna di atas), tetapi makna yang dapat dilekatkan pada pengertian kausalitas agar mereka dapat menjawab persoalan siapa yang dapat dimintai pertanggungjawaban atas suatu akibat tertentu
29/03/2012 85

Pengertian Ajaran Kausalitas


Ajaran yang berupaya untuk mencari sebab dari timbulnya akibat Dalam hukum pidana, sebab yang dicari adalah suatu perbuatan Dengan ditemukannya sebab, maka dapat ditemukan siapa yang dapat dipersalahkan dan diminta pertanggungjawabannya
29/03/2012 86

Kapankah diperlukan ajaran Kausalitas/ Jenis delik apa yang memerlukan ajaran kausalitas?
Delik Materiil : Delik yang perumusannya melarang timbulnya akibat. Delik ini selesai ketika akibat timbul. mis. Ps. 338, Ps 359, Ps 360 Delik Omisi tak murni/semu (delicta commissiva per omissionem/ Oneigenlijke Omissiedelicten) : Delik yang terjadi dengan dilanggarnya suatu larangan yang menimbulkan akibat yang dilakukan dengan perbuatan pasif. Delik yang terkualifikasi/dikwalifisir : Delik yang terkwalifisir dengan timbulnya akibat. (pengkualifikasian delik juga dapat dilakukan atas dasar akibat yang muncul setelah delik tertentu dilakukan, mis. Ps 351 (1) Ps 351 (2)/ Ps 351 (3)

29/03/2012

87

Ajaran Kausalitas
Conditio Sine Qua Non/ Ekuivalensi (Von Buri) Teori-teori Individualisasi / Causa Proxima : Birkmeyer , Mulder Teori-teori menggeneralisasi : teori Adekuat (Von Kries, Simons, Pompe, Rumelin) Teori Relevansi : Langemeijer
29/03/2012 88

Ajaran Conditio Sine Qua Non


Semua faktor yaitu semua syarat, yang turut serta menyebabkan suatu akibat dan yang tidak dapat dihilangkan dari rangkaian faktor-faktor ybs. Harus dianggap causa (sebab) akibat itu. Semua syarat nilainya sama (ekuivalensi) Ada beberapa sebab Syarat = sebab
29/03/2012 89

Pembatasan Ajaran Von Buri


Pembatasan ajaran Von Buri oleh Van Hamel [dibatasi dg ajaran kesalahan (dolus/culpa)] Pengkesampingan semua sebab yang terletak di luar dolus atau culpa; dalam banyak kejahatan dolus atau culpa merupakan unsur-unsur perumusan delik.

29/03/2012

90

Teori-teori Individualisasi / Causa Proxima


Birkmeyer : Teori ini berpangkal dari teori Conditio Sine Qua Non . Di dalam rangkaian syarat-syarat yang tidak dapat dihilangkan untuk timbulnya akibat, lalu dicari syarat manakah yang dalam keadaan tertentu itu, yang paling banyak membantu untuk terjadinya akibat. G.E Mulder : Sebab adalah syarat yang paling dekat 29/03/2012 91 dan tidak dapat dilepaskan dari akibat.

Teori-teori menggeneralisasi
Von Bar : teori ini tidak menyoal tindakan mana atau kejadian mana yang in concreto memberikan pengaruh (fisik/psikis) paling menentukan. Yang dipersoalkan adalah apakah satu syarat yang secara umum dapat dipandang mengakibatkan terjadinya peristiwa seperti yang bersangkutan mungkin ditemukan dalam rangkaian kausalitas yang ada
29/03/2012 92

Teori-teori menggeneralisasi
Von Kries (Teori Adequat Subjectif) : Sebab adalah keseluruhan faktor positif & negatif yang tidak dapat dikesampingkan tanpa sekaligus meniadakan akibat. Namun pembatasan demi kepentingan penetapan pertanggungjawaban pidana tidak dicari dalam nilai kualitatif/kuantitatif atau berat/ringannya faktor dalam situasi konkret, tetapi dinilai dari makna semua itu secara umum, kemungkinan dari faktor-faktor tersebut untuk memunculkan akibat tertentu. Sebab = syarat-syarat yang dalam situasi dan kondisi tertentu memiliki kecenderungan untuk memunculkan akibat tertentu, biasanya memunculkan akibat itu, atau secara objectif memperbesar kemungkinan munculnya akibat tersebut. Apakah suatu tindakan memiliki kecenderungan memunculkan akibat tertentu hanya dapat diselesaikan apabila kita memiliki 2 bentuk pengetahuan : (a) hukum umum probabilitas dalam peristiwa yg terjadi / pengetahuan Nomologis yg memadai (b) situasi faktual yg melingkupi peristiwa yg terjadi/ pengetahuan Ontologis/ pemahaman fakta (empirik)
29/03/2012 93

Teori-teori menggeneralisasi
Rumelin (Teori Adequat Objectif) : Faktor yang ditinjau dari sudut objektif , harus (perlu) ada untuk terjadinya akibat. Ihwal probabilitas tidak berdasarkan pada apa yang diketahui atau mungkin diketahui pada waktu melakukan tindakannya, melainkan pada fakta yang objektif pada waktu itu ada, entah diketahuinya atau tidak jadi pada apa yang kemudian terbukti merupakan situasi dan kondisi yang melingkupi peristiwa tersebut. Simons : Sebab adalah tiap-tiap kelakuan yang menurut garis-garis umum pengalaman manusia dapat menimbulkan akibat Pompe : Sebab adalah hal yang mengandung kekuatan untuk dapat menimbulkan akibat
29/03/2012 94

Teori Relevansi
Langemeijer Teori ini ingin menerapkan ajaran von Buri dengan memilih satu atau lebih sebab dari sekian yang mungkin ada, yang dipilih sebab-sebab yang relevan saja , yakni yang kiranya dimaksudkan sebagai sebab oleh pembuat undang-undang.

29/03/2012

95

Sifat Melawan Hukum


Arti : - tanpa hak sendiri (zonder eigen recht) - bertentangan dg hak orang lain (tegen eens anders recht) - tanpa alasan yg wajar - Bertentangan dengan hukum positif Melawan hukum : formil & materiil - aliran formil : melawan hukum = melawan UU, sebab hukum adalah UU. -aliran materiil : melawan hukum adalah perbuatan yg oleh masyarakat tidak dibolehkan.
29/03/2012 96

Perbedaan Ajaran Materiil dan Formil


Materiil : mengakui adanya pengecualian / penghapusan dari sifat melawan hukumnya perbuatan menurut hukum yang tertulis dan yang tidak tertulis Formil : hanya mengakui pengecualian yang tersebut dalam undangundang saja/ mis, Ps. 49. Materiil : sifat melawan hukum adalah unsur mutlak dari tiap-tiap tindak pidana, juga bagi yang dalam rumusannya tidak menyebut unsur-unsur tersebut Formil : sifat tersebut tidak selalu menjadi unsur delik, hanya jika dalam rumusan delik disebutkan dengan nyatanyata barulah menjadi unsur delik

29/03/2012

97

Pembuktian Melawan Hukum


Dengan mengakui bahwa sifat melawan hukum selalu menjadi unsur delik, ini tidak berarti bahwa karena itu harus selalu dibuktikan adanya unsur tersebut oleh penuntut umum Soal apakah harus dibuktikan atau tidak, adalah tergantung dari rumusan delik yaitu apakah dalam rumusan unsur tersebut disebutkan nyata-nyata, jika tidak dinyatakan maka tidak perlu dibuktikan.
29/03/2012 98

Alasan Pencantuman unsur Melawan Hukum


Pada umumnya dalam perundang-undangan , lebih banyak delik yang tidak memuat unsur melawan hukum dalam rumusannya Alasan pencantuman sifat melawan hukum dalam perumusan tindak pidana :
- untuk melindungi orang2 yg memiliki hak dari tuntutan pidana.

29/03/2012

99

Konsekuensi aliran Formil


Apakah konsekuensi ajaran bahwa sifat melawan hukum selalu menjadi unsur tiaptiap delik ? Jika unsur melawan hukum tidak tersebut dalam rumusan delik, maka unsur itu dianggap diam-diam telah ada, kecuali jika dibuktikan sebaliknya oleh pihak terdakwa.

29/03/2012

100

KULIAH 6
Kesalahan dan Pertanggungjawaban Pidana

29/03/2012

101

Pengertian Kesalahan
Ada 4 pengertian kesalahan: 1.Kesalahan sebagai unsur delik; dalam arti kumpulan (nama generik) yang mencakup dolus dan culpa 2.Kesalahan dalam arti pertanggungjawaban pidana: ketercelaan (verwijtbaarheid) seseorang atas perbuatan melawan hukum yang telah dilakukannya

29/03/2012

102

3. Kesalahan dalam arti bentuk khusus, yang hanya berupa culpa 4. Kesalahan yang digunakan dalam rumusan delik untuk menetapkan bahwa pidana dapat diancamkan pada pelaku yang bersalah karena telah melakukan tindakan tertentu; mis. Barang siapa dengan sengaja menghilangkan nyawa orang lain dipidana karena bersalah 29/03/2012 103 melakukan pembunuhan

Kesalahan sebagai Unsur Delik


Dolus Culpa

29/03/2012

104

Dolus/ opzet/ sengaja


Apakah sengaja itu ? Sengaja = willens (dikehendaki) en wetens (diketahui) (MvT1886) Teori2 sengaja : (a) teori kehendak (wils theorie) opzet ada apabila perbuatan & akibat suatu delik dikehendaki si pelaku (b) teori bayangan (voorstellings-theorie) opzet ada apabila si pelaku pada waktu mulai melakukan perbuatan, ada bayangan yg terang bahwa akibat yg bersangkutanakan tercapai, maka dari itu ia menyesuaikan perbuatannya dengan akibat itu
29/03/2012 105

Dolus/ opzet/ sengaja istilah2 dalam rumusan tindak pidana


Dengan sengaja : Ps 338 KUHP Mengetahui bahwa : Ps 220 KUHP tahu tentang : Ps 164 KUHP dengan maksud : Ps 362, 378, 263 KUHP niat : Ps 53 KUHP dengan rencana lebih dahulu : Ps 340, 355 KUHP - dengan rencana : (a) saat pemikiran dg tenang ; (b) berpikir dg tenang; ( c ) direnungkan lebih dahulu. - ada tenggang waktu antara timbulnya niat 29/03/2012 106 dengan pelaksanaan delik

Bentuk-Bentuk Dolus
1. Dolus sebagai maksud tujuan
2. Dolus dengan kesadaran akan keniscayaan akibat/sengaja dengan keinsyafan kepastian (sadar kepastian noodzakelijkheidsbewustzijn) 3. Dolus dengan kesadaran akan besarnya kemungkinan/ kesengajaan dengan keinsyafan kemungkinan (opzet met waarschijnlijkheids bewustzijn/ awareness of probability) 4. Dolus eventualis (kesengajaan bersyarat; opzet met mogelijkheidsbewustzijn/voorwaardelijk opzet/awareness of possibility) Kesengajaan bersyarat: dengan mengetahui dan menghendaki menerima risiko yang besar
29/03/2012 107

Bentuk-bentuk Kesengajaan/dolus
Ada sarjana yang membedakan bentuk-bentuk dolus menjadi 3 macam,yaitu: sebagai maksud, berkeinsyafan kepastian dan berkeinsyafan kemungkinan (misalnya PAF Lamintang, Tresna, Moeljatno) Mereka menyamakan dolus eventualis dengan kesengajaan dengan keinsyafan kemungkinan Dolus eventualis merupakan perkembangan dalam hukum pidana, khususnya dalam hal bentuk-bentuk kesengajaan dan HR Belanda baru menerima kesengajaan bentuk ini setelah PD II 29/03/2012 108

Bentuk-bentuk kesengajaan
Sengaja sebagai maksud/ tujuan : - apabila pembuat menghendaki perbuatan dan/akibat perbuatannya; - tidak dilakukan perbuatan itu jika pembuat tahu akibat perbuatannya tidak terjadi - Tidak harus berupa tindak pidana Sengaja sebagai keinsyafan kepastian : - pembuat yakin bahwa akibat yg dimaksudkannya tidak akan tercapai tanpa terjadinya akibat yg tidak dimaksud Sengaja sebagai keinsyafan kemungkinan: - pembuat sadar bahwa mungkin akibat yg tidak dikehendaki akan terjadi untuk mencapai akibat yg dimaksudnya - Kesengajaan berkeinsyafan kepastian dan kemungkinan tidak dapat berdiri sendiri. Selalu bersifat accesoir terhadap kesengajaan sebagai maksud

29/03/2012

109

Dolus eventualis
Pelaku dengan kehendak dan kesadaran menerima kemungkinan munculnya akibat yang buruk. Di Jerman disebut billigend in Kauf nehmen: menerima penuh risiko terwujudnya sesuatu kemungkinan
29/03/2012 110

Culpa Istilah2
- culpa - schuld - nalatigheid - sembrono - teledor istilah 2 yg digunakan dalam rumusan : - kelalaian - kealpaan - kesalahan - seharusnya diketahuinya - sepatutnya diketahuinya
29/03/2012 111

Pengertian, Jenis, Syarat


KUHP : tidak ada definisi MvT : kealpaan di satu pihak berlawanan benar2 dg kesengajaan dan di pihak lain dengan hal yg kebetulan Pada culpa, unsur menghendaki selalu tidak ada; sedangkan unsur mengetahui sering tidak ada Macam2 Culpa : (a) culpa levis ; culpa lata (b) culpa yg disadari (bewuste) : culpa yg tidak disadari (on bewuste) Syarat adanya kealpaan : (a) Hazewinkel-Suringa : 1) kekurangan menduga-duga; 2) kekurangan berhatihati (b) van Hamel : 1) tidak menduga-duga sebagaimana diharuskan hukum; 2) tidak berhati-hati sebagaimana diharuskan hukum ( c) Simons : pada umumnya schuld (kealpaan) mempunyai 2 unsur : 1) tidak berhati-hati; 2) dapat diduganya akibat.
29/03/2012 112

Culpa
Untuk menentukan ada atau tidaknya culpa pada seseorang, maka harus digunakan tolok ukur yang normal (upaya dan kehati-hatian dari orang yang sama kemampuan dan kecerdasannya dengan pelaku). Jadi culpa merupakan sesuatu yang bersifat normatif (.seharusnya..) Apabila pada situasi dan kondisi yang sama dengan pelaku, orang yang sama kemampuan dan kecerdasannya dengan pelaku pada umumnya tidak melakukan perbuatan seperti yang dilakukan oleh pelaku; berarti pelaku culpa---- disebut Culpa Lata 29/03/2012 113 (Kelalaian yang Besar)

Culpa
Culpa Levis (Kelalaian yang kecil)--- apabila tolok ukurnya adalah upaya dan kehati-hatian yang luar biasa Culpa yang disadari : Apabila pelaku sudah membayangkan kemungkinan timbulnya suatu akibat yang dilarang, dan karena itu ia juga sudah berupaya agar tidak timbul akibat tsb. (dia tidak menghendaki akibat), namun akibat tetap terjadi Culpa yang tidak disadari: Pelaku sama sekali tidak pernah membayangkan kemungkinan timbulnya akibat yang dilarang; tetapi ternyata terjadi akibat Yang dapat dipidana adalah Culpa Lata, baik yang disadari maupun tidak disadari

29/03/2012

114

Asas penting dalam masalah pertanggungjawaban


Geen Straf zonderschuld Tiada Pidana tanpa kesalahan : meskipun seseorang telah melakukan perbuatan yang melawan hukum; namun tanpa adanya kesalahan maka dia tidak dapat dipidana

29/03/2012

115

Dapat dipersalahkan sehingga dapat dipertanggungjawabkan


3 syarat yang harus dipenuhi: Kemampuan bertanggungjawab Ada hubungan psikis antara pelaku dan perbuatannya , dalam bentuk dolus atau culpa Tidak ada dasar penghapus kesalahan

29/03/2012

116

Arti dan diantara unsur dengan sengaja & unsur melawan hukum
Van Hamel, simons, pompe : perbedaan itu mempunyai arti. Mis. Ps 406 KUHP : dengan sengaja dan melawan hukum ; Ps 333 KUHP : dengan sengaja melawan hukum Vos, zevenbergen, langemeijer : tiadanya kata dan tidak berarti apa2, semuanya mesti dibaca dengan sengaja dan melawan hukum Remelink, van Bemmelen : kata penghubung dan tidak mempunyai arti, jadi istilah dengan sengaja meliputi pula melawan hukum. 117

29/03/2012

Kemampuan Bertanggungjawab (toerekeningsvatbaarheid)


Dengan menggunakan penafsiran acontrario dari MVT tentang tidak mapu bertanggungjawab; maka mampu bertanggungjawab artinya: - pelaku melakukan perbuatannya dengan bebas; tanpa paksaan - pelaku menginsyafi bahwa perbuatannya melawan hukum dan ia mengerti akibat perbuatannya Dalam praktik, setiap pelaku dianggap mampu bertanggungjawab ; kecuali bila ada dugaan pelaku sakit jiwa atau tidak sempurna tumbuhnya

29/03/2012

118

KULIAH 7
Percobaan Tindak Pidana

29/03/2012

119

PERCOBAAN (POGING)
PASAL 53
(1) Mencoba melakukan kejahatan dipidana, jika niat untuk itu telah ternyata dari adanya permulaan pelaksanaan, dan tidak selesainya pelaksanaan itu, bukan semata-mata disebabkan karena kehendaknya sendiri. (2) Maksimum pidana pokok terhadap kejahatan, dalam hal percobaan dikurangi sepertiga. (3) Jika kejahatan diancam dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup, dijatuhkan pidana penjara paling lama 15 tahun. (4) Pidana tambahan bagi percobaan sama dengan kejahatan selesai. Pasal 54 Mencoba melakukan pelanggaran tidak dipidana 120 29/03/2012

Kasus 1
Seorang yang sedang berdiri di bordes KA, ketika akan diperiksa karcisnya oleh kondektur, ia telah menendang kaki petugas tersebut. Sehingga apabila kondektur tidak dengan cepat berpegang pada tiang besi KA, pasti ia jatuh keluar dan terlindas KA (Arrest HR Tgl 12 Maret 1942)
29/03/2012 121

Kasus 2
Seorang POLANTAS memberi tanda agar sebuah kendaraan bermotor berhenti, karena tidak menyalakan lampu. Pengemudi tetap tancap gas, sehingga kalau petugas tidak menghindar dengan cara melompat ia akan tertabrak (Arrest HR 6 Pebruari 1951)

29/03/2012

122

Kasus 3

Percobaan Pembunuhan Berencana


KASUS A bermaksud menghabisi nyawa B dengan meletakkan bom di mobil B. Bom meledak sebelum B masuk mobil dan mengakibatkan B luka-luka parah. PASAL YG DIDAKWAKAN Pasal 340 jo Pasal 53 KUHP ( Percobaan pembunuhan berencana) ANCAMAN PIDANA 15 tahun penjara (lihat Ps. 53 ayat 3)

29/03/2012

123

Dalam KUHP terdapat pasal-pasal yg merupakan percobaan tindak pidana yg dipidana sbg delik selesai. Hal ini terdapat juga dalam UU Pidana di luar KUHP. Ada juga delik-delik khusus dlm KUHP yg mirip dgn percobaan yaitu makar (ps. 87) dan permufakatan jahat (ps. 88), namun ada syarat dr Ps. 53 yg belum dipenuhi tapi sudah dapat dihukum
29/03/2012 124

POGING (PERCOBAAN)
Permulaan kejahatan yang belum selesai Poging bukan suatu delik, tetapi poging dilarang dan diancam hukuman oleh undang-undang Poging adalah perluasan pengertian delik Suatu perbuatan dilarang dan diancam dengan hukuman oleh undang-undang sebab perbuatan itu melanggar kepentingan hukum atau membahayakan kepentingan hukum KUHP tidak memberi perumusan/ definisi Harus diketahui kapan suatu delik dianggap selesai Delik selesai berbeda antara delik formil dan delik materiil Pada delik formil : delik selesai apabila perbuatan yang dilarang telah dilakukan Pada delik materiil : delik selesai apabila akibat yang dilarang dan diancam dengan hukuman oleh undang-undang telah timbul atau terjadi
29/03/2012 125

Teori Subyektif - subjectieve pogingsleer


seseorang yang melakukan percobaan untuk melakukan kejahatan itu pantas dihukum, oleh karena orang tersebut telah menunjukkan perilaku yang tidak bermoral yang bersifat jahat ataupun yang bersifat berbahaya Terdapat sikap batin atau watak yang berbahaya dari si pelaku
29/03/2012 126

Teori Obyektif - objectieve pogingsleer


Seseorang yang melakukan percobaan untuk melakukan suatu kejahatan itu dapat dihukum oleh karena tindakantindakannya telah bernilai membahayakan bagi kepentingankepentingan hukum

29/03/2012

127

Pengklasifikasian Teori Objektif


Teori Obyektif Formil Seseorang yang melakukan percobaan untuk melakukan suatu kejahatan itu dapat dihukum oleh karena tindakan-tindakannya telah bernilai membahayakan bagi kepentingankepentingan hukum. Teori ini tidak membedakan antara percobaan pada delik formil dan delik materiil Teori Obyektif Materiil membedakan percobaan pada jenis deliknya (delik formil atai delik materiil)
29/03/2012 128

Teori Obyektif Materiil pada Delik Formil apabila telah dimulai perbuatan/tindakan yang disebut dalam rumusan delik

Teori Obyektif Materiil pada Delik Materiil segera setelah tindakan yang dilakukan oleh pelakunya itu, menurut sifatnya secara langsung dapat menimbulkan akibat yang terlarang oleh UU tanpa pelakunya tersebut harus melakukan suatu tindakan yang lain
29/03/2012 129

Teori Campuran
Teori Subyektif - subjectieve pogingsleer dan Teori Obyektif - objectieve pogingsleer

29/03/2012

130

Syarat Percobaan yg dapat dipidana


Niat Permulaan Pelaksanaan Tidak selesainya pelaksanaan itu, bukan semata-mata disebabkan karena kehendaknya sendiri

29/03/2012

131

Syarat Pertama NIAT atau Voornemen


Menurut doktrin dan yurisprudensi :voornemen harus ditafsirkan sebagai kehendak, willen atau opzet Seseorang harus mempunyai kehendak, yaitu kehendak melakukan kejahatan Karena ada 3 macam opzet, apakah opzet di sini harus dtafsirkan dalam arti luas atau hanya opzet dalam arti pertama (sebagai ogmerk atau tujuan) ?
29/03/2012 132

Syarat Kedua Permulaan Pelaksanaan


Niat sudah terwujud dengan adanya permulaan pelaksanaan een begin van uitvoering Harus ada suatu perbuatan(handeling) apa yang dimaksud perbuatan sebagai permulaan pelaksanaan ? Undang-undang tidak merumuskan pelaksanaan atauuitvoering dan bagaimana bentuknya Perlu digunakan penafsiran

29/03/2012

133

Pelaksanaan Kehendak atau Pelaksanaan Kejahatan ?


Secara gramatika, harus dihubungkan dengan kata yang mendahuluinya yaitu voornemen/ niat/kehendak

Niat sudah terwujud dengan adanya permulaan pelaksanaan. Jadi : pelaksanaan itu ditafsirkan
sebagai pelaksanaan kehendak TEORI POGING SUBYEKTIF Tetapi, jika dihubungkan dengan anak kalimat berikutnya tidak selesainya pelaksanaan itu, bukan sematamata disebabkan karena kehendaknya sendiri maka secara sistematis maka ditafsirkan sebagai pelaksanaan kejahatan TEORI POGING OBYEKTIF
29/03/2012 134

CONTOH KASUS
A menghendaki untuk membunuh B , untuk melaksanakan maksudnya, A harus melakukan beberapa perbuatan, yaitu : a. A pergi ke tempat penjualan senjata api b. A membeli senjata api c. A membawa senjata api ke rumahnya d. A berlatih menembak e. A menyiapkan sebjata apinya dengan membungkusnya rapatrapat f. A menuju rumah B g. Sesampai di rumah B, A mengisi senjata itu dengan peluru h. A mengarahkan senjata kepada B i. A melepaskan tembakan ke arah B

29/03/2012

135

MANA YANG MERUPAKAN PELAKSANAAN ? APAKAH TIAP2 PERBUATAN DALAM KASUS TSB
DAPAT DIHUKUM ?

1. Menurut Teori Poging Subyektif : perbuatan a sudah merupakan permulaan pelaksanaan karena telah menunjukkan kehendak yang jahat 2. Menurut Teori Poging Obyektif : perbuatan a f belum merupakan permulaan pelaksanaan karena semua perbuatan itu belum membahayakan kepentingan hukum si B
29/03/2012 136

PEMBATASAN TERHADAP TEORI


SUBYEKTIF Perbuatan dibedakan : 1. tindakan atau perbuatan persiapan (belum dapat dihukum) 2. tindakan atau perbuatan pelaksanaan (sudah dapat dihukum) Tetapi, pertanyaannya : mana yang merupakan perbuatan persiapan dan mana yang merupakan perbuatan pelaksanaan ?
29/03/2012 137

PENDAPAT PARA AHLI DALAM


MASALAH TERSEBUT
1.Van Hamel : apabila dari perbuatan itu telah terbukti kehendak yang kuat dari si pelaku untuk melaksanakan perbuatannya 2.Simons melihat dari jenis deliknya : delik materiil atau delik formil. Pada delik formil apabila perbuatan itu merupakan perbuatan yang dilarang dan diancam dengan hukuman oleh UU, apabila perbuatan itu merupakan sebagian dari perbuatan yang dilarang; jika ada beberapa unsur maka jika sudah melakukan salah satu unsur Pada delik materril apabila perbuatan itu dianggap sebagai perbuatan yang menurut sifatnya adalah sedemikian rupa , sehingga secara langsung dapat menimbulkan akibat yang dilarang dan diancam dengan hukuman oleh UU 3.Vos : ada permulaan pelaksanaan apabila perbuatan itu mempunyai sifat terlarang terjadap suatu kepentingan hukum. 4.Pompe : ada permulaan pelaksanaan apabila suatu perbuatan yang bagi orang normal memungkinkan terjadinya suatu delik.

29/03/2012

138

Pendapat Hoge Raad


Ada permulaan pelaksanaan apabila antara perbuatan yang dilakukan dan kejahatan yang dkehendaki oleh seseorang itu terdapat hubungan erat langsung; yaitu apabila seorang melakukan sesuatu perbuatan untuk melaksanakan kejahatan , perbuatan itu baru dianggap sebagai permulaan pelaksanaan apabila disamping perbuatan itu tidak dibutuhkan lagi perbuatan-perbuatan yang lain untuk menyelesaikan kejahatan.

29/03/2012

139

Percobaan delik formil


apabila telah dimulai perbuatan/tindakan yang disebut dalam rumusan delik Hoge Raad arrest tanggal 8 Maret 1920 N.J.1920 perbuatan menawarkan untuk dibeli dan perbuatan menghitung uang kertas yang telah dipalsukan di depan orang lain adalah tindakan permulaan dari tindakan pelaksanaan
29/03/2012 140

Percobaan delik materiil


segera setelah tindakan yang dilakukan oleh pelakunya itu, menurut sifatnya secara langsung dapat menimbulkan akibat yang terlarang oleh undangundang, tanpa pelakunya tersebut harus mel;akukan suatu tindakan yang lain Hoge Raad Arrest 19 Maret 1934, N.J 1934 Eindhovense Brandstichting - arrest
29/03/2012 141

Syarat Ketiga Tidak selesainya pelaksanaan itu, bukan semata-mata disebabkan karena kehendaknya sendiri

Contoh: Tertangkap tangan, korban memberikan perlawanan, korban tidak meninggal karena bantuan medis
Membatalkan niatnya secara sukarela/kehendak sendiri vrijwillige terugterd (TIDAK ADA Percobaan yang dihukum)

29/03/2012

142

Dalam Pasal 18 RUU KUHP


(1) Dalam hal setelah permulaan pelaksanaan dilakukan, pembuat tidak menyelesaikan perbuatannya karena kehendaknya sendiri secara sukarela, maka pembuat tidak dipidana. (2) Dalam hal setelah permulaan pelaksanaan dilakukan, pembuat dengan kehendaknya sendiri mencegah tercapainya tujuan atau akibat perbuatannya, maka pembuat tidak dipidana.

(3) Dalam hal perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) telah menimbulkan kerugian atau menurut peraturan perundang-undangan telah merupakan tindak pidana tersendiri, maka pembuat dapat dipertanggungjawabkan untuk tindak pidana tersebut.(percobaan yang dikwalifisir)

29/03/2012

143

Macam2 Percobaan (Doktrin)


Percobaan yg Sempurna : Voleindigde Poging -> apabila seseorang berkehendak melakukan kejahatan, ia telah
melakukan semua perbuatan yg diperlukan bagi selesainya kejahatan, tetapi kejahatan tidak selesai karena suatu hal

Percobaan yg Tertangguh : Geschorte Poging -> apabila seseorang berkehendak melakukan kejahatan, ia telah
melakukan beberapa perbuatan yg diperlukan bagi tercapainya kejahatan, tetapi kurang satu perbuatan ia terhalang oleh suatu hal

Percobaan yg Tidak Sempurna (tidak wajar) : Ondeugdelijke Poging --> apabila seseorang
berkehendak melakukan suatu kejahatan, dimana ia telah melakukan semua perbuatan yg diperlukan bagi selesainya kejahatan, namun tidak berhasil disebabkan alat (sarana) tidak sempurna atau obyek (sasaran) tidak sempurna. Tidak sempurna : mutlak atau relatif

29/03/2012

144

Pasal 20 RUU KUHP


Dalam hal tidak selesai atau tidak mungkin terjadinya tindak pidana disebabkan ketidakmampuan alat yang digunakan atau ketidakmampuan objek yang dituju, maka pembuat tetap dianggap telah melakukan percobaan tindak pidana dengan ancaman pidana tidak lebih dari 1/2 (satu per dua) maksimum pidana yang diancamkan untuk tindak pidana yang dituju.
29/03/2012 145

Melakukan percobaan kejahatan akan tetapi tidak dihukum


Pasal 184 ayat 5 KUHP perkelahian tanding Pasal 302 ayat 4 KUHP penganiayaan ringan terhadap binatang Pasal 351 ayat 5 dan Pasal 352 ayat 2 KUHP penganiayaan biasa dan ringan
29/03/2012 146

Mangel am tatbestand (gebrek aan feitelijk tosdracht v/e zaak)


Kejadian-kejadian yang mirip dengan percobaan yang tidak sempurna/ tidak wajar di mana salah satu unsur dari kejahatan tertentu itu sebenarnya tidak mungkin ada atau tidak mungkin terjadi Misal: menggugurkan kandungan seorang perempuan yang tidak pernah hamil; mencuri barang yang pencurinya tidak tahu bahwa barang tersebut sebelum dicuri telah diwariskan/diberikan padanya.
29/03/2012 147

Putatif Delict
Seseorang mengira bahwa apa yang dilakukan merupakan suatu tindak pidana, padahal tindakan tersebut tidak dilarang
Contoh: Seseorang masuk ke Indonesia dan membawa sejumlah uang kertas asing. Semula ia beranggapan telah mencoba atau melakukan suatu kejahatan. Namun ternyata uang yang ia bawa masih dalam batas ketentuan yang tidak dilarang
29/03/2012 148

Percobaan dalam kealpaan


Pasal 287 KUHP yang sepatutnya ia harus dapat menduga bahwa wanita itu belum cukup umurnya Pasal 480 KUHP yang sepatutnya ia harus dapat menduga bahwa barang itu diperoleh si penjual dari kejahatan
29/03/2012 149